Maka, setelah memutar pedangnya dengan dahsyat, membuat tiga orang pengeroyoknya dengan hati-hati mundur menjaga jarak, tiba-tiba Siangkoan Kok meloncat ke kiri dan sebelum tiga orang muda yang mengeroyoknya sempat men-cegah, dia sudah mencengkeram leher baju Lurah So dan menempelkan pedang-nya di leher lurah yang menjadi pucat ketakutan itu."Kalau ada yang menyerangku, aku akan lebih dulu menyembelih lurah ini!" bentak Siangkoan Kok sambil mendorong tubuh lurah itu di depannya dan terus mendorongnya keluar rumah.
Ciang Hun, Sian Li, dan Bi Kim tentu saja tidak berani menyerang lagi.
Bagai-manapun juga, mereka tidak mau me-ngorbankan nyawa lurah yang tidak ber-dosa itu.
Mereka hanya dapat meman-dang ketika lurah itu didorong keluar oleh Siangkoan Kok.
Sian Li hanya dapat mengancam ketua Pao-beng-pai itu.
"Siangkoan Kok, kalau engkau mem-bunuhnya, aku bersumpah untuk mengejar-mu dan tidak akan berhenti sampai aku dapat membunuhmu!" Ketua Pao-beng-pai itu tertawa ber-gelak.
"Ha-ha-ha, aku sedang malas ber-tanding, Nona manis, dan aku menangkap-nya hanya untuk mencegah kalian men-desakku, bukan untuk membunuhnya.
Lurah ini telah begitu baik untuk me-layaniku makan minum, tentu aku tidak akan membunuhnya." Setelah tiba di luar rumah, Siangkoan Kok berlompatan jauh sambil tetap meng-gandeng Lurah So dan baru setelah tiba di tepi sebuah hutan dia melepaskan lurah itu dan menghilang ke dalam hutan.
Sian Li dan yang lain juga tidak mau mengejar, mengejar seorang seperti Siang-koan Kok yang melarikan diri ke dalam hutan amatlah berbahaya.
Melihat tiga orang muda yang ber-hasil mengusir ketua Pao-beng-pai, Lurah So yang dilepaskan oleh kakek itu tanpa dilukai, segera menghampiri dan memberi hormat, menghaturkan terima kasih kepada mereka dan memohon agar malam itu mereka suka bermalam di rumahnya.
"Pertama, agar kami sekeluarga sem-pat menghaturkan terima kasih kepada Sam-wi (Kalian Bertiga), dan kedua, agar hati kami sekeluarga merasa aman dan tenteram.
Kalau Sam-wi pergi sekarang, malam ini pasti kami tidak dapat tidur dan ketakutan membayangkan iblis itu kembali ke rumah kami." Demikian an-tara lain Lurah So membujuk mereka.
Karena alasan itu masuk akal juga, akhirnya Ciang Hun, Sian Li dan Bi Kim me-nerima undangan itu.
Seluruh penghuni dusun itu bersuka-ria karena lurah mereka terbebas dari gangguan ketua Pao-beng-pai yang mere-ka takuti.
Dan para penghuni itu me-muji-muji pemuda dan dua orang gadis perkasa itu.
Keluarga Lurah So juga menghaturkan terima kasih dan meng-adakan pesta kecil untuk menyambut mereka.
Sehabis makan minum, akhirnya tiga orang muda itu mendapat kesempatan untuk bicara bertiga saja di ruangan belakang rumah Lurah So.
Tidak ada anggauta keluarga yang berani meng-ganggu mereka bertiga yang sedang ber-cakap-cakap.
Dalam kesempatan ini, Gan Bi Kim berkenalan dengan Gak Ciang Hun dan Tan Sian Li.
"Aku berterima kasih sekali kepada Tai-hiap (Pendekar Besar) dan Li-hiap (Pendekar Wanita)," kata Gan Bi Kim.
"Aku sungguh tidak tahu diri, dengan ilmu silatku yang masih rendah aku be-rani menentang ketua Pao-beng-pai yang lihai itu.
