Sai-cu Lama tersenyum menyeringai.
"Heh-heh, Tiong Khi Hwesio, jadi engkau menghendaki diteruskannya perkelahian ini? Hemm, kau kira percuma saja aku beristirahat semalam? Engkau takkan menang kali ini!"
"Terserah kepadamu, Sai-cu Lama. Dalam pertandingan ilmu silat memang hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah, jadi tak perlu diributkan benar."
Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kecewa dan marah, akan tetapi sikapnya masih biasa, halus dan ramah, dan tenang sekali. Tiba-tiba Sai-cu Lama meloncat berdiri dan ternyata gerakannya sigap bukan main, tanda bahwa dia telah memulihkan kembali tenaganya dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan dia telah memegang sebatang pedang tipis yang berkilauan.
Pedang ini diam-diam diterimanya dari seorang muridnya setelah dia memberi isyarat malam tadi. Kiranya, Sai-cu Lama yang merasa betapa lihainya orang yang menjadi lawannya, diam-diam telah mempersiapkan diri dan kini hendak mencapai kemenangan dengan bantuan sebatang pedang tipis! Tiong Khi Hwesio juga sudah bangkit berdiri dan dia tetap tenang saja melihat lawannya kini memegang sebatang pedang. Bagi seorang ahli silat tinggi yang memiliki kesaktian seperti dia, menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama, tiada bedanya apakah lawan itu bersenjata ataukah tidak. Kedua tangan dan kaki lawan itupun takkalah ampuhnya dengan pedang yang kini dipegangnya.
"Hwesio tua bangka, makanlah pedang ini!"
Bentak Sai-cu Lama yang sudah menerjang dengan dahsyatnya. Tempat itu masih seperti semalam, penuh dengan para pendeta Lama yang menjadi penonton dari jarak yang cukup jauh, kini mereka mengharapkan bahwa ketua mereka akan dapat membunuh hwesio tua yang tangguh itu.
Pedang itu lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar terang yang meluncur dan ketika Tiong Khi Hwesio dapat mengelak dengan lompatan ke kiri, sinar pedang berkelebatan dan bergulung-gulung menyambar ke arah tubuh Tiong Khi Hwesio dari delapan penjuru angin! Tahulah Tiong Khi Hwesio bahwa ilmu pedang yang dimainkan lawan adalah semacam Ilmu Pedang Delapan Penjuru Angin atau Pat-hong Kiam-sut yang telah diubah dan diberi banyak perkembangan. Dia sama sekali tidak menjadi gentar. Dengan keringanan tubuhnya dia berkelebatan menghindarkan diri, kemudian secara tiba-tiba terdengar bunyi melengking yang menggetarkan semua orang dan Sai-cu Lama sendiri mengeluarkan seruan kaget. Kiranya kini Tiong Khi Hwesio telah memainkan ilmu silatnya yang semalam tidak dikeluarkannya, yaitu Ilmu Silat Toat-beng-ci.
Jari-jari kedua tangannya seperti hidup, melakukan totokan-totokan dan cengkeraman-cengkeraman dan setiap jari itu mengandung ancaman maut! Itulah sebabnya maka dinamakan Jari Pencabut Nyawa! Dan he-batnya, jari-jari tangan itu diperkuat oleh tenaga yang membuat jari-jari tangan itu demikian kerasnya sehingga dengan tangan kosong Tiong Khi Hwesio berani menangkis pedang lawan! Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Sai-cu Lama menghadapi ilmu silat yang luar biasa itu dan permainan pedangnya menjadi kacau. Tak disangkanya bahwa lawannya masih mempunyai simpanan ilmu yang demikian hebatnya, padahal tadinya dia sudah merasa yakin bahwa dia akan dapat menangkan perkelahian itu kalau dia mempergunakan pedangnya. Karena kekacauan permainan pedangnya, maka dia menjadi kurang waspada.
"Tring-tring-crangg.... aughhh....!"
