Akan tetapi sebelum kita bicara, punah-kan dulu racun dari kedua tanganku." "Baik, duduklah bersila, Siangkoan--pengcu, dan acungkan kedua telapak tanganmu ke atas, menghadap ke bela-kang," kata Seng Bu.
Siangkoan Kok duduk bersila, meng-angkat kedua tangan ke atas dan meng-hadapkan kedua telapak tangan yang menghitam itu ke belakang! Seng Bu yang telah menguasai Bu-kek Hoatkeng secara keliru, memang telah mendapat-kan pukulan yang mengandung hawa be-racun.
Kalau Siangkoan Kok tidak me-miliki sin-kang yang amat kuat, tentu dia telah tewas dengan tubuh hangus.
Untung bahwa ketua Pao-beng-pai itu memiliki sin-kang kuat sehingga hawa beracun itu berhenti sampai di pergelang-an tangannya saja, dihambat oleh sin--kangnya.
Kini, Seng Bu menjulurkan ke-dua tangannya dan ditempelkan pada kedua tangan Siangkoan Kok.
Sampai beberapa menit lamanya dia mengerah-kan sin-kangnya sehingga tubuh kedua orang itu menggigil dan perlahan-lahan, warna menghitam di kedua tangan Siang-koan Kok menjadi hilang, tersedot ke dalam kedua tangan Seng Bu! Setelah Seng Bu melepaskan kedua tangannya dan meloncat ke belakang, Siangkoan Kok memeriksa kedua tangan-nya dan ternyata kedua telapak tangan-nya sudah bersih, lalu memandang kepada Seng Bu dengan kagum.
"Ouw-pangcu, sekarang aku percaya.
Engkau masih muda akan tetapi lihai bukan main, dan aku akan suka menjadi sekutumu.
Karena Pao-beng-pai sudah terbasmi pasukan pemerintah penjajah, maka biarlah aku membantumu untuk memperkuat Thian-li-pang dan kita bersama jatuhkan pemerintah kerajaan Man-cu!" "Nanti dulu, Siangkoan-pangcu.
Urusan di sini harus dibereskan dulu.
Sebaiknya kalau engkau minta maaf kepada Nona Cu, dan memberi hukuman kepada lima orang bekas anak buahmu." Siangkoan Kok menghela napas pan-jang.
Dia maklum bahwa pemuda yang mengaku ketua Thian-li-pang itu lihai bukan main, memiliki ilmu pukulan yang amat aneh dan berbahaya.
Dia akan me-lihat keadaan di Thian-li-pang.
Kalau memang pantas dia bantu, apa salahnya" Baginya, yang penting adalah mengguling-kan pemerintah Mancu! Dan memang tidak menguntungkan kalau dia bermusuh-an dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman.
"Nona Cu, maafkan sikapku tadi." Dia menjura kepada gadis itu.
Tentu saja Kim Giok segera membalas penghormatan ketua Pao-beng-pai itu.
"Tidak mengapa, Pangcu, hanya ke-salahpahaman saja." katanya.
Kini Siangkoan Kok menoleh ke arah lima orang anak buahnya yang menyeri-ngai.
Ketika dia melangkah maju meng-hampiri mereka, lima orang itu meman-dang dengan wajah pucat dan mata ke-takutan.
Melihat sikap ketua mereka yang sudah amat mereka kenal, mereka ketakutan dan maklum bahwa ketua me-reka itu marah kepada mereka.
Dengan kaki menggigil, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi, Siangkoan Kok menggerakkan tangan kirinya lima kali dan lima orang itu pun terjengkang dan tewas seketika! Melihat ini, terkejutlah Kim Giok.
Lima orang itu memang jahat dan patut dihajar, akan tetapi hukuman mati itu ia anggap terlalu keras.
Akan tetapi karena yang membunuh adalah ketua mereka sendiri, ia pun tidak dapat mencampuri.
Sementara itu, Seng Bu merasa se-nang dan puas melihat cara Siangkoan Kok membuktikan kesungguhan niat kerja sama dengan dia.
Dia kini menghadapi Kim Giok dan berkata, sikapnya sudah pulih ramah dan sopan.
