"Sai-cu Lama, belum tentu pinceng dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat, akan tetapi ketahuilah bahwa di atas puncak Gunung Thai-san yang tertinggi sekalipun masih ada awan. Bersikap tinggi hati mengandalkan kepandaian sendiri akan mempercepat kejatuhannya...."
"Sudah, tak perlu banyak kuliah lagi, sambutlah ini!"
Sai-cu Lama sudah menerjang ke depan, ju-bahnya berkembang karena gerakan ini mendatangkan angin dan tangan kirinya yang besar itu menyambar ketika dia menggerakkan lengan. Tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka mencengkeram ke arah kepala Tiong Khi Hwesio, sedangkan tangan kanannya menyusul dengan dorongan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.
"Wuuuuuttt....!"
Bukan main dahsyatnya serangan yang dilakukan Sai-cu Lama itu. Cepat seperti kilat menyambar dan mengandung kekuatan yang mengerikan.
Entah mana yang lebih berbahaya, cengkeraman ke arah ubun-ubun kepala itu ataukah hantaman ke arah dada. Kepala dapar hancur berantakan dan dada dapat pecah kalau terkena serangan itu! Tiong Khi Hwesio mengenal pukulan-pukulan ampuh, maka sambil mengeluarkan seruan diapun menggerakkan tubuhnya ke belakang. Cepat dan ringan tubuhnya itu bergerak ke belakang, seolah-olah terdorong oleh angin pukulan lawan dan Sai-cu Lama juga menahan seruan kagetnya. Dia merasa seperti menyerang sehelai bulu saja yang melayang pergi sebelum serangannya mengenai sasaran! Maklumlah dia bahwa lawannya ini, biarpun sudah tua sekali, namun memiliki gin-kang yang istimewa dan sukarlah menyerang orang dengan gin-kang seperti ini kalau tidak mempergunakan pukulan jarak jauh dan kecepatan kilat.
"Haiiiiittt....!"
Diapun membentak nyaring dan kedua tangannya didorongkan ke depan dan kini Sai-cu Lama menyerang dengan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya. Pukulannya ini, yang dilakukan dengan kedua tangan terbuka, tidak membutuhkan kontak langsung dengan tubuh lawan. Angin pukulannya saja sanggup untuk merobohkan lawan dengan guncangan yang akan dapat merusak jantung!
"Omitohud...., keji sekali pukulan ini!"
Tiong Khi Hwesio berseru dan diapun cepat memasang kuda-kuda, bukannya mundur, bahkan dia melangkah maju dan kedua tangannya juga didorongkan ke depan, menyambut langsung kedua telapak tangan lawan.
"Desss....!"
Dua pasang telapak tangan saling bertemu, nampaknya saja empat buah tangan itu memiliki telapak tangan yang lunak, akan tetapi ternyata mengandung tenaga sin-kang yang hebat. Pertemuan tenaga sin-kang melalui dua pasang tangan itu hebat bukan main, sampai terasa oleh semua pendeta Lama yang berada di situ karena udara di sekitar tempat itu seolah-olah tergetar, seperti bertemunya dua tenaga Im dan Yang di musim hujan yang menciptakan kilat dan guntur. Akibat dari pada pertemuan tenaga dahsyat itu, dua orang pendeta itu terdorong ke belakang, masing-masing lima langkah. Keduanya tidak sampai jatuh, akan tetapi berdiri dengan muka berubah agak pucat. Sejenak keduanya memejamkan mata dan mengumpulkan hawa murni untuk melindungi isi dada dari pengaruh guncangan hebat itu.
Hal ini saja membuktikan bahwa keduanya memiliki tenaga sin-kang yang seimbang. Terkejutlah keduanya. Tiong Khi Hweiso sendiripun terkejut bukan main. Belum pernah dia, kecuali di waktu muda dahulu, bertemu dengan lawan yang sekuat ini, maka diapun bersikap hati-hati, maklum bahwa dia harus berjaga dengan sepenuh tenaga dan kepandaian. Juga Sai-cu Lama terkejut sekali. Dia memang tadinya sudah menduga bahwa lawannya ini lihai, akan tetapi tak pernah disangkanya akan selihai itu, kuat menahan pukulannya tadi yang dilakukan sepenuh tenaga, bahkan tangkisan itu membuat dia terdorong ke belakang sampai lima langkah dengan dada terasa sesak dan panas. Akan tetapi di samping rasa kagetnya, timbul pula perasaan marah yang berapi-api. Inilah kesalahan Sai-cu Lama. Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan tenaga, dia tidak kalah oleh lawan,
Hanya dalam satu hal dia kalah, yaitu dalam kekuatan batin. Kalau Tiong Khi Hwesio menghadapi kenyataan akan kekuatan lawan itu dengan sikap hati-hati, sebaliknya Sai-cu Lama menjadi marah menghadapi kenyataan itu. Dan kemarahan merupakan kelemahan yang mengurangi kewaspadaan, bahkan kemarahan menghamburkan tenaga dalam. Dengan suara menggeram seperti seekor singa. Sai-cu Lama kini sudah meryerang lagi, disambut tangkisan oleh Tiong Khi Hwesio yang segera membalas pula. Tiong Khi Hwesio sudah tidak mempunyai nafsu untuk meraih kemenangan, apa lagi mencelakai lawan, namun menghadapi seorang lawan seperti Sai-cu Lama yang menyerang dengan pukulan-pukulan maut, kalau hanya melindungi diri sendiri saja akhirnya dia tentu akan terkena pukulan dan roboh.
Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah mengalahkan Sai-cu Lama dan untuk dapat mengalahkannya dia harus membalas serangan lawan yang tangguh itu. Terjadilah perkelahian yang sengit dan hebat. Saling menyerang dengan jurus-jurus pilihan yang aneh dan dahsyat. Demikian cepatnya mereka bergerak sehingga pandang mata para anggauta Lama Jubah Merah menjadi kabur. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan kedua orang kakek itu, hanya melihat bayangan kuning dan bayangan kemerahan dari jubah mereka berdua itu berkelebatan dan berloncatan ke sana-sini. Andaikata para pendeta Lama itu disuruh membantu pemimpin mereka pada saat itu, mereka tentu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena sukarlah menyerang lawan yang tidak nampak dan yang bayangannya seringkali menjadi satu dengan bayangan merah.
Juga, saking dahsyatnya gerakan dua orang kakek itu, pukulan-pukulan mereka mendatangkan hawa pukulan yang menyambar-nyambar ke segala penjuru, membuat para pendeta yang nonton perkelahian itu terpaksa mundur sampai pada jarak yang cukup jauh dan aman. Diam-diam Tiong Khi Hwesio merasa kagum bukan main setelah seratus jurus lewat mereka berkelahi belum juga dia mampu menundukkan lawan itu. Jarang dia bertemu dengan lawan yang demikian tangguhnya, yang membalasnya pukulan dengan pukulan, tendangan dengan tendangan, yang menandingi kecepatan gerak dengan gin-kangnya, mengimbangi kekuatan dahsyat tenaga sin-kangnya. Sejak mudanya memang hwesio tua ini suka sekali akan ilmu silat dan selalu menghargai orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi.
Hanya keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir sajalah yang benar-benar memiliki kesaktian yang mengagumkan hatinya. Akan tetapi sekali ini, dia bertemu tanding yang benar-benar hebat! Diam-diam dia merasa kagum, juga penasaran dan timbul kegembiraannya, timbul kembali kegemarannya mengadu dan menguji ilmu silat tinggi. Segala kepandaiannya telah dia kerahkan. Dari ilmu-ilmu silat tinggi Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Iblis), Pat-sian Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) dan penggabungan kedua ilmu itu, ilmu-ilmu dari Pulau Neraka peninggalan Cui-beng Koai-ong dan Bu-tek Siauw-jin yang diwarisinya, sampai ilmu-ilmu yang amat lihai dengan tenaga Inti Bumi, semua dikeluarkannya, namun semua ilmu itu hanya dapat mengimbangi kehebatan ilmu-ilmu Sai-cu Lama yang juga merasa penasaran sekali.
Sai-cu Lama sama sekali tidak mempunyai rasa kagum terhadap lawannya. Yang ada hanyalah rasa penasaran dan kemarahan yang makin menjadi-jadi. Berkelahi sampai ratusan jurus melawan seorang kakek tua renta dan dia masih belum juga mampu memperoleh kemenangan, bahkan seringkali terdesak hebat oleh ilmu-ilmu yang aneh dari hwesio itu, apalagi di depan para anak buahnya, merupakan penghinaan baginya. Dia merasa direndahkan karena selama ini dia tidak pernah kalah sehingga para murid dan anak buahnya menganggap bahwa dia adalah orang yang paling pandai di dunia ini. Makin lama, dia semakin merasa penasaran dan karena akhirnya dia maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan hwesio itu melalui ilmu silat, maka timbullah akal liciknya.
Bagaimanapun juga, lawannya itu tentu sudah tua sekali, mungkin belasan tahun lebih tua darinya dan hal ini akan menjadi sebab kemenangannya. Kalau saja dia mampu bertahan, tentu akhirnya lawan itu akan kehabisan napas dan tenaga. Dia yang lebih muda tentu akan lebih tahan dibandinglan dengan lawan yang jauh lebih tua itu. Akan tetapi, ternyata kelicikan Sai-cu Lama yang ingin mengadu daya tahan dan napas ini tidak memperoleh hasil, bahkan dia menjadi semakin penasaran. Mereka telah berkelahi sampai ratusan jurus, entah berapa jam lamanya. Tadi ketika mereka mulai saling serang dipekarangan lebar perkampungan itu, hari telah menjelang senjadan kini telah jauh malam. Para murid yang nonton dari jarak yang cukup jauhdan aman, telah menerangi pekarangan itu dengan obor-obor dan lampu-lampu yang cukup terang.
