Merekapun beramai-ramai memasuki rumah itu dan di bawah penerangan beberapa buah lilin, karena keluarga itu tidak berani membuat terlalu banyak penerangan, tiga orang tamu ini lalu dijamu dengan makanan malam sederhana. Namun, kesederhanaan jamuan dan sikap fihak tuan rumah yang amat ramah itu cukup menggembirakan para tamu itu dan sebentar saja mereka telah berkenalan dengan akrab sekali. Terutama sekali Pek Lian yang segera menjadi sahabat baik dari dara yang bernama Bu Bwee Hong itu.
Dalam percakapan mereka, Bu Seng Kun, pemuda jangkung itu, mewakili keluarganya menceritakan keadaan keluarga Bu. Ayahnya bernama Bu Kek Siang, seorang pewaris ilmu tinggi sekali namun yang tidak suka akan ketenaran nama sehingga sampai bertahun-tahun mereka sekeluarga itu tinggal di rumah kuno di tempat sunyi ini, tanpa mencampuri urusan dunia karena menurut ayahnya, dunia sedang kacau dan negeri dikuasai oleh orang-orang yang suka menindas rakyat demi mencapai keinginan mereka untuk menyenangkan diri mereka sendiri. Seperti juga suaminya, nyonya Bu pandai ilmu silat pula, terutama memiliki ginkang yang mengagumkan.
Suami isteri pendekar yang mengasingkan diri ini mempunyai dua orang anak, yaitu Bu Seng Kun yang kini telah berusia duapuluh tahun dan Bu Bwee Hong yang cantik jelita dan manis seperti bidadari itu, yang telah berusia delapanbelas tahun. Mereka berdua mewarisi ilmu-ilmu silat ayah mereka, dan juga ilmu ketabiban. Biarpun mereka berdua tinggal di dalam hutan dan hanya berhubungan dengan peng-huni dusun di sekitarnya, dan jarang pergi me-ngunjungi kota, namun keduanya terdidik baik sekali dalam hal kesusasteraan oleh ayah mereka sendiri. Di rumah gedung yang kuno dan besar itu, mereka mempergunakan tenaga beberapa orang dusun sebagai pelayan, akan tetapi semenjak datang gangguan-gangguan itu beberapa hari yang lalu, semua pelayan disuruh pulang ke dusun agar mereka itu tidak ketakutan dan tidak perlu terancam bahaya karena keluarga mereka.
"Kalau boleh kami mengetahui, keluarga locianpwe ini dari perguruan manakah ?" Kim- suipoa memberanikan diri bertanya sedangkan yang lain-lain yang juga hadir di situ hanya mendengarkan saja. Pek Lian duduk di dekat Bwee Hong dan mereka itu nampak akrab sekali.
Kakek Bu Kek Siang menarik napas panjang. "Biarpun kami tidak pernah memperkenalkan diri, namun agaknya sam-wi pernah mendengar nama kakek guruku. Kurang lebih seratus tahun yang lalu, di dunia persilatan terdapat dua orang tokoh yang dianggap sebagai datuk golongan pendekar atau golongan putih, dan dua orang datuk golongan hitam atau kaum sesat. Apakah ji- wi sicu mengenal nama mereka itu ?" tanyanya kepada Kim-suipoa dan Pek-bin-houw. Dua orang ini saling pandang dan cepat mengangguk.
"Kalau kami tidak salah, dua orang datuk go-longan putih itu adalah Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti) yang dipuja sebagai datuk di selatan, dan ke dua adalah Sin-kun Bu-tek (Tangan Sakti Tanpa Tanding) yang menjadi datuk di utara. Sedangkan dua orang datuk kaum sesat itu kalau tidak salah adalah Cui-beng Kui-ong (Raja Iblis Pengejar Roh) yang mendirikan Tai-bong-pai, dan yang ke dua adalah Kim-mou Sai-ong (Raja Singa Bulu Emas) pendiri dari Soa- hu-pai. Benarkah
?"
Kakek itu mengangguk-angguk dan mengacungkan jempolnya. "Ternyata ji-wi mempunyai pengetahuan yang cukup luas. Nah, agaknya, jarang ada yang tahu karena memang murid- murid beliau tidak pernah menonjolkan diri. Akan tetapi, mendiang Sin-yok-ong mempunyai tiga orang murid. Yang pertama adalah mendiang ayahku, dan masih ada dua orang lagi, yaitu ji-susiok (paman guru ke dua) dan sam-susiok (paman guru ke tiga). Nah, mereka yang datang tadi adalah murid-murid atau para pengikut dari ji-susiok."
"Ah....... !" Kim-suipoa berseni kaget dan heran. "Maaf, locianpwe. Kiranya keluarga locianpwe adalah keluarga yang mewarisi ilmu dari seorang yang terpandai di antara empat tokoh besar itu seperti yang pernah saya dengar dari guru saya. Akan tetapi, locianpwe Sin-yok-ong terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, dan kami tidak heran melihat locianpwe sebagai keturunan beliau. Hanya anehnya, mengapa para murid- murid dari ji-susiok lociannwe tadi seperti itu sikapnya seolah-olah maaf, seolah-olah mereka itu dari golongan sesat saja ?"
Kembali kakek itu menarik napas panjang. "Nyatanya memang demikianlah. Mereka berjumlah tigapuluh orang, termasuk ji- susiok. Ji-susiok sendiri berjubah hitam, mempunyai dua orang murid berjubah coklat, dan setiap orang murid itu mem-punyai masing-masing dua orang murid berjubah biru, yang berjubah biru masing-masing mempunyai dua orang murid berjubah hijau dan yang berjubah hijau masing-masing mempunyai dua orang murid berjubah kuning. Jadi jumlah keseluruhannya tigapuluh satu yang merupakan tenaga inti dari perguruan ji-susiok. Para pelayan dan penjaga adalah orang-orang biasa yang tidak termasuk murid perguruan itu."
