Para perajurit yang seratus orang banyaknya itu sudah mengeluarkan busur dan anak panah, siap untuk menghujankan anak panah kepada Ci Sian.
"Tahan, Ibu....!"
Tiba-tiba gadis cantik itu berseru dan dia pun meloncat ke dekat Ci Sian sehingga tentu saja para perajurit tidak berani melepaskan anak panah, takut kalau mengenai puteri panglima mereka itu.
"Siok Lan, siluman ular ini telah mengganggumu dan merobohkan para pengawal, apalagi yang kaulakukan ini?"
"Tidak, Ibu. Akulah yang mula-mula membuat dia terpaksa melawan. Kami berjumpa di sini dan aku menantangnya berkelahi. Aku hampir kalah dan para pengawalku, tanpa kuperintah, maju hendak mengeroyok, maka dia lalu memanggil ular-ularnya. Bukan salahnya, Ibu, maka harap kau suka ampunkan dia."
Panglima wanita yang gagah perkasa itu mengerutkan alisnya, kelihatan meragu sejenak, akan tetapi setelah lama beradu pandang mata dengan puterinya, agaknya karena sayangnya kepada puterinya, dia mengalah,
"Hemm, baiklah, akan tetapi kalau dia kelak memperlihatkan sikap tidak semestinya, aku akan membunuhnya!"
Gadis yang bernama Siok Lan itu kelihatan girang sekali. Dia memegang tangan Ci Sian sambil tersenyum dan berbisik,
"Lekas kau haturkan terima kasih kepada Ibuku."
Dan dia mengguncang tangan Ci Sian. Melihat sikap gadis bekas lawannya ini demikian baik, dan karena melihat terbukanya kesempatan baginya untuk menyelidiki keadaan pasukan Nepal dan mencari Lauw-piauwsu, maka Ci Sian yang sebetulnya tidak mengenal takut itu lalu mengangguk ke arah panglima itu.
"Terima kasih, Bibi."
Akan tetapi panglima wanita itu bersikap tidak peduli.
"Siapa namamu?"
Siok Lan berbisik.
"Namaku Ci Sian."
Jawab Ci Sian tanpa menyebutkan nama keturunannya karena dia tidak ingin membuka atau memperkenalkan nama orang tuanya yang dirahasiakan.
"Ci Sian, lekas kau usir ular-ularmu itu."
Siok Lan berkata, nadanya penuh permintaan. Ci Sian memandang ke arah ular-ular itu. Dia tahu bahwa wanita perkasa itu tadi telah menyebar garam yang membuat ular-ularnya menjadi jinak dan lumpuh, juga amat menderlta. Maka dia lalu mengeluarkan saputangannya, dan beberapa kali dia mengebut ke arah ular-ular itu dengan pengerahan sin-kang.
Bubuk putih yang mengenai tubuh ular dan yang tersebar di sekeliling ular itu terkena kebutan saputangannya lalu beterbangan ke mana-mana. Melihat ini, panglima wanita itu nampak terkejut sekali, akan tetapi dia hanya mengerutkan alis dan tidak berkata apa-apa, sungguhpun dia tahu bahwa dara penaluk ular itu sungguh-sungguh amat lihai Ilmu kepandaiannya. Ular-ular itu tidak menderita lagi setelah semua bubuk putih diterbangkan bersih dari tempat itu, dan begitu Ci Sian mengeluarkan suara melengking halus, ular-ular itu lalu bergerak pergi dari tempat itu, meninggalkan beberapa ekor ular yang telah mati dalam pertempuran tadi, seperti sekumpulan pasukan pulang dari medan perang meninggalkan mayat kawan-kawan mereka!
"Terima kasih, Ci Sian, kau baik sekali. Sekarang kau obatilah pengawal-pengawalku yang luka oleh gigitan ular-ular berbisa itu."
Kata pula Siok Lan. Ci Sian memandang ke arah dua puluh empat orang pengawal yang mengerang-erang kesakitan itu dan dia pun mengangguk, lalu menghampiri.
"Tidak perlu, aku bisa mengobati mereka!"
Tiba-tiba wanita perkasa itu berkata, nada suaranya tidak senang.
