"Cepat. bebaskan Ho-taijin !" Teriakan ini ditujukannya kepada para anak buah yang
berhasil mendekati kereta. Ia sendiri bersama tiga orang gurunya tidak berani meninggalkan Pek- lui- kong. karena berkurang satu saja di antara mereka berarti keadaan mereka akan terdesak dan berbahaya. Dengan berempat, mereka mampu mengimbangi kelihaian Pek-lui-kong.
Mendengar perintah dari Ho-siocia (nona Ho) ini, seorang di antara para anak buah Puncak Awan Biru ini cepat meloncat ke atas kereta. Di bagian depan, kusir muda yang sejak tadi tidak ikut berkelahi, masih menelungkup di atas bangkunya dan menutupi muka dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar dan nampaknya dia merasa ngeri dan ketakutan.
Melihat ini, anggauta Puncak Awan Biru itu menendang dan kusir itu mengeluarkan seruan keras, tubuhnya terguling ke bawah dan jatuh ber debuk ke atas tanah. Dia menjadi semakin ketakutan, dengan kedua tangan masih menutupi mukanya dan tidak memperdulikan rasa nyeri karena terbanting tadi, dia berteriak-teriak, "Jangan dirusak keretaku! Kereta ini duma disewa oleh perajurit-perajurit itu ! Jangan dirusak, ini keretaku!"
Pada saat itu, beberapa orang pendekar anggauta Puncak Awan Biru telah berloncatan dan mereka hendak membuka pintu kereta yang agaknya terkunci kuat sekali. Melihat betapa pintu kereta itu ditarik-tarik dan agaknya hendak dibuka dengan paksa, si kusir itu takut kalau-kalau keretanya rusak, maka diapun lari menghampiri dan dengan marah dia menarik dari belakang beberapa orang pendekar sambil berteriak- teriak, "Jangan dirusak keretaku ini!"
Para pendekar itu tentu saja menganggap si kusir sebagai kaki tangan pasukan perajurit biarpun mengaku bahwa keretanya hanya disewa. Mereka menjadi marah dan seorang di antara mereka yang menjadi gemas itu mengayun goloknya sambil menghardiknya. "Pergi kau!"
Kusir muda itu mencoba untuk mengelak, akan tetapi karena agaknya dia memang tidak mengenal ilmu silat sama sekali, gerakannya kaku dan kurang cepat sehingga golok itu sempat menggores lengan kirinya.
"Crett...... ! Aduhhh. !" Darah mengucur dari lengan yang terobek kulitnya dan sebuah
tendangan membuat kusir muda itu terlempar dan jatuh terbanting. Dan terjadilah hal yang amat aneh, diawali dengan suara ketawa yang mendirikan bulu roma. "Ha-ha- hi-hi-hi. !" Suara ketawa ini nyaring sekali sehingga semua orang menengok ke
arah pemuda kusir yang tertawa itu. Para pendekar yang tadinya berusaha membuka pintu kereta juga menengok. Baru sekarang mereka memandang kusir muda itu penuh perhatian dan melihat bahwa kusir itu masih muda sekali, berperawakan tinggi tegap, pinggangnya ramping dan nampaknya kuat. Juga wajahnya yang membayangkan kesederhanaan, bahkan kebodohan itu, nampak tampan dan gagah. Akan tetapi, kini sepasang matanya yang lebar dan yang dilindungi alis hitam tebal seperti golok itu terbelalak dan beringas. Lengan kirinya berdarah, matanya beringas memandang ke kanan kiri seperti orang gila. Semua orang yang memandangnya menjadi terkejut dan juga ngeri. Kusir muda itu telah menjadi gila.
"Heh-heh, hi-hi-hi... darah..... darah.....! Hemmm. !" sambil berjingkrak-jingkrak seperti
menari-nari, pemuda itu lalu menjilati darah yang keluar dari luka di lengannya!
Melihat ini, semua orang menjadi semakin ngeri. Mereka mengira bahwa tentu kusir muda itu menjadi gila karena takutnya setelah lengannya terbacok luka itu. Seorang perajurit yang merasa ikut malu melihat ulah kusir kereta yang tadi dikawalnya itu, membentaknya dan memukulnya untuk mengusirnya pergi dari situ.
"Pergi...... aiiiiihhhhh. !" Bentakan itu disambung dengan jeritan yang mengerikan dan
tubuh perajurit yang menghantam itu terlempar seperti didorong oleh tenaga dahsyat, lalu tubuhnya terbanting ke atas tanah dan ternyata perajurit itu telah tewas dengan kepala retak- retak ! Padahal tadi dialah yang memukul pemuda yang seperti gila itu ! Tentu saja semua orang menjadi kaget setengah mati. Kiranya kusir muda yang gila itu memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.
