"Sudahlah, kau tahu, Enci. Aku tidak akan menikah dengan siapapun juga, betapapun kaya raya dan berkuasanya pria itu, kecuali dengan pria yang kucinta."
"Tek Hoat itu lagi, ya? Betapa bodohnya engkau...."
"Tidak! Dia sudah kuhapus dari dalam lubuk hatiku. Setelah bertahun-tahun ini dia tidak muncul, aku mulai percaya bahwa dia memang berhati palsu!"
Ouw Yan Hui tertawa lagi.
"Bukan hanya dia, semua laki-laki di dunia berhati palsu! Oleh karena itu, aku lebih suka berdekatan dengan sesama wanita yang memiliki kelembutan, baik jasmani maupun rohaninya. Dunia ini seharusnya dikuasai wanita dan semua pria sebaiknya dibinasakan saja!"
Pada saat mereka berdua tertawa santai terbebas dari percakapan tentang hal yang mendatangkan kenangan tidak menyenangkan dalam hati Syanti Dewi itu, muncullah penjaga berkumis lebat. Melihat bahwa Siocia berada di dalam taman bersama Toanio, wajahnya menjadi pucat dan cepat-cepat dia menjatuhkan diri berlutut ketika Ouw Yan Hui menoleh dan memandang kepadanya.
"Harap Toanio sudi mengampuni saya yang berani lancang masuk ke sini, karena saya tidak tahu bahwa Toanio di sini."
Syanti Dewi yang maklum akan tabiat gurunya yang membenci kaum pria dan mudah menjatuhkan tangan kejam terhadap pria yang bersalah sedikit saja, cepat berdiri menghampiri pria penjaga itu dan bertanya dengan sikap ramah, mendahului Ouw Yan Hui yang sudah memandang dengan alis berkerut kepada pria berkumis lebat itu.
"Ada keperluan apakah engkau datang ke sini?"
"Maaf, Siocia. Di pantai pulau ada seorang sastrawan berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bermaksud berjumpa dengan Siocia...."
"Siapa dia? Apa keperluannya?"
Tanya Syanti Dewi.
"Usir dia pergi!"
Bentak Ouw Yan Hui suaranya melengking marah sehingga mengejutkan Si Penjaga berkumis tebal yang masih berlutut.
"Saya.... sudah berusaha mengusirnya.... akan tetapi dia menuliskan sesuatu di atas kipas ini dan minta untuk disampaikan kepada Siocia...."
Cepat-cepat dia mengeluarkan kipas itu dari saku bajunya.
"Keparat berani kau....?"
Penjaga itu terkejut bukan main karena yang nampak hanya berkelebatnya bayangan dan tahu-tahu dia merasa kepalanya seperti disambar petir dan tubuhnya terlempar dan bergulingan. Ketika dia merangkak bangkit duduk, dengan kedua tangan dia cepat memegangi kepalanya untuk melihat apakah kepalanya tidak copot dan masih menempel di lehernya! Ternyata tadi dalam kemarahannya, Ouw Yan Hui telah menendangnya, dan dengan sama cepatnya Syanti Dewi telah mengambil kipas itu dan selanjutnya nona yang jelita ini menyabarkan gurunya.
"Enci, dia hanya petugas, harap ampuni dia."
Kata Syanti Dewi yang segera membuka kipas itu dan membacanya. Sepasang mata yang indah itu bersinar-sinar, mulut yang manis sekali itu tersenyum dan kedua pipinya menjadi merah ketika dia membaca sajak yang ditulis dengan huruf-huruf biasa yang amat indahnya itu. :
Kembang indah jelita nan cantik menarik datangnya kumbang-kumbang beterbangan membuat banyak tangan ingin memetik banyak pria berlumba bersaing! Aku, sastrawan tua pengagum segala nan indah hanya ingin menikmati dengan pandangan mata sebelum kembang jelita dilayukan usia! Kasihan kumbang, belum kenyang madu tertusuk duri! Kalian kembang, habis madu layu sendiri!
"Di mana dia sekarang?"
Syanti Dewi bertanya kepada penjaga yang masih berlutut dan mandi keringat karena ketakutan itu. Kumisnya nampak miring dan sama sekali tidak membayangkan kegalakan lagi.
"Dia.... menanti.... di dalam perahunya, Siocia."
Jawabnya dengan lirih dan matanya mengerling ketakutan ke arah Ouw Yan Hui.
"Kau persilakan dia menanti di ruangan tamu, aku akan menemuinya."
Kata Syanti Dewi dengan halus.
"Nah, pergilah!"
Penjaga itu merasa lega sekali. Cepat dia bangkit dan memberi hormat, kemudian dengan penuh kehormatan dia menjura ke arah Ouw Yan Hui.
"Terima kasih atas pengampunan Toanio...."
Dan pergilah dia dengan cepat-cepat meninggalkan taman indah dan yang baginya seperti neraka menakutkan itu.
"Enci, dia itu hanya seorang sastrawan tua yang tulisannya indah syairnya bagus sekali. Aku mau menemuinya."
Ouw Yan Hui bangkit berdiri, sejenak memandang kepada puteri itu, lalu membuang muka dan mendengus.
"Huhh! Segala tua bangka menjemukan....!"
Dan dia pun pergi meninggalkan Syanti Dewi dengan wajah cemberut. Syanti Dewi yang sudah mengenal watak gurunya itu hanya tersenyum saja. Gurunya itu memang tidak suka kepada pria, akan tetapi dia tahu bahwa wanita itu amat sayang kepadanya dan tidak akan merintangi kehendaknya. Maka dia pun cepat-cepat pergi meninggalkan taman untuk memasuki bangunan seperti istana itu.
"Siapa namamu?"
