Halo!

Si Tangan Sakti Chapter 51

Memuat...

ia anak siapa, Bibi?" "Ayah ibunya adalah orang-orang yang selalu dimusuhi golongan kami....

golong-an Bengkauw....aku amat membenci ayah ibunya, terutama ayahnya, karena itulah....

aku....

menculik Eng Eng ke-tika ia berusia tiga tahun.

Akan tetapi, aku....

aku amat mencintanya seperti anakku sendiri....

juga Siangkoan Kok menyayangnya sampai engkau muncul...." "Ahhh....!" bermacam perasaan meng-aduk hati pangeran itu.

Ada perasaan kaget, heran, akan tetapi juga kasihan dan bahkan ada perasaan girang.

Girang bahwa kekasihnya itu bukan anak kan-dung ketua Pao-beng-pai dan isterinya! "Akan tetapi....

ke mana aku harus mencarinya, Bibi" Aku harus mencari dan menemukannya, aku mencintanya dan akan mengambilnya sebagai isteriku!" Cia Sun terkejut melihat wanita itu napasnya sudah empas-empis, dan agak-nya sudah tidak mampu menjawabnya, matanya sudah terpejam.

"Bibi....! Bibi....! Katakan di mana Eng-moi!" Cia Sun mengguncang-guncang pundak wanita yang sudah sekarat itu.

Wanita itu membuka matanya yang sudah sayu dan suaranya hanya bisik--bisik saja.

"Suling Naga....

itulah ayah kandungnya....

tinggal di Lok-yang....cari....

cari ke sana...." Leher itu ter-kulai, mata itu terpejam dan wanita itu pun mati.

Cia Sun bangkit berdiri, termenung.

Sebutan "Suling Naga" terngiang di teli-nganya.

Dan dia tertegun.

Dia pernah mendengar nama besar Pendekar Suling Naga yang tinggal di Lok-yang.

Kalau dia tidak salah ingat, namanya Sim Houw, seorang pendekar yang sakti, terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat, pedang yang berbentuk suling, pedang su-ling, atau suling pedang.

Jadi Eng Eng adalah puteri pendekar sakti itu! Ketika masih kecil diculik oleh Lauw Cu Si karena wanita itu sebagai orang Beng--kauw menganggap pendekar itu sebagai musuh besar.

"Ahhh....!!" tiba-tiba dia terbelalak.

Dia teringat kepada Yo Han.

Bukankah Yo Han mencari puteri pendekar itu yang hilang" Kalau begitu, anak yang dicari oleh Yo Han itu bukan lain adalah Eng Eng! Dia mengingat-ingat.

Yo Han, yang telah menjadi saudara angkatnya ketika mereka berdua dikurung sebagai tahanan di sarang Pao-beng-pai, pernah menceritakan bahwa anak yang dicari itu mempunyai ciri-ciri yang khas, dan ada noda merah sebesar ibu jari kaki di ta-pak kaki kanannya.

Mendengar suara pertempuran di luar, Cia Sun khawatir kalau-kalau gadis itu kembali dan ikut pula bertempur mem-bela Pao-beng-pai melawan pasukan pemerintah.

Cepat dia menyelinap keluar dan mencari-cari.

Pertempuran hampir selesai.

Pihak pemberontak tidak mampu menandingi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya, apalagi dipimpin oleh para jagoan istana.

Bahkan Siangkoan Kok juga tidak nampak dan ketika dia tanya-kan kepada para perwira, mereka pun tidak tahu ke mana perginya ketua pem-berontak itu.

Ternyata Siangkoan Kok telah meloloskan diri, tidak mempeduli-kan anak buahnya yang dibantai pasukan.

Setelah mencari keterangan dan me-rasa yakin bahwa Eng Eng tidak pernah kembali dan tidak terlibat dalam per-tempuran itu, Cia Sun segera meninggal-kan tempat itu untuk pergi mencari ke-kasihnya.

Banyak anggauta Pao-beng--pai tewas, sisanya ditawan.

Gagallah gerakan Pao-beng-pai, seperti dialami oleh banyak kelompok pemberontak ter-dahulu.

*** Gadis itu berdiri termenung di lereng itu, memandang ke depan, ke arah bukit menghitam yang dinamakan orang Ban--kwi-kok (Lembah Selaksa Setan).

Memang nampak menyeramkan dari lereng itu, seolah-olah lembah itu memang sepantas-nya dihuni oleh setan dan iblis.

Para penduduk dusun di sekitar kaki Bukit Setan itu, menganggap Ban-kwi-kok se-bagai lembah yang keramat dan tak se-orang pun berani mendaki ke sana.

Akan tetapi, menurut keterangan para peng-huni dusun, baru sebulan yang lalu lem-bah itu diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.

Kabar itu mengatakan bahwa terjadi pertempuran besar, ke-mudian pasukan pemerintah turun dan membawa banyak tawanan, kemudian lembah itu nampak terbakar.

Biarpun desas-desus mengatakan bahwa gerombol-an yang bersembunyi di lembah itu telah terbasmi habis, dan lembah itu telah kosong, perkampungan gerombolan pem-berontak telah dibakar, namun masih saja tidak ada seorang pun berani naik ke sana.

Gadis itu masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya.

Cantik manis dan nampak gagah dengan pakaiannya yang sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya yang padat dan ramping, dan pakaian itu bersih.

