"Kau....! Kau manusia binatang, kau iblis busuk, engkaulah yang membuat Eng Eng melarikan diri, meninggalkan aku! Engkau yang harus bertanggungjawab.
Ia bukan anakmu, bukan darah dagingmu, bukanapa-apamu.
Ia milikku, anakku, akan tetapi engkau hampir membunuhnya! Sekarang ia pergi dan engkau yang harus bertanggung jawab!" Kemarahan Siangkoan Kok meluap--luap.
Selama ini, isterinya itu belum pernah memakinya seperti itu.
"Perempu-an busuk tak mengenal budi! Aku telah mengangkatmu dari lembah kehinaan se-telah Beng-kauw hancur, juga memelihara anakmu seperti anakku sendiri.
Dan be-gini balas kalian kepadaku" Kalau tahu akan begini, sudah sejak dulu Eng Eng kubunuh, dan kau juga!" "Apa" Kauhendak membunuh kami" Cobalah kalau engkau mampu! Kaukira aku takut padamu?" Wanita itu saking sedihnya ditinggal pergi anaknya, menjadi marah dan nekat.
Walaupun ia tahu be-nar bahwa ilmu kepandaiannrya masih kalah dibandingkan suaminya, ia berani menantang! "Bagus, kalau begitu mampuslah kau Lauw Cu Si, perempuan tak tahu diri!" Siangkoan Kok menerjang isterinya de-ngan dahsyat.
Namun, Lauw Cu Si yang sudah nekat, cepat mengelak dan mem-balas dengan tidak kalah dahsyatnya.
Bahkan wanita ini sudah mencabut pe-dangnya, lalu menyerang bertubi-tubi.
Siangkoan Kok juga mencabut pedangnya dan suami isteri ini lalu berkelahi mati--matian.
Lauw Cu Si adalah seorang to-koh sesat, keturunan ketua Beng-kauw dan ia memiliki ilmu silat yang dahsyat dan keji pula.
Tingkat kepandaiannya sudah tinggi dan ia hanya kalah sedikit saja dibandingkan suaminya, maka tidak-lah terlalu mudah bagi Siangkoan Kok untuk membunuh isterinya.Para murid dan anggauta Pao-beng--pai yang melihat perkelahian ini, menjadi bingung sekali.
Mereka tidak berani men-campuri.
Orang-orang yang mungkin be-rani mencampuri hanyalah Siangkoan Eng, atau mungkin juga Tio Sui Lan, murid kepala dari Siangkoan Kok yang kini menjadi selirnya itu.
Akan tetapi pada saat itu, Eng Eng tidak ada, sudah pergi tanpa pamit, dan ketika para murid men-cari Tio Sui Lan, mereka juga tidak dapat menemukan murid utama yang selama beberapa hari ini menjadi isteri ketua mereka.
Karena bingung, tidak tahu harus berbuat apa, para murid dan anggauta Pao-beng-pai itu bahkan men-jauh, sama sekali tidak berani mencam-puri perkelahian antara sang ketua dan isterinya, karena mereka tahu bahwa mencampuri berarti akan mati konyol.
Pada saat semua orang menjadi bingung itu, terdengar suara gaduh di lereng bukit, suara tambur dan terompet, suara sorakan riuh rendah.
Siangkoan Kok sudah dapat menekan dan mendesak Lauw Cu Si.
Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar kemerah-an, dan biarpun Lauw Cu Si sudah me-lawan dengan nekat saking marahnya, tetap saja ia kalah tingkat dan terdesak, bahkan ia telah menderita beberapa luka karena tusukan dan bacokan pedang.
Suara tambur dan terompet itu me-ngejutkan Siangkoan Kok.
Akan tetapi Lauw Cu Si tidak peduli.
Satu-satunya perhatian wanita ini hanyalah ingin membunuh pria yang selama ini dipuja dan ditaatinya, karena pria ini hampir saja membunuh puterinya, dan kini ingin mem-bunuhnya.
Namun, Siangkoan Kok yang kini terkejut dan bingung mendengar suara gaduh dan disusul sorak-sorat dan suara pertempuran, cepat menggerakkan kakinya menendang.
Karena isterinya memang sudah terdesak oleh pedangnya, maka tendangan itu tidak dapat dielakkan Lauw Cu Si.
"Desss....!" Kaki Siangkoan Kok yang besar dan kuat itu menghantam perut isterinya, dan Lauw Cu Si terjengkang dan terlempar, roboh terbanting dan pingsan! Siangkoan Kok sudah tidak lagi mempedulikan isterinya karena dari teri-akan-teriakan para anak buah Pao-beng-pai, dia dengan terkejut sekali menge-tahui bahwa sarangnya diserbu pasukan pemerintah! Pada saat itu, muncul Tio Sui Lan bersama belasan orang perwira! Wanita muda itu menudingkan telunjuknya ke arah Siangkoan Kok sambil berkata, "Inilah si jahanam Siangkoan Kok, si manu-sia iblis!" Melihat munculnya murid yang telah dipaksanya menjadi isterinya itu bersama belasan orang perwira, Siangkoan Kok segera tahu apa yang terjadi.
