Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 53

Memuat...

Sebagai seorang yang amat cerdik dan licik, dia tidak mau berlaku nekat dan mengorbankan diri.

Tidak, demi cita-citanya, biarpun sekali ini kelompoknya dihancurkan, ka-lau dia masih hidup, dia dapat mem-bentuk dan membangun kembali Pao--beng-pai, berjuang terus sampai dapat menjatuhkan kerajaan Ceng, mengusir orang-orang Mancu dari tanah air! Kare-na dia ingin mengetahui keadaan bekas markas Paobeng-pai yang telah dibasmi dan dibakar, maka siang hari itu dia mendaki Kwi-san dan kebetulan dia me-lihat dan mendengar apa yang terjadi di lereng itu biarpun dia masih jauh.

"Nona, siapakah engkau yang begitu lancang memaki dan menghina Pao-beng--pai?" bentaknya dengan alis berkerut dan wajah bengis.

Kim Giok adalah seorang gadis yang sejak kecil dilatih ayah ibunya sendiri, bukan hanya ilmu silat tinggi, akan te-tapi juga kebudayaan dan ia tahu sopan santun.

Menghadapi seorang yang ke-dudukannya tinggi seperti ketua Pao--beng-pai, ia memang ada menaruh hormat.

Akan tetapi mengingat betapa pu-teri orang ini pernah menghina dan me-ngacau dalam pertemuan tiga keluarga besar, ia merasa tidak senang dan ia pun tidak memberi hormat.

"Kalau aku tidak salah duga, tentulah engkau ini ketua Pao-beng-pai yang telah dibasmi pasukan pemerintah!" katanya, dan ia pun menentang pandang mata pria itu dengan penuh keberanian.

"Benar, akulah Siangkoan Kok.

Seka-rang katakan, siapa engkau dan kenapa engkau menghina Pao-beng-pai!" "Maaf, Pangcu.

Aku sama sekali tidak menghina Pao-beng-pai.

Bahkan aku akan menghormati Pao-beng-pai kalau memang perkumpulan itu benar-benar merupakan perkumpulan orang-orang gagah yang berjuang menentang penjajah Mancu.

Akan tetapi, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja.

Aku mendengar tentang penyerbuan pasukan pemerintah terhadap Pao-beng-pai dan aku ingin melihat keadaan di sini.

Aku, Cu Kim Giok, ingin meluaskan pengalaman dan kesempatan ini tidak kulewatkan begitu saja.

Akan tetapi, apa yang kudapatkan" Lima orang itu muncul, mengaku sebagai anggauta Pao-beng-pai dan mereka ber-sikap sebagai penjahat-penjahat kecil, hendak merampok dan mengganggu wa-nita.

Kalau memang anggauta-anggauta Pao-beng-pai seperti itu, lalu apa yang harus kukatakan terhadap Pao-beng-pai?" Siangkoan Kok melirik ke arah anak buahnya yang kini sudah bangkit berdiri bergerombol sambil memandang penuh harapan, ingin melihat ketua mereka menundukkan gadis yang telah menghajar mereka itu.

Lalu dia berkata, "Tidak sembarang orang boleh menilai kami.

Nona, aku ingin melihat dulu sampai di mana kepandaianmu, baru aku akan meng-ambil keputusan, apa yang harus kulaku-kan terhadap dirimu." "Pangcu, kalau engkau membela me-reka itu, aku berani mengatakan bahwa memang Paobeng-pai dipimpin oleh orang yang tidak baik!" kata Kim Giok berani.

"Kita bicara lagi setelah kita meng-adu kepandaian.

Nah, sambutlah serangan-ku ini!" Setelah berkata demikian, Siang-koan Kok menggerakkan tangannya me-nampar ke arah kepala gadis itu.

Angin yang dahsyat menyambar, disusul angin yang menyambar dari samping karana tangan kedua sudah mengikuti serangan pertama itu dengan mencengkeram ke arah perut.

Kim Giok memang kurang pengalaman bertanding, namun ia telah digembleng oleh ayah bundanya sejak kecil, maka ia segera mengenal serangan yang berbahaya.

Cepat ia pun mengerahkan gin-kangnya dan tubuhnya sudahmencelat ke bela-kang untuk mengelak sehingga serangan kedua tangan Siangkoan Kok yang be-runtun itu luput.

