"Hayo jawab, apakah ada yang hendak menentangku?" Seng Bu mem-bentak, suaranya kini terdengar me-nyeramkan, mengejutkan semua orang.
Mereka itu serentak menjatuhkan diri berlutut menghadap Seng Bu, seolah-olah takut kalau-kalau pemuda itu menjadi marah dan menjatuhkan tangan saktinya kepada mereka.
"Tidak ada....
tidak ada...." "Kami semua tunduk kepada Pang--cu...." "Hidup Ouw-pangcu!" Seng Bu tersenyum, senyum biasa yang membuat wajahnya nampak tampan menarik.
"Bagus, aku akan memimpin kalian, membawa Thian-li-pang maju, tidak seperti sekarang ini.
Thian-li-pang akan menjadi perkumpulan terbesar! Ka-lau Yo Han berani datang, aku akan membunuhnya dengan ilmu yang sama! Sekarang, kita bereskan semua jenazah ini.
Tidak perlu dikubur, kita mesukkan saja ke dalam sumur tua itu!" Semua orang terbelalak dan bergidik, akan tetapi tidak ada yang berani mem-bantah.
Melihat sikap para anggauta itu ragu-ragu, Seng Bu tidak sabar dan dia menghampiri jenazah-jenazah itu, lalu sekali angkut, kedua tangannya sudah mencengkeram empat batang tubuh, ma-singmasing tangan mengangkat dua ma-yat, lalu dengan langkah lebar dia meng-hampiri semak belukar, dan melempar--lemparkan empat batang tubuh itu ke dalam sumur tua! Dua kali dia membawa delapan mayat, dan mayat terakhir, yaitu mayat Lauw Kang Hui, dibawanya dan dimasukkannya pula ke dalam sumur tua! Semua orang hanya terbelalak, bergidik dan takut sekali kepada pemuda yang biasanya lembut dan ramah itu.
Mereka kini memandang Seng Bu seolah-olah pemuda itu kini berubah menjadi iblis yang amat menakutkan.
"Kalian tahu mengapa aku tidak me-ngubur jenazah mereka dan membiarkan mereka menjadi penunggu sumur tua?" tanya Seng Bu kepada para anah buah Thian-li-pang.
Tak seorang pun dapat menjawab, bahkan tidak berani mem-buka mulut, hanya menggeleng kepala menyatakan bahwa mereka tidak tahu.
"Aku bukanlah orang yang tidak me-ngenal aturan.
Aku melempar semua mayat ke dalam sumur tua dengan mak-aud tertentu," kata Seng Bu dengan sikap biasa, ramah lembut dan berwibawa.
"Biarlah mereka itu menjadi arwah pena-saran, hal ini kusengaja.
Nanti kalau aku sudah berhasil menangkap Yo Han, dia akan kulemparkan ke dalam sumur, baik masih hidup atau sudah mati.
Dengan demikian, arwah Suhu, Suci dan Suheng akan merasa senang, dapat membalas kepada Yo Han.
Juga arwah enam orang anggauta Thian-li-pang semua akan ikut mengeroyok dan menyiksa Yo Han." Semua anggauta diam saja, masih ter-tegun dan masih terkejut dan ketakutan.
"Sekarang semua kembali dan berkumpul di ruangan besar.
Aku sebagai ketua baru akan mengadakan peraturan baru.
Kita harus dapat menjadikan Thian-li-pang sebagai perkumpulan yang besar dan makmur, tidak seperti sekarang ini.
Mis-kin dan tidak pernah melakukan apa--apa yang sesuai dengan perjuangan kita menentang pemerintah Mancu." Setelah mereka berada di sarang Thian-li-pang, Seng Bu mengumpulkan seluruh anggauta dan dia membuat per-aturan baru yang membongkar semua peraturan lama.
Dan mulai haro itu, Thian-li-pang kembali seperti sebelum Yo Han memasukinya, yaitu menjadi per-kumpulan yang dengan kedok perjuangan melakukan apa saja untuk dapat me-ngumpulkan harta.
