Halo!

Suling Naga Chapter 63

Memuat...

Sukar menaksir berapa usia kakek ini. Selain tubuhnya yang tinggi besar dengan perut gendut itu amat menarik perhatian, juga wajahnya seperti seekor singa, penuh cambang bauk dan brewok, amat berlawanan dengan kepalanya yang dicukur kelimis. Muka itu benar-benar mirip muka singa, dan yang lebih mengerikan lagi, bulu atau rambut di mukanya itu, yang sebenarnya adalah cambang, kumis dan jenggot, berwarna agak kuning dan mengkilap seperti benang sutera emas. Sepasang matanya mencorong dan mulutnya lebar tersenyum penuh ejekan. Hong Beng merasa terkejut bukan main. Kakek yang melihat pakaiannya tentu seorang pendeta Lama dari Tibet ini dapat muncul begitu saja tanpa diketahuinya, bahkan Bi Lan agaknya juga tidak tahu. Tiba-tiba saja kakek itu muncul di dekat mereka. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek itu tentu seorang yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

"Omitohud.... pusaka yang bagus sekali...."

Kembali kakek itu berkata dan kakinya melangkah ke arah Bi Lan.

"Bi Lan, hati-hati....! "Hong Beng berseru dan mener-jang ke depan ketika dia melihat pendeta itu membuat gerakan aneh.

Namun terlambat. Nampak bayangan merah dan tahu-tahu jubah lebar kakek itu sudah meluncur dan seperti sebuah jala, jubah itu menerkam ke arah Bi Lan. Gadis ini gelagapan karena tidak dapat melihat apa-apa dan tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang amat kuat, dengan jari-jari besar panjang, telah mencengkeram tangan kanannya yang memegang gagang pedang. Seperti akan patah-patah semua jari tangannya ketika dicengkeram tangan itu. Pada saat itu, Hong Beng yang sudah menaruh curiga namun karena gerakan kakek itu amat cepat sehingga dia kalah dulu, sudah menyerang dengan tamparan yang kuat ke arah leher kakek itu. Kakek itu menggunakan tangan kiri mencengkeram tangan Bi Lan, sedangkan lengan kanannya digerakkan untuk menangkis tamparan Hong Beng.

"Dukk....!"

Tubuh Hong Beng terpelanting dan dia hampir roboh. Pemuda itu terkejut bukan main dan meloncat ke samping. Sementara itu, Bi Lan tak mampu mempertahankan pedangnya yang sudah berpindah tangan. Ketika kakek itu menarik kembali jubahnya sedangkan pedang sudah berpindah ke tangan kirinya, Bi Lan menyerang dengan marah, menggunakan pukulan Sin-liong Ciang-hwat. Kakek itu, sambil mengamati pedang dengan mulut menyeringai, hanya mengangkat lengan kanan menangkis.

"Dukk....!"

Akibatnya, tubuh Bi Lan terdorong ke belakang, akan tetapi juga kakek itu terhuyung.

"Omitohud....! Kalian ini orang-orang muda yang hebat. Dan pedang ini hebat pula. Apa namanya tadi? Ban-tok-kiam? Pedang yang bagus!"

Dia mengamati pedang itu dengan wajah gembira sekali. Hong Beng dan Bi Lan sudah memasang kuda-kuda, menghadang kakek itu dari kanan dan kiri.

"Orang tua, kembalikan pedang-ku!"

Bi Lan membentak dan memandang marah.

"Locianpwe, harap suka mengembalikan pusaka itu kepada pemiliknya."

Hong Beng juga membujuk, bicara dengan sopan karena dia dapat menduga bahwa pendeta ini tentu seorang sakti yang agaknya kagum dan tertarik melihat Ban-tok-kiam.

"Ha-ha-ha.....!"

Kakek itu tertawa dan dua orang muda itu terkejut dan cepat mengerahkan sin-kangnya. Suara ketawa kakek itu mengandung getaran hebat seperti auman seekor singa marah! "Bantok-kiam ini hanya pantas berada di tangan Sai-cu Lama, ha-ha-ha....!"

Suara ketawanya yang terakhir semakin hebat dan kuat getarannya sehingga dua orang muda itu sampai menahan napas memperkuat pengerahan sin-kang mereka.

"Wuutt.... singg-singg....!"

Nampak sinar hitam berkelebatan ketika kakek itu menggerakkan Ban-tok-kiam ke kanan kiri.