Wajah-nya yang manis, dengan sepasang mata-nya yang indah dan bersinar tajam, juga sederhana, tidak dipoles bedak dan gincu.

Akan tetapi, kulit mukanya memang sudah halus dan putih, dan kedua pipinya kemerahan karena sehat, demikian pula sepasang bibirnya merah tanpa gincu.

Biarpun ia muda dan cantik manis, na-mun di sepanjang perjalanan, tidak per-nah atau jarang sekali ada pria yang berani mengganggunya.

Hal ini adalah karena penampilannya yang pendiam dan gagah, dengan sebatang pedang di pung-gung sehingga mudah diduga bahwa ia bukan wanita sembarangan yang boleh diganggu begitu saja, melainkan seorang wanita kang-ouw, seorang pendekar wa-nita.

Dan memang dugaan itu benar.

Gadis muda ini adalah Cu Kim Giok, puteri dari pendekar Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian.

Cu Kun Tek adalah pendekar yang me-rupakan keturunan para pendekar Cu majikan Lembah Naga Siluman.

Cu Kun Tek terkenal mewarisi ilmu pedang Koai--liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Silu-man), juga ilmu tangan kosongnya Kiam--to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok), dan Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) hebat sekali.

Adapun ibu gadis itu, yang bernama Pouw Li Sian, bahkan lebih lihai dibandingkan suaminya.

Pouw Li Sian ini adalah murid mendiang Bu Beng Lokai yang sakti.

Ketika Cu Kim Giok diajak oleh ayah ibunya menghadiri ulang tahun dan per-temuan tiga keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong, gadis ini merasa gembira bukan main dan bangkitlah keinginan-nya untuk memperluas pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau se-perti yang dilakukan para pendekar.

Ayah ibunya tidak merasa keberatan.

Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar yang dahulu di waktu mudanya sudah biasa melakukan penjalanan merantau memperluas pengalaman.

Pula, puteri mereka telah mewarisi ilmu kepandaian mereka dan tingkat kepandaian gadis itu hanya se-dikit selisihnya dengan tingkat mereka sehingga Kim Giok telah memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dan men-jaga diri sendiri.

Tentu saja Kim Giok juga amat ter-tarik dengan peristiwa yang terjadi di rumah Suma Ceng Liong, yaitu muncul-nya seorang gadis cantik lihai yang meng-aku sebagai seorang puteri tokoh Pao--beng-pai yang memusuhi tiga keluarga besar, oleh karena itulah pada siang hari itu, ia tiba di Kwi-san dan kini termangu berdiri di lereng itu setelah ia mendengar keterangan penduduk tentang penyerbuan pasukan pemerintah yang membasmi gerombolan Pao-beng-pai di Lembah Selak-sa Setan.

Ah, pikirnya, aku datang terlambat.

Andaikata tidak terlambat, tentu akan dapat menyaksikan terbasminya gerombol-an itu, dan kalau perlu ia akan memban-tu pasukan.

Bukan semata karena ia ingin membantu pemerintah.

Ayah ibunya berpesan agar ia tidak melibatkan diri dengan pemerintah Mancu.

Akan tetapi, ia dapat mempergunakan kesempatan selagi gerombolan itu ditumpas, untuk membalas sikap sombong dara gadis Pao-beng-pai itu terhadap tiga keluargabe-sar.

Ia menduga-duga bagaimana dengan nasib gadis cantik itu.

Apakah ikut ter-bunuh" Atau tertawan" Tidak ada gunanya lagi mendaki ke lembah yang sudah hancur itu.

Tentu tidak ada lagi orang di sana.

Cu Kim Giok membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan lereng itu.

Akan tetapi baru belasan langkah ia berjalan, tiba--tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar gerakan orang.

ia berhenti melangkah dan memandang ke sekeliling penuh kewaspadaan dan tiba-tiba ber-munculan lima orang laki-laki yang nam-pak bengis.

Mereka itu berloncatan dari balik semak belukar.

Melihat bahwa me-reka berhadapan dengan seorang gadis yang cantik manis, mereka cengar-cengir dan menyeringai dengan sikap kurang ajar, dengan mata yang liar dan bengis.

Kim Giok bersikap tenang, namun matanya yang indah tajam itu menyapu mereka.

Lima orang itu berusia antara tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun, tubuh mereka rata-rata kekar dan kuat.

Pakaian mereka butut dan kotor, tentu telah lama tidak pernah berganti pakaian.

Melihat pakaian kotor itu se-perti seragam abu-abu, teringatlah ia akan beberapa orang laki-laki yang ikut datang mengawal gadis Pao-beng-pai yang berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong tempo hari.

Agaknya mereka ini sisa anggauta Pao-beng-pai, pikir gadis yang cukup cerdik ini.

Dan memang duga-annya benar.

Lima orang itu adalah me-reka yang berhasil lolos dari penyerbuan pasukan pemerintah.

Karena takut mun-cul di tempat umum, lima orang ini bersembunyi saja di Kwi-san, tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai.

Mereka mengharapkan dapat bertemu dengan seorang di antara para pimpinan mereka karena mereka tahu bahwa ketua mereka tidak tewas, juga tidak ikut tertawan.

Hanya nyonya ketua mereka yang tewas.

Post a Comment