Kim-suipoa dan Pek-bin-houw yang sudah banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, maklum bahwa mereka memasuki rumah keluarga yang agaknya sedang menanti datangnya musuh-musuh mereka, maka karena dia tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain, Kim-suipoa lalu mengajak Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk cepat keluar dari tempat itu. "Mari kita cepat pergi, tidak ada gunanya kita berdiam lebih lama di sini."
Mereka bertiga lalu bergegas keluar, akan tetapi ketika mereka tiba di pintu depan, mereka berhenti. Dari jauh mereka melihat datangnya tiga orang laki-laki yang rambutnya riap-riapan, tiga orang ini semua memakai jubah seperti jubah pendeta, dua di antara mereka berjubah hijau sedangkan orang ke tiga berjubah biru. Di bagian dada dari jubah mereka itu terdapat lukisan seekor naga. Ketika tiga orang itu, yang berjubah biru di tengah sedangkan yang berjubah hijau berada di kanan kirinya, tiba di depan pintu pekarangan, tiba-tiba nampak ada dua bayangan orang berkelebat melayang turun dari atas genteng dan ternya-ta mereka itu adalah seorang kakek berusia hampir enampuluh tahun, berjenggot panjang, dan seorang pemuda tampan gagah bertubuh jangkung tegap. Begitu kedua pasang kaki itu menyentuh tanah, keduanya berdiri dengan tegak, di sebelah depan Kim-suipoa dan dua orang temannya, menghadapi tiga orang berambut riap-riapan itu.
Orang yang berjubah biru itu cepat menjura ke arah kakek berjenggot panjang, diikuti oleh dua orang berjubah hijau dan terdengarlah suaranya yang bernada kasar, "Selamat berjumpa, supek, kami bertiga datang menghadap!"
Kim-suipoa, Pek-bin-houw dan Pek Lian merasa serba salah. Mereka tidak sengaja memasuki rumah orang, dan tidak sengaja pula mereka menjadi saksi pertemuan dua fihak yang agaknya diliputi ketegangan. Oleh karena itu, atas isyarat Kim-suipoa, mereka bertiga lalu melangkah maju, lalu ketiganya menjura sebagai penghormatan ke arah kakek berjenggot dan pemuda tampan karena mereka menduga bahwa tentu keduanya itu yang menjadi tuan rumah. Kakek berjenggot itu hanya mengangguk sebagai balasan, akan tetapi pandang matanya masih terus ditujukan ke arah tiga orang laki-laki berambut riap-riapan itu. Melihat ini, Kim-suipoa dan dua orang temannya lalu melanjutkan langkah mereka, bermaksud untuk pergi mengambil kuda mereka dan mening-galkan tempat itu.
Akan tetapi ketika mereka hendak melewati tiga orang berambut riap-riapan itu, si baju biru membentak, suaranya kasar dan keras sekali, "Berhenti. !!" Sebelum Kim-suipoa dan teman-
temannya menjawab, si baju biru itu lalu menghadapi kakek jenggot panjang dan berkata, "Supek, seorangpun tidak boleh meninggalkan halaman ini sebelum tuntutan kami yang kemarin itu supek penuhi dan berikan kepada kami!"
Kakek itu tidak menjawab, akan tetapi pemuda jangkung di sebelahnya yang menjawab, suaranya dingin, "Mereka adalah orang luar, tidak ada sangkut-pautnya dengan kita !"
"Biar orang luar biar setan, sebelum tuntutan kami dipenuhi, tidak boleh keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!" bentak si jubah biru dengan nada suara, keras dan tegas.
Mendengar ucapan ini, Ho Pek Lian sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dara ini telah mencabut pedangnya. Terdengar suara berdesing dan nampak sinar berkilau ketika sinar bulan menimpa pedang yang tajam itu.
"Aku hendak keluar dari sini, ingin kulihat siapa yang akan berani melarangku !" katanya sambil melangkah maju. Si jubah biru mundur dan berkata kepada dua orang berjubah hijau, "Bekuk bocah ini!"
Dua orang berjubah hijau itu bergerak maju. "Baik, suhu!" kata mereka dan keduanya lalu menggerakkan kedua tangan, jari- jarinya ditekuk dan dibuka seperti kuku harimau dan terdengarlah suara berkerotokan dari buku-buku jarinya.