"Nona Cu, secara kebetulan kita sa-ling bertemu dan berkenalan di sini.
Mendengar tadi Nona berkata bahwa Nona sedang merantau untuk meluaskan pengalaman, sudikah Nona menerima undanganku untuk berkunjung ke Thian-li-pang bersama Siangkoan Pangcu ini" Pasti Nona akan mendapat pengalaman dan pengetahuan lebih luas." Karena memang merasa tertarik dan kagum sekali melihat pemuda yang ter-nyata mampu menundukkan Siangkoan Kok, pula ia pun tahu bahwa tanpa ban-tuan Ouw Seng Bu, mungkin ia sudah menderita celaka di tangan ketua Pao--beng-pai dan anak buahnya, maka Kim Giok mengangguk dan mengucapkan teri-ma kasihnya.
Akan tetapi, Siangkoan Kok agaknya merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama mereka.
"Ouw-pangcu, aku bukan seorang yang suka mengingkari janji.
Aku pasti akan datang berkunjung ke Thian-li-pang, karena bukan hanya engkau yang membutuhkan bantuanku, akan tetapi juga aku sendiri amat membutuhkan kerja sama dengan orang se-pertimu.
Memang engkau benar, tanpa kerja sama antara kekuatan-kekuatan yang ada, perjuangan kita menentang penjajah tidak akan berhasil.
Nah, silakan engkau dan Nona Cu pergi dulu, Ouw--pangcu, aku akan menyusul segera ber-kunjung ke sana." Ketua Thian-li-pang itu setuju dan demikianlah, dia mengajak Cu Kim Giok untuk pergi lebih dahulu.
Setelah mereka pergi, Siangkoan Kok menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung meman-dang ke arah mayat lima orang anak buahnya yang malang melintang.
Dia mengerutkan alisnya.
Terpaksa dia mem-bunuh mereka, untuk memuaskan hati Ouw Seng Bu.
Kini hatinya panas bukan main.
Ketua Thian-li-pang itu memaksa-nya membunuh anak buahnya sendiri.
Dia, Siangkoan Kok, adalah keturunan kaisar kerajaan Beng, berdarah bangsawan ting-gi.
Bagaimana mungkin dia begitu di-rendahkan untuk menjadi pembantu saja dari seorang pemuda ingusan macam Ouw Seng Bu, betapapun lihainya pemuda itu karena menguasai ilmu pukulan beracun yang hebat" Tidak, dia harus menjadi kepala, dia harus menjadi pemimpin, dia harus menjadi yang nomor satu.
Dia akan mencari akal untuk mengalahkan dan menjatuhkan Ouw Seng Bu.
Dia mengepal tinju, kemudian dia melemparlemparkan lima buah mayat itu ke dalam jurang yang dalam agar tidak kelihatan terlantar di tempat itu.
*** Siangkoan Kok menuruni lembah Bukit Setan.
Tiba di lembah terakhir dia ber-henti dan memutar tubuhnya, memandang ke arah Ban-kwi-kok yang nampak meng-hitam dari situ.
Selama bertahun-tahun dia membangun kekuatan di tempat itu.
Dan terpaksa, kini dia harus meninggalkan tempat itu yang sudah kosong dan hancur.
Selama belasan tahun dia meng-himpun tenaga para anak buahnya, hanya untuk hancur dalam waktu sehari saja! Dia merasa berduka dan menyesal sekali, maklum bahwa dia memang telah ber-sikap bodoh.
Dia terlalu mengandalkan kekuatan perkumpulannya.
Perkumpulan yang menentang pemerintah, seharusnya menyembunyikan diri, menghimpun ke-kuatan secara diam-diam pula, tidak memamerkan kekuatan sehingga terbasmi sebelum sempat memberontak.
Dia harus mulai dari permulaan, menghimpun pem-bantu-pembantu yang lebih cakap dari-pada yang sudah.
Akan tetapi dia tahu betapa sukarnya hal itu tercapai.
Yang jelas, dahulu dia dibantu oleh isterinya, Lauw Cu Si yang selain setia juga amat lihai ilmunya, sebagai keturunan para pimpinan Beng-kauw.
