Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 52

Memuat...

Bahkan nona puteri ketua juga tidak ikut tertawan.

Ketika dari tempat persembu-nyian mereka nampak ada gadis yang datang ke tempat itu, mereka tadinya mengira bahwa gadis itu tentulah Siang-koan Eng, dan mereka merasa girang sekali.

Akan tetapi setelah mereka muncul, mereka melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan puteri ketua mereka, melainkan seorang gadis lain yang asing sama sekali, akan tetapi gadis itu cantik manis dan menarik.

Seorang di antara mereka, yang ber-hidung besar dan bermata lebar, agaknya menjadi pimpinan mereka, melangkah maju dan tertawa bergelak.

Perutnya yang besar itu nampak karena bajunya kehilangan kancing dan terbuka.

Perut itu terguncang-guncang naik turun ketika dia tertawa.

"Ha-ha-ha-ha-ha, kawan-kawan, alang-kah beruntungnya kita hari ini! Ki-ta kedatangan seorang bidadari yang cantik jelita, yang agaknya menaruh iba kepada kita dan datang untuk menghibur kita.

Ha-ha-ha-ha-ha!" Teman-temannya ikut pula tertawa.

Mereka selama se-bulan lebih dicekam ketakutan, kekurang-an dan kedukaan.

Dan hari ini tiba-tiba, tanpa disangka-sangka, mereka berhadap-an dengan seorang gadis cantik! Tentu saja mereka bergembira.

Anak buah Pao--beng-pai terdiri dari bermacam orang, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berjiwa sesat.

Kalau membutuhkan, mereka tidak segan untuk melakukan perampokan dan ber-bagai kejahatan lainnya.

Kini, melihat seorang gadis seorang diri di tempat sunyi itu, tentu saja timbul gairah mere-ka, seperti lima ekor harimau kelaparan melihat munculnya seekor domba seorang diri.

"Heh-heh-heh, Nona manis, siapakah engkau, siapa namamu dan mengapa eng-kau berada di sini seorang diri" Apakah engkau datang sengaja hendak menghibur kami berlima" Ha-ha 162 ha!" Si hidung besar kembali berkata dan kini mereka ber-lima, sambil tersenyum menyeringai, sudah mengambil posisi mengepung gadis itu agar tidak dapat melarikan diri.

Akan tetapi, sebetulnya lima orang itu harus tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang bukan gadis sembarangan saja.

Hal ini sebetulnya dapat dilihat dari sikap Kim Giok.

Biar-pun dikepung lima orang itu, ia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengancam dirinya, tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.

"Aneh....aneh sekali...." Ia tidak menjawab pertanyaan, bahkan bergumam sambil menggelengkan kepalanya.

"Apanya yang aneh, Nona manis" Kami bukan orang-orang aneh, kami ada-lah laki-laki sejati dan engkau sebentar lagi akan membuktikannya sendiri, heheh!" kata si hidung besar sambil melangkah maju mendekat.

"Aneh mengapa masih ada sisa anak buah Pao-beng-pai, kenapa kalian tidak mampus atau tertawan." kata Kim Giok, masih tenang saja.

Mendengar ucapan gadis itu, lima orang bekas anak buah Pao-beng-pai nampak terkejut, saling pandang dan kini mengepung lebih ketat dengan sikap be-ngis mengancam.

"Nona, siapakah engkau sebenarnya dan mau apa engkau datang ke tempat ini?" Suara si hiudung besar galak dan mengandung ancaman, tidak menggoda seperti tadi.

"Namaku tiduk ada sangkut-pautnya dengan kalian.

Juga aku tidak mempunyai sangkut paut dengan pembasmian Pao--beng-pai oleh pasukan pemerintah.

Aku hanya heran mengapa kalian tidak ikut mampus atau tertawan.

Nah, karena di antara kita tidak ada urusan, minggirlah dan biarkan aku lewat!" kata Kim Giok yang memang tidak ingin mencari ke-ributan dengan bekas anak buah Pao-beng-pai yang sudah hancur itu.

Kalau ia bertemu dengan gadis tokoh.

Pao-beng-pai yang pernah mengacau di rumah Suma Ceng Liong, tentu akan lain lagi sikapnya.

Akan tetapi ketika ia melangkah, lima orang itu cepat menghadangnya dan tetap mengepungnya.

Bahkan kini sikap mereka kembali seperti tadi, dengan pandang mata tidak sopan.

"Hemmm, engkau tidak boleh pergi sebelum menghibur kami, Nona manis!" Dan si hidung besar cepat menggerakkan kedua lengannya yang panjang, jari-jari tangan yang besar panjang itu hendak merangkul.

"Wuuut....

plakkk! Aughhh....!" tubuh tinggi besar si hidung besar itu terjeng-kang.

Ternyata ketika kedua tangannya sudah hampir menyentuh kedua pundak gadis itu untuk merangkul, gadis itu dengan gerakan cepat sekali menyelinap ke samping sehingga tubrukan itu luput dan sekali Kim Giok menggerakkan ta-ngan kiri menampar, leher bawah telinga si hidung besar kena ditampar dan orang itu pun terjengkang dan terbanting, me-lotot dan meraba lehernya dengan mata terbelalak dan mulut mengaduh-aduh.

Empat orang temannya menjadi kaget dan marah.

Mereka berempat cepat me-nyerbu, seolaholah hendak berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus gadis manis itu.

Namun, sekali ini mereka membentur karang.