Ketika kusir itu melihat perajurit terbanting tak jauh dari situ, dia berlari maju dan menubruk mayat itu, dipelukinya dan diapun menangis. Diangkatnya mayat itu, dipangkunya dan dirangkulnya
dan mulutnya tiada hentinya mengeluarkan ratap tangis, "Ayaahh...... ayaahhh. !"
Dan kusir itupun menjadi semakin beringas. Setelah menurunkan kembali mayat itu ke atas tanah, diapun meloncat berdiri dan mulailah dia mengamuk ! Tidak perduli siapapun yang berada di dekatnya, perajurit maupun pendekar, tentu diamuknya. Dan tidak ada seorangpun yang mampu bertahan terhadap amukannya. Setiap ayunan kaki atau tangan tentu membuat orang itu terlempar sampai jauh ! Melihat ini, semua orang menjadi gempar dan ketakutan, semua lari menyingkir setelah mencoba melawan yang hanya berakhir dengan tubuhnya terlempar jauh dan terbanting keras. Karena semua perajurit dan pendekar menjauhinya, kusir muda yang gila itu kemudian lari ke arah Sin-kauw yang masih bertanding dengan serunya melawan Ciong-ciangkun. Mereka berdua sudah luka-luka dan sudah agak lemas, namun masih tidak mau saling mengalah. Dan begitu pemuda itu menyerbu, keduanya telah dapat ditangkap pada tengkuk masing-masing dan sekali menggerakkan kedua tangannya, kusir muda itu telah berhasil melemparkan Sin-kauw dan Ciong-ciangkun sampai lima meter jauhnya! Mereka berdua jatuh terbanting, tidak terluka parah tetapi juga nanar dan merangkak bangun dibantu oleh anak buah masing-masing. Semua orang terkejut. Bukan main hebatnya kepandaian kusir muda itu. Dan kini kusir itu telah menerjang ke arah pertempuran antara Pek-lui-kong yang bertubuh pendek dan yang dikeroyok oleh empat orang lihai itu. Dan rusaklah perkelahian itn setelah kusir muda ini masuk. Dia memukul dan menendang, tanpa berpihak, bahkan diserangnya mereka kelimanya dengan gerakan kacau dan kaku, secara membabi-buta saja.
Hek-coa, Pek-bin-houw dan Kim-suipoa terdorong mundur sebelum menangkis, terdorong oleh angin pukulan yang keluar dari kedua tangan kusir muda itu. Mereka terkejut sekali, dan Pek Lian juga cepat menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi, kusir muda itu menangkis dengan mengipaskan tangannya dan akibatnya, tubuh nona itu terlempar sampai dua tiga meter jauhnya !
"Hyaaahhh. !" Pek-lui-kong mengeluarkan bentakan nyaring sambil menyambut pukulan
kusir muda itu dengan dorongan kedua telapak tangannya.
"Dess. !" Dua tenaga aneh yang dahsyat berjumpa dan akibatnya, si pendek itu tergetar
hebat dan terhuyung ke belakang, sedangkan kusir itupun terpelanting jatuh. akan tetapi dia sudah cepat bangkit kembali dan menangis melolong-lolong seperti anak kecil ! Si pendek terkejut setengah mati karena dia mendapat kenyataan bahwa tenaga kusir ini ternyata tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan tenaga sinkang yang dikeluarkannya tadi. Dia menjadi gentar, karena dia tidak tahu di pihak siapakah kusir itu berdiri. Tadinya kusir itu jelas membunuh seorang perajurit, akan tetapi diapun melihat kusir gila itu menyerang kalang-kabut tanpa memilih orang.
Selagi semua orang dari kedua pihak gentar memandang kepada pemuda yang menangis melolong- lolong itu, tiba-tiba jendela kereta terbuka dari dalam dan nampaklah kepala seorang pria tua tersembul dari dalam. Pria itu bukan lain adalah Menteri Ho sendiri. Dengan suara penuh wibawa pembesar yang menjadi tawanan ini berkata, suaranya tegas dan tak mungkin dapat dibantah lagi oleh mereka yang menghormati dan mengaguminya.
"Pek Lian. anakku, dan para sahabatku semua. Kalian pulanglah. Aku tidak menghendaki
kalian memberontak kepada pemerintah. Semenjak turun- temurun, nenek moyang keluarga Ho adalah orang orang yang setia mengabdi kepada nusa dan bangsa, setia kepada pemerintah yang berkuasa dan tidak pernah ada yang menjadi pemberontak. Aku tidak ingin menodai nama keluarga Ho dengan pemberontakan. Nah, pulanglah. Bagaimanapun juga, aku tidak mau melarikan diri dari tahanan pemerintah."
"Ayahhhh. !"
"Anakku, pergilah ! Semoga Thian selalu memberkahimu, selamat berpisah !" Daun jendela kereta itu tertutup kembali.