"Nona, biarlah kami berdua menghadapi mereka," Kim-suipoa berkata dan bersama Pek bin- houw diapun melangkah ke depan. Melihat dua orang suhunya sudah maju, Pek Lian lalu mundur kembali dan menyimpan pedangnya, namun pandaug matanya berapi-api ditujukan kepada si jubah biru, hatinya panas dan marah sekali. Siapapun adanya mereka, ia tidak takut untuk menghadapi nya.
"Kalian hendak melarang kami pergi dari sini. Nah, perlihatkanlah kepandaian kalian!" kata Kim-suipoa sambil tersenyum mengejek. Akan tetapi diam-diam dia dan Pek-bin-houw merasa heran sekali dengan munculnya orang-orang berambut riap-riapan yang berjubah dan jubahnya bergambar naga ini. Selama mereka malang-melintang di dunia kang-ouw dan terutama di daerah lembah Huang-ho dan Yang-ce, mereka berempat telah dikenal oleh semua penjahat, akan tetapi mereka belum pernah bertemu dengan golongan seperti yang mereka hadapi sekarang ini.
Dua orang berjubah hijau itu mengeluarkan suara gerengan keras, lalu mereka menubruk seperti gerakan seekor harimau atau seperti cakar naga. Gerakan mereka cepat dan juga kuat sekali karena dari gerakan ini menyambar angin yang berhawa panas. Namun. Kim-suipoa dan Pek-bin-houw bukanlah orang-orang lemah dan dengan cekatan mereka sudah mengelak dan balas menyerang dengan sama dahsyatnya.
Pek-bin-houw adalah seorang pendekar yang memiliki lweekang yang amat kuat, maka begitu bergebrak selama belasan jurus, lawannya yang berkumis tebal itu beberapa kali menggereng- gereng marah karena pertemuan antara lengan mereka membuatnya kenyerian. Sedangkan Kim-suipoa adalah seorang pendekar yang memiliki banyak macam ilmu silat dan juga memiliki gerakan yang aneh dan cepat sehingga biarpun lawannya juga amat tangguh, namun dia dapat menandingi bahkan mengatasinya. Dua orang berjubah hijau itu memang hebat sekali gerakannya dan tingkat merekapun seimbang dengan dua orang pendekar ini, namun mereka itu mulai terdesak dan melihat hal ini, si jubah biru menjadi marah bukan main. Tak disangkanya bahwa dua orang muridnya yang amat diandalkannya itu, yang kepandaiannya sudah tinggi dan tidak banyak selisihnya dengan kepandaiannya sendiri, tidak mampu mengalahkan dua orang pria yang menjadi tamu tuan rumah. Dia bersiul panjang dan nyaring sekali. Dari jauh terdengarlah siulan sebagai jawabannya, dan diapun menggereng lalu menerjang ke depan untuk membantu dua orang muridnya.
"Singggg !" Gulungan sinar terang berkelebat dan si jubah biru terpaksa melompat ke
samping. Pedang di tangan Pek Lian menyambar ganas dan memaksa si jubah biru untuk menghadapi dan melawan ia, tidak dapat mengeroyok kedua orang suhunya. Si jubah biru menjadi semakin marah dan dengan gerengan dahsyat diapun balas menyerang, gerakannya seperti seekor naga marah, kedua tangannya membentuk cakar, kedua lengannya bengkok seperti dua ekor ular yang berdiri dan siap menyerang, dan kedua tangan ini melakukan serangan dengan cara mencengkeram dan menotok, kadang-kadang juga membuat gerakan hendak menangkap.
Gerakannya aneh, gesit dan terutama sekali mengandung hawa panas yang membuat Pek Lian menjadi agak kewalahan. Biarpun pedangnya telah digerakkan dengan cepat, namun selalu pedangnya bertemu dengan hawa pukulan kuat yang membuat gerakannya menyimpang. Tentu saja Pek Lian merasa terkejut dan terheran-heran sekali. Dalam waktu singkat saja dari sejak percobaan membebaskan ayahnya sampai sekarang, ia telah berjumpa dengan banyak sekali orang pandai. Mula-mula Pek-lui-kong si pendek yang lihai itu, lalu si kusir gila, dan sekarang orang-orang yang berambut riap-riapan ini ternyata lihai-lihai bukan main. Iapun menduga bahwa tentu fihak tuan rumah ini merupakan keluarga yang berilmu tinggi, apa lagi mendengar bahwa si jubah biru yang amat lihai ini menyebut kakek berjenggot panjang itu sebagai supek (uwa guru)!
