Halo!

Darah Pendekar Chapter 09

Memuat...

"Sute, kita golongan muda tidak tahu sama se-kali akan hal itu. Pembagian itu adalah urusan orang-orang tua. Kalau ji-susiok merasa tidak adil, kenapa tidak sejak dahulu mengurusnya dengan mendiang sucouw, atau dengan mendiang ayahku?"

"Bu Kek Siang!" Si jubah coklat membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek jenggot panjang itu. "Ucapanmu sungguh menghina ! Dengan menyuruh suhu berurusan dengan orang-orang yang sudah mati, bukankah itu berarti engkau menyuruh suhu mati ?

Keparat. , pendeknya serahkan kitab itu atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!"

Sepasang mata kakek berjenggot panjang itu berkilat karena diapun marah sekali. "Bhong Kim Cu, jangan mengira bahwa aku takut akan ancamanmu. Sebelum tubuh ini menggeletak tanpa nyawa, jangan harap untuk mendapatkan kitab pusaka kami !"

Orang yang bernama Bhong Kim Cu itu me-ngeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan diapun sudah menerjang ke depan, me-nyerang kakek berjenggot yang bernama Bu Kek Siang itu. Kakek berjenggot itupun menyambut serangan ini dengan sikap tenang dan merekapun sudah saling serang dengan hebat, masing-masing mengeluarkan pukulan- pukulan yang mengandung tenaga sinkang sedemikian hebatnya sehingga terasa angin menyambar-nyambar di sekitar tempat itu. Sementara itu si baju biru yang baru datang bersama Bhong Kim Cu itupun sudah maju dan disambut oleh pemuda jangkung putera Bu Kek Siang dan merekapun ternyata memiliki kepandaian seimbang sehingga terjadilah pertandingan yang amat seru.

Ketika si baju biru yang pertama hendak maju Pek Lian membentak, "Mari kita lanjutkan pertandingan kita !" dan iapun sudah menyambut dengan pedangnya. Akan tetapi, tiba-tiba dua orang berbaju hijau telah menerjangnya dari kanan kiri sehingga terpaksa Pek Lian melayani pengeroyokan dua orang ini. Sedangkan si baju biru telah menerjang dan disambut oleh pengeroyokan Kini-suipoa dan Pek-bin-houw. Ternyata fihak penyerbu itu cerdik sekali. Tadinya mereka tahu bahwa kepandaian nona berpedang itu tidak banyak selisihnya dengan kepandaian dua orang pria yang menjadi tamu di tempat itu, maka untuk mengimbangi mereka, si jubah biru lalu bertukar tempat dengan dua orang muridnya. Kini, si jubah biru menandingi pengeroyokan dua orang kakek sedangkan nona itu yang dianggap lebih lihai dikeroyok oleh dua orang berjubah hijau. Terjadilah pertempuran yang amat hebat di pekarangan rumah kuno itu.

Memang fihak penyerbu cerdik sekali. Setelah bertukar tempat, kini jelaslah bahwa dikeroyok oleh dua orang jubah hijau, Pek Lian mulai terdesak Dua orang itu juga sudah mengeluarkan senjata, yaitu keduanya mempergunakan semacam cambuk baja bergigi, semacam joan-pian ak.an tetapi dibentuk mengerikan, seperti ekor ikan pi-hi yang panjang. Menghadapi kedua orang lawan ini, Pek Lian terdesak dan terpaksa ia memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari desakan dua buah senjata panjang yang berbahaya itu. Sedangkan Kim- suipoa dan Pek-bin-houw sudah mainkan senjata pikulannya yang tak pernah terpisah dari tubuhnya itu, akan tetapi si baju biru itu biarpun bertangan kosong, ternyata memiliki gerakan ilmu silat yang aneh dan cepat sekali. Perobahan-perobahan gerakan kedua tangannya amat hebat dan juga gerakan kedua kakinya gesit dan kadang-kadang si jubah biru ini berloncatan dan meni haritam dengan tiba-tiba secara tidak terduga-duga, membuat kedua orang pendekar itu benar-benar kewalahan.

Sebaliknya, pertandingan antara pemuda jangkung dan jubah biru yang lain amat ramai, sungguhpun perlahan-lahan si pemuda dapat mendesak lawan. Juga tuan rumah, yaitu kakek jenggot panjang yang bernama Bu Kek Siang itu mulai dapat mendesak lawan. Si jubah coklat yang bernama Bhong Kim Cu itu memang memiliki ilmu silat yang lebih hebat dari pada lawannya, lebih cekatan dan perobahan pada gerakan tangannya amat aneh dan indah sehingga dia dapat memperoleh lebih banyak kesempatan untuk melakukan serangan terhadap lawan. Namun jelaslah bahwa dalam hal tenaga dalam, dia kalah oleh tuan rumah. Setiap kali mereka bertemu lengan, tentu si jubah coklat itu terhuyung, dan dengan kelebihan tenaga dalam inilah fihak tuan rumah dapat menahan lawan.