Kalau Ji-wi (Anda Berdua) ti-dak datang, entah bagaimana jadinya dengan diriku." kata Bi Kim.
"Aih, Nona, harap jangan merendah-kan diri.
Ilmu pedangmu sudah cukup hebat, hanya ilmu kepandaian ketua Pao--beng-pai itu memang luar biasa.
Hanya setelah kita bertiga maju bersama, baru dapat mengusirnya." kata Ciang Hun.
"Benar, Enci, di antara kita tidak perlu sungkan, kita adalah dari golongan yang sama, yaitu menentang perbuatan jahat.
Siapakah engkau, Enci, dan bagai-mana engkau dapat tiba di tempat ini dan berkelahi dengan ketua Pao-beng--pai itu?"Gan Bi Kim menghela napas panjang.
"Aku hanya orang biasa saja, adik yang gagah, tidak seperti engkau yang ber-juluk Si Bangau Merah dan kakak ini yang keturunan orang-orang sakti.
Ketua Pao--beng-pai itu sampai mengenal kalian dan merasa gentar.
Aku bernama Gan Bi Kim berasal dari kota raja dan aku sedang melakukan perjalanan mengembara untuk meluaskan gengalaman setelah aku mem-pelajari sedikit ilmu silat dari para guru di kota raja sebagai bekal untuk mem-bela diri.
Ketika tiba di sini, aku men-dengar akan kejahatan kakek.
tadi yang menguasai rumah keluarga Lurah So, maka aku datang untuk menegur dan mengusirnya, tidak tahu bahwa kakek itu adalah ketua Pao-beng-pai yang amat lihai.
Nah, sekarang aku mengharapkan keterangan tentang kalian, karena aku hanya mendengar julukanmu, tidak tahu siapa namamu dan nama kakak ini." "Namaku Tan Sian Li, enci Kim." kata Sian Li yang segera merasa akrab dengan gadis kota raja yang dari sikap-nya saja dapat diduga bahwa ia seorang gadis terpelajar, bahkan ada sikap agung dan anggun seperti gadis pingitan atau gadis bangsawan.
"Dan namaku Gak Ciang Hun, nona Gan," Ciang Hun memperkenalkan diri dan dia seperti terpesona memandang gadis itu.
Ada sesuatu yang amat me-narik hatinya pada gadis itu, entah sinar matanya yang lembut, atau mulutnya yang memiliki bibir yang mempesonakan.
"Aih, Gan-toako, kita segolongan dan aku sudah merasa akrab dengan enci Kim.
Kiranya tidak perlu bersungkan--sungkan menyebut ia nona segala!" kata Sian Li yang wataknya terbuka dan jujur.
Hi Kim tersenyum dan memandang kepada pemuda itu.
"Li-moi berkata be-nar, Gak-toako.
Aku pun merasa seolah--olah sudah mengenal kalian selama ber-tahun-tahun." Ciang Hun tersenyum girang.
"Baik-lah, Kim-moi (adik Kim)." "Enci Kim, engkau seorang gadis kota raja, lembut dan pandai, kenapa ber-susah-susah bertualang seperti gadis kang--ouw" Kalau aku sendiri lain lagi, me-mang aku dari keluarga petualang, aku seorang gadis kang-ouw yang sudah biasa hidup berkelana.
Tapi engkau...." Bi Kim tersenyum dan memegang lengan Sian Li.
"Aih, jangan berkata seperti itu, Li-moi.
Engkau lebih dalam segala-galanya dibandingkan aku, kenapa mesti memuji-muji aku" Engkau lebih lihai, engkau lebih cantik, lebih muda! Aku mendengar dari para guruku di kota raja tentang dunia persilatan yang luas, mendengar tentang tokoh-tokoh dunia persilatan, bahkan aku pernah mendengar nama besar Si Bangau Putih dan puteri-nya, Si Bangau Merah.
