Bentak Liu Lu Sian dan tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan yang cepat sekali, didahului gulungan sinar hitam dari rambutnya yang mengurung tubuh Kauw Bian Cinjin.
Kakek ini kembali berseru keras dan memutar cambuk, maka terjadilah pertempuran yang amat hebat. Lebih hebat daripada pertempuran-pertempuran tadi, karena sekarang yang bertempur adalah dua orang tokoh Beng-kauw. Betapapun juga, masing-masing sudah mengenal gerakan lawan sehingga dapat menandinginya. Ilmu cambuk di tangan Kauw Bian Cinjin amat lihai sehingga di waktu mudanya ia mendapat julukan Cambuk Halilintar. Memang, melihat kakek ini memainkan cambuk, membuat orang yang kurang tingi kepandaiannya menjadi ngeri dan jerih. Cambuk itu berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar-lingkar, bersiutan anginnya dan meledak-ledak di udara disusul sinar memanjang menyambar-nyambar. Hebatnya, tiap lecutan ujung cambuk ini sudah cukup kuat untuk merenggut nyawa lawan.
Betapapun juga ilmu cambuk Kauw Bian Cinjin ini tentu saja satu sumber dengan ilmu kepandaian mendiang Pat-jiu Sin-ong dan tentu saja Liu Lu Sian mengenal sari ilmu cambuk ini. Apalagi sekarang wanita itu telah memperdalam ilmunya secara hebat, yaitu semenjak ia minggat dari ayahnya sambil membawa pergi kitab-kitab pusaka. Selama puluhan tahun ini secara sembunyi Liu Lu Sian telah memperdalam ilmunya, malah ia telah berhasil menguasai ilmu gaib Coan-im-i-hun-to dan penggunaan rambut kepalanya merupakan permainan "ilmu cambuk"
Yang mujijat karena rambut itu dapat dipakai menjadi puluhan batang cambuk yang bergerak secara berbareng dari jurusan-jurusan yang berlawanan.
Kauw Bian Cinjin dapat menduga akan hal ini. Ketika tadi ia melihat sepak terjang Liu Lu Sian dalam menghadapi It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni, lalu melihat tapak tangan merah yang membunuh Cui-beng-kui, ia sudah menduga bahwa puteri suhengnya ini telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Ia pun maklum tidak akan mampu menandinginya, akan tetapi, untuk membela Beng-kauw yang terang-terangan hendak dikacau Liu Lu Sian, ia menjadi nekat. Apalagi kalau diingat bahwa suhengnya, Liu Mo bersikap mengalah terhadap Liu Lu Sian. Hanya dia seorang yang dapat mencegah Lu Sian merampas kedudukan Beng-kauwcu, karena kalau ia biarkan dan suhengnya memberikan kedudukan itu kepada Liu Lu Sian, tentu Beng-kauw akan dibawa masuk jurang kehancuran. Keponakannya ini seperti orang yang tidak waras otaknya, yang sakit jiwanya.
Setelah saling serang dengan hebat sampai puluhan jurus lamanya, tiba-tiba terdengar lengking tinggi dari mulut Liu Lu Sian, disusul gerengan marah Kauw Bian Cinjin. Mereka secara tiba-tiba tidak bergerak lagi dan ketika semua mata yang tadi menjadi kabur dan silau oleh gerakan-gerakan cepat memandang, ternyata cambuk di tangan Kauw Bian Cinjin sudah saling libat sampai menjadi seperti benang ruwet dengan rambut Liu Lu Sian. Hebatnya, tidak hanya cambuk itu yang terlibat, melainkan juga lengan kanan, pundak dan leher kakek Bengkauw itu.
"Kauw Bian Cinjin, mengingat hubungan perguruan, aku ampunkan kau asal kau mau menyerah dan menjadi pembantuku"
Terdengar suara Liu Lu Sian, ramah dan halus.
"Liu Lu Sian, kau sadarlah dan jangan lanjutkan niatmu mengacau Beng-kauw, dan kau menjadi murid keponakanku yang baik dan akan menerima berkah dan doaku.."
Jawab Kauw Bian Cinjin, suaranya tetap lantang berwibawa.
"Tua bangka keras kepala. Dibunuh sayang, tidak dibunuh menjengkelkan. Kau perlu dihajar.."
Tiba-tiba tubuh Kauw Bian Cinjin terangkat naik dan di lain saat tubuhnya telah terbanting ke atas tanah setelah Liu Lu Sian menggerakkan tangan kanannya. Kakek itu terbanting dan pingsan, pipi kanannya terdapat tanda tapak tangan merah.
"Liu Lu Sian, tak perlu kau berlaku kejam terhadap keluarga Beng-kauw sendiri"
Tiba-tiba terdengar Liu Mo berkata sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hemmm, Paman Liu Mo, apakah kau juga hendak menghalangi aku? Ingat, karena kau yang merampas kedudukan Kauwcu, aku tidak akan berlaku lunak seperti terhadap Kauw Bian Cinjin kepadamu"
Wajah Liu Mo tetap terang dan bibirnya tersenyum.
"Keponakanku, aku sama sekali tidak hendak menghalangimu dan aku sama sekali tidak merampas kedudukan Kauwcu, karena sesungguhnya ayahmu sendiri yang memberikan kepadaku. Oleh karena ayahmu yang menyerahkan kedudukan Kauwcu, kalau kau hendak memintanya, kau harus minta ijin ayahmu lebih dulu"
Berkata demikian, Liu Mo menoleh ke arah peti mati Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
"Kalau aku sudah minta ijin kepada ayah, kau suka menyerahkan kedudukan Kauwcu kepadaku?"