Mereka menguasai tempat-tempat pelesir di kota-kota, me-nundukkan Jagoan-jagoan yang memimpin kelompok-kelompok penjahat sehingga semua penjahat harus mengakui Thian-li-pang sebagai pimpinan dan menyerahkan sebagian dari hasil kejahatan mereka sebagai tanda menaluk atau pajak.
Mere-ka yang berani menentang, dihancurkan dengan mudah karena selain Thian-li--pang mempunyai banyak anggauta yang tangguh, juga ketuanya adalah seorang yang lihai.
Tidak sukar bagi para ang-gauta Thian-li-pang untuk mengambil cara hidup baru ini, yang sebetulnya hanya merupakan pengulangan atau kam-buhan saja dari cara hidup mereka yang terdahulu.
Dan memang hasilnya dapat dirasakan oleh para anggauta, yakni ke-makmuran dan serba kecukupan, walau-pun uangnya didapat dari hasil kekerasan dan kejahatan.
Dalam waktu beberapa bulan saja, nama Thian-lipang semakin tersohor dan perkumpulan ini menjadi perkumpulan yang kaya dan berpengaruh, juga amat ditakuti orang.
Ouw Seng Bu mempunyai alasan sen-diri untuk membenarkan tindakannya itu.
Pernah dia mengumpulkan semua ang-gautanya dan dengan panjang lebar dia menandaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.
Mereka yang tadi-nya merasa penasaran juga melihat ketua mereka kini menjalin hubungan baik lagi dengan Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai dan gerombolan-gerombolan lain yang di du-nia kang-ouw terkenal sebagai gerombol-an jahat dan golongan hitam, menjadi hilang perasaan penasaran itu setelah mendengar keterangan ketua mereka yang baru dan masih muda itu.
"Perjuangan menentang pemerintah penjajah Mancu adalah perjuangan yang suci," demikian antara lagi Seng Bu ber-kata, cita-citanya hanya satu, yaitu me-nentang dan menggulingkan pemerintah penjajah, mengusir penjajah Mancu dari tanah air dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajah! Perjuangan tidak me-ngenal golongan putih atau golongan hitam.
Yang terpenting adalah cita-cita tercapai.
Demi tercapainya cita-cita perjuangan, apa pun boleh kita lakukan, tidak ada pantangan lagi!" Ucapan Seng Bu disambut dengan gembira oleh semua anak buah Thian--li-pang cara yang dipakai ketua mereka itu tentu saja membuka kesempatan be-sar bagi mereka untuk memuaskan keinginan mereka sendiri dengan membonceng perjuangan! Mereka dapat saja menggunakan kekerasan memaksakan kehendak mereka kepada rakyat, dapat melakukan perampokan atau pencurian karena semua itu menjadi benar dan baik kalau mereka menggunakan alasan demi perjuangan! Tujuan menghalalkan segala cara! Itulah pendirian mereka yang telah di-cengkeram oleh nafsu.
Nafsu selalu meng-hendaki agar keinginannya tercapai, ter-salurkan dan terpuaskan.
Mengejar ke-inginan atau ambisi berarti membiarkan nafsu merajalela menguasai diri sehingga kesadaran lenyap, akal sehat menjadi sakit, pertimbangan patah-patah.
Nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan menyeret kita melakukan segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang sifatnya merusak.
Tujuan mengum-pulkan harta sebanyaknya menghalalkan kita melakukan penipuan, korupsi, pencurian dan sebagainya, karena harta di-anggap sebagai sumber kesenangan.
Tuju-an memperoleh kedudukan yang dianggap sebagai sumber kemuliaan, kehormatan dan kesenangan menghalalkan kita me-lakukan pengkhianatan, kelicikan, penipu-an dan menghantam siapa saja yang menghalangi kita, kalau perlu membunuh penghalang itu! Semua ambisi, semua ke-inginan, tidak lain hanyalah pengejaran terhadap apa yang dianggap menjadi sumber kesenangan.
Pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela semua perbuatan itu, dengan memberi istilah yang indahindah dan muluk-muluk ter-hadap pengejaran keinginan itu, misalnya perjuangan, cita-cita dan sebagainya.