Diam-diam Siangkoan Kok maklum bahwa gadis ini biarpun masih muda, memang cukup berisi, agak-nya tidak kalah dibandingkan dengan -mendiang Tio Sui Lan, murid pertama-nya.

Dia mendesak dengan pukulan-pukul-an yang mendatangkan angin berpusing.

Kembali Kim Giok menggunakan gin--kang dan mengelak dengan gerakan ce-pat sekali, membuat tubuhnya hanya merupakan bayangan yang berkelebatan mengelak di antara hujan serangan la-wan.

Karena maklum bahwa lawannya benar-benar tangguh, Kim Giok mencabut pedangnya dan nampaklah sinar berkilat dan terdengar bunyi desing yang aneh, seperti gerengan binatang buas, seperti auman harimau.

Itulah Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman), pe-dang milik ayahnya yang diberikan ke-padanya agar gadis itu dapat melindungi diri dengan baik.

Melihat sinar pedang dan dengungnya yang menyeramkan itu, diam-diam Siang-koan Kok terkejut dan kagum bukan main.

"Ahhh, po-kiam (pedang pusaka) yang hebat!" teriaknya dan begitu Kim Giok memainkan pedangnya, dia pun semakin kaget dan cepat mencabut pedangnya sendiri, kaget karena dia mak-lum bahwa biarpun dia memiliki tingkat kepandaian tinggi, namun terlalu ber-bahaya baginya kalau menghadapi pedang seperti itu dengan tangan kosong saja.

Apalagi gerakan ilmu pedang gadis itu pun hebat dan dahsyat, bagaikan seekor naga yang mengamuk.

Segera terjadi pertandingan pedang yang amat seru.

Setelah lewat belasan jurus, tiba-tiba Siangkoan Kok meloncat jauh ke belakang dan berseru, "Tahan dulu!" Kim Giok berdiri tegak, pedang juga tegak lurus di depan dadanya.

"Nona, bukankah itu Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang kaumainkan" Dan tentu pedang itu Koai--liong-pokiam! Apa hubunganmu dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman?" Kim Giok tersenyum.

"Namaku Kim Giok, tentu engkau dapat menduganya, Pangcu." "Ah, benar! Engkau tentu keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman! Sudah lama aku mendengar tentang ke-luarga Cu yang gagah perkasa.

Ah, sung-guh beruntung hari ini dapat menguji kepandaian seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman.

Nah, sambutlah seranganku ini dan keluarkan seluruh ilmu pedang Naga Siluman itu, Nona!" Setelah berkata demiklan, Siangkoan Kok menerjang ke depan dengan dahsyat karena dia tahu betapa lihainya pedang dan ilmu pedang gadis muda itu.

Dia memang sejak dahulu ingin sekali menguasai semua ilmu silat tinggi di seluruh dunia, maka dia sejak dahulu memancing para tokoh persilatan untuk mengadu ilmu dan dengan cara itu, dia dapat mempelajari ilmu mereka.

Kini, berhadapan dengan seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja dia tidak mau melewatkan kesempatan baik itu untuk memaksa Kim Giok memainkan ilmu pedang itu.

Justeru kelihaian Siangkoan Kok terletak kepada kekuatan ingatannya sehingga sekali me-lihat, dia sudah hampir dapat mengingat dan menguasai gerakan itu.

Karena pe-ngetahuannya yang luas tentang ilmu--ilmu dari para tokoh besar, maka dia pun tentu saja menjadi lihai bukan main.

Karena didesak lawan yang lihai, tentu saja terpaksa Kim Giok memainkan Kaoi-liong Kiamsut sepenuhnya, bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya.

Hebat memang ilmu pedang gadis ini.

Pedangnya berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung, seolah-olah ada naga yang melayang-layang dan mengamuk.

Melihat ini, lima orang anak buah Pao-beng-pai itu diam--diam memaki diri mereka sendiri, seperti buta tidak melihat bahwa gadis itu ada-lah seorang yang demikian lihainya.

Ber-gidik mereka membayangkan betapa tadi mereka berani hendak kurang ajar kepada gadis itu.

Kalau tadi gadis itu mencabut pedangnya, mungkin sekarang mereka telah menjadi setan-setan tanpa kepala! Betapapun hebatnya ilmu pedang Koai--liong Kiam-sut, akan tetapi ketangguhan seseorang bukan hanya bergantung se-penuhnya kepada ilmu silatnya, melainkan lebih banyak kepada keadaan orang itu sendiri.