"Tentu saja, kalau Suheng mengijinkan"
Ucapan ini tentu saja membikin semua orang yang hadir menjadi tercengang. Mana bisa orang mati memberi ijin? Akan tetapi Liu Lu Sian segera menghampiri peti mati ayahnya, lalu membungkuk sebagai penghormatan. Hal ini saja sudah membuat para tokoh yang hadir di situ mengerutkan kening. Penghormatan terhadap orang tua merupakan hal yang amat penting, karena hal ini menjadi tanda akan kebaktian seseorang dan karenanya menjadi dasar untuk mengetahui watak seseorang. Liu Lu Sian tidak berlutut, hanya menjura, hal ini tentu saja tidak sepatutnya dan dapat dinilai betapa kasar dan berandalan watak wanita itu.
"Ayah, aku minta ijin padamu untuk menggantikan kedudukan kauwcu dari agama kita Beng-kauw, dan puteraku menjadi kaisar di Nan-cao"
Suara ini lantang dan terdengar semua orang yang hadir.
Suasana menjadi sunyi sekali setelah Liu Lu Sian mengucapkan permintaannya ini. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara, bahkan banyak yang menahan napas untuk menyaksikan apa selanjutnya yang akan terjadi. Apakah Beng-kauw yang sudah demikian tersohor itu akan berganti kauwcu (kepala agama) secara demikian sederhana dan juga kasar? Apakah Kaisar Nan-cao akan "dicopot"
Dan diganti begitu saja di depan banyak tamu dari seluruh pelosok dunia? Apakah Nan-cao dan Beng-kauw akan diserahkan kepada seorang wanita berwatak iblis seperti Tok-siauw-kui yang kini lebih patut disebut Tok-kui-bo (Biang Iblis Beracun) itu? Kalau hal ini terjadi, akan gegerlah dunia, karena tadi wanita itu sudah berjanji akan memerangi dan menundukkan semua kerajaan. Dan dengan ilmu kepandaiannya yang demikian hebatnya, hal itu benar-benar merupakan bahaya besar.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ledakan keras dan semua orang menjadi pucat, mulut ternganga dan mata terbelalak memandang ke arah peti mati yang mendadak meledak keras itu. Tutup peti mati pecah berantakan dan.. sesosok tubuh yang tinggi besar bangkit dari dalam peti mati, langsung berdiri tegak. Tubuh tinggi besar berpakaian serba putih, bermuka pucat tapi tetap dapat dikenal sebagai muka Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Mata yang terbelalak lebar hampir keluar dari pelupuknya itu seperti bukan mata manusia, dan suaranya terdengar berkumandang seperti suara dari dunia lain ketika mulutnya yang tertarik keras itu bergerak.
"Tiga tahun aku menanti datangnya saat ini.. Lu Sian.. aku dapat menduga akan hal ini setelah kau mencuri Sam-po-cin-keng (Kitab Tiga Pusaka) dan minggat.. hanya aku yang dapat menahanmu. Mari kau ikut aku meninggalkan dunia yang banyak penderitaan ini.."
Sejenak Liu Lu Sian terhenyak kaget, mundur dua langkah dan mukanya berubah pucat. Akan tetapi beberapa detik kemudian ia agaknya dapat menahan gelora hatinya yang terkejut, karena ia melangkah maju lagi tiga langkah dengan gerakan tenang. Kemudian suaranya terdengar lantang, juga mengandung kumandang seperti terdengar dari dunia lain karena ia juga mempergunakan ilmu mujijat Coam-im-i-hun-to seperti yang dipergunakan ayahnya tadi.
"Tidak, Ayah. Aku masih ingin hidup, ingin menguasai dunia, ingin memperkembangkan Beng-kauw sehingga seluruh manusia di permukaan bumi ini menjadi penganut Beng-kauw semua"
"Bodoh"
Agama yang dipaksakan dengan kekerasan akan hancur sendiri karena para penganutnya akan menjadi penganut palsu. Mari, ikut dengan aku"
"Ayah, kenapa kau tidak mati sendiri? Aku tidak mau ikut"
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang disangka telah mati selama tiga tahun lebih itu tertawa, suara ketawanya bergelombang dan kumandangnya datang susul menyusul. Lebih separoh jumlah tamu jatuh bergulingan, tidak kuat menahan getaran suara ketawa bergelombang ini yang seakan-akan membetot semangat mereka sehingga mereka roboh pingsan. Hanya tokoh-tokoh besar saja yang sanggup menahan sehingga tidak roboh terguling, akan tetapi mereka tetap saja harus mengerahkan sin-kang dan tergoyang-goyang di atas tempat duduk masing-masing.
"Kau hendak memaksa, Ayah? Aku melawan"
Bentak Liu Lu Sian dan tubuhnya bergerak ke depan, melancarkan pukulan dengan kedua tangannya, dibantu rambut kepalanya. Karena maklum bahwa di dunia ini agaknya hanya ayahnya yang merupakan lawan terberat, maka sekaligus Liu Lu Sian mengeluarkan seluruh tenaganya untuk merobohkan ayahnya yang disangkanya telah mati itu. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan masih tertawa keras ketika ia mengulur kedua tangannya ke depan. Dua pasang tangan bertemu di udara, sepasang mata Liu Gan makin melotot keluar dan ia tampak kaget sekali, mulutnya mengeluarkan suara