Gerakan Kim Giok cepat bukan main, kaki dan tangannya menyambar-nyambar dan dalam segebrak-an saja, empat orang itu pun terpelan-ting dan roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya! Lima orang itu mengaduh-ngaduh dan menyumpah-nyumpah.

Dasar golongan kasar yang tidak tahu diri dan yang se-lalu merasa diri mereka paling pandai, lima orang itu tidak melihat kenyataan bahwa mereka sama sekali bukanlah la-wan gadis manis yang mereka sangka domba itu.

Mereka tidak menyadari bah-wa yang disangka domba itu sesungguh-nya seekor singa betina yang amat tang-guh! Mereka merasa penasaran dan kini nafsu berahi mereka terbang lenyap, terganti oleh nafsu amarah yang hanya dapat diredakan dengan darah! Mereka mencabut golok mereka dan berloncatan berdiri.

Kim Giok sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lima orang lawan-nya, maka ia pun tidak mau mencabut pedangnya, hanya berdiri tegak sambil tersenyum manis.

Lima orang itu sudah menggerakkan golok mereka dan bagai-kan binatang-binatang yang haus darah, mereka sudah menyerang Kim Giok, serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh! Namun, pandang mata mere-ka menjadi kabur ketika gadis itu ber-gerak cepat dan lenyap bentuk tubuhnya, hanya nampak bayangannya berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor capung.

Itulah Pat-hong-sin-kun yang membuat tubuh gadis itu seolah-olah ber-gerak dari delapan penjuru angin! Dan ketika lima orang itu membacok-bacok membabi-buta ke arah bayangan tubuh gadis itu tanpa hasil, Kim Giok kembali membagi tamparan dan tendangan, kini ia menambahi tenaganya sehingga lima orang lawan yang terkena tamparan atau tendangan, roboh untuk tidak dapat bang-kit dengan cepat, hanya mengaduh-aduh, ada yang patah tulang, ada yang nanar dan ada pula yang mendadak mulas perut-nya! Kim Giok berdiri bertolak pinggang, memandang lima orang lawan yang masih mengeluh kesakitan itu.

"Hemmm, pantas saja Pao-beng-pai terbasmi pasukan pe-merintah.

Kiranya kalian hanya mengaku sebagai pejuang, akan tetapi sesungguh-nya hanyalah segerombolan penjahat kecil yang tak tahu malu.

Perampok dan peng-ganggu wanita.

Orang-orang macam kali-an ini mengaku pejuang?" "Nona, ucapanmu lancang sekali!" tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan dalam, juga amat berwibawa karena Kim Giok merasa betapa isi dadanya tergetar oleh suara itu.

Ia terkejut dan cepat menoleh ke kanan, ke arah datang-nya suara dan semakin kagetlah ia ketika melihat bayangan mendaki lereng itu dari arah kanan.

Kalau orang itu yang tadi mengeluarkan suara, alangkah kuatnya khi-kang dari orang itu.

Jelas bahwa dia mampu mengirim suara dari jauh dengan demikian kuatnya, dan hal ini menunjuk-kan bahwa dia akan berhadapan dengan seorang yang amat lihai.

Gerakan orang itu pun cepat bukan main.

Sebentar saja dia telah berada di situ, berdiri tegak berhadapan dengan Kim Giok.

Gadis ini memang penuh per-hatian.

Seorang pria jantan berusia lima puluh lima tahun yang amat gagah, ber-tubuh tinggi besar dan kokoh kuat bagaikan batu karang, mukanya persegi merah dan jenggotnya terpelihara rapi, di pung-gungnya nampak gagang pedang dengan ronce merah.

"Pangcu....!!" lima orang itu segera memaksa diri memberi hormat dengan berlutut kepada.

orang yang baru tiba ini dan tahulah Kim Giok bahwa pria ini adalah ketua Pao-beng-pai! Tentu orang ini ayah dari gadis lihai yang pernah mengacau pesta pertemuan keluarga.

di rumah Suma Ceng Liong! Biarpun mak-lum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang amat lihai, namun puteri dari se-pasang pendekar Lembah Naga Siluman ini sedikit pun tidak merasa gentar.

Ha-nya ia bersikap waspada.

Pria itu menengok ke arah lima orang anggauta Pao-beng-pai itu dan mendengus, marah, lalu dia menghadapi Kim Giok lagi, pandang matanya tajam mencorong itu mengamati Kim Giok penuh selidik, dari kepala sampai ke kakinya.

Seperti- telah diceritakan di bagian depan ketika Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah, Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini, dikepung oleh belasan orang jagoan is-tana yang datang bersama muridnya, Tio Sui Lan, murid utama yang kemudian dia paksa menjadi isterinya setelah dia bercekcok dengan isterinya, Lauw Cu Si.

Dia membunuh Sui Lan dan melukai Cu Si, akan tetapi ketika dia menghadapi pengeroyokan belasan orang jagoan istana yang membuatnya terdesak, dan men-dengar keributan di luar dengan adanya penyerbuan pesukan pemerintah, dia ce-pat meninggalkan para pengeroyoknya.

Setelah tiba di luar, dia melihat betapa tempat itu diserbu oleh pasukan yang besar sekali jumlahnya.

Tahulah dia bah-wa semua usahanya telah gagal, gerakan-nya hancur.

Karena maklum bahwa melawan pasukan itu pun tidak akan ada gunanya dan akhirnya bahkan hanya akan membahayakan diri sendiri, dia pun me-ninggalkan Ban-kwikok! Dia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena maklum betapa akan sia-sianya melaku-kan perlawanan terus.

Post a Comment