Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 67

Memuat...

Kakek itu duduk dan mengangguk-angguk.

"Hemm, selain kecantikan engkau memiliki kebijaksanaan pula, Nona. Cacat-cacatmu adalah bahwa di balik ke-cantikanmu itu engkau mengandung kedukaan yang mendalam yang kau coba sembunyikan di balik senyum manis dan sinar mata yang seindah bintang. Dan selain kedukaan, juga engkau menaruh dendam besar, hal itulah yang merusak kecantikanmu. Akan tetapi cacat-cacat itu malah menghidupkanmu, bukan sekedar gambar bidadari, melainkan seorang manusia berikut kelebihan dan kekurangannya. Sayang cacat-cacatmu itulah yang menciptakan kepedihan dalam hidupmu, Nona."

Diam-diam Syanti Dewi terkejut dan memandang tajam penuh selidik, karena merasa tepatnya ucapan itu.

"Engkau seorang ahli peramal?"

"Ha-ha-ha!"

Melihat kakek itu tertawa, Syanti Dewi merasa makin tertarik karena ketawa itu begitu wajar sehingga dia pun ikut tertawa dan bergembira, seperti sinar matahari memasuki ruangan itu yang biasanya lembab oleh sikap Ouw Yan Hui yang selalu muram dan dingin.

"Nona, segala peramal itu hanya omong kosong belaka. Aku dapat membaca keadaan batinmu dari wajahmu, bukankah wajah adalah cermin dari keadaan hati seseorang?"

"Paman, siapakah engkau?"

"Namaku Pouw Toan, aku seorang sastrawan tua yang tidak tinggal di tempat tertentu, selalu merantau untuk menikmati keindahan alam semesta."

"Paman Pouw, ketika aku memasuki ruangan ini, kulihat engkau amat memperhatikan tulisan di dinding itu. Mengapa?"

Syanti Dewi memandang karena tulisan di dinding itu sebetulnya adalah buatannya sendiri!

"Apakah tulisan itu buruk?"

Pouw Toan menoleh ke arah tulisan itu.

"Buruk? Tidak, tulisan wanita itu cukup halus dan indah, akan tetapi bunyi tulisannya itulah yang palsu dan buruk!"

Diam-diam Syanti Dewi terkejut dan penasaran.

"Ah, aku menganggap tulisan itu benar dan baik, mengapa kau katakan palsu dan buruk? Kurasa engkau bukan termasuk orang yang hanya pandai mencela tanpa dapat mengemukakan alasannya."

"Tentu saja! Coba kubaca tulisan itu!"

Dia lalu bangkit berdiri, menghadapi tulisan itu lalu membaca dengan suara latang dan iramanya bagus seperti bernyanyi. :

"Cinta membutakan mata menulikan telinga pedih perih nyeri merobek-robek hati Akan tetapi mengapa seluruh raga dan jiwa selalu mendambakan cinta?"

Pouw Toan lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Syanti Dewi yang diam-diam merasa terharu mendengar cara kakek itu membacakan sajaknya, demikian indah terdengarnya dan belum pernah selamanya dia mendengar ada orang mampu membaca sajaknya dengan irama sedemikian cocok, tepat dan indahnya. Hatinya seperti merasa tersentuh dan keharuan membuat kedua matanya terasa panas dan basah air mata karena mendengar suara kakek itu hatinya terasa seperti terobek-robek mengenangkan nasib dirinya dalam cinta yang gagal.

"Isi sajak ini buruk dan palsu, harus dirobah sama sekali karena hanya akan mendatangkan duka dan keharuan, dan sama sekali mengandung gambaran yang sama sekali salah tentang cinta kasih!"

Kakek itu berkata-kata, nada suaranya penuh rasa penasaran. Perasaannya ini seperti yang dirasakan oleh seorang pelukis melihat lukisannya yang buruk, atau seorang ahli musik mendengarkan musik yang sumbang. Syanti Dewi sudah dapat menguasai perasaannya lagi yang kini menjadi penasaran. Kakek itu dapat membaca sajaknya sedemikian indah penuh perasaan, akan tetapi mengapa malah mencela habis-habisan? Timbul keinginan tahunya.

"Paman Pouw, kalau begitu, cobalah kau robah sajak itu bagaimana baiknya."

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Kau kira aku ini orang macam apa Nona. Aku tidak berani selancang itu. Merobahnya tanpa ijin berarti menghina penulisnya!"

Syanti Dewi tersenyum.

"Jangan khawatir, Paman, aku telah memberi ijin dan akulah penulisnya."

"Ahh....!"

