Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 159

Memuat...

terus meninggalkan hutan kematian langsung menuju ke Gak- yang.

Waktu sampai di Gak-yang, hari sudah magrib, lampu sudah dipasang dimana-mana, tepat pada hari itu memang tiba tanggal lima belas, atau hari Goan-siau dan yang lebih terkenal dinamakan Cap-go-meh, rumah-rumah dikota Gakyang ini memasang lampu lampion yang beraneka ragam bentuk dan warnanya, orang berlalu lalang hilir mudik sangat ramainya.

Giok liong bersama ibunya berpesiar jalan-jalan menonton keramaian sambil menghabiskan waktu, setelah rumah-rumah pada tutup dan waktu sudah menunjukkan tengah malam, orang yang hilir mudik juga sudah jarang pelan-pelan Giokliong dan ibunya beranjak menuju ke Gak-yang lau.

Dengan ilmu ringan tubuh mereka berdua yang tinggi, langsung melesat menuju keatas loteng Gak yang- lau.

Diambang jendela empat orang tua bertubuh tinggi tegap dan kekar berdiri dengan angkernya.

Begitu melihat keempat orang ini Giok-liong menjadi heran dan berseru menyapa.

"Pak-hay su lo selamat bertemu Kalian..."

Begitu melihat Giok-liong serta ibunya sudah datang, serempak Pak hay sulo membungkuk tubuh menjura dalam serunya dengan nada menghormati "Hu-jin, siau-hiap, Hamba beramai berjaga dan menunggu menurut perintah."

Belum lagi Giok liong sempat bersuara, terlihat ibunya mengulapkan tangan seperti mereka sudah menjadi kenalan kental saja, katanya.

"Kalian bersaudara banyak baik,"

"Banyak terima kasih pada Hujin, memang sudah menjadi tugas kita."

King thian-sin Lo say lalu berkata.

"Para pendekar sudah tiba, mereka menunggu di dalam."

Belum lagi suara King thian-sin Lo say hilang, sekonyongkonyong terdengar denting suara keliningan yang nyaring merdu, disusul sebuah bayangan putih berkelebat melesat keluar dari dalam loteng, terdengar sebuah suara nyaring merdu berkata.

"Ji- moa y, baru datang Jauh-jauh aku berhasil menyeretnya dari laut utara, silakan kau jatuhkan hukuman padanya."

Terdetak jantung Giok-liong, baru sekarang ia tahu bahwa ibunya ternyata adalah salah satu dari Bu lim su bi yang menggetarkan kalangan kangouw itu, malah menduduki nomer dua, beliau bukan lain adalah Toh hun- siancu ( dewi penyabut sukma ) Ko Eng.

Tampak perasaan Toh hun siancu Ko-Eng sangat haru, air mata mengalir deras bagai hujan, suaranya sember dan serak, teriaknya.

"Toaci"

Terus menubruk kedalam pelukan Kim-ling-cu dan tergerung- gerung dengan sedihnya. Pelan-pelan Kim-ling- cu menepuk pundaknya, katanya dengan suara lembut.

"Ji-moay, penasaran beberapa tahun ini sudah kau resapi dengan penuh derita, sekarang anakmu sudah dewasa lagi. malah menjunjung nama dan menegakkan wibawa di kalangan kangouw, Rasa duka yang sudah kelelap dan ditimbali dengan hal-hal yang menyenangkan ini seharusnya tak perlu dipikirkan lagi, sekarang kau harus bergembira, kenapa main tangis segala seperti anak kecil saja. Mari kita masuk." - dengan bergandeng tangan mereka melejit tinggi terus meluncur dengan gaya ji-yan-kui-jau (burung seriti pulang sarang) menerobes jendela masuk kedalam loteng, sungguh indah dan menakjupkan sekali gerak gerik mereka. Giok liong juga tak berani ayal, gesit dan tangkas sekali iapun melayang masuk. Didalam loteng tampak Teji Pang Giok, Pat-ci-kay-ong dan seorang HweSio tua beralis putih bermuka welas asih, mungkin beliau adalah Hoat-ceng salah satu dari Ih-lwe-sucun itu, mereka duduk berjajar disebelah kiri,sedang disebelah kanan duduk Ih-hun-san-ceng Cengcu Toan-bok Ih-hun, siphiat- ling Toanbok Ki, Bingcu dari aliran hitam yang membawa cucunya, yaitu Kiang liong- li Toan bok swie-giok, dan seorang lagi adalah Bu-ing-tocu dari Lam hay. Yang menarik perhatian Giok-liong adalah bahwa Hwi hun chiu Coh Jian kun dan Tam kiong sian li Hoan Ji hoa dari Hwi hun san cheng ternyata juga hadir dan duduk anteng disebelah sana. sedang yang duduk ditengah adalah seorang laki-laki pertengahan umur yang bermuka merah seperti muka Koan Kong itu tokoh kenamaan pada jaman sam Kong, matanya jeli berkilat ditaungi alis lentik lempang keatas bersikap angker dan garang, jenggotnya memutih melambai didepan dada, dengan mengenakan jubah panjang ia duduk mementang kedua kakinya seperti pembesar atau raja saja layaknya, membuat orang menaruh hormat dan segan. saat mana Kim-ling-cu sudah berjalan kepinggir orang ini, katanya keras.

"Kau masih duduk saja, kenapa sikapmu begitu serius."

Giok-liong tidak tahu siapakah gerangan orang ini.

Tapi melihat gurunya jaga hadir, bergegas ia maju kehadapan Teji Pang Giok terus berlutut memberi hormat setelah itu ia mengisar dan hendak memberi hormat pula kepada Pat-cikay- ong.

Pat ci-kay-ong yang suka guyon-guyon itu menggoyang tangan membuat muka setan dengan suaranya yang serak dan tenggelam tenggorokan ia berkata mencegah.

"Buyung Bangun Kau sungguh harus berlutut, semua orang yang hadir disini harus kau sembah lebih baik batal saja"

Giok-liong menyahut dengan sungguh2.

"Tata kehormatan sudah menjadi kelaziman mana boleh batal apa segala."

Kata Pat-ci kayong sambil menunjuk laki-laki muka merah itu.

"orang lain boleh batal, hanya beliau saja, kau harus lebih banyak menyembah padanya."

Teji Pang Giok juga ikut bicara dengan sikap serius, ujarnya.

"Anak Liong. pergilah kau tengok ayahmu."

Berdebur jantung Giok-Liong bergetar seluruh badan seperti disambar geledeki darah lantas bergolak dalam rongga dadanya "Eh, main ayal lagi. Hayo lekas beri hormat dan berlutut kepada ayahmu "

Demikian desak Pat-ci-kay-ong melucu.

Giok liong terlongong bingung kurang percaya, matanya mendelong mengawasi laki-laki muka merah berbentuk persegi itu, pelan-pelan kakinya beranjak mendekati baru saja ia hendak membuka mulut menyapa dan berlutut memberi hormat ....

"Nanti dulu, anak Liong,"

Terdengar Toh-huo-siancu Ko Eng mengertaki ringan sekali, ia melayang datang, terus menyekal pergelangan Giok-liong, air mata mengalir semakin deras dan tersekat-sekat, katanya sendu.

"sabar anak Liong. Aku belum tentu punya suami dan kau belum pasti punya ayah..."

Suaranya menjadi putus dan lenyap dalam tenggorokannya karena tangisnya yang merawan hati. Terpaksa Kim-ling cu tampil kedepan, katanya.

"Ji-moay, penasaran selama lima belas tahun kini sudah harus dibikin terang, kau harus bergirang, buat apa..."

Tapi Toh-hun siancu Ke Eng tidak kena bujuk, sambil membesut air mata, ia tuding laki-laki muka merah itu, hardiknya .

"Ma Hun, lima belas tahun yang lalu sepak terjangmu betuf-betul keterlaluan dan tidak mengenal cinta kasih. Coba pikirkan, kau minggat diam-diam membawa anak Hou meninggalkan aku bersama anak Liong, ini sih dapat kuterima dengan tulus hati kenapa pula kau menyebar kabar bohong dan memfitnah dengan segala peristiwa kotor untuk menista aku bersama suheng, katanya aku ada hubungan cinta dan main asmara dengan Kim-i-hiat-hong Hoan Bu-sang. Malah kau merangkai cerita dan ditulis dalam se

Jilid buku serta kau pendam didasar mata air di dasar Rawa naga beracun, Tujuanmu hendak merusak dan membusuk kan nama baikku untuk selama-lamanya, kau terlalu menghina kesucianku dan merendahkan harga diriku...."

Ternyata laki-laki muka merah seperti Kean Keng itu tak lain dan tak bukan adalah majikan Ping-goan dilaut utara yaitu Hwi-thian-khek Ma Hun.

Dicerca panjang lebar begitu, muka merah Hwi-thian-hun semakin merah padam seperti warna darah, wajahnya menunjuk rasa menyesal dan segan, mulutnya bergerak tapi urung bicara.

"Ehi orang she Ma,"

Terdengar Kim-ling-cu mendesak lagi.

"Kenapa kau tidak bicara."

Hwi-thian-khek Ma Hun tergagap. katanya terbata-bata.

"Toamoay, apa... yang... harus.... kukatakan..."

Kim-ling-cu bersungut gusar, semprotnya.

"Apa penderitaan adikku selama lima belas tahun harus siasia belaka. Mana tanggung jawabmu "

"Ini..."

"Ini itu apa ?"

"Urusan ini, baru sekarang aku paham seluruhnya "

Sembari mengertak gigi Toh Hun siancu membanting kaki, jengeknya dengan rasa gusar yang meluap.

"Kau paham? Tapi kita ibu beranak selama lima belas tahun...."

Ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya saking sedih dan penasaran, mukanya pucat badan gemetar bibirnya sampai biru. Hwi-thian-khek Ma Hun melonjak bangun dari tempat duduknya, katanya lantang.