Dibandingkan Siangkoan Kok, tentu saja Kim Giok kalah segalagala-nya, walaupun mungkin ilmu pedangnya tidak kalah dibandingkan ilmu pedanglawan.

Ia kalah tenaga, kalah pengalaman bertanding, juga jauh kalah matang dalam gerakan ilmu pedang.

Setelah lewat seratus jurus, karena ditekan terus sehingga ia harus berulang kali mema-inkan ilmu pedangnya, ia sudah man-di keringat dan napasnya mulai ter-sengal.

Tahulah gadis ini bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh oleh pedang lawan.

Namun, ia sudah dilatih ayah ibunya untuk tidak mengenal takut dan pantang menyerah kepada seorang yang jahat.

Lebih baik mati dengan pe-dang di tangan daripada menyerah ke-pada pada seorang yang jahat dan yang tentu akan membuat ia lebih menderita daripada kalau ia roboh dan tewas.

Baru lima orang anak buahnya saja sudah seperti itu, apalagi ketuanya! Maka, ia pun terus menggerakkan pedangnya dengan nekat, walaupun tenaganya sudah banyak berkurang.

Makin lama, semakin repotlah Kim Giok, hanya mampu mengelak dan me-nangkis saja, itu pun setiap kali menang-kis, pedangnya terpental dan lengannya tergetar hebat.

Pada saat itu, terdengar suara tawa yang aneh, tawa mengejek yang mengandung getaran yang membuat kedua orang yang sedang bertanding itu terpaksa menghentikan gerakan mereka karena mereka merasa betapa jantung mereka terguncang.

Mempergunakan ke-sempatan terlepas dari desakan karena lawan menghentikan gerakan pedangnya, Kim Giok melompat ke belakang dan menengok ke arah orang yang tertawa itu.

Juga Siangkoan Kok menoleh.

Yang tertawa itu adalah seorang laki--laki muda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun, gagah dan tampan sekali.

Alisnya hitam tebal dan panjang, mata-nya mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya yang tersenyum itu manis, dagunya juga kokoh dan mukanya bersih.

Tubuhnya tegap berisi otot yang mem-buat dia nampak gagah.

Pakaiannya tidak mewah namun rapi dan bersih.

Pemuda itu sudah menghentikan tawanya dan kebetulan dia memandang kepada Kim Giok.

Dua pasang mata bertemu pandang, melekat, kemudian wajah Kim Giok ber-ubah kemerahan dan ia pun menundukkan mukanya.

Hatinya berdebar aneh dan harus diakui bahwa ia merasa amat ter-tarik kepada pemuda yang tampan dan gagah itu.

Akan tetapi, sebaliknya Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, matanya me-lotot marah.

Tentu saja dia memandang rendah kepada pemuda yang tidak di-kenalnya itu, yang berarti tidak terkenal pula.

"Heh siapa engkau berani menter-tawakan aku dan mencampuri urusanku?" Pemuda itu bukan lain adalah Ouw Seng Bu yang belum lama ini telah ber-hasil menguasai Thian-li-pang dan men-jadi ketuanya.

Dia mendengar tentang kehancuran Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah.

Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Pao-beng-pai seka-rang karena dia ingin memperkuat Thian--li-pang dengan bersekutu dan bekerja sama dengan para perkumpulan lain yang besar seperti Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai, dan Pao-beng-pai.

Biarpun dia sen-diri belum pernah melihat Siangkoan Kok, namun dia sudah menyelidiki dan mendengar bagaimana keadaan ketua Pao-beng-pai itu.

Maka, ketika melihat pria setengah tua yang gagah perkasa itu bertanding melawan seorang gadis yang juga lihai, akan tetapi gadis itu terdesak, Ouw Seng sengaja mengeluarkan suara tawa yang dilakukan dengan pengerahan khi-kang sehingga kedua orang yang se-dang bertanding itu terkejut dan meng-hentikan pertandingan mereka.

Mendengar teguran Siangkoan Kok, Seng Bu yang datang untuk mencari ka-wan, tersenyum.

"Bukankah aku berhadap-an dengan Siangkoan Kok, pangcu dari Pao-beng-pai?" tanyanya, kini sikapnya sopan dan ramah.

Post a Comment