"Mari kita bersiap. Kalian tahu adanya perobahan rencana. Kita bertiga harus menghadapi jagoan istana itu dan biar Sin-kauw menghadapi Ciong-ciangkun yang mengepalai pasukan pengawal. Hek-coa, harap kau cepat beri tahu Sin-kauw yang bersembunyi di pohon itu."
"Baik!" kata si muka hitam yang cepat pergi ke arah pohon. Tak lama kemudian, semua orang ini sudah tidak nampak lagi, akan tetapi sambil bersembunyi mereka telah melakukan persiapan untuk menyerbu dan di belakang rumah-rumah di sekitar pasar itupun telah terjadi kesibukan-kesibukan para anak buah mereka.
Akhirnya terdengarlah derap kaki kuda para perajurit itu. Debu mengebul tinggi dan dari arah selatan nampaklah rombongan itu memasuki dusun. Belasan orang perajurit berkuda nampak paling depan, kemudian sebuah kereta berkuda empat yang dikusiri oleh seorang laki-laki muda yang berpakaian biasa saja, tidak seperti para perajurit sehingga mudah diduga bahwa kereta itu bukanlah kereta pasukan dan kusir itupun bukan perajurit. Kemudian, di kanan kiri kereta itu nampak beberapa orang perajurit berkuda, lalu di belakang kereta masih ada puluhan orang perajurit lagi. Jumlah seluruh perajurit tidak kurang dari limapuluh orang! Pakaian seragam mereka tertimpa sinar matahari mengeluarkan cahaya berkilauan, bersama kilauan tombak dan golok mereka!
Ketika pasukan ini tiba di depan pasar, tiba-tiba saja terjadi kebakaran di empat penjuru !
Suasana menjadi gempar. Teriakan "api! api!" terdengar dan para penduduk menjadi panik.
Orang-orang lari berserabutan, keluar dari rumah dan memenuhi jalan raya yang tadinya sunyi itu. Asap yang terbawa angin juga ikut menambah kacaunya suasana. Kuda para perajurit menjadi ketakutan juga karena para penduduk itu berteriak-teriak, lari ke sana-sini, ada yang mencari anak mereka, ada pula yang lari mencari air dan ada pula yang berteriak-teriak, minta tolong karena rumah mereka kebakaran.
Ciong-ciangkun, komandan pasukan itu, nampak keluar dari dalam kereta bersama seorang perajurit yang bertubuh pendek cebol. Keduanya lalu melompat ke atas kereta yang telah dihentikan oleh kusir. Komandan pasukan yang bertubuh tinggi besar dan nampak gagah itu, lalu berteriak-teriak dari atas atap kereta, mengatur para perajuritnya agar waspada dan berhati-hati karena dia menaruh kecurigaan akan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ini. Mana mungkin ada kebakaran rumah terjadi sedemikian tiba-tiba dan sekaligus terjadi di empat penjuru ?
Dan kecurigaannya itu memang segera terbukti. Dua orang perajurit mengeluarkan pekik keras dan mereka jatuh terjungkal dari atas punggung kuda mereka. Ternyata mereka telah diserang oleh anak buah para penghadang tadi.
"Awas, jaga kereta tawanan !" teriak Ciong- ciangkun dan dari atas kereta diapun mengeluarkan aba-aba sehingga semua perajurit itu cepat mengepung kereta dan melakukan penjagaan dengan ketat. Pada saat itu, tidak kurang dari tigapuluh orang, yaitu gabungan dari anak buah para penghadang, tukang-tukang pikul garam, para piauwsu, pegawai-pegawai toko, mulai menyerbu dan terjadilah pertempuran yang ramai di tengah jalan di depan pasar itu. Para penduduk dusun itu yang tadinya dengan panik lari berserabutan, kini menjadi ketakutan dan cepat merekapun lenyap bersembunyi, tidak ingin terbawa dalam pertempuran yang tidak mereka ketahui sebabnya itu.
Terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian tanpa banyak bicara lagi karena kedua fihak sudah tahu mengapa mereka bertempur dan para perajurit itupun dapat menduga bahwa orang-orang ini tentulah orang-orang yang ingin merampas dan menyelamatkan tawanan.
Biarpun jumlah para perajurit itu lebih banyak, akan tetapi karena para penyerbu itu rata- rata memiliki kepandaian silat yang lumayan, maka pertempuran itu dapat berimbang. Setiap orang penyerbu dikeroyok dua orang perajurit, akan tetapi keadaan mereka tidak terdesak, bahkan sebaliknya, fihak pasukan pemerintah mulai kewalahan dan beberapa orang perajurit mulai berjatuhan. Terutama sekali karena adanya tiga orang pemimpin penyerbu yang mengamuk hebat, yaitu Kim-suipoa yang menyamar sebagai pedagang toko, Pek-bin-houw yang menyamar sebagai pedagang garam, dan Hek-coa ketua piauwsu. Tiga orang ini mengamuk hebat dan makin mendekat ke arah kereta di mana duduk seorang tawanan yang hendak mereka bebaskan. Melihat sepak terjang tiga orang ini, Ciong-ciangkun, komandan pasukan itu menoleh kepada perajurit pendek cebol yang berdiri di atas kereta pula sambil menonton pertempuran. Ciong- ciangkun berkata dengan sikap hormat, "Harap taihiap suka menjaga kereta. Saya akan menahan mereka !"