"Siok Lan, apa sih sukarnya menolong mereka? Kau pergunakan batu bintang hijau ini untuk menyedot racun dari tubuh mereka!"
Kata Sang Ibu dan tangannya bergerak. Batu berkilauan itu melayang ke arah Siok Lan yang menyambut dan menerimanya dengan cekatan sekali, menggunakan tangan kanannya. Dia menoleh kepada Ci Sian sambil tersenyum.
"Adik Ci Sian, kau lihatlah betapa lihainya ibuku!"
Dan dia pun menghampiri para pengawal itu, menempelkan sebentar batu hijau itu pada luka dan sungguh menakjubkan sekali, dalam waktu beberapa detik saja semua racun telah disedot oleh batu bintang hijau itu dan mereka semua tertolong, hanya menderita luka kecil bekas gigitan yang tentu saja tidak ada artinya lagi karena racunnya telah lenyap. Tentu saja Ci Sian memandang dengan kagum dan diam-diam dia juga heran atas kelihaian wanita yang menjadi ibu Siok Lan itu. Ketika mengembalikan batu hijau itu kepada ibunya, Siok Lan berkata, suaranya mengandung kemanjaan,
"Ibu, aku suka bersahabat dengan Adik Ci Sian yang lihai ini, aku akan mengajaknya menjadi tamu di tempat tinggal kita. Boleh bukan?"
Panglima itu mengerutkan alisnya, lalu mengerling ke arah Ci Sian sambil berkata singkat.
"Sesukamulah, akan tetapi jangan suruh dia main-main dengan ular lagi, aku tidak akan mau mengampuninya lain kali!"
Setelah berkata demtkian, dengan cekatan sekali walaupun dia berpakaian perang, wanita itu meloncat ke atas punggung kudanya dan memberi tanda kepada pasukannya untuk pergi dari situ. Siok Lan tersenyum memandang kepada Ci Sian.
"Ibuku hebat, bukan?"
Ci Sian mengangguk, bukan hanya untuk menyenangkan hati sahabat barunya ini, melainkan sesungguhnya dia pun menganggap wanita tadi hebat! Dan dia merasa suka kepada Siok Lan, karena dia melihat hal-hal yang baik pada diri gadis ini. Pertama, Siok Lan tidak mau melawannya yang bertangan kosong dengan senjata, hal ini sudah membuktikan kegagahannya, dan ke dua,
Siok Lan malah mintakan ampun baginya kepada ibunya, yang tentu saja bermaksud menyelamatkannya dari bahaya maut, sungguh pun dia sendiri tadi sama sekali tidak takut menghadapi ancaman hujan anak panah. Dan hal itu saja sudah membuat Siok Lan patut menjadi sahabatnya, di samping keuntungan baginya untuk memasuki Lhagat dan mencari Lauw-piauwsu. Setelah menyuruh para pengawalnya mengumpulkan kembali kuda yang tadi melarikan diri karena takut ular, Siok Lan lalu mengajak Ci Sian berkuda menuju ke Lhagat. Dia memberi seekor kuda kepada Ci Sian dan mengajak dara itu mendahului para pengawal menuju ke Lhagat, karena pengawal-pengawalnya selain masih luka dan kaget juga terpaksa mereka boncengan karena tidak semua kuda dapat mereka kumpulkan kembali.
Hal ini saja sudah menimbulkan rasa suka dalam hati Ci Sian. Sudah jelas bahwa Siok Lan merupakan bekas lawan yang tidak mampu menandinginya, dan kalau dia menghendaki, tentu dengan mudah dia dapat mencelakakan puteri panglima itu, apalagi kalau melakukan perjalanan berdua. Akan tetapi Siok Lan mengajak dia melakukan perjalanan bersama, berdua saja, hal ini menunjukkan betapa Siok Lan sudah percaya sepenuhnya kepadanya! Ketika mereka tiba di pintu gerbang kota Lhagat tentu saja Ci Sian dapat memasuki kota itu dengan mudah, bahkan ketika dia dan Siok Lan lewat berkuda, para penjaga cepat memberi hormat yang tentu saja ditujukan kepada puteri panglima itu. Siok Lan membawa sahabat barunya itu ke dalam gedung besar yang tadinya menjadi tempat tinggal kepala daerah Lhagat.