Begitu bertemu dengan sastrawan tua yang masih menanti di perahu itu, penjaga berkumis membentak. Dia masih merasa marah karena telah dihadiahi tendangan oleh toanio dan karena hal ini adalah gara-gara munculnya sastrawan ini maka dia menjadi marah kepada sastrawan itu. Sastrawan tua itu tersenyum dan membungkuk.
"Namaku Pouw Toan, seorang sastrawan perantau. Bagaimana, apakah Nonamu telah menerima pesanku dalam kipas?"
"Dengar, orang she Pouw!"
Kata penjaga itu dengan mata merah, dan telunjuknya menuding ke arah hidung sastrawan itu.
"Kalau engkau tidak menceritakan yang baik-baik tentang aku di depan Siocia agar aku mendapat hadiah, ingat, kalau engkau kembali tentu akan kubikin lukisan di mukamu dengan kedua kepalan tanganku ini!"
Dia mengamangkan tinjunya yang besar kepada sastrawan itu.
"Gara-gara kedatanganmu aku telah kena marah oleh Toanio!"
Sastrawan itu tersenyum,
"Ah, kiranya aku telah menyusahkanmu, sobat. Jangan khawatir, setelah aku berhasil bertemu dengan Siociamu, kalau pulang aku tentu akan memberi hadiah kepadamu. Nah, sekarang antarkan aku kepada Siociamu."
Penjaga itu lalu mengantarkan Pouw Toan menuju ke ruangan tamu di samping istana yang megah itu.
"Kau tunggu di sini, demikian pesan Siocia tadi."
Kata Si Penjaga lalu meninggalkan Pouw Toan seorang diri di dalam ruangan tamu yang luas itu. Pouw Toan memeriksa keadaan kamar tamu yang cukup luas itu dengan hati tertarik. Sebagai seorang sastrawan, tentu saja dia kagum sekali melihat ruangan tamu yang dihias dengan amat menyenangkan itu, dengan warna-warna sejuk pada dinding yang digantungi lukisan-lukisan indah.
Akan tetapi dia tertarik sekali akan serangkaian tulisan indah di sudut ruangan, dan dia berdiri seperti patung di depan tulisan ini, dengan alis berkerut dan dia masih berdiri seperti itu ketika Syanti Dewi muncul dari dalam pintu yang tertutup tirai hijau muda. Melihat seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun berdiri di depan tulisan itu dengan alis berkerut dan agaknya tertarik sekali sehingga tidak melihat dia muncul, Syanti Dewi tersenyum. Dia tertarik melihat pria yang tidak seperti para pengunjungnya yang lain itu. Biasanya, di kamar tamu ini dia menerima kunjungan orang-orang muda yang menarik dan dengan pakaian serba indah seolah-olah bergaya dan bersaing. Akan tetapi pria ini sudah setengah tua, dan pakaiannya sederhana saja, seperti pakaian orang yang miskin.
"Pamankah yang ingin bertemu dengan aku?"
Syanti Dewi akhirnya menegur karena pria itu seperti terpesona oleh tulisan-tulisan di dinding.
Pouw Toan menengok dan sejenak dia terbelalak memandang dara yang berdiri tak jauh di depannya. Sudah banyak dia mendengar nama puteri yang berada di Kim-coa-to ini, sehingga menarik hatinya dan membuatnya datang singgah di pulau itu untuk menyaksikan sendiri seperti apa puteri yang dikabarkan orang seperti bidadari dari sorga itu. Dan setelah kini dia berhadapan, dia terpesona dan tercengang karena dia seolah-olah melihat Kwan Im Pouwsat sendiri berdiri di depannya. Kecantikan dara ini sungguh jauh melampaui apa yang didengarnya dalam berita angin itu. Kecantikan yang luar biasa sekali! Sepasang matanya seperti orang dahaga bertemu dengan air jernih, menghirup dan meneguk keindahan depannya itu sepuasnya!
"Nona, yang dikabarkan sebagai bidadari Kim-coa-to dan bernama Syanti Dewi itu?"
Syanti Dewi mengangguk dan tersenyum. Dia merasa aneh sekali. Sudah biasa dia disanjung dan dipuji oleh bibir-bibir para pria muda, bahkan dengan kata-kata sanjungan yang berlebihan, akan tetapi anehnya, ucapan yang keluar dari mulut kakek ini membuat dia merasa senang, bangga dan jantungnya berdebar. Mengapa? Mungkin karena kata-kata dan sikap pria ini begitu jujur, bukan seperti sanjungan para muda yang penuh dengan lagak dan jelas membayangkan pamrih bersembunyi di balik sanjungan itu. Akan tetapi pria ini tidak demikian.
"Ah, Paman, berita itu hanya isapan jempol belaka. Mana mungkin seorang manusia biasa seperti aku dibandingkan dengan seorang bidadari?"
Kakek itu menarik napas panjang, masih terpesona.
"Kau keliru! Engkau malah melebihi yang dibayangkan orang, engkau lebih dari seorang bidadari! Kau tahu, seorang bidadari hanya suatu gambaran yang tanpa cacat, sebaliknya engkau adalah seorang manusia berikut cacat-cacatnya, karena itu jauh lebih mempesona daripada sekedar gambaran kosong belaka!"
Heran sekali, ucapan ini jelas mengandung pujian yang disertai celaan akan kecantikannya, akan tetapi Syanti Dewi malah merasa girang! Dia merasa kembali menjadi manusia biasa bertemu dengan kakek ini.
"Silakan duduk, Paman dan katakanlah apa cacat-cacatku? Engkau tentu tahu bahwa sebagai manusia biasa, aku pun tidak pandai melihat cacat-cacat sendiri sungguhpun aku pandai melihat cacat-cacat lain orang."