Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 157

Memuat...

"Jangan gegabah, jangan gegabah Aku bicara sungguh-sungguh."

"sungguh-suugguh maksudmu ?"

"Tentu, kalau ibumu tidak suka kau melihatnya, apa kau bersikeras hendak membuka juga ?"

Otak Giok-Liong terasa bebal, sungguh ia tidak habis paham timbul rasa curiga dan ragu dalam lubuk hatinya, Kelihatan cara bicara Kim- i jin ini sangat serius dan prihatin benar, maka tidak menjawab sebaliknya ia bertanya lagi.

"

Ibuku ? Dimana ibuku berada ?"

Tanpa ragu ragu Kim-i-jin menerangkan.

"sudah tentu aku tahu dimana ibumu sekarang berada, Hanya ingin kutahu, kalau ibumu betul-betul tidak mengijinkan..."

Sontak Giok-Liong menjadi berseri girang, dengan langkah lebar ia memburu maju serta berteriak kegirangan.

"Kalau kau bisa membawa aku menemukan ibuku, jangan kata dilarang lihat, seumpama harus kuserahkan kotak ini kepadamu bolehlah."

"Apa betul ?"

"Aku berani bersumpah demi ketulusan hatiku."

"Baik Mari ikut aku"

Nada seruan Kim-i-jin terdengar riang lantang dan tegas, habis berkata sekali berkelebat bayangan kuning lantas menghilang dan meluncur cepat sekali.

sejak berpisah dengan ibunya, meski selama ini belum pernah semenit atau sedetik pun ia senggang, namun terhadap budi dan cinta ibunda belum pernah terlupakan dari lubuk hatinya.

Bahwasanya Giok-Liong belum pernah bersua dan melihat wajah ayahnya sendiri.

Walaupun besar hