"Kalau begitu, biarlah aku menemani nona Ho mengambil jalan darat," kata Hek-coa. "Tidak, Ular Hitam, engkau lebih ditakuti para bajak, maka sebaiknya kalau engkau
menemani Si Monyet Sakti yang terluka itu mengambil jalan air. Biarlah aku dan Harimau Muka Putih yang mene-mani murid kita mengambil jalan darat," kata Kim-suipoa yang merupakan orang tertua dan juga menjadi pemimpin setelah Ho Pek Lian yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka seperti yang telah ditentukan oleh Liu-toako.
Si Ular Hitam tidak membantah, lalu dia bersama teman-temannya menggunakan perahu- perahu itu, mendayung perahu ke tengah dan sebentar saja perahu-perahu itu telah menghilang di suatu tikungan. Kim-suipoa dan Pek-bin-houw lalu mengajak murid mereka melanjutkan perjalanan.
"Matahari telah mulai condong ke barat, sebaiknya kalau kita mempercepat perjalanan agar dapat melewati hutan di depan, nona. Hutan ini tidak kita kenal, dan kalau sudah melewati hutan barulah kita sampai di sebuah dusun nelayan di mana kita boleh beristirahat."
"Baiklah, suhu."
Mereka lalu melanjutkan perjalanan memasuki hutan. Akan tetapi, jalan setapak yang dilalui oleh kuda mereka itu makin lama makin menjauhi sungai dan akhirnya sungai tidak nampak sama sekali karena jalan itu terhalang oleh tebing-tebing dan batu-batu besar di tepi sungai. Akhirnya mereka sama sekali terputus dari sungai dan berada di tengah-tengah hutan yang amat liar dan gelap. Sementara itu, cuaca menjadi semakin gelap. Mereka melanjutkan perjalanan, akan tetapi kegelapan malam membuat mereka tersesat jauh ke dalam hutan, makin menjauhi jalan setapak dan akhirnya mereka terpaksa menghentikan kuda karena mereka tidak tahu lagi mana jalan yang benar. Tiga orang itu adalah pendekar-pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja mereka tidak takut berada di dalam hutan itu. Mereka tidak takut terhadap binatang buas, juga tidak takut akan orang jahat. Betapapun juga, mereka merasa tidak enak kalau harus melewatkan malam di dalam hutan lebat yang tanahnya lembab dan hawanya dingin itu.
Pek-bin-houw lalu memanjat pohon besar sampai ke puncaknya dan dari situ dia mencari- cari dengan pandang matanya. Akhirnya, di sebelah kirinya, di tempat yang agak meninggi, dia melihat sinar api kecil yang tak lama kemudian lalu padam. Cepat dia turun kembali dan berkata, "Di sebelah sana kulihat ada sinar api. Mungkin ada rumah orang."
Kim-suipoa menjadi girang. "Bagus, sebaiknya kalau kita tuntun saja kuda kita, lebih mudah mencari jalan kalau begitu."
Demikianlah, di bawah penerangan bulan yang baru saja muncul, dan dengan hati-hati sekali, mereka lalu berjalan sambil menuntun kuda. Pek-bin-houw di depan karena dialah yang melihat api tadi dan dia yang selalu mengingat-ingat di mana letak api yang dilihatnya tadi. Pek Lian di tengah sedangkan Kim-suipoa di belakang. Mereka sudah berjalan selama dua jam, namun belum juga melihat ada rumah orang. Yang ada hanyalah pohon-pohon raksasa dan tanah yang penuh dengan alang-alang, rumput dan tumbuh- tumbuhan liar. Akan tetapi, jalan mulai mendaki dan Pek-bin-houw berseru, "Agaknya kita tidak salah jalan. Api itu memang berada di tempat yang agak tinggi."
Dan makin menanjak jaian itu, makin berkuranglah pohon- pohon besar, terganti padang rumput sehingga tiga orang itu menjadi lapang pula. Akan tetapi mereka masih belum tahu jalan mana yang menuju ke arah jalan setapak yang akan membawa mereka kembali ke tepi sungai. Dan selagi mereka mencari-cari, tiba-tiba Pek Lian yang masih remaja dan penglihatannya lebih tajam dibandingkan dengan dua orang gurunya, berseru lirih, "Nah, di sana itu ada rumah !"
Dua orang gurunya cepat menengok dan mengerutkan alis untuk dapat memandang lebih jelas dan merekapun dapat melihat bayangan remang-remang di bawah sinar bulan. Merekapun merasa gembira dan cepat tiga orang ini menuntun kuda mereka menuju ke arah bayangan rumah itu yang ternyata masih cukup jauh. Setelah tiba di pekarangan rumah, mereka menambatkan kuda mereka pada pohon di depan rumah, kemudian merekapun menuju ke pintu depan.
Rumah itu besar sekali, besar dan menakutkan karena gelap dan rumah itu kuno. Suasana menyeramkan meliputi rumah besar yang gelap itu. Tidak nampak penerangan sedikitpun sehingga Pek-bin-houw menyatakan bahwa mungkin bukan ini rumah yang dilihatnya dari atas pohon dalam hutan, karena dari atas tadi ia melihat sinar penerangan walaupun hanya sebentar.
"Rumah siapapun juga, ada penghuninya atau tidak, cukup lumayan untuk kita mengaso malam ini, dari pada di hutan yang lembab dan dingin," kata Kim-suipoa dan mereka lalu mengetuk pintu. Pek Lian memandang ke kanan kiri. Rumah itu terpencil, tidak terdapat rumah lain di sekeliling tempat itu. Padang rumput yang luas dengan beberapa batang pohon di sana-sini.
Ketukan pintu mereka tak terjawab dan Pek-bin-houw mendorong daun pintu. Terdengar bunyi berkriyet ketika daun pintu itu terbuka dengan mudahnya. Kiranya memang tidak terkunci. Mereka lalu memasuki daun pintu itu. Mereka tidak banyak cakap karena biarpun tempat itu sedemikian sunyinya namun mereka bertiga merasa seolah-olah ada banyak orang mengintai mereka dari empat penjuru. Maka ketiganya memasuki rumah itu dengan sikap yang waspada, siap sedia menghadapi segala kemungkinan. Di tempat yang angker seperti ini, tidak akan mengherankan mereka kalau tiba-tiba ada bahaya mengancam.
Biarpun rumah itu nampak kosong dan tidak berpenerangan, namun ketika mereka masuk, mereka melihat kebersihan dalam rumah, dan perabot-perabot rumah sederhana. Hal ini menunjuk kan bahwa rumah itu sebenarnya bukan kosong, tentu ada penghuninya atau setidaknya baru saja ditinggalkan para penghuninya. Mereka berjalan terus dengan hati-hati, memasuki lorong dalam rumah. Di kanan kiri lorong itu terdapat
-lewat halaman gak ada-
ka," Kim-suipoa menunjuk ke kamar di sudut sebelah belakang akan tetapi tiba-tiba dari dalam kamar yang berada di sudut paling kiri terdengar suara wanita, suaranya halus agak parau, pantasnya suara seorang wanita tua.
"Hong-ji, kulihat hanya tiga orang tamu kita malam ini, benarkah ?"
"Benar, ibu. Mungkin masih ada yang lain di luar, tapi koko belum bergerak!" jawaban yang terdengar dari gubuk di dekat kolam ikan di taman itu amatlah merdunya, jauh berbeda dan bahkan menjadi kebalikan dari suara wanita pertama.
Mendengar dua suara yang tiba-tiba ini, tentu saja Pek Lian dan dua orang gurunya menjadi terkejut dan mereka bertiga sudah menghentikan langkah dan memandang ke arah suara itu dengan penuh perhatian. Suara nertama datang dari dalam sebuah kamar, dan ketika mereka mencari ke arah suara merdu yang datang dari gubuk di tengah taman itu, nampaklah oleh mereka bayangan seorang wanita yang tinggi ramping sedang berdiri dan bersandar pada tiang gubuk tadi. Melihat ini, dan mendengar percakapan tadi, ketiganya merasa tak enak dan malu sekali karena mereka maklum bahwa dua orang yang bersuara itu tentulah fihak nyonya rumah.
Maka, cepat Kim-suipoa mengajak Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk pergi menghampiri wanita yang berada di gubuk itu dan setelah dekat, di bawah sinar bulan mereka dapat melihat bahwa orang ini adalah seorang gadis yang tubuhnya ramping sekali dan garis-garis wajahnya membayangkan kecantikan. Sebagai wakil rombongannya, Kim-suipoa lalu menjura, diikuti oleh Pek-bin- houw dan Pek Lian, lalu pendekar ini berkata dengan suara penuh hormat,
"Kami mohon maaf sebesanya kepada kouw-nio (nona) atas kelancangan kami bertiga memasuki rumah ini tanpa ijin. Kami adalah tiga orang yang sesat jalan ingin berteduh melewatkan malam dan karena kami mengira bahwa rumah ini kosong maka kami berani memasukinya."
Wanita yang memiliki suara merdu itu berkata, suaranya masih merdu dan enak didengar walaupun mengandung kemarahan, "Hemm, banyak sekali srigala yang berkedok domba selama tiga hari orang-orang jahat berkeliaran di sini, membuat kami banyak pusing. Siapakah yang dapat percaya omongan kalian ?"
Mendengar jawaban ini Ho Pek Lian mengerutkan alisnya. Ia sendiri adalah seorang wanita yang halus wataknya, berpendidikan sebagai puteri seorang menteri kebudayaan walaupun sejak kecil ia mempelajari ilmu silat tinggi. Maka, melihat betapa tadi gurunya bersikap hormat dan kini wanita itu sebaliknya bersikap kasar, iapun merasa tidak senang.
"Hemm, jangan sembarangan menuduh orang!" Akan tetapi sebelum Pek Lian dapat melanjutkan kemarahannya, tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali, didahului siulan panjang yang terdengar dari jauh. Suara nyaring itu terdengar dari atas genteng, "Hong-moi, awas mereka datang lagi!"
Mendengar suara ini, gadis yang bersuara merdu itu keluar dari gubuk dan diam-diam Pek Lian memandang dengan kagum bukan main. Gadis yang bersuara merdu itu ternyata memiliki kecantikan yang sama indahnya dengan suaranya. Amat cantik jelita dan manis, dan hal ini mudah dilihat biarpun hanya dengan penerangan sinar bulan saja. Sementara itu, dengan tiba-tiba, seolah-olah muncul dari tiada, di situ telah berdiri seorang wanita tua berusia lebih dari limapuluh tahun, dan ternyata ialah pemilik suara parau tadi karena dengan sikap sembarangan wanita ini berkata kepada mereka bertiga, "Kalau sam-wi (kalian bertiga) memang tidak berniat jahat, lekaslah pergi dari sini agar selamat!" Setelah berkata demikian, wanita itu bersama puterinya lalu pergi ke dalam rumah.