Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 96

Memuat...

"Ma-susiok, berani kau mengganggu anakku?"

Suling Emas sedang sibuk mengurut dan menotok jalan darah di belakang pundak dan tengkuk Sian Eng yang juga roboh pingsan oleh suara tadi, sedangkan Bu Sin di dekat Sian Eng duduk bersila meramkan mata mengerahkan tenaga dalam seperti yang ia pelajari dari kakek sakti sehingga ia terbebas daripada pengaruh Coan-im-i-hun-to. Ketika mendengar suara ini, Suling Emas menjadi pucat mukanya, cepat ia melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan.. kedua kaki pendekar ini menggigil.

Kini semua mata tertuju ke arah pintu dalam ruangan sembahyang karena dari dalam pintu itu keluarlah seorang wanita, langkahnya perlahan dan ringan seakan-akan tidak menginjak lantai. Munculnya wanita ini mengakhiri suara dan getaran tadi. Langkahnya ringan, sikapnya agung dan pribadinya mendatangkan kesan yang bermacam-macam. Ia sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya, namun masih cantik jelita mengagumkan. Bentuk mukanya yang manis berkulit putih, memerah dadu di kedua pipinya, hidungnya kecil mancung, mulutnya kecil dengan bibir merah dan indah bentuknya, seperti gendewa terpentang. Sepasang matanya menyaingi mata burung hong yang sedang berahi, dihias bulu mata panjang hitam melentik, dilindungi sepasang alis kecil panjang menjungat ke atas di bagian ujungnya, dagunya meruncing dan sedikit pun tidak tampak tanda-tanda keriput. Hanya ada rambutnya terdapat tanda usia tua.

Rambutnya tebal dan panjang terurai sampai ke lutut, menutupi seluruh tubuh bagian belakang, akan tetapi rambut itu sudah tampak berwarna dua karena banyaknya rambut putih terselip di sana-sini. Hanya tiga orang saja di seluruh ruangan itu yang mengetahui dengan pasti siapa wanita ini. Pertama adalah Beng-kauwcu Liu Mo, karena kakek ini memang tahu bahwa keponakannya yang selama puluhan tahun lenyap dari dunia ramai, beberapa tahun yang lalu ini telah kembali dan bersembunyi di lorong-lorong rahasia yang merupakan terowongan di bawah tanah. Juga Liu Hwee, puteri ketua Beng-kauw, tahu akan hal ini dan seperti pernah diceritakan di bagian depan ketika melarikan diri bersama Bu Sin, Liu Hwee mengajak Bu Sin melalui bagian di mana bersembunyi wanita itu. Orang ke tiga yang tahu akan wanita ini adalah Cui-beng-kui, karena wanita ini adalah kekasihnya dan merupakan satu-satunya orang yang paling ia cinta, ia segani dan ia takuti di seluruh dunia ini.

Masih ada seorang lagi yang hanya menduga-duga, dengan ragu-ragu dan dengan jantung berdebar keras serta kedua kaki menggigil, yaitu Suling Emas sendiri. Inikah ibu kandungnya? Ia memeras ingatannya. Ketika ia berusia kurang lebih sembilan tahun, ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya. Pergi tanpa pamit dan tidak ada yang tahu ke mana perginya, malah semenjak itu sampai saat ini belum pernah ia bertemu muka. Ia ingat bahwa dahulu ibunya seorang wanita cantik jelita. Ketika pada saat itu tercium olehnya bau harum semerbak yang juga tercium oleh semua orang pada saat wanita itu muncul, teringatiah Suling Emas. Tak salah lagi, inilah ibu kandungnya. Bau wangi seperti ini pula yang tak pernah ia lupakan, bau ibunya dulu (baca cerita SULING EMAS).

Akan tetapi ia menahan perasaannya sehingga lidahnya yang sudah bergerak, bibirnya yang sudah gemetar hendak meneriakkan panggilan itu ia tahan. Matanya memandang sayu, penuh keharuan, penuh kedukaan, dan penuh kehausan kasih sayang ibu. Wanita itu memang bukan lain adalah Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, yang pada tiga puluhan tahun yang lalu menggemparkan dunia kang-ouw dengan sepak terjangnya yang ganas, dengan ilmu silatnya yang tinggi, dan dengan kecantikannya yang luar biasa. Selama berpisah atau bercerai dari Kam Si Ek, dunia kang-ouw tidak mendengar lagi namanya, namun bagi mereka yang berurusan dengannya, tentu saja tidak akan dapat melupakan wanita hebat ini.