Hong Beng dan Bi Lan terpaksa meloncat mundur karena Ban-tok-kiam memang hebat sekali, apa lagi digerakkan dengan tenaga yang demikian besarnya. Mereka siap siaga untuk merampas kembali pedang itu, namun mereka berhati-hati karena maklum bahwa kakek itu lihai bukan main. Dan kakek itu sambil tertawa-tawa agaknya memandang rendah mereka dan mengobat-abitkan pedang itu ke kanan kiri seperti orang yang menakut-nakuti anak kecil. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara melenking panjang, datangnya dari jauh sekali, akan tetapi suara lengkingan itu terdengar begitu jelas dan mendadak saja wajah pendeta Lama yang mengaku bernama atau berjuluk Sai-cu Lama (Pendeta Lama Singa) itu nampak terkejut dan pandang matanya liar diarahkan ke bawah lereng bukit dari mana suara itu datang.

"Demi iblis neraka! Dia sudah datang lagi!"

Katanya lirih dan tiba-tiba saja dia melompat ke belakang.

"Hei, kembalikan pedangku!"

Bi Lan mengejar, akan tetapi tiba-tiba kakek itu menyambutnya dengan serangan Ban-tok-kiam yang ditusukkan ke arah perut gadis itu. Bi Lan cepat mengelak, akan tetapi kakek itu sudah melompat dan berlari cepat sekali, menghilang ke dalam hutan di sebelah barat lereng itu. Bi Lan bersama Hong Beng melakukan pengejaran, akan tetapi biarpun mereka sudah mencari-cari sampai lama, kakek yang merampas Ban-tok-kiam itu tak nampak lagi bayangannya.

"Celaka....!"

Bi Lan hampir menangis, marah sekali dan membanting-banting kaki kanannya sampai tanah di depannya itu melesak ke bawah.

"Pusaka pinjaman dari subo itu telah dirampas iblis tua bangka tadi. Celaka....!"

"Tenanglah, Bi Lan. Setidaknya kita sudah mengenal nama julukannya. Sai-cu Lama, nama yang asing bagiku. Dan dia adalah seorang pendeta, agaknya dia tidak bermaksud buruk, hanya meminjam pusaka itu karena tertarik, dan tidak akan merampasnya begitu saja. Aku percaya bahwa sebagai seorang pendeta, dia akan mengembalikan pusaka itu. Tadi dia pergi karena terkejut mendengar suara melengking itu, entah siapa yang membuatnya begitu kaget dan ketakutan."

"Kalau aku tidak percaya! Aku tidak percaya kepada segala macam pendeta. Biasanya, jubah pendeta itu hanya untuk kedok agar kejahatannya tidak nampak."

Gadis itu cemberut.

"Buktinya, begitu jumpa dia sudah merampas pedangku. Kalau dia tidak ingin merampas, mengapa tadi dia menyerang, kita? Bahkan tusukannya yang terakhir tadi amat berbahaya dan kalau aku tidak cepat mengelak, tentu aku sudah mati. Tidak, dia bukan manusia baik-baik."

Hong Beng tidak mau membantah karena dia tahu bahwa gadis itu sedang jengkel dan marah.

"Aku akan membantumu mencari pendeta itu dan minta kembali pusakamu. Biarpun aku belum mengenal nama Sai-cu Lama, akan tetapi seorang dengan ilmu kepandaian setinggi itu tentu dikenal di dunia kang-ouw dan aku akan menyelidiki di mana aku dapat mencarinya."

"Aku harus cepat melapor kepada subo kalau aku tidak mampu merampasnya kembali. Ah, subo tentu akan kecewa dan marah kepadaku...."

Dengan cemberut Bi Lan dan Hong Beng lalu keluar dari dalam hutan itu.

"Sstttt!"

Tiba-tiba Hong Beng berbisik dan menuding ke depan. Dari tempat mereka berdiri, di luar hutan itu, mereka melihat seorang kakek berkepala gundul sedang berjalan perlahan-lahan menuruni lereng.

"Keparat, tentu dia orangnya....!"

Bi Lan berteriak dan cepat gadis ini melompat ke depan dan melakukan pengejaran.

"Bi Lan, nanti dulu....!"

Hong Beng berseru dan terpaksa mengejar pula dengan cepat karena dia tidak ingin gadis itu salah tangan.