Maka, aku ter-tarik dan ingin meluaskan pengalamanku dengan merantau." Tentu saja Bi Kim tidak mau menceritakan bahwa kepergian-nya adalah untuk mencari Yo Han, pe-muda idamannya yang telah ditunangkan dengannya oleh neneknya.
"Dan engkau sendiri, dari mana hendak ke mana, Li--moi" Dan juga engkau, Gak-toako?" "Panjang ceritanya," kata Sian Li.
"Beberapa pekan yang lalu, diadakan per-temuan dari tiga keluarga besar Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga Silu-man.
Aku pun hadir dan dalam pertemu-an itu, muncul puteri ketua Pao-beng--pai yang menantangkami.
Ia dapat di-kalahkan dan pergi.
Aku menjadi pena-saran dan pergi menyelidiki Pao-beng--pai...." "Dan karena aku mengkhawatirkan keselamatan siauw-moi Tan Sian Li, maka aku lalu mengejarnya dan berhasil, maka kami melakukan perjalanan ber-sama." sambung Ciang Hun.
"Tapi aku mendengar berita bahwa Pao-beng-pai telah dibasmi oleh pasukan pemerintah," kata Hi Kim.
"Benar, kami terlambat dan kami.
tidak dapat bertemu dengan gadis iblis itu, melainkan dengan, ayahnya di sini." "Jadi kalian berdua saja berani da-tang mencari puteri ketua Pao-beng-pai" Itu berbahaya sekali! Baru ketuanya saja tadi sudah selihai itu.
Apalagi kalau per-kumpulan itu belum terbasmi dan ter-dapat banyak anak buahnya."kata Gan Bi Kim kagum akan keberanian dua orang itu.
"Aku bukan hanya menyelidiki Pao--beng-pai, enci Kim.
Sebetulnya, penyeli-dikan terhadap Pao-beng-pai hanya sam-bil Lalu saja.
yang terutama sekali kepergianku adalah untuk mencari Han--koko...." Sian Li berhenti sebentar sam-bil memandang kepada Gak Ciang Hun yang nampak tenang saja karena pemuda ini sudah pernah mendengar pengakuan Si Bangau Merah.
"Han-koko" Siapa itu Han-koko?" ta-nya Bi Kim, tersenyum.
Sian Li baru ingat bahwa Bi Kim sama sekali tidak mengenal kekasihnya itu, dan sebagai seorang gadis yang tidak merasa perlu merahasiakan hubungannya dengan Yo Han terhadap seorang sahabat yang dipercayanya, ia pun tertawa."Aih, aku sampai lupa bahwa engkau belum mengenal Han-ko, enci Kim.
Dia berjuluk Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti) bernama Yo Han....
eh, engkau kelihatan terkejut, apakah engkau sudah mengenalnya, Enci?" "Tentu saja aku terkejut," Bi Kim tersenyum, menahan debaran jantungnya, "Siapa yang tidak pernah mendengar akan nama besar Sin-ciang Tai-hiap" Dan engkau menyebutnya Hankoko" Agaknya engkau mempunyai hubungan yang erat dengan dia.
Masih ada hubungan keluarga-kah, Li-moi?" Sian Li tersenyum dan tiba-tiba saja kedua pipinya menjadi kemerahan dan sambil menundukkan mukanya dengan tersipu ia berkata, "Boleh dibilang begitulah karena dia....
dan aku....
kami saling mencinta dan mengharapkan kelak menjadi suami isteri." Karena mukanya ditundukkan ketika mengatakan itu, Sian Li tidak melihat betapa mata Bi Kim terbelalak, mukanya pucat napasnya ter-engah sejenak.
Bahkan ia lalu menunduk dan mengusapkan tangannya ke arah kedua matanya untuk mengusir cepat dua titik air matanya.
Akan tetapi, Ciang Hun yang sejak tadi mengamatinya, me-lihat perubahan ini dan diam-diam dia pun merasa terkejut dan heran, hatinya menduga-duga.
Ketika Sian Li mengangkat muka me-mandang kepada sahabat barunya itu, Bi Kim sudah dapat menguasai perasaan hatinya.