Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 62

Memuat...

"Yu Hwi, jangan lancang kau. Mundurlah."

Yu Hwi tidak berani membangkang dan dia menghentikan gerakannya, lalu meloncat ke belakang gurunya. Tang Cun Ciu sudah menghapus air matanya dengan saputangan sutera, kemudian berkata kepada kakek itu.

"Coa-ong, maafkanlah muridku. Simpan kembali ular-ularmu yang menjijikkan itu."

See-thian Coa-ong tertawa dan ratusan ekor ular itu tiba-tiba membalik dan merayap pergi dari situ. Sebentar saja tempat itu menjadi bersih dan hening, tidak terdengar suara mendesis seperti tadi dan bau amis dari ular-ular beracun telah lenyap pula.

"Ha-ha, aku sudah terlalu tua untuk menggunakan kekerasan, maka terpaksa minta bantuan ular-ular yang menjadi sahabatku itu untuk menakut-nakuti."

Kata kakek itu.

"Hemm, siapa takut kepada ular-ularmu, Coa-ong? Dan kalau engkau melawan dengan ilmu silatmu, mana mungkin muridku mampu bertahan terhadapmu? Sudahlah, engkau datang bukan untuk mengadu ilmu silat, melainkan untuk menebak teka-teki dan ternyata engkau menang. Jawabanmu benar, Coa-ong. Akan tetapi, engkau seorang pria yang selalu tidak pernah berhubungan dengan wanita, bagaimana engkau mampu menjawab dengan begitu tepat?"

Tanya Cui-beng Sian-li sambil mengusap kedua matanya yang agak merah.

"Ha-ha, sungguh mati aku tadinya sama sekali tidak mampu menjawab dan jangankan harus bertapa dua tahun lagi,biar dua puluh tahun lagi aku pasti takkan mampu menjawab kalau tidak bertemu dengan muridku ini. Muridku ini, Bu Ci Sian, yang telah membantuku menjawab teka-tekimu."

Tang Cun Ciu memandang tajam kepada gadis cilik itu yang juga menatapnya dengan pandang mata tidak kalah tajamnya.

"Hemm, Coa-ong, muridmu itu sebenarnya masih terlalu kecil untuk dapat menyelami perasaan wanita jatuh cinta. Akan tetapi dia memiliki kecerdasan hebat."

"Aku bukan murid See-thian Coa-ong! "tiba-tiba Ci Sian berseru nyaring. Tang Cun Ciu memandang dengan heran sekali. Dia melihat Ci Sian berdiri tegak dengan sepasang mata berapi dan tiba-tiba dia seperti melihat seorang lain dalam diri gadis cilik itu.

"Kau.... kau she Bu? Ah, tidak salah lagi, engkau tentu anaknya!"

Cui-beng Sian-li berkata lirih dan sepasang mataya terbelalak.

"Engkau.... engkau tentu puteri Bu-taihiap!"

Tiba-tiba dia meloncat ke depan, mukanya pucat sekali.

"Engkau.... serupa benar dengan Ibumu dan karena itu engkau harus mampus!"

"Wuuuuttt....!"Hebat bukan main tamparan yang dilakukan oleh Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu ke arah kepala Ci Sian itu. Angin pukulan yang dahsyatmenyambar dan agaknya nyawa gadis cilik itu takkan dapat tertolong lagi dari ancaman maut.

"Syuuuut.... dessss!"

Kedua orang sakti itu terhuyung ke belakang dan See-thianCoa-ong tersenyum pahit sambil berkata.

"Cui-beng Sian-li, apakah kita harus mulai mengadu kepandaian lagi seperti tiga tahun yang lalu? Apakah engkau hendak menodai nama Lembah Suling Emas dengan membunuh seorang anak-anak yang tidak berdosa apa pun kepadamu?"

Ucapan itu membuat Cui-beng Sian-li tersadar dan dia pun menarik napas panjang, lengan tangannya masih tergetar hebat oleh tangkisan kakek itu tadi,

"Ahhh.... aku telah lupa diri....! Ah, akumenyesal, Coa-ong, dan sebagai hukumanku, aku akan menceritakan kepadamu segala peristiwa yang menimpa diriku dan mengapa aku bersedih mendengar jawaban teka-tekimu dan mengapa aku hendak membunuh Nona cilik ini."

Tanpa mempedulikan bahwa yang mendengar ceritanya bukan hanya kakek itu seorang, melainkan juga Yu Hwi dan Ci Sian, Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu lalu menceritakan riwayatnya yang seharusnya merupakan rahasia bagi seorang wanita, akan tetapi kini dia ceritakan kepada orang lain tanpa malu-malu, seolah-olah hendak membuka rahasia kebusukannya sendiri! Memang aneh-aneh watak dari orang-orang dunia persilatan yang telah mencapai tingkat tinggi itu! Tang Cun Ciu adalah seorang wanita cantik yang sejak kecil telah memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi karena dia berguru kepada para pertapa di sepanjang perbatasan Tibet.

Bahkan akhirnya di dalam usia tujuh belas tahun dia merupakan seorang gadis yang cantik dan lihai berjumpa dengan Cu San Bu, seorang pendekar dan tokoh besar dari keluarga Cu penghuni Lembah Suling Emas. Cu San Bu seketika jatuh cinta kepada dara yang cantik manis ini dan akhirnya mereka menikah. Kalau Cu San Bu tergila-gila karena kecantikan Cun Ciu, sebaliknya Tang Cun Ciu tertarik sekali kepada Cu San Bu karena kelihaian pendekar ini yang merupakan saudara tertua dari keluarga Cu. Padahal, usia mereka berselisih lima belas tahun! Kalau Tang Cun Ciu merupakan seorang dara remaja berusia tujuh belas tahun, adalah suaminya itu telah berusia tiga puluh dua tahun! Setelah menjadi isteri Cu San Bu, Tang Cun Ciu yang amat suka mempelajari ilmu silat itu memperoleh kemajuan hebat.

Suaminya yang amat mencinta itu mengajarkan ilmunya kepada isterinya sehingga dalam waktu beberapa tahun saja ilmu kepandaian Tang Cun Ciu sudah sedemikian hebatnya sehingga tidak berselisih jauh sekali dari para kakak beradik Cu itu sehingga dia diterima sebagai seorang tokoh Lembah Suling Emas pula. Akan tetapi, mungkin karena perbedaan usia yang terlalu banyak, atau karena memang watak mereka pun berbeda, Cu San Bu adalah seorang pendekar yang lebih bayak menahan nafsu-nafsunya dan lebih banyak bersamadhi, sebaliknya Tang Cun Ciu adalah seorang wanita yang berdarah panas, maka dalam pernikahan itu Tang Cun Ciu merasa kecewadan banyak menderita tekanan batin! Suami itu terlalu "dingin"

Baginya sehingga seringkali dia merasa tersiksa oleh gairah nafsunya sendiri yang tidak terpuaskan karena suaminya hanya amat jarang mau menggaulinya.

Post a Comment