Dari jauh dia sudah melihat bahwa biarpun orang yang baru berjalan menuruni lereng itu juga berkepala gundul, akan tetapi jubahnya yang lebar itu berwarna kuning, bukan kotak-kotak merah kuning seperti yang dipakai oleh Sai-cu Lama tadi. Kini Bi Lan sudah tiba di dekat kakek gundul itu dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah mengirim pukulan dari samping. Hebat sekali pukulan gadis ini, karena saking marahnya, ia sudah mengeluarkan satu di antara pukulan yang oleh subonya sudah dipesan agar tidak sembarangan mempergunakannya, seperti juga pedangnya, yaitu Ilmu Pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun). Itulah sebuah pukulan yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang tertentu, tidak terlalu keras nampaknya, akan tetapi pukulan ini mengandung hawa beracun yang sudah merendam tangan Bi Lan ketika dilatih oleh subonya!

"Wuuuttt....!"

Nampaknya kakek gundul itu hanya bergerak sedikit saja, akan tetapi, nyatanya pukulan Bi Lan itu hanya mengenai tempat kosong.

"Bi Lan, tahan dulu....!"

Hong Beng yang sudah tiba di situ cepat memegang lengan gadis itu.

"Lihat, dia bukanlah pendeta tadi!"

Bi Lan juga sudah tahu bahwa orang itu bukanlah Sai-cu Lama. Dia seorang kakek berkepala gundul, bertubuh sedang dan masih tegap walaupun usianya tentu sekitar tujuhpuluh tahun. Jubahnya berwarna kuning, melibat-libat tubuh yang memakai pakaian serba putih dari kain kasar. Seorang pendeta yang sederhana, matanya tajam dan mulutnya seperti tersenyum mengejek. Dia berdiri dan memandang dua orang muda di depannya itu dengan sinar mata penuh selidik.

"Dia juga seorang yang berjubah pendeta, tentu lihai seperti tadi. Mungkin sekutunya! Para pen-deta itu memang bersekutu dan saling bantu dalam melakukan kejahatan. Orang tua jahat, kembalikan pedangku!"

Bi Lan kembali menyerang dan melihat sepasang mata pendeta itu demikian tajam dan mulutnya tersenyum mengejek, timbul juga kesan buruk dalam hati Hong Beng dan diapun membantu Bi Lan menyerang. Kalau Bi Lan kini menggunakan pukulan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat, Hong Beng yang dapat menduga akan kelihaian pendeta ini, juga sudah menggunakan tenaganya dan menyerang dengan ilmu ampuh dari Pulau Es, yaitu Hong-in Bun-hoat! Ilmu ini adalah ilmu silat yang amat halus dan indah gerakannya, sesuai dengan namanya, Silat Sastera Awan dan Angin! Tubuhnya bergerak perlahan, kedua tangannya membuat coretan-coretan di udara seperti menulis huruf, akan tetapi jari-jari tangan itu merupakan alat menyerang yang amat ampuh. Kakek pendeta itu nampak kaget juga menghadapi serangan gadis dan pemuda itu.

"Dari mana bocah-bocah tolol ini menguasai ilmu-ilmu ini!"

Bentaknya dan diapun cepat bergerak ke belakang untuk mengelak, kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang, jari-jari tangannya bergerak seperti ujung-ujung pedang membalas serangan dua orang muda itu sehingga Bi Lan dan Hong Beng terkejut dan cepat berloncatan ke belakang karena serangan balasan pendeta itu benar-benar hebat. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hati mereka adalah suara melengking tadi karena mereka teringat bahwa Sai-cu Lama tadipun seperti orang lari terbirit-birit karena terkejut dan takut mendengar suara melengking ini. Melihat dua orang muda itu tertegun, kakek itu lalu mengangkat tangan kanan ke atas.

"Omitohud, kalian ini bocah-bocah sungguh lancang, mempergunakan ilmu-ilmu yang demikian tinggi dan pilihan hanya untuk menyerang seorang tua tanpa sebab. Sungguh keji!"

Wajah Hong Beng sudah menjadi merah sekali karena malu dan menyesal. Memang sungguh tidak patut menyerang seorang kakek tua renta, berpakaian pendeta pula, tanpa sebab yang jelas. Akan tetapi Bi Lan memandang kakek itu dengan mata melotot, marah sekali.

"Engkau ini kakek berpakaian pendeta, tentu jahat seperti yang lain! Kepala gundul dan jubahmu itu hanya sebagai kedok untuk menutupi kejahatanmu!"

Bi Lan berkata dengan suara lantang.

Post a Comment