"Baik, ciangkun, jangan khawatir," jawab si pendek dengan sikap tak acuh dan melihat sikap komandan itu demikian hormat kepadanya, sungguh amat mengherankan orang. Si pendek itu berpakaian perajurit biasa saja, akan tetapi komandan itu demikian menghormatnya.
Kini Ciong-ciangkun, komandan pasukan yang kelihatan gagah perkasa itu mencabut pedangnya dan meloncat turun dari atas kereta, lalu dia berlari menyerbu ke depan. Lawan tangguh yang paling dekat adalah Hek-coa si ketua piauwkiok, akan tetapi sebelum dia dapat mendekati si muka hitam itu, tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan dia telah disambut oleh seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang berpakaian sederhana dan yang gerakannya gesit bukan main. Laki-laki ini mukanya kecil dan hidungnya pesek seperti hidung seekor monyet. Inilah Sin-kauw, seorang di antara empat orang gagah yang berusaha menghadang pasukan dan hendak merampas tawanan itu.
Seperti telah mereka rencanakan, Sin-kauw inilah yang bertugas menghadapi komandan itu, maka begitu melihat komandan itu turun dari kereta, diapun segera menyambutnya dengan senjata tongkatnya. Melihat munculnya orang ini, Ciong-ciangkun membentak marah.
"Bagus sekali! Kiranya si monyet sakti kini telah menjadi pemberontak !" Komandan ini mengenal Sin-kauw, seperti juga dia mengenal tiga orang pimpinan yang lain itu, karena mereka berempat itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup ternama sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan sebagai pendekar-pendekar yang gagah perkasa.
"Ciong-ciangkun," kata Sin-kauw si Monyet Sakti, "kita sama-sama mengabdi, hanya bedanya, kalau engkau mengabdi kelaliman karena memperoleh bayaran, sebaliknya aku mengabdi kebenaran tanpa mengharapkan upah apapun juga."
"Keparat, pemberontak tetap pemberontak hina !" Dan Ciong- ciangkun sudah menyerang dengan marahnya, mempergunakan pedangnya. Sin kauw menangkis dengan tongkatnya dan membalas dengan cepat dan tidak kalah dahsyatnya, Mereka sudah berkelahi dengan hebat, mempergunakan senjata dan mengerahkan seluruh tenaga, mengeluarkan semua jurus-jurus simpanan mereka. Dan memang keduanya memiliki kepandaian yang seimbang sehingga perkelahian antara mereka amat hebatnya. Tidak ada anak buah dari kedua fihak berani mencampuri, karena jauhnya tingkat kepandaian mereka membuat pembantu-pembantu itu bukan membantu, malah mengantar nyawa dengan konyol saja.
Melihat betapa komandan itu telah dihadapi oleh Sin-kauw dan kereta tawanan itu ditinggalkan, yang nampak berjaga hanyalah seorang perajurit pendek dan kusir yang nampak ketakutan, juga hanya beberapa orang perajurit di kanan kiri kereta, maka Kim-suipoa menjadi girang sekali. Ternyata, tidak seperti berita yang diterimanya, di situ tidak terdapat jagoan istana yang kabamya amat lihai itu.
"Mari cepat, kita serbu kereta!" katanya kepada dua orang temannya dan tiga orang gagah ini lalu mengamuk lebih hebat, makin mendekati kereta. Setelah mereka berhasil mendekati kereta, Kim-suipoa berseru dengan suara lantang, "Ho-taijin, kami datang membebaskan tuan !"
Akan tetapi begitu mereka tiba di dekat kereta, tiba-tiba saja ada angin puyuh menyambar ke arah mereka. Angin yang mempunyai tenaga berputaran hebat dan sedemikian kuatnya tenaga angin ini sehingga gerakan mereka tertahan dan tiga orang ini tidak mampu bergerak maju, betapa kuatpun mereka berusaha untuk menerjang ke depan! Tentu saja tiga orang gagah ini terkejut bukan main. Mereka baru tahu bahwa angin puyuh itu tim bul dari gerakan tangan perajurit pendek yang berdiri di atas kereta setelah si pendek itu tertawa bergelak dengan suara yang menggeledek, tidak sesuai dengan tubuhnya yang pendek cebol itu.
"Hua-ha-ha-ha. ! Sungguh tak kusangka, di tempat ini benar-benar ada penjahat-
penjahat kecil yang tak tahu diri!"
Baru sekarang tiga orang gagah itu sadar. Inilah kiranya jagoan istana yang dikabarkan ikut dalam pasukan pengawal ini! Pantas saja disohorkan orang karena memang ternyata kepandaiannya hebat sekali. Mereka memang hanya mendengar saja tentang jagoan istana yang memiliki kepandaian hebat, dan baru sekarang mereka memperoleh kesempatan untuk bertemu dan merasakan kelihaiannya.