Tubuh Sai-cu Lama terpelanting dan darah mengucur keluar dari luka di pundak kanannya, sedangkan pedangnya terlempar dan patah menjadi dua potong! Kalau saja Sai-cu Lama tidak memiliki tubuh yang sudah dilindungi kekebalan, mungkin lukanya akan lebih parah lagi. Dua jari tangan Tiong Khi Hwesio mengenai pundaknya dan biarpun pundak itu telah dilindungi ilmu kekebalan, tetap saja terobek sampai dagingnya.
Masih untung tulang pundaknya tidak patah dan urat besarnya tidak putus. Akan tetapi, dengan luka di pundaknya itu, untuk sementara lengan kanan Sai-cu Lama tidak dapat digerakkann dan kalau pada saat itu Tiong Khi Hwesio mendesaknya, tentu akan mudah sekali bagi hwesio itu untuk menghabisi nyawanya. Namun, Tiong Khi Hwesio merasa tidak tega! Perasaan tidak tega ini timbul sejak malam tadi, setelah dia merasa kagum terhadap ilmu kepandaian Sai-cu Lama yang sanggup menandinginya sampai selama itu. Kalau saja Sai-cu Lama tadi tidak kacau permainan pedangnya, mungkin perkelahian inipun akan makan waktu yang lebih lama lagi. Dia merasa sayang untuk membunuh Sai-cu Lama dan mengharapkan bahwa kekalahannya itu akan membuat Sai-cu Lama sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Sai-cu Lama juga bukan seorang bodoh. Sama sekali bukan, bahkan dia cerdik sekali. Dia tahu bahwa sekali ini dia harus mengakui keunggulan lawan, bahwa dia telah bertemu dengan orang yang lebih lihai darinya. Percuma saja melanjutkan perkelahian itu. Biarpun dia dapat mengerahkan anak buahnya, namun melanjutkan perkelahian sama saja dengan membunuh diri sendiri dan membunuh anak buahnya. Ia sudah tak mampu melanjutkan perkelahian. Untuk sementara, jalan terbaik adalah menakluk, tanpa malu-malu lagi, demi keselamatan dirinya. Sai-cu Lama bangkit berdiri terhuyung-huyung, menggunakan tangan kiri untuk menekan luka di pundak kanan, mukanya pucat dan keringatnya membasahi mukanya. Diapun menghadapi Tiong Khi Hwesio yang masih berdiri tegak memandangnya.
"Tiong Khi Hwesio, aku mengaku kalah padamu."
"Omitohud, engkau sungguh lihai bukan main, Sai-cu Lama. Tidak, pinceng tidak merasa menang, hanya kebetulan saja yang membuat engkau terpaksa mengalah. Biarlah kita lupakan saja pertandingan tadi dan sekali lagi pinceng minta kepadamu untuk kembali ke jalan benar dan meninggalkan jalan sesat penuh perbuatan maksiat."
Sai-cu Lama menarik napas panjang.
"Baiklah, aku sudah bertemu dengan orang yang lebih pandai dan akan kucoba untuk mengubah jalan hidupku. Katakan, apa yang harus kulakukan?"
Tiong Khi Hwesio tersenyum, girang bukan main bahwa dia telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia tidak girang atas kemenangannya, melainkan girang sekali melihat Sai-cu Lama mau mengubah jalan hidupnya.
"Saudaralah yang baik, kita adalah orang-orang tua yang sudah menggunduli kepala dan mengenakan jubah pendeta. Tentu engkau sudah tahu apa yang sepatutnya kita lakukan sebagai pendeta. Tentu saja pertama-tama menghentikan dan menjauhkan semua perbuatan yang ditunggangi nafsu. Sebaiknya kalau engkau membubarkan saja kelompok Lama Jubah Merah, dan menghentikan semua perbuatan seperti merampok, mengganggu wanita, mengejar kesenangan duniawi dengan merugikan orang lain."
