Tentu saja Yu Hwi yang belum pernah mendengar dari subonya tentang hal itu merasa heran sekali.
"Menebak teka-teki....?"
Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar suara bisikan halus terbawa angin memasuki telinga,
"Yu Hwi, antarkan tamu-tamu itu ke dalam taman, aku menantidi sini!"
"Baik, Subo."
Kata Yu Hwi dan dia pun terkejut sendiri karena maklum bahwa suara gurunya itu dikirim melalui ilmu mengirim suara dari jauh dan yangmendengar bisikan itu adalah dia seorang. Namun suara itu sedemikian jelasnya sehingga seolah-olah gurunya itu berada di sampingnya dan bicara kepadanya! Demikian hebat kekuatan khi-kang dari subonya itu. Karena merasa malu bicara seperti kepada diri sendiri atau kepada bayangan yang tidak nampak, Yu Hwi cepat berkata kepada kakekitu.
"Subo minta kepada kalian untuk menghadap kepadanya di taman. Silakan!
"Dan Yu Hwi lalu membalikkan tubuhnya tanpa menanti jawaban, lalu melangkah pergi.
"Hebat memang ilmu Coan-im-jip-bit dari Cui-beng Sian-li."
Kata kakek itu dan kembali Yu Hwi terkejut dan menduga-duga apakah kakek itu juga dapat mendengar bisikan Subonya? Agaknya tidak mungkin karena sepanjang pengetahuannya, ilmu itu kalau dipergunakan hanya dapat didengar oleh orang yang ditujunya. Dia menoleh dan melihat kakek itu bersama gadis tanggung mengikutinya. Yang dimaksudkan taman oleh Cui-beng Sian-li dan muridnya itu adalah sebuah tempat terbuka yang memang indah sekali. Di situ penuh dengan pohon akan tetapi karena ketika itu musim dingin sedang hebat-hebatnya,
Maka semua pohon kehilangan daunnya yang tinggal hanya batang dan cabang berikut rantingnya yang kini penuh dengan salju dan es yang menggantikan tempat daun dan bunga. Dan di sana-sini nampak batu-batu terselaput es yang aneh-aneh bentuknya. Semua itu berkilauan dan memantulkan cahaya yang beraneka warna sehingga memang benar-benar merupakan taman yang luar biasa aneh dan indahnya. Di tengah taman itu terdapat sebuah kupel, yaitu bangunan tak berdinding, di mana terdapat sebuah meja batu berikut bangku-bangkunya yang mengelilingi meja itu, juga terbuat dari batu-batu dan jumlahnya ada delapan buah, cocok dengan meja yang bentuknya segi delapan itu. Dan diatas sebuah diantara bangku-bangku itu nampak duduk seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu.
"Subo, teecu sudah mengantar tamu-tamu datang,"
Kata Yu Hwi yang lalu berdiri di belakang subonya. Wanita cantik itu memutar tubuh dan memandang kepada See-thian Coa-ong, lalu memandang kepada Ci Sian. Wajah yang cantik itu nampak suram seolah-olah dibayangi kedukaan atau kepahitan hidup. Akan tetapi dia tersenyum ketika bertemu pandang dengan See-thian Coa-ong.
"Duduklah, See-thian Coa-ong."
Katanya lembut.
"Terimakasih, Cui-beng Sian-li."
Jawab kakek itu yang segera duduk menghadapi nyonya rumah, terhalang meja. Ci Sian yang tidak dipersilakan duduk tidak mau duduk dan hanya berdiri di belakang kakek itu, seperti yang dilakukan oleh Yu Hwi. Gadis cilik ini memperhatikan nyonya itu dengan kagum. Tak disangkanya bahwa di tempat sunyi seperti ini, tempat yang terpencil dari keramaian dunia, dia dapat bertemu dengan dua orang wanita cantik seperti guru dan murid ini. Dan sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa yang menjadi musuh kakek itu, yang namanya begitu menyeramkan, ternyata adalah seorang wanita yang cantik jelita! Padahal tadinya dia membayangkan bahwa nama itu tentu dimiliki seorang wanita yang amat menyeramkan.