Dan perkelahian itu terus berlangsung tanpa pernah beristirahat sejenakpun! Kini kedua orang kakek itu sudah nampak lelah, keringat sudah membasahi semua pakaian dan muka, juga pernapasan mereka mulai memburu. Dari kepala mereka keluar uap putih yang aneh. Diam-diam, Sai-cu Lama yang tadinya merasa penasaran, ada pula rasa kagum dan gentar. Kiranya kakek ini memang hebat luar biasa! Agaknya memiliki napas melebihi napas kuda dan tenaganya juga tak pernah mengendur, bahkan bagi dia yang mulai lelah, tenaga kakek itu makin lama makin kuat saja agaknya. Dia merasa kagum dan gentar. Seorang kakek yang hebat! Biarpun kini hwesio tua itu mulai nampak kelelahan, akan tetapi dia sendiripun tiada bedanya, mulai lelah dan kehabisan tenaga.
Kalau tadi Sai-cu Lama memiliki pikiran untuk menyuruh anak buahnya maju mengeroyok, kini dia menahan pikiran itu. Pertama, menyuruh mereka maju sama saja dengan menyuruh mereka membunuh diri. Mereka bukanlah lawan hwesio tua itu. Dan kedua, melihat kehebatan hwesio itu, dia merasa malu kepada diri sendiri kalau harus mengandalkan pengeroyokan yang hanya tipis harapannya untuk menang itu. Tiba-tiba Sai-cu Lama mengambil ancang-ancang dan sambil mengeluarkan suara melengking nyaring, dia menerjang ke depan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya! Dia hendak mengadu tenaga terakhir, kalau perlu nyawanya! Melihat lawannya menerjang dengan kedua tangan mendorong dan kedua lengan itu bergerak-gerak sehingga menimbulkan gelombang hawa pukulan dahsyat, Tiong Khi Hwesio terkejut.
"Omitohud....!"
Dia mengeluh, maklum bahwa lawannya yang sudah penasaran itu agaknya hendak mengadu nyawa! Apa boleh buat, diapun terpaksa harus melindungi dirinya dan cepat diapun memasang kuda-kuda, menyambut dengan kedua tangan terbuka, didorongkan ke depan menyambut kedua telapak tangan lawan. Untuk kedua kalinya, dua orang kakek ini mengadu tenaga sin-kang mereka. Akan tetapi berbeda dengan bentrokan tenaga sin-kang melalui telapak tangan yang pertama, bentrokan sekali ini dilakukan dengan mati-matian dan dalam keadaan tenaga mereka sudah mulai mengendur, sehingga tentu saja daya tahan merekapun berkurang dan dalam keadaan seperti itu, bahaya untuk menderita luka dalam atau bahkan kematian lebih besar lagi.
"Desss....!"
Bentrokaran tenaga itu hebat bukan main dan akibatnya, dua orang kakek itu terlempar ke belakang dan terbanting ke atas tanah! Melihat betapa pemimpin mereka roboh terbanting, akan tetapi juga lawannya terlempar dan terbanting jatuh, empat orang pendeta Lama segera menubruk ke arah Tiong Khi Hwesio dengan maksud untuk menghabiskan nyawa lawan yang tangguh itu selagi lawan itu terbanting dan nampaknya kehabisan tenaga dan tidak berdaya.
"Tahan....!"
Sai-cu Lama yang masih merasa lemah dan pening itu mencoba untuk mencegah, namun suaranya yang lemah itu agaknya tidak mempengaruhi empat orang anak buahnya yang sudah menyerang Tiong Khi Hwesio dengan ganas. Mereka menyerang dengan berbareng dan terdengarlah teriakan-teriakan mereka disusul terlemparnya tubuh mereka sampai jauh, terpental seperti dilempar oleh tenaga raksasa dan mereka itu terbanting tak sadarkan diri! Kiranya, biarpun sudah terbanting roboh, Tiong Khi Hwesio berada di pihak lebih kuat sehingga tenaga sin-kang yang masih besar sekali terhimpun di tubuhnya. Ketika empat orang itu menerjangnya, Tiong Khi Hwesio tidak melihat jalan lain kecuali menggerakkan kedua tangannya mendorong dan akibatnya, empat orang itu terlempar seperti daun-daun kering tersapu angin.
"Anjing-anjing busuk, jangan serang dia!"
Bentak Sai-cu Lama, bentakan yang bukan dilakukan karena mengkhawatirkan anak buahnya, melainkan karena dia merasa malu kalau dalam keadaan seperti itu dia harus menggunakan tenaga anak buahnya. Para pendeta Lama itupun tidak ada yang berani maju lagi. Empat orang teman mereka masih pingsan, dan tentu saja mereka tidak berani maju untuk bunuh diri! Dua orang kakek itu kini sudah bangkit duduk bersila, masing-masing mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.