Murid ini telah mengkhianatinya! Pantas sejak pagi Sui Lan tidak nampak.
Ketika dia bangun tidur tadi, dia tidak melihat Sui Lan di sisinya.
Hal ini sudah membuatnya marah--marah, apalagi ketika mendengar bahwa Eng Eng telah minggat meninggalkan Pao-beng-bai, kemarahannya memuncak.
Selama ini Eng Eng menjadi puterinya yang patuh, bahkan menjadi pembantu utama, menjadi tokoh kedua sesudah dia di Pao-beng-pai.
Kini, tahu-tahu murid yang telah dipaksanya menjadi isteri selama belasan hari itu, tiba-tiba mun-cul dengan belasan orang perwira peme-rintah yang membawa pasukan dan yang agaknya kini melakukan penyerbuan ke situ.
"Pengkhianat kau....!!" teriaknya sam-bil melotot memandang kepada wanita yang malam tadi masih menjadi kekasih-nya tercinta.
Akan tetapi Sui Lan tersenyum meng-ejek, dan kedua matanya bercucuran air mata! "Engkaulah manusia iblis! Dan ini pembalasanku, Siangkoan Kok!" teriaknya dan dengan nekat Sui Lan yang sudah memegang pedang itu kini menerjang dan menyerang pria yang selama ini menjadi gurunya yang ditaati, kemudian ketaatan-nya hancur bersama kehormatannya yang direnggut secara paksa oleh orang yang dihormatinya itu.
Para perwira itu terkejut.
Tadi ketika mereka memimpin pasukan mendaki le-reng Kwi-san menuju Ban-kwi-kok (Lem-bah Selaksa Setan) setelah semalam me-ngurung tempat itu, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik yang me-nuruni lereng.
Segera wanita itu dikepung.
Wanita itu adalah Tio Sui Lan! Ketika melihat bahwa tempat itu telah terke-pung pasukan pemerintah, Sui Lan yang tadinya hendak melarikan diri, menjadi girangsekali.
Ia lalu menyatakan ingin membantu pasukan menghancurkan Pao--beng-pai.
Ia mengatakan bahwa tanpa petunjuk jalan yang mengenal tempat itu, penyerbuan akan menghadapi kesulitan karena di sekeliling Ban-kwi-kok dipasangi jebakan-jebakan yang amat berbahaya.
Usulnya diterima dan demikianlah, ber-kat petunjuk wanita yang menjadi peng-khianat karena sakit hati itu, pasukan pemerintah dapat naik sampai mengurung sarang Pao-beng-pai dengan mudah.
Kini, setelah berhasil menyusup dengan diam--diam dan penyerbuan dilakukan serentak sehingga menggegerkan.
para anggauta Pao-beng-pai, Sui Lan menjadi petunjuk jalan bagi para perwira untuk mencari pemimpin pemberontakan dan melihat pemimpin pemberontak itu baru saja merobohkan isterinya sendiri.
Dan me-lihat Sui Lan tibatiba menyerang Siangkoan Kok, para perwira tentu saja ter-kejut dan khawatir karena mereka semua sudah mendengar betapa lihainya katua Pao-beng-pai itu.
Mereka serentak maju, namun terlambat.
Ketika Sui Lan me-nyerang Siangkoan Kok, ketua Pao-beng--pai ini sedemikain marahnya sehingga dia menyambut bekas murid dan juga bekas kekasin paksaan itu dengan pedangnya.
Sambutan yang dahsyat dan penuh ke-beranian sehingga pedangnya seperti kilat menyambar."Tranggg....
crakkk!" Pedang di ta-ngan Tio Sui Lan terlempar, disusul tu-buhnya yang roboh mandi darah karena pedang di tangan Siangkoan Kok telah menembus dadanya! Wanita yang malang itu tewas seketika karena pedang ketua Pao-bengpai itu beracun, juga pedang itu menembus jantungnya.
Belasan orang perwira cepat mener-jang dan mengeroyoknya.
Mereka adalah jagoan-jagoan dari kota raja.
Biarpun kalau maju seorang demi seorang, me-reka bukan lawan Siangkoan Kok, akan tetapi karena maju bersama, tentu saja ketua Pao-beng-pai menjadi kewalahan dan repot sekali.
Apalagi melihat keada-an di luar rumah yang gaduh.