"Baiklah, Tiong Khi Hwesio. Sekarang juga akan kububarkan kelompok ini."
Sai-cu Lama lalu menhadapi semua pendeta yang telah berkumpul di situ.
"Kalian telah melihat sendiri, juga mendengar sendiri percakapan antara aku dan Tiong Khi Hwesio. Mulai saat ini, perkumpulan kita kububarkan! Kalian boleh membagi-bagi harta yang ada dengan adil, kemudian pergilah dari sini. Kuperingatkan agar kalian tidak lagi melakukan perbuatan seperti yang sudah-sudah. Kalau aku mendengar ada seorang Lama Jubah Merah melanggar, aku sendiri yang akan mencari dan menghukumnya. Nah, lakukan perintahku dan bubarlah!"
Dengan hati girang dan terharu Tiong Khi Hwesio melihat sendiri betapa para pendeta itu mentaati perintah ini. Para wanita dibebaskan dan diberi pembagian harta, dan setelah membagi-bagi harta yang berada di perkampungan itu, atas perintah Sai-cu Lama, perkampungan itu dibakar dan para pendeta jubah merah lalu berpamit dan pergi dari situ.
"Sai-cu Lama, percayalah bahwa perbuatanmu hari ini merupakan permulaan yang amat baik bagi dirimu. Sayang ilmu kepandaianmu yang tinggi kalau kau pergunakan untuk mengeruhkan dunia. Alangkah baiknya kalau kepandaian itu kau pergunakan untuk menjernihkan dunia, menenteramkan kehidupan umat manusia. Dan maafkan kalau pinceng telah datang dan pernah mempergunakan kekerasan kepadamu!"
Demikian kata-kata perpisahan Tiong Khi Hwesio yang dibalas oleh Sai-cu Lama dengan ramah pula. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa besar rasa penyesalan di hati Tiong Khi Hwesio ketika beberapa bulan kemudian dia mendengar bahwa biarpun Sai-cu Lama telah membubarkan kelompok Lama Jubah Merah, namun dia sama sekali belum sadar atau kembali ke jalan benar.
Bahkan dia telah membuat kekacauan di antara para pimpinan Lama, dan Sai-cu Lama bahkan melakukan hubungan persekutuan dengan pembesar-pembesar yang mempunyai niat khianat terhadap pemerintah Ceng! Ketika para pemimpin pendeta Lama mencoba untuk memperingatkannya, Sai-cu Lama bahkan turun tangan membunuh dua orang pemimpin pendeta lama, kemudian melarikan diri! Mendengar berita ini, Tiong Khi Hwesio merasa menyesal sekali. Dia merasa bertanggungjawab terhadap peristiwa itu. Kalau saja dia tidak mengampuni Sai-cu Lama, melainkan membasmi dan membunuhnya, atau setidaknya mencabut ilmu silatnya dengan jalan membuat kaki tangannya cidera berat, tentu Sai-cu Lama tidak mampu melakukan kejahatan lagi. Membunuh dua orang pimpinan pendeta Lama!
Dan lebih hebat lagi, melakukan hubungan persekutuan dengan para pengkhianat di kota raja. Dia dapat menduga bahwa tentu Sai-cu Lama kini melarikan diri ke kota raja, bukan hanya untuk menyembunyikan dirinya, melainkan juga untuk mengejar kedudukan dan kemuliaan di sana, bersekutu dengan para pembesar khianat dan pemberontak. Dan hal itu amatlah berbahaya, bukan hanya membahayakan kedudukan kaisar dan pemerintah, melainkan juga membahayakan keamanan hidup rakyat. Demikianlah, dia lalu cepat melakukan pengejaran sampai dia bertemu dengan Hong Beng dan Bi Lan. Tentu saja dia merasa khawatir sekali mendengar bahwa Sai-cu Lama telah merampas pedang Ban-tok-kiam dari tangan Bi Lan. Dengan pedang yang dahsyat itu di tangan, Sai-cu Lama benar-benar merupakan seorang yang amat berbahaya dan sukar dikalahkan.