Yang terpenting justeru terletak ke-pada cara itu.
Cara berarti tindakan, cara berarti saat ini, sekarang.
Tujuan hanya merupakan khayal, belum ada.
Yang menentukan adalah cara itu, tin-dakan itu, sekarang ini.
Yang sekarang ini menentukan yang nanti, karena yang nanti hanya merupakan akibat dan ke-lanjutan dari yang sekarang.
Tidak mung-kin mencapai tujuan yang baik dengan cara yang buruk, tidak mungkin mencapai tujuan yang bersih dengan cara yang kotor.
Kalau caranya kotor, akhirnya yang didapat sebagai akibat cara itu pun pasti kotor.
Kalau orang melakukan sesuatu sam-bil membayangkan tujuan yang hendak dicapai oleh tindakannya itu, maka besar kemungkinan dia terseret oleh nafsu dan dibutakan oleh kemilau tujuan yang hen-dak dicapai.
Tindakan yang benar adalah tindakan yang tidak terbimbing nafsu, melainkan tindakan yang dasarnya pe-nyerahan kepada Tuhan sehingga tindakan itu akan selalu terbimbing oleh kekuasa-an Tuhan.
Tindakan seperti ini merupa-kan tindakan yang dilakukan demi tin-dakan yang penuh kasih terhadap tin-dakan itu, karena kekuasaan Tuhan berlimpahan dengan kasih.
Kalau kita mencintai apa yang kita lakukan, mencintai apa yang kita kerjakan, demi pekerjaan itu sendiri tanpa membayangkan hasil-nya, maka apa yang akan kita lakukan itu sudah pasti benar dan baik, sebagai kemampuan kita.
Kalau kita belajar dan mencintai apa yang kita lakukan, sudah pasti dengan sendirinya kita memperoleh kemajuan dan ijazah tanpa kita mengejar-nya.
Ijazah itu hanya merupakan akibat atau buah daripada pohon yang kita ta-nam sendiri, yaitu mengerjakan pelajaran itu.
Sebaliknya, kalau kita belajar demi mendapatkan ijazah, maka kita akan mudah terseret karena yang kita penting-kan hanya ijazahnya, bukan pelajarannya sehingga mungkin kita akan melakukan penyelewengan dengan menyontek, de-ngan membeli, menyogok dan sebagainya.
Bukan berarti bahwa kita harus me-nolak kesenangan.
Sama sekali bukan.
Hidup menikmati kesenangan merupakan anugerah dari Tuhan! Kalau Tuhan tidak menghendaki, tentu kita tidak diberi perlengkapan sebagai sarana untuk dapat menikmati kesenangan itu.
Kita berhak menikmati kesenangan karena itu pemberian Tuhan.
Akan tetapi kesenangan yang tidak dibuat-buat, tidak dicari-cari, tidak dikejar-kejar.
Kesenangan letaknya di dalam perasaan hati, dan rasa senang yang menyelinap di dalam hati, tanpa dikejar-kejar, itulah kesenangan sejati yang biasa kita namakan kebahagiaan.
Kesenangan yang dikejar dan diberi ada-lah kesenangan nafsu.
Dan biasanya, kesenangan seperti ini lebih nikmat di-kenang dan dibayangkan daripada dialami pada saatnya.
Hal ini timbul karena per-bandingan dengan apa yang kita kenang, apa yang kita bayangkan.
Seolah-olah semua kenikmatan itu sudah menjadi hambar, dihisap habis oleh kenangan dan bayangan masa lalu dan masa depan.
Tanpa kenangan masa lalu dan bayangan masa depan, pada saat itu, kalau ke-senangan menyelinap di hati, itulah ke-bahagiaan.
Seperti melihat penglihatan indah, mendengar suara merdu, mencium bau harum.
Kita memperoleh kebahagiaan pada saat itu, dan habis pula pada saat itu.
Kalau kita menyimpannya dalam ingatan, maka kebahagiaan itu berubah menjadi kesenangan.