Tidak mudah men-cari seorang pengganti isteri seperti Lauw Cu Si yang pandai dan lihai.
Ke-mudian dia berhasil menggembleng Eng Eng yang dianggap seperti anak sendiri sehingga Eng Eng yang tinggal bersama-nya sejak berusia dua setengah tahun, menjadi seorang gadis yang memiliki kelihaian melebihi ibunya! Dua orang wanita itu tadinya merupakan pembantu--pembantu yang amat boleh diandalkan, terutam Eng Eng.
Akan tetapi sekarang, semuanya telah hancur.
Bahkan isterinya telah tewas, dan Eng Eng telah lari, dan dia tahu bahwa sekarang Eng Eng bukan lagi anaknya, melainkan musuhnya! Dan semua pembantu yang telah dididiknya, juga murid-muridnya, telah habis, entah tewas entah ditawan pasukan pemerintah.
Dia hanya seorang diri di dunia ini.
Bah-kan lima orang bekas anak buahnya tadi pun terpaksa dibunuhnya.
"Aku tidak boleh putus asa," bisik Siangkoan Kok kepada dirinya sendiri sambil mengepal tinju.
"Aku harus men-cari lagi pembantu-pembantu yang lebih kuat lagi." Kalau saja orangorang seper-ti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok tadi dapat menjadi pembantu-pembantunya! Kalau Ouw-pangcu tidak muncul, mung-kin dia sudah dapat membujuk atau me-maksa Cu Kim Giok menjadi pembantu-nya yang baru, atau menjadi selirnya! Dia bukan tergila-gila karena kecantikan dan kemudaan Kim Giok, melainkan ingin memiliki gadis itu agar dapat menjadi pembantunya yang setia.
Dengan keputusan hati yang penuh harapan, penuh semangat, pria perkasa ini melanjutkan perjalanan, dengan lang-kah lebar dia menuruni lereng terakhir.
Di dalam sakunya masih terdapat banyak emas permata untuk bekal perjalanannya, walaupun hal ini tidak dipentingkan benar karena kalau dia membutuhkan biaya, tidak sukar baginya untuk mengambil dari rumah orang yang manapun.
Ketika dia memasuki sebuah dusun yang cukup ramai di kaki Kwi-san, mata-hari telah condong ke barat dan cuaca sudah mulai remang-remang, maka Siang-koan Kok mengambil keputusan untuk melewatkan malam di dusun itu.
Biarpun dia bekas ketua Pao-beng-pai yang bermarkas di Lembah Selaksa Setan, di le-reng Bukit Setan itu, namun penduduk dusun di kaki bukit ini tidak pernah me-lihatnya.
Oleh karena itu, tak seorang pun mengenal pria tinggi besar gagah perkasa yang pada senja hari itu me-masuki dusun.
Akan tetapi, biarpun dia sendiri belum pernah memasuki dusun itu, Siangkoan Kok sudah mendengar dari anak buahnya bahwa dusun itu cukup ramai, penduduknya hidup cukup makmur karena sawah ladang di daerah itu amat subur, dan bahwa kepala dusunnya kaya.
So-chung-cu (Kepala dusun So) ber-sama isterinya dan puterinya yang pada sore hari itu sedang duduk di serambi depan, tidak menduga buruk ketika me-lihat seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, ber-pakaian cukup pantas seperti seorang kota yang pakaiannya dari kain sutera, memasuki halaman rumah mereka.
Bah-kan Lurah So segera bangkit berdiri sam-bil memandang penuh perhatian ketika orang itu datang menghampiri mereka.
Akan tetapi dia merasa heran karena merasa tidak mengenal tamu yang datang itu.
Kalau seorang pejabat dari kota, kenapa datang tanpa pengawal" Kini mereka berdiri berhadapan.
Juga isteri Lurah So dan puterinya yang ber-usia delapan belas tahun, bangkit berdiri dan memandang kepada tamu itu.
Karena tamu pria itu sudah setengah tua, maka dua orang wanita itu tidak merasa sung-kan.