"Tapi, kalau locianpwe Sin-yok-ong terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, bagaimana muridnya."
"Tak perlu diherankan, sicu. Apakah seorang guru itu dapat menentukan watak atau cara hidup muridnya, apa lagi kalau guru itu sudah meninggal dunia ? Tidak. Watak dan cara hidup seseorang hanya ditentukan oleh si orang itu sendiri, dan mungkin saja keadaan sekelilingnya amat mempe-ngaruhinya. Oleh karena itu, kami lebih senang tinggal di tempat sunyi, bergaul dengan kembang-kembang, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang hutan. Atau paling banyak kami bergaul dengan orang-orang gunung dan dusun yang masih bersih dan polos batinnya."
Dua orang pendekar itu mengangguk dengan penuh kekaguman. "Locianpwe adalah pewaris dari mendiang Raja Tabib Sakti, sungguh kami merasa berbahagia sekali dapat kesempatan berjumpa dengan locianpwe sekeluarga," kata Pek-bin-houw.
"Tidak biasa kami memperkenalkan diri, dan kalau kami menceritakan keadaan kami kepada sam-wi, adalah karena sam-wi telah mendengar akan semua urusan tadi. Harap sam-wi suka menyimpan rahasia kami ini dan tidak menceritakan kepada orang-orang luar, karena kami tidak suka akan banyak urusan." Para tamu itu menyatakan kesanggupannya dan fihak tuan rumah lalu mempersilahkan para tamunya beristirahat di dalam kamar tamu yang banyak terdapat dalam rumah besar itu. Akan tetapi Pek Lian menolak dan berkata, "Bagaimana kami dapat tidur kalau keluarga tuan rumah terancam bahaya? Tidak, saya akan bergadang dan ikut menjaga kalau-kalau ada fihak penjahat yang berani datang lagi. Sungguh tidak enak kalau selagi kami tidur, fihak tuan rumah sibuk menghadapi serbuan lagi."
"Wah, enci, kami jadi merepotkan engkau saja, bukankah kau datang untuk beristirahat dan bukan untuk berjaga ?" Bwee Hong mencela sambil tertawa.
"Tapi sekarang kita sudah berkenalan dan tak dapat dikatakan tamu orang luar. Biarlah aku akan menemanimu dan kalau ada bahaya, biarpun aku bodoh, aku akan menyumbangkan tenagaku dan aku tidak takut mati di tangan penjahat untuk membela kebenaran !" Ucapan ini juga sambil tertawa, akan tetapi pandang mata yang tajam dari kakek berjenggot itu dapat menyelami hati dara itu dan diam-diam dia merasa kagum.
"Bagus, engkau sungguh seorang berdarah pendekar, nona. Baiklah kalau begitu, akan tetapi kami belum banyak mendengar tentang dirimu. Ceritakanlah sedikit tentang keluargamu."
Ditanya demikian, tiba-tiba Pek Lian menundukkan mukanya dan wajahnya yang tadinya bersemangat dan terang itu menjadi muram dan sampai lama ia tidak mampu menjawab.
Terbayanglah kembali ia kepada ayahnya dan hatinya menjadi berduka sekali. Tak dapat ditahannya lagi, kedua matanya menjadi basah dan ia menahan turunnya air mata dengan memejamkan kedua matanya. Melihat ini, Bu Kek Siang mengerutkan alisnya. Baru saja dia kagum menyaksikan kegagahan dan semangat dara ini dan sekarang dia harus melihatnya menjadi wanita yang cengeng! Dia merasa kecewa dan mengira bahwa dia telah salah menilai orang.
Sementara itu, Kim- suipoa lalu berkata dengan suaranya yang ramah,
"Locianpwe, harap maafkan nona Ho yang dilanda kedukaan. Agaknya sukar baginya untuk menceritakan keadaannya dan karena kita telah saling berkenalan, kiranya tidak ada salahnya kalau saya menceritakan keadaannya. Bolehkah, Ho-siocia ?"
"Silahkan, suhu...... " kata Pek Lian dengan suara lirih dan gemetar. Semua anggauta tuan rumah heran mendengar betapa Kim-suipoa menyebut nona kepada dara itu dan sebaliknya dara itu menyebut suhu.
Kim-suipoa lalu menceritakan keadaan keluarga Ho yang mengalami bencana di tangan kaisar itu. Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong adalah seorang duda, dalam arti kata, isterinya yang pertama, yaitu ibu Pek Lian, telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena penyakit. Kini Menteri Ho tinggal bersama dua orang selirnya, dua orang adik perempuan dan seorang ipar bersama para keponakan dan pelayan-pelayan. Ketika Menteri Ho terkena musibah itu, seluruh keluarganya ditangkap dan dijebloskan penjara, dan hanya Ho Pek Lian seoranglah yang berhasil meloloskan dirinya. Kemudian Kim-suipoa menceritakan usaha mereka untuk membebaskan Menteri Ho dan betapa mereka bertanding melawan seorang tokoh dari Soa-hu-pai yang berjuluk Pek-lui-kong, dan betapa dalam keadaan hampir berhasil, Menteri Ho sendiri yang mencegah mereka dan menyuruh mereka pergi. Betapa kemudian mereka bertiga yang menuju ke Puncak Awan Biru di Fu-niu-san, mengambil jalan darat dan kemalaman serta tersesat sampai ke tempat itu.
"Penasaran. !!" Tiba-tiba terdengar Bu Seng Kun menghantamkan tangan kanan ke