Selagi ramai-ramainya mereka berkelahi, terdengar siulan nyaring dan nampak berkelebat dua bayangan orang yang begitu tiba di situ terus menggerakkan tangan ke arah Pek Lian dan dua gurunya. Angin pukulan yang dahsyat dan panas sekali membuat dara dan dua orang garunya ini terkejut dan cepat meloncat jauh ke belakang. Kiranya yang datang adalah dua orang yang rambutnya riap-riapan juga, yang seorang berjubah biru dan seorang lagi berjubah coklat. Si jubah coklat ini usianya sudah enampuluh tahunan, rambutnya yang riap-riapan itu sudah setengahnya putih, matanya berkilauan dan tajam sekali, wajahnya membayangkan kekerasan hati. Dengan matanya yang tajam dia memandang kepada Pek Lian dan dua orang gurunya, lalu berkata dengan suara mengandung ejekan, "Huh, kiranya Bu-suheng telah menjadi penakut dan mengandaikan bantuan orang luar, he-he !"
"Bhong-sute, jangan menuduh sembarangan. Ketiga orang ini adalah tamu-tamu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan urusan kita. Akan tetapi murid-muridmu yang tak tahu diri dan menyerang mereka."
"SUDAHLAH," kata si baju coklat, "katakanlah murid-muridku salah, akan tetapi mereka inipun tidak penting. Sekarang aku ingin minta dengan cara persaudaraan yang baik kepadamu, Bu-suheng. Guruku ingin melihat pusaka yang diberikan oleh mendiang kakek guru kepada mendiang supek, ayah suheng. Kata guruku, pusaka itu hanya hendak dipinjam sebentar, setelah dipelajari akan dikembalikan kepadamu."
Kakek berjenggot panjang itu menghadapi tamunya yang bersikap kasar dengan tenang. Kemudian terdengar dia berkata, suaranya tenang dan halus namun lantang dan mengandung ketegasan,
"Bhong-sute, mendiang kakek guru adalah se-orang sakti yang bijaksana dan adil sekali. Di an-tara, tiga orang muridnya,. masing-masing telah diberi sebuah pusaka, Mendiang ayahku sebagai murid pertama menerima pemberian pusaka, demikian pula ji-susiok (paman guru ke dua) yang menjadi gurumu, dan juga sam- susiok (paman guru ke tiga), masing-masing telah menerima pemberian pusaka. Kenapa sekarang ji-susiok ingin memiliki pusaka yang telah diberikan kepada mendiang ayahku dan telah diwariskan kepadaku ?"
"Tapi suhu hanya ingin meminjam sebentar, Bu-suheng."
"Sute, engkau tentu sudah tahu, dan demikian pula ji-susiok bahwa pusaka sama dengan jiwa, tidak boleh dipinjam-pinjamkan."
"Ha-ha-ha, jiwa tidak boleh dipinjamkan akan tetapi bisa saja diambil!" Kakek berambut riap- riapan itu tertawa. "Mendiang sucouw kita tidak adil dalam pembagian itu, demikian kata suhu.
Kalau yang lain hanya diberi sebuah kitab pusaka, ternyata supek diberi dua kitab. Yang pertama ada-lah rahasia ilmu tenaga dalam yang merupakan inti perguruan kita, juga supek masih diberi kitab rahasia ilmu ketabiban. Padahal guruku hanya diberi rahasia ilmu silat perguruan kita dan susiok hanya diberi rahasia ilmu ginkang kakek guru yang termasyhur itu. Nah, karena itu maka guruku merasa curiga, jangan-jangan dalam kitab ilmu ketabiban itu diterangkan mengenai kelemahan-kelemahan ilmu yang lain. Ini namanya tidak adil!"