Kini semua orang memandangnya, yang sudah mengenalnya terkejut, yang belum mengenalnya menduga-duga siapa gerangan wanita yang dapat menggunakan ilmunya sedemikian hebat sehingga dengan suaranya saja dapat membikin pingsan puluhan orang. Liu Lu Sian melangkah maju terus, langkahnya lambat akan tetapi ada sesuatu yang amat mengerikan tersembunyi di balik kecantikannya, di balik langkah yang lemah gemulai, di balik sikap yang agung. Sepasang matanya menyapu para tamu dengan tak acuh, dan kedua kakinya terus melangkah menghampiri Cui-beng-kui. Iblis yang biasanya menyeramkan hati setiap orang itu kini berdiri dengan kedua kaki menggigil, sinar matanya mengandung takut yang amat hebat, punggungnya membungkuk-bungkuk dan dari bibir mayatnya itu keluar ucapan lemah tersendat-sendat,

"Tidak.. tidak.. Lu Sian.. jangan kau benci padaku.. ah, ampunkanlah aku.. jangan benci.."

"Berani kau menggunakan Cui-beng-ciang mencoba membunuhnya?"

Kembali Liu Lu Sian berkata lirih, terus melangkah mendekati.

"Ti.. tidak.. Lu Sian.. aku benci karena dia.. dia putera Si Ek. Jangan.. jangan pandang aku seperti itu.. Lu Sian.. kau ampunkan aku.. kau bunuh aku.. tapi jangan benci.."

Semua orang melongo. Benar-benar sebuah adegan yang aneh, lucu, juga mengharukan. Kiranya iblis itu bukan takut akan keselamatannya, melainkan takut kalau-kalau wanita yang dicintanya itu membencinya. Dari adegan itu sudah dapat dibayangkan betapa besar dan mendalam cinta kasih iblis itu terhadap Liu Lu Sian. Cui-beng-kui mundur-mundur, terus diikuti Liu Lu Sian dan akhirnya mereka berdiri berhadapan, saling menentang pandang. Wanita itu tersenyum dan semua orang tersirap darahnya. Senyum itu masih manis luar biasa karena semua giginya masih utuh, akan tetapi entah bagaimana, di balik senyum ini terbayang sesuatu yang tidak semestinya, yang membikin orang bergidik, yang meremangkan bulu roma, seperti senyum seorang siluman.

"Tidak, Ma Thai Kun, betapa aku dapat membencimu? Dahulu aku memang benci padamu karena kau mendesak-desakku dengan cinta kasihmu yang membikin aku gemas dan benci karena rupamu buruk. Aku lebih baik memilih Kam Si Ek yang tampan dan gagah, dan memilih pria-pria lain yang tampan. Akan tetapi cinta kasih mereka itu semua palsu belaka, hanya cinta kasihmu yang murni, Ma Thai Kun. Kalau dahulu aku memilihmu, tidak akan terjadi seperti sekarang ini, hidupku penuh pahit getir dan kekecewaan. Ma Thai Kun, biarlah orang-orang tiada guna ini semua menyaksikan bahwa sekarang aku menerima cintamu, aku menerima cinta kasihmu yang suci murni"

Semua orang melongo. Benar-benar adegan yang luar biasa di mana seorang wanita tua menyatakan cinta kasih kepada kakek yang seperti iblis. Adegan roman yang tidak romantis, bahkan lucu dan menyeramkan. Ingin mereka itu tertawa, namun tidak ada yang berani membuka mulut. Mereka tetap melongo dan mulut mereka terbuka makin lebar ketika melihat betapa Cui-beng-kui menangis. Iblis itu menangis, melangkah maju dan merangkul Liu Lu Sian, di antara tangisnya terdengar ia berkata,

"Terima kasih.. terima kasih Lu Sian, aku cinta padamu.."

Wanita cantik jelita itu kemudian menyambut muka mayat hidup itu dengan sebuah ciuman mesra, terdengar kata-katanya,

"Aku menciummu sebagai tanda penerimaan cinta kasihmu, akan tetapi aku harus membunuhmu karena kau telah mengganggu anakku.."

Ucapan ini disusul ciuman, akan tetapi ciuman ini merupakan ciuman maut bagi Cui-beng-kui karena tiba-tiba tubuhnya berkelojotan kaku dan ketika wanita itu melepaskan rangkulannya, ia roboh terguling miring dengan mata melotot. Darah keluar dari semua lubang di tubuhnya, yang tampak mengerikan keluar dari lubang hidung, mulut, dan kedua telinganya. Di punggungnya, di mana tadi kedua tangan Liu Lu Sian memeluknya, tampak tanda tapak tangan dengan sepuluh jari, jelas sekali bekas jari-jari itu terbenam di punggung, meninggalkan cap tangan seperti baru saja punggung itu dicap dengan gambar tangan besi dibakar merah.

"Wah, Thian-te Liok-koai kurang seorang"

Terdengar It-gan Kai-ong mengeluh dan membanting ujung tongkatnya di atas tanah.

