Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 57

Memuat...

"Bagalmana engkau dapat berada di sini?" Dengan wajah berseri-seri karena gembira dapat menemukan gadis itu, Ciang Hun menjawab, "Aku memang me-nyusul dan mencarimu setelah kami se-mua mengetahui kepergianmu." Sian Li mengerutkan alisnya.

"Kenapa, Gak-twako" Mau apa engkau menyusul dan mencariku?" Ciang Hun menyadari kesalahannya.

Hampir saja dia membuka rahasia hatinya.

Tentu saja dia menyusul Sian Li karena msngkhawatirkan gadis itu dan ingin membantunya.

Semua ini terdorong oleh perasaan cintanya kepada Sian Li! Akan tetapi, dia tidak berani mencerita-kan itu.

"Aku....

aku pun ingin ikut mencari puteri paman Sim Houw yang hilang sejak kecil, aku ingin pula ikut menyeli-diki Pao-beng-pai.

Aku sudah mendapat perkenan ibu, maka aku cepat pergi me-nyusulmu, Nona.

Kurasa, dengan tenaga kita berdua, akan lebih kuat dan...." "Gak-twako, jangan sebut aku nona.

Engkau membuat aku merasa sungkan saja.

Bagaimanapun juga, di antara kita masih ada hubungan, baik hubungan ke-luarga atau perguruan.

Nah, kalau aku menyebutmu kakak, sepatutnya kau me-nyebut aku adik, bukan?" Wajah Ciang Hun menjadi kemerahan dan dia salah tingkah.

Memang pemuda ini, walaupun sudah berusia dua puluh sembilan tahun, namun belum berpenga-laman dalam pergaulan dengan wanita, maka dia merasa canggung dan rikuh.

"Baiklah, Siauw-moi.

Aku memang mencarimu ke Kwi-san, karena engkau ingin pula menyelidiki Pao-beng-pai.

Akan tetapi aku menjadi bingung ketika men-dengar bahwa Paobeng-pai telah dibasmi oleh pasukan pemerintah.

Maka aku ha-nya berkeliaran di sekitar kaki bukit sampai tadi kebetulan sekali aku me-lihatmu, maka aku mengejarmu." Siang Li yang merasa lelah, tidak begitu senang membayangkan dirinya melakukan perjalanan berdua saja dengan Ciang Hun.

Bukan Ciang Hun yang di-harapkannya, melainkan Yo Han! Dan ia mendapat kesan bahwa pandang mata Gak Ciang Hun terhadapnya begitu penuh kagum, begitu mesra.

Ini hanya berarti bahwa pemuda perkasa ini agaknya me-naruh hati kepadanya, hal yang sama sekali tidak ia harapkan! Sian Li adalah seorang gadis yang berwatak tegas dan keras.

Ia lalu duduk di atas batu, di bawah pohon yang rindang.

Matahari sudah condong ke barat, namun sinarnya masih cukup panas dan duduk di tempat teduh itu amat nyaman, apalagi karena ia sudah melakukan perjalanan melelah-kan menuruni Lembah Selaksa Setan tadi.

"Gak-twako, sesungguhnya, perjalanan-ku meninggalkan ayah ibu tempo hari terutama sekali untuk mencari kanda Yo Han." Ia berkata dengan tekanan suara kepada nama pemuda itu, dan matanya memandang tajam.

Ciang Hun mengerutkan alisnya.

"Yo Han" Kau maksudkan, Pendekar Tangan Sakti?" Sian Li mengangguk dan ia semakin yakin akan dugaannya melihat betapa sinar mata pemuda itu menunduk dan alisnya berkerut, jelas nampak dia ter-pukul.

Sebaiknya berterus terang, pikir gadis itu, daripada membiarkan dia ber-larut-larut hanyut dalam khayal.

"Benar, Gak-twako.

Aku ingin mencari Han-koko.

Dia bertekad untuk me-nemukan puteri Paman Sim Houw yang hilang, maka aku akan mencarinya kare-na aku tidak ingin ikut ayah dan ibu ke kota raja." Ciang Hun yang sudah dapat mengua-sai kekecewaan mendengar betapa gadis yang sejak pertemuannya pertama kali telah merampas semangatnya ini men-cari-cari Yo Han, membuat dia menduga bahwa tentu ada perhatian khusus dari gadis ini terhadap pendekar itu, untuk mengalihkan perhatiannya sendiri, dia bertanya, "Kenapa engkau tidak ingin ikut dengan orang tuamu ke kota raja, Nona....

eh, Siauw-moi?" "Hemmm, orang tuaku mengajak aku ke kota raja untuk membicarakan urusan perjodohanku.

Aku tidak suka itu.

Aku hendak dijodohkan dengan putera Pange-ran Cia Yan, bahkan ikatan itu sudah dilakukan sejak dahulu dan kini orang tuaku hendak mematangkan urusan itu.

Aku tidak suka menjadi calon mantu pangeran!" Ciang Hun memandang wajah gadis itu yang nampak cemberut, namun tidak mengurangi kecantikannya.

"Akan tetapi, kenapa, Siauw-moi" Bukankah menjadi mantu pangeran merupakan suatu peng-hormatan besar, engkau akan hidup mulia dan terhormat, dan kurasa putera pangeran itu pun seorang pemuda yang baik maka sampai diterima oleh ayah ibu-mu...." "Tidak peduli bagaimanapun baiknya, aku tidak sudi! Ah, Twako, kurasa tidak perlu lagi aku merahasiakan.

Hanya ada seorang saja pria yang aku ingin men-jadi suamiku, pria yang kucinta sejak dahulu, dia adalah Han-koko...." "Sin-ciang Tai-hiap Yo Han?" Ciang Hun bertanya, tidak merasa heran karena hal ini sudah diduganya.