Setelah meninggalkan Hong Beng dan Bi Lan, Tiong Khi Hwesio lalu melakukan perjalanan cepat melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama menuju ke kota raja. Dusun kecil itu tidak seperti biasanya, nampak meriah dan gembira. Dusun itu biasanya amat sunyi di waktu sepagi itu. Orang-orang sudah pergi ke sawah ladang dan yang tinggal di rumah hanyalah orang-orang jompo, anak-anak dan wanita-wanita yang sibuk bekerja di dalam rumah. Jalan-jalan biasanya sunyi. Akan tetapi pagi itu, suasana meriah dan gembira sekali, karena ada perayaan di rumah sebuah keluarga dusun itu. Ada pesta pengantin! Dan seperti lajimnya di dusun-dusun, penduduknya memiliki keakraban dan penduduk dusun selalu hidup bergotong royong. Tidak seperti kehidupan rakyat di kota-kota besar, di mana keakraban sudah menipis dan kegotong royongan hampir tak terasa lagi.
Makin besar kota itu, makin ramai dan makin maju, makin banyak kesenangan dikejar orang dan orang-orang semakin hidup menyendiri, acuh terhadap orang lain, mengurung diri dalam sangkar ke-aku-an yang selalu mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri atau kelompok sendiri. Orang-orang dari dusun kalau sudah pindah ke kota, sudah maju dan berhasil mengumpulkan harta benda, segera terseret pula dan tidak memperdulikan orang lain. Memang demikianlah keadaan masyarakat kita di bagian manapun di dunia ini. Manusia, kalau sedang menderita, kalau sedang kekurangan, akan dapat bersatu dan bergotong-royong. Akan tetapi kalau sudah hidup senang dan mulia, serba kecukupan, lenyaplah rasa persatuan dan sifat kegotong-royongan, terganti oleh rasa saling mengiri dan saling bersaing.
Hal ini nampak jelas dalam kehidupan masyarakat di dusun-dusun yang biasanya akrab dan bergotong royong, dan dalam kehidupan masyarakat di kota-kota yang acuh dan selalu mementingkan diri sendiri. Di dalam dusun kecil di mana sedang diadakan pesta pernikahan itu, penduduknya juga tidak berbeda dengan dusun-dusun lain, bergotong royong. Tanpa diminta, mereka pagi-pagi sudah mendatangi keluarga yang hendak merayakan pesta pernikahan anak mereka, untuk mengulurkan tangan membantu. Ada yang membantu menghias ruangan, membuat bangunan darurat untuk menerima tamu, ada pula yang sibuk membantu di dapur yang sedang mempersiapkan hidangan yang akan disuguhkan siang nanti. Sejak pagi, ada pula yang bermain musik untuk memeriahkan suasana. Semua ini mereka kerjakan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balas jasa dan upah.
Suasana menjadi semakin meriah ketika matahari mulai naik tinggi. Para tetangga yang tadi pagi membantu, kini sudah berganti pakaian dan mereka kini datang sebagai tamu. Akan tetapi masih banyak di antara mereka yang sibuk di dapur, dan orang-orang mudanya sibuk pula menjadi pelayan-pelayan tanpa bayaran. Para tamu mulai berdatangan dan suasana menjadi meriah sekali walaupun pesta itu amat sederhana dengan hidangan-hidangan sederhana pula, dengan musik yang dimainkan olen seniman-seniman dusun itu sendiri. Bangku-bangku mulai dipenuhi para tamu. Kemeriahan memuncak ketika mempelai pria datang untuk menjemput mempelai wanita. Semua orang menjulurkan leher, ada yang berkerumun, untuk menyaksikan pertemuan sepasang pengantin itu. Pengantin perempuannya manis sekali,
Berusia enam belas tahun paling banyak dan pengantin prianya juga masih muda, belum dua puluh tahun, bertubuh tegap karena biasa bekerja di sawah ladang. Melihat pandang mata kedua mempelai ini, yang nampak bersinar-sinar dan wajah mereka berseri, mulut mereka tersenyum dikulum, mudah diduga bahwa keduanya tidak asing satu sama lain dan bahwa pernikahan ini bukan pernikahan paksaan yang sering kali terjadi di dusun pada jaman itu. Tidak, sepasang mempelai ini adalah muda mudi yang sudah saling mengenal, bahkan saling mencinta walaupun tak pernah ada kata cinta keluar dari mulut masing-masing. Bagi penduduk dusun cinta kasih mereka cukup diwakili oleh kerling mata dan senyum bibir saja. Akan tetapi, sebelum orang-orang tua yang berwenang memimpin upacara pertemuan pengantin, tiba-tiba terjadi keributan di luar.
Seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, bertubuh gemuk dengan perut gendut, pakaiannya mewah, mukanya dicukur licin dan pakaiannya menghamburkan bau minyak yang amat wangi, masuk diiringkan belasan orang yang bertubuh tegap dan berpakaian ringkas dengan sikap congkak dan jagoan. Semua orang mengenal laki-laki itu karena dia adalah Phoa Wan-gwe (Hartawan Phoa) yang tinggal di sebuah dusun yang lebih besar, tak jauh dari dusun itu. Phoa Wan-gwe adalah orang yang paling kaya dan paling berkuasa di sedikitnya lima buah dusun di sekeliling tempat itu. Dialah raja kecil di dusun-dusun itu karena hampir semua tanah di tempat-tempat itu telah menjadi miliknya! Dialah tuan tanahnya dan sebagai tuan tanah yang berhak atas tanah miliknya, dia dapat menentukan peraturan-peraturan tersendiri di atas tanah yang menjadi hak miliknya.
Dan untuk memperkuat peraturan-peraturan yang dibuatnya sendiri itu, dia memelihara puluhan orang tukang pukul yang bertugas untuk men-jamin dilaksanakannya peraturan-peraturan itu dan menghukum siapa saja yang berani menentangnya. Para petani miskin yang tidak mempunyai tanah, bekerja sebagai buruh tani kepada Phoa Wan-gwe dan karena seluruh kehidupan keluarga para petani itu tergantung dari pemberian si hartawan, maka merekapun semua merasa takut dan tunduk, memandang Phoa Wan-gwe seperti raja mereka. Dan memanglah, hartawan ini, seperti para hartawan yang menjadi tuan-tuan tanah di dusun-dusun, merupakan raja yang sesungguhnya bagi para petani miskin. Kaisar yang dianggap sebagai raja dari negara itu demikian jauh dan tak mungkin dihubungi, dan yang jelas terasa kekuasaannya adalah raja kecil di dusun yang menjadi tuan tanah seperti Phoa Wan-gwe itulah!
Sebagai seorang tuan tanah, Phoa Wan-gwe pandai mengemudikan pemerintahan kecilnya. Dia maklum bahwa tanpa tenaga petani miskin, biarpun memiliki tanah yang amat luas, tidak akan ada artinya. Dia sendiri tak mungkin mengerjakan semua tanah itu. Hasilnya yang didapatkannya secara berlimpah dari tanahnya yang luas, lebih dari cukup dan diapun tidak dapat dikata pelit dalam hal memberi upah kepada para buruh tani. Tidak, dia bahkan kadang-kadang merasa gembira sekali untuk memperlihatkan kedermawanannya kepada para penduduk dusun, dan merasa senang sekali dipuji-puji dan disanjung-sanjung sebagai majikan yang baik hati dan murah hati. Tentu saja, semua yang dibagikannya kepada para petani itu hanya beberapa bagian kecil saja dari hasil yang diperolehnya dari tanahnya berkat cucuran keringat para petani.