Dia ingin melihat keadaan para anggautanya, maka dia pun meloncat ke belakang dan meng-hilang melalui sebuah pintu yang segera tertutup sendiri ketika belasan orang per-wira itu hendak mengejar.
"Itu isterinya, kita basmi saja sekali-an!" teriak seorang perwira.
Saat itu, Lauw Cu Si sudah siuman dari pingsannya dan ia sudah bangkit duduk lalu berdiri sambil memegang pe-dangnya yang tadi terlepas ketika ia roboh tertendang suaminya.
Melihat be-lasan orang perwira itu mengepungnya, ia pun melintangkan pedang di depan dada.
"Hemmm, bunuhlah aku.
Aku memang telah terperosok, bodoh sekali menjadi isteri Siangkoan Kok!" katanya dengan sikap gagah walaupun tubuhnya sudah luka-luka oleh pedang suaminya dan ter-utama sekali, tendangan tadi masih te-rasa dan melemahkan tubuhnya.
"Bunuh ia!" teriak para perwira dan siap hendak mengeroyok.
"Tahan, jangan serang!" terdengar seruan dan ketika para perwira menoleh, mereka terkejut dan heran mengenal Pangeran Cia Sun sudah berada di situ dengan pedang di tangan.
"Lebih baik cepat mengejar ketua Pao-beng-pai dan membasmi anak buahnya!" Belasan orang perwira itu meragu, Tapi....tapi....
ia dapat berbahaya bagi Paduka...." kata seorang perwira sambil menunjuk ke arah wanita itu.
"Tidak! Aku mengenalnya, ia tidak jahat.
Kalian pergilah!" Para perwira memberi hormat lalu cepat berloncatan keluar dari ruangan itu, untuk memimpin anak buah mereka yang sedang bertempur melawan para angauta Pao-beng-pai, "Bibi....!" kata Cia Sun.
"Di mana Eng-moi....?" Wanita itu hanya menggeleng kepala, hendak menggerakkan kakinya, akan te-tapi ia terhuyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat dirangkul Cia Sun.
"Bibi....
menderita luka-luka...." Oleh para perwira itu?" Wanita itu menggeleng, hendak bi-cara, akan tetapi tiba-tiba ia mun-tah darah.
Melihat ini, terkejutlah Cia Sun, maklum bahwa wanita itu terluka parah.
Dipondongnya Lauw Cu Si yang setengah pingsan itu dan terpaksa dia melangkahi mayat Tio Sui Lan yang tadi-nya membuat dia terkejut bukan main ketika pertama kali memasuki ruangan itu, mengira itu mayat kekasihnya.
Dia merebahkan tubuh Lauw Cu Si ke atas sebuah bangku panjang.
Kini Lauw Cu Si dapat bicara, walau-pun terengah-engah dan menahan rasa nyeri.
"Jahanam itu....
Siangkoan Kok....
yang memukulku...." Tentu saja Cia Sun merasa heran sekali.
"Bibi, di mana Eng-moi?" "Ia sudah pergi kemarin, tanpa pamit.
Itu yang membuat Siangkoan Kok ma-rah...." "Tapi kenapa Eng-moi pergi?" "Ketika Siangkoan Kok tahu bahwa Eng Eng membebaskanmu, dia menghajar Eng Eng dan hendak membunuhnya.
Aku mencegahnya dan membuka rahasia bah-wa dia tidak berhak membunuh Eng Eng yang bukan anaknya...." "Bukan puterinya?" Tentu saja Cia Sun terkejut dan heran.
"Ketika aku menjadi isterinya, aku membawa Eng Eng yang sudah berusia dua tahun lebih...." "Ah, kalau begitu Eng-moi puteri Bibi dengan suami lain?" Wanita itu kembali menggelengkan kepala, hendak bicara akan tetapi kem-bali ia batukbatuk dan muntah darah, tendangan yang mengenai dadanya itu memang hebat sekali, membuat ia men-derita luka dalam yang parah.
Sejenak ia terngengah-engah, wajahnya pucat sekali.
Cia Sun sudah merasa bingung sekali mendengar bahwa Eng Eng yang ternyata bukan puteri kandung ketua Pao-beng--pai itu telah pergi tanpa pamit.
Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap ibu Eng Eng yang keadaannya payah itu.
"Engkau....
benar....
seorang pange-ran?" Cia Sun mengangguk.
"Aku memang Pangeran Cia Sun, Bibi, akan tetapi aku mencinta Engmoi." "Kalau begitu, dengar baik-baik...." suaranya makin lemah seperti berbisik.
"Aku....
aku tidak dapat bertahan lama, aku akan mati....
dan inilah saatnya aku membuka rahasia...., dan engkau tepat orangnya yang kuberitahu....
dengar, Eng Eng bukan puteri Siangkoan Kok juga bukan anakku...." "Ehhh" Lalu....