"selama lima belas tahun ini kau menderita masakan aku hidup senang ? Ketahuilah aku menggantikan kau mengasuh anak Hou sejak bayi menjadi besar apakah perasaanku pernah tentram. Bukan begitu saja, Giok- hou bocah itu karena kehilangan kasih sayang ibunda, sifatnya menjadi liar dan suka sewenang- wenang, siapakah yang harus disalahkan."

Kata-katanya diucapkan dengan penuh perasaan dan haru, mengandung rasa kesal dan penasaran juga . sudah tentu Kim ling-cu berbicara dipihak adiknya, segera ia menyela dengan tak kalah kerasnya.

"Kesalahan terbesar adalah karena kau tinggal minggat jauh mengasingkan diri di Ping-goan di laut utara dan melarang adikku menginjak daerah Pak hay, kenapa kau salahkan lain orang."

"Tang."

Sinar mas melayang terus jatuh kelantai dengan mengeluarkan suara nyaring, kontan kotak mas itu menjeplak terbuka, lembaran sampul surat segera tercecer diatas lantai.

saking marah dan tak tahan lagi Toh-hun-siancu membanting kotak mas itu diatas lantai, dengan muka dingin membeku ia mendesis.

"Coba kau periksa, bukti surat menyurat itu semua berada disini, asal boleh membuka rahasia ini kepada seluruh sahabat dari dunia persilatan, coba biar diperiksa apakah benar ada hubungan asmara apa segala, kenapa waktu dulu kau tidak periksa dengan teliti"

Merah jengah sampai ke kuping Hwi-thian-khek Ma Hun, katanya coba membela diri.

"Hari itu waktu aku temukan surat-surat itu, ingin rasanya... masa ada muka dan tahan sabar aku periksa suratsurat itu. Baru sesudah Hoan Bu-seng sesuai dengan nama julukannya, mendirikan masing-masing Hiat-hong-pang dan Kim-ipang, baru aku tahu duduk perkara sebenarnya, bahwa surat menyurut kalian adalah saling memperdalam semacam ilmu simpanan dari perguruan kalian, tapi dalam keadaan semacam itu... kenapa sebelumnya kau tidak tuan memberi tahu dulu kepadaku?"

"Pui."

Semprot Toh-hun-siancu Ko Eng, jengeknya sembari tertawa dingin .

"Hehehe-hehehe Ma Hun sungguh memalukan kau mengagulkan diri sebagai pendekar agung yang dijunjung tinggi d idunia persilatan. coba kutanya, suatu pelajaran rahasia ilmu silat dari suatu perguruan kalau belum sempurna dan selesai dilatih, seumpama ayah dan anak saja tak boleh dibocorkan apakah aku harus membocorkan pelajaran perguruanku kepada- mu?"

"Tapi, kita kan suami isteri."

"Suami isteri lalu bagaimana? sehubungan sebagai suami isteri lantas boleh melanggar sumpah dan mendurhakai perguruan? Lantas tak perduli akan segala larangan danpantangan kaum persilatan? "

Setelah berkata, tiba-tiba Toh hun-siancu Ke Eng merobah sikapnya yang sedih, dengan kemarahan yang tak terkendali lagi, katanya lantang sembari memutar tubuh menghadapi seluruh hadirin.

"Aku Ke Eng sudah memalukan dan membikin buruk nama perguruan, puluhan tahun ini makanya aku masih tetap hidup semua ini karena anak Liong masih belum dewasa, kebenaran dan kesucianku masih belum kubikin bersih, aku sudah cukup puas, untuk menyelesaikan urusan ini sampai membikin susah dan capai para tuan-tuan, sungguh aku merasa kurang enak dan tentram, hanya dengan kematianlah rasanya baru aku bisa membalas kebaikan kalian,"

Habis kata-katanya kedua lengannya lantas dikembangkan terus terayun menggaplok kearah balok kepalanya sendiri...

"Haya Jimoay"

"Ibu..."

"Jangan Ko Eng "

"Sabar Sumoay"

Bayangan orang bergerak serabutan menubruk maju sembari berteriak kejut, Sebat sekali Kim-ling-cu menubruk maju memegang tangan kanannya, sedang Giok-liong juga tidak ketinggalan memegang tangan kiri.

Tengah semua orang ribut-ribut, tampak sesosok bayangan kuning mas meluncur masuk kedalam ruangan loteng ini.

Tahu-tahu Kim-i hiat-hong Hoan Bu-seng sudah berdiri diambang jendela dengan muka merah padam dan gusar sekali.

Pandangannya menyapu selidik ke lantai yang penuh bertebaran sampul-sampul surat itu, bagai kilat lalu ia pandang seluruh hadirin satu persatu, terakhir pandangannya jatuh pada muka Hwi-thian khek Ma Hun, hidungnya mengeluarkan dengusan berat, jengeknya.

"Ma Hun "

Sepasang biji mata Hwi-thian khek melotot besar seperti kelereng hendak meloncat keluar, suaranya berat.

"

Hoan Bu-seng Kau mau apa?"

Pelan-pelan Kim-i hiat-hong Hoan Bu-seng berpaling ke arah Sumoaynya yang ber-sedu sedan, alisnya semakin bertaut dalam, rasa gusar membayang pada pandangan matanya, serunya.

Post a Comment