Kakek itu nampak tercengang akan tetapi tidak minta maaf! Dan hal ini makin menarik hati Syanti Dewi karena kakek itu ternyata selain jujur, juga tidak bersifat penjilat seperti semua pemuda yang pernah mengunjunginya.

"Di atas meja di sudut sana itu ada kotak terisi alat-alat tulis, harap kau suka berbaik hati untuk membetulkan dan merobahnya, Paman."

Akan tetapi Pouw Toan sudah mengeluarkan alat tulisnya sendiri dari saku bajunya yang besar.

"Seorang pendekar tak pernah terpisah dari pedangnya, dan seorang sastrawan tak pernah berpisah dari alat tulisnya. Kalau Nona sudah mengijinkan, nah, biar kurobah tulisan ini!"

Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menggosok bak dan mendekati kain yang terisi tulisan indah dari Syanti Dewi, kemudian tanpa ragu-ragu lagi dia menggerakkan alat tulisnya di atas kain putih itu.

Mula-mula dia mencoret huruf-huruf itu dengan coretan dari atas ke bawah, coretan kasar namun tarikannya mengandung tenaga yang halus sehingga coretan itu nampak "hidup", sama sekali tidak membuat buruk tulisan itu, bahkan seperti menjadi bayangan yang menghiasinya! Kemudian, ditempat yang masih kosong dia menuliskan beberapa buah huruf, dilakukan dengan cepat akan tetapi huruf-huruf yang tercipta di situ sungguh amat indah dan hidup membuat Syanti Dewi terbelalak memandang penuh kagum. Sajak baru yang dibuat di samping sajak lama yang dihias coretan itu singkat-singkat sekali, setiap baris hanya terdiri dari satu huruf saja!

Api....?

Asap....!

Abu....!

Cinta....?

Kepuasan....!

Kesenangan....!

Akhirnya....?

Kecewa....!

Sengsara....!

Benci....!

Aku ada Cinta tiada!

Setelah selesai menuliskan sajak yang terdiri dari huruf-huruf singkat itu, Pouw Toan menyimpan kembali alat tulisnya, sedangkan Syanti Dewi masih menatap tulisan itu dan membacanya berkali-kali. Hanya sebuah huruf setiap baris, namun huruf-huruf itu demikian jelas menusuk perasaannya, mendatangkan kesan mendalam dan menimbulkan pengertian yang lengkap. Namun dia masih penasaran!

"Akan tetapi, Paman Pouw. Mengapa orang mencinta tidak boleh mengharapkan kepuasan dan kesenangan? Bukankah kita mencinta karena tertarik oleh suatu kebaikan tertentu?"

Mereka sudah duduk kembali saling berhadapan, menghadapi poci dan cawan teh harum yang dihidangkan oleh pelayan yang sudah disuruh pergi lagi oleh Syanti Dewi. Pouw Toan menghirup teh harum kental itu, lalu menjawab.

"Mencinta karena tertarik oleh suatu kebaikan merupakan cinta yang hanya ingin menyenangkan diri sendiri. Dasarnya adalah irngin menye-nangkan diri sendiri melalui sesuatu yang menarik dan dianggap kebaikan itu. Kebaikan itu boleh saja merupakan wajah tampan menarik, atau harta berlimpah-limpah, atau kedudukan tinggi, dan semua itu dianggap menarik dan menyenangkan...."

"Tetapi bisa saja kebaikan itu berupa sifat-sifat baik dari orang yang dicinta, kegagahan misalnya, kebijaksanaan atau sifat-sifat budiman...."

Bantah Syanti Dewi.

"Tiada bedanya. Sifat-sifat yang dianggap baik dan akan mendatangkan kesenangan, kebanggaan dan sebagainya. Akan tetapi kita lupa bahwa setiap orang manusia itu kalau sudah dinilai, sudah pasti mengandung dua sifat bertentangan, ada baik tentu ada buruknya. Mencinta dengan dasar ketampanan, padahal ketampanan itu dapat pudar, dapat lenyap dan dapat berkurang menurut suasana hati yang memandangnya. Kalau ketampanannya pudar, lalu ke mana perginya cinta? Dengan dasar kekayaan, kedudukan, kejantanan atau apa saja pun sama pula, begitu yang menjadi pendorong cinta itu pudar atau lenyap maka cintanya turut lenyap. Dan harus diingat lagi bahwa hal-hal yang dianggap baik dan menyenangkan itu hanya dianggap demikian karena belum tercapai oleh kita, akan tetapi apabila sudah berada di tangan kita, biasanya muncul penyakit bosan dan segala keindahan itu sudah tidak nampak sebaik sebelum terdapat!"

Post a Comment