"Tok-siauw-kui, kau boleh menggantikan kedudukannya. Heh-heh, dengan tingkat kepandaianmu, kau cukup berharga menjadi Iblis Dunia dan kehadiranmu menggantikan Cui-beng-kui membuat Thian-te Liok-koai lengkap kembali. Ho-ho-he"

Memang seorang tokoh sakti seperti It-gan Kai-ong ini memiliki watak yang aneh juga cerdik. Ia maklum bahwa baru saja Tok-siauw-kui Liu Lu Sian memamerkan kepandaiannya sehingga semua orang menjadi kagum. Hal ini akan merendahkan nama besar Thian-te Liok-koai, apalagi setelah seorang di antara Liok-koai terbunuh oleh wanita itu. Oleh karena inilah maka ia sengaja mengeluarkan ucapan itu sehingga timbul kesan bahwa bagi It-gan Kai-ong dan anggauta Liok-koai lainnya, kepandaian Tok-siau-kui itu hanya setingkat dengan kepandaian mereka.

"Tikus busuk, jangan menjual lagak di sini. Pergi"

Liu Lu Sian berkata sambil menggerakkan kaki melayang ke depan dan tangan kanannya bergerak mendorong.

Gerakannya kelihatan lambat saja, akan tetapi entah bagaimana, tak dapat diikuti oleh pandangan mereka, tahu-tahu ia telah berada di sebelah atas pundak kanan It-gan Kai-ong dan kedua tangannya dengan jari tangan terbuka menghantam kepala dan punggung. Hebat bukan main serangan ini. It-gan Kai-ong merasa seakan-akan diserang gelombang ombak dari belakang dan depan. Namun sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan, tentu saja ia tidak mau menyerah mentah-mentah. Tongkatnya sudah berkelebat ke atas menangkis kedua tangan lawan. Ia berhasil menangkis tangan yang menghantam kepala, akan tetapi tangan yang menampar pundak, biarpun dapat ia elakkan sehingga tidak tepat mengenai tempat berbahaya, namun masih saja menyerempetnya.

"Plakkk.. brettt"

Keduanya melompat mundur.

Dalam segebrakan saja sudah tampak kesudahannya yang mengerikan. Untung keduanya memiliki ilmu tinggi, kalau tidak tentu keduanya sudah roboh dan tewas. Lengan kiri Liu Lu Sian tampak berjalur merah akibat tangkisan tongkat, akan tetapi kakek pengemis itu lebih hebat penderitaannya. Baju pada pundaknya bolong besar seperti terbakar dan kulit pundaknya melepuh. Untung sin-kangnya amat kuat sehingga ia berhasil menolak hawa pukulan maut tadi sehingga hanya terluka pada kulitnya saja. Kalau kurang kuat, tentu di pundaknya sudah terdapat "cap"

Lima jari merah terbakar dan nyawanya melayang. Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong sudah melangkah maju, sikap mereka jelas hendak membantu It-gan Kai-ong. Akan tetapi kakek pengemis itu menggunakan kedua lengannya mencegah mereka, lalu menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata.

"Bagus, kau memang patut menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai. Akan tetapi adu kepandaian di antara Liok-koai, bukan di sini tempatnya. Untuk menentukan siapa lebih unggul, kau diharapkan ikut datang pada bulan lima malam ke lima belas di puncak Thai-san. Yang tidak datang dianggap kalah dan diberi tingkat paling rendah. Ho-ho-heh-heh"

"Kai-ong, apakah tidak diberi hajaran sedikit dia agar jangan sombong terhadap kita?"

Tok-sim Lo-tong berkata sambil "sentrap-sentrup"

Menyedot isi hidungnya yang mau keluar saja.

"Jangan, Lo-tong. Dia masih terhitung orang dalam dari Beng-kauw, tidak enak kita sebagai tamu membikin ribut. Nah, Beng-kauwcu, selamat tinggal. Tok-siauw-kwi, kalau nanti go-gwe-cap-go (bulan lima tanggal lima belas) kau tidak datang, berarti kau menjadi Liok-koai yang paling bawah tingkatnya"

Setelah berkata demikian, It-gan Kai-ong menggapai muridnya, Suma Boan, diajak pergi dari tempat itu, diikuti oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong. Berturut-turut para wakil dari Kerajaan Wu-yueh juga berpamitan, karena setelah kakek pengemis yang mereka andalkan itu pergi, otomatis mereka merasa kedudukan mereka amat lemah dan tidak ada perlunya berada di situ lebih lama lagi. Bu Sin merasa heran dan kaget, juga gemas ketika melihat Suma Boan mendekati tempat mereka dan berkata kepada Sian Eng,

"Eng-moi-moi, kau tunggulah, aku pasti akan pergi mengunjungi Kui Lan Nikouw di Cin-ling-san."

Betapa herannya hati Bu Sin melihat adiknya itu mengangguk dengan muka merah. Setelah Suma Boan pergi, Bu Sin memegang tangan adiknya dan bertanya lirih, setengah berbisik, akan tetapi suaranya mengandung tuntutan keterangan,

"Eng-moi, apa artinya ini? Apa hubunganmu dengan keparat itu dan mau apa ia mengunjungi Sukouw?"

Post a Comment