"Engkau sungguh merupakan seorang kakek yang keras hati, Coa-ong. Tak kusangka bahwa kekalahanmu dahulu itu benar -benar kau tebus dengan mengasingkan diri sampai sekarang dalam guha itu.Tiga tahun lamanya! Bukan main!"
"Hemm, Sian-li. Seandainya ketika itu engkau yang kalah, apakah engkau juga tidak akan menjalani hukuman seperti yang kita pertaruhkan bersama?"
Wanita itu tersenyum pahit.
"Aku ragu-ragu apakah aku akan setekun engkau memegang janji yang kita buat dalam keadaan marah itu, Coa-ong. Sudahlah, buktinya engkau kalah dan engkau baru tiga tahun bertapa di dalam guha itu. Masih kurang dua tahun lagi. Kenapa engkau sudah keluar dan mencariku?"
"Karena sekarang aku sudah mendapat jawaban teka-tekimu!"
"Ah, benarkah? Hemm.... tidak mungkin!"
"Coba dengarlah, Cui-beng Sian-li.Akan tetapi apakah janji pertaruhan itu masih berlaku?"
"Tentu saja."
"Jadi, kalau jawabanku keliru, aku harus melanjutkan bertapa di dalam guha itu dua tahun lagi, dan kalau benar engkau tidak boleh keluar dari tempat ini selama dua tahun."
"Ya, begitulah, karena yang lima tahun itu telah lewat tiga tahun."
Kakek itu tertawa.
"Ha-ha, menyenangkan sekali! Sekali tersesat di daerah Lembah Suling Emas, aku mengalami hal-hal yang amat menarik. Nah, dengarlah. Teka-tekimu dahulu itu merupakan pertanyaan begini : Apakah perbedaan pokok antara cinta seorang pria dan cinta seorang wanita? Bukankah begitu pertanyaanmu?"
"Tepat sekali. Nah, kalau memang engkau tahu jawabannya, jawablah."
Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu menantang.
"Cui-beng Sian-li, perbedaannya adalah begini. Pria adalah Yang dan wanita adalah Im. Pria adalah kasar dan kuat, wanita adalah lembut dan lemah. Cinta seorang pria bersifat ingin mencinta, ingin menyenangkan, ingin memanjakan, ingin memiliki! Sebaliknya cinta wanita bersifat ingin dicinta, ingin dimanjakan, ingin disenangkan, ingin dimiliki! Yang lembut mengalahkan yang keras, yang lemah menundukkan yang kuat. Bukankah begitu jawabannya?"
Wajah yang cantik itu tiba-tiba menjadi merah, lalu menjadi pucat, kemudiantiba-tiba saja dia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis! Melihat gurunya menangis demikian sedihnya, YuHwi terkejut dan marah. Cepat dia melompat dan menyerang kakek itu sambil membentak.
"Kakek iblis, berani engkau membikin susah Guruku?"
Serangan Yu Hwi tentu saja hebat bukan main. Biarpun baru beberapa bulan dia menjadi murid Cui-beng Sian-li danbaru menerima sedikit petunjuk, akan tetapi oleh karena sebelumnya memang kepandaiannya sudah tinggi, maka begitu dia menggerakkan Ilmu Kiam-toSin-ciang, terdengar suara bercuitan dan angin yang amat tajam menyambar kearah kakek tinggi kurus hitam itu! See-thian Coa-ong maklum akan kelihaian dara itu, maka dia pun sudah mencelat mundur dari bangkunya dan begitu Yu Hwi melancarkan pukulan maut bertubi-tubi dan kedua lengannya ituseperti berubah menjadi pedang tajam yang menyambar-nyambar, kakek ini hanya mengelak dan kadang-kadang saja menangkis dengan lengannya yang hitam panjang.
"Hemm, beginikah sikap orang yang kalah taruhan?"
See-thian Coa-ong mendengus dan tiba-tiba terdengar suara melengking keluar dari dada melalui kerongkongannya dan tak lama kemudian terdengar suara mendesis-desis dan datanglah ratusan ekor ular ketempat itu dari segenap jurusan! Yu Hwi merasa terkejut sekali akan tetapi tentu saja dia tidak takut. Sebelum dia turun tangan membunuh ular-ular itu, terdengar gurunya membentak.