"Manusia-manusia tak tahu malu !" Tiba-tiba nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata seorang nenek dan seorang dara muda telah ber-loncatan keluar dan masing-masing membawa sebatang pedang, lalu keduanya menerjang ke dalam medan pertempuran. Mereka tadi telah melihat siapa yang perlu dibantu, maka dara cantik seperti bidadari tadi telah menggunakan pedangnya membantu Pek Lian sehingga tentu saja dua orang berjubah hijau itu seketika berbalik terdesak oleh dua orang dara cantik itu. Sedangkan nenek itupun segera menyerbu dan membantu Kim-suipoa dan Pek-bin-houw. Gerakan pedangnya juga amat kuat sehingga si jubah biru yang hanya lebih unggul sedikit saja menghadapi pengeroyokan dua orang pendekar itu, kini menjadi terdesak hebat dan terus main mundur.

Melihat keadaan yang amat tidak menguntungkan ini, di mana semua anggauta fihaknya terdesak dan kalau dilanjutkan tentu akan menderita kekalahan mutlak, Bhong Kim Cu lalu mengeluarkan siulan nyaring dan meloncat mundur, diturut oleh semua muridnya dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, lima orang itupun melarikan diri dan menghilang ke dalam gelap.

Setelah semua lawan menghilang, kakek itu menarik napas panjang, lalu dia bersama keluarganya, yaitu isterinya, puteranya dan puterinya, menghadapi Pek Lian dan dua orang gurunya. Kakek itu menjura dan berkata dengan halus, "Kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas bantuan nona dan ji-wi sicu."

Tentu saja Pek Lian dan dua orang gurunya menjadi kikuk sekali dan tergopoh-gopoh mereka membalas penghormatan mereka. Kim-suipoa mewakili rombongannya berkata sambil tersenyum ramah, "Ah, harap cu-wi tidak bergurau ! Mana bisa dinamakan bahwa kami membantu cu-wi ?

Bahkan kalau tidak ada toanio dan siocia yang menolong, mungkin kami bertiga telah mati konyol Kepandaian kami bertiga disatukan ini saja masih belum dapat menyamai kelihaian putera-puteri locianpwe."

Ucapan ini bukan hanya merupakan sikap merendahkan diri saja, melainkan mengandung kebenaran yang benar-benar merupakan pukulan dan kekecewaan bagi mereka bertiga. Mereka kini baru sadar dan seolah-olah baru terbuka mata mereka bahwa kepandaian mereka yang selama ini mereka anggap sudah cukup lihai, ternyata belum apa-apa. Berturut-turut mereka bertemu dengan orang-orang yang amat lihai, yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dari pada mereka, membuat mereka merasa bodoh sekali.

"Sekarang kami mohon diri dan maafkanlah kalau kami bertiga tanpa sengaja telah mengganggu cu-wi," kata pula Kim-suipoa dan mereka bertiga lalu menjura dan berpamit.

"Ah, malam telah mulai larut dan bulan bersem-bunyi di balik awan, malam akan gelap.

Sebaiknya kalau sam-wi bermalam saja di sini untuk malam ini," kata kakek Bu Kek Siang dengan ramah.

"Maaf, kami tidak ingin mengganggu locianpwe lebih lama lagi," kini Pek-bin-houw berkata. "Tidak ada yang mengganggu. Kalian boleh bermalam di sini, kecuali kalau kalian merasa

takut akan ancaman lawan terhadap tempat ini, tentu kami tidak dapat menahan kalian " kata nenek itu pula.

Pek Lian mengerutkan alisnya dan ia menjawab, "Biarpun kami tidak mempunyai kepandaian, namun kami tidak takut akan ancaman orang jahat! Kami dapat melawan sampai titik darah terakhir untuk menentang kejahatan!"

Kakek berjenggot itu tersenyum menyaksikan semangat nona ini, dan pemuda jangkung itupun lalu berkata, "Maafkan kalau tadi kami semua merasa curiga kepada nona dan paman berdua. Akan tetapi, sekarang kami tahu bahwa paman berdua adalah Kim- suipoa dan Pek-bin- houw, dua orang pendekar terkenal di sepanjang lembah Huang-ho dan Yang-ce itu, bukan ?"

Dua orang itu terkejut dan menjura. ''Ah, sungguh pengetahuan kami dangkal bukan main, Taihiap telah mengenal kami, sebaliknya kami sama sekali tidak pernah menduga akan bertemu dengan orang-orang sakti yang sama sekali belum pernah kami kenal namanya. Maaf, maaf" kata Kim-suipoa.

"Masuklah dan jadilah tamu kami untuk malam ini, dan kami akan memperkenalkan diri," kata kakek Bu Kek Siang dengan ramah. Kini tiga orang itu tidak berani menolak lagi, apa lagi ketika dara yang cantik jelita dan manis sekali itu segera menggandeng tangan Pek Lian dan berkata dengan manis,

"Enci, engkau gagah sekali, aku suka padamu !" Pek Lian juga tersenyum dan balas merangkul. "Ah, tidak ada setengahnya kepandaianmu, adik yang manis."

Post a Comment