Gadis itu meng-angguk, merasa puas karena ia memang ingin berterus terang agar Gak Ciang Hun tidak lagi mengharapkannya.

"Dia memang seorang pendekar yang gagah perkasa.

Aku pun kagum dan meng-hormatinya.

Pilihan hatimu tidak keliru, Siauw-moi.

Akan tetapi bagaimana de-ngan pilihan orang tuamu, pangeran itu....?" "Aku tidak mau! Ayah dan ibu harus dapat mengerti.

Aku hanya mencinta Han-ko, aku akan mencarinya." "Kalau begitu, aku akan membantumu, Siauw-moi.

Aku akan membantumu men-cari sampai kita dapat menemukan Yo Han!" kata Ciang Hun penuh semangat.

Dia memang berjiwa pendekar.

Biarpun baru saja harapannya hancur lebur, bah-wa cintanya kepada Sian Li takkan mung-kin terbalas, bahwa dia hanya bertepuk tangan sebelah, namun dia tidak menjadi patah hati.

Tidak, dia dapat menerima dan menghadapi kenyataan.

Apalagi men-dengar bahwa pilihan hati Sian Li adalah Yo Han, pendekar yang dia kagumi, dan dia tahu bahwa Yo Han jauh lebih baik dari dirinya sendiri! Dia tahu bahwa dia bukan jodoh Sian Li, akan tetapi hal ini bukan berarti dia membenci Sian Li.

Tidak, dia tetap menyayangnya, karena bagaimanapun juga, di antara mereka masih ada hubungan dan ikatan antara tiga keluarga besar.

Dia harus membantu gadis itu, menemukan kekasihnya, calon suaminya, menemukan kebahagiaannya.

Sian Li mengangkat muka memandang wajah yang menunduk itu.

Diam-diam ia merasa terharu, dan juga kagum.

Saorang pria yang hebat, pikirnya.

Betapa akan mudahnya jatuh cinta kepada pria ini, sekiranya di sana tidak ada Yo Han! Ia mengulur tangan dan menyentuh lengan Ciang Hun.

"Benarkah, Twako" Aih, engkau memang baik hati sekali.

Engkau dan ibumu selalu berbuat baik.

Terima kasih, Twako!" Ciang Hun mengangkat muka dan tersenyum melihat Sian Li begitu gem-bira.

Begitu kekanak-kenakan! "Mari kita lanjutkan perjalanan, matahari sudah condong ke barat.

Sebentar lagi gelap, kita harus dapat melintasi hutan ini se-belum malam tiba." "Marilah, Gak-twako.

Tadi kulihat dari atas bahwa di seberang hutan kecil ini terdapat sebuah dusun.

Kita ke sana se-belum malam tiba, Twako." Mereka memasuki hutan itu dengan langkah cepat, akan tetapi ketika mereka hampir tiba di seberang, mereka men-dengar isak tangis seorang wanita.

Mere-ka terkejut dan heran, bahkan sempat bulu tengkuk mereka meremang karena di waktu senja dan cuaca sudah hampir gelap, terdengar isak tangis di hutan.

Siapa lagi kalau bukan siluman atau iblis yang mengeluarkan suara seperti itu untuk menakut-nakuti mereka" Memang mereka merasa ngeri.

akan tetapi mereka adalah dua orang pendekar yang tidak mudah lari ketakutan, Mereka menghentikan langkah dan memperhatikan, suara tangis wanita itu ditanggapi suara seorang wanita lain.

"Sudahlah jangan menangis.

Tidak ada yang tahu bahwa kita bersembunyi di sini...." Orang yang menangis itu berkata de-ngan suara ketakutan, "Tapi....

Ibu....

bagaimana dengan ayah" Bagaimana ka-lau dia dipukul atau dibunuh iblis jahat itu....?" Mendengar percakapan ini, Sian Li cepat menghampiri, diikuti oleh Ciang Hun.

Kedua orang wanita yang sedang duduk di dalam gubuk kecil tempat para pemburu beristirahat itu, menahan jerit mereka ketika di dalam cuaca yang su-dah remang-remang itu mendadak muncul dua bayangan orang.

Akan tetapi mereka tidak jadi menjerit ketika melihat bahwa yang muncul adalah seorang gadia cantik bersama seorang pemuda tampan.

"Jangan takut, Bibi dan Cici, kami bukan orang jahat.

Namaku Tan Sian Li dan ini kakak Gak Ciang Hun.

Kami kebetulan lewat di sini dan mendengar percakapan kalian.

Kenapa kalian ber-sembunyi di sini dan siapa yang meng-ancam keselamatan suami Bibi?" Melihat sikap Sian Li yang gagah, juga pemuda di dekatnya itu bersikap gagah, wanita itu lalu memberi hormat dan berkata, "Aku adalah isteri Lurah So di dusun sana, dan ini So Biauw Hwa puteri kami.

Baru saja rumah kami di-datangi seorang laki-laki yang amat ka-sar dan jahat.

Dia dengan paksa hendak bermalam di rumah kami, minta disedia-kan kamar terbaik, mandi air hangat, dan pesta-pesta, minta dilayani wanita--wanita cantik.

Dia memukul para pen-jaga, dan membunuh anjing kami.

Dia menakutkan sekali.

Karena takut kalau anakku diganggu, maka ia kuajak melari-kan diri dan bersembunyi di sini." "Hemmm, apakah orang itu perampok dan banyak temannya?" tanya Sian Li,penasaran dan sudah marah kepada para perampok yang bertindak sewenang--wenang.

Akan tetapi nyonya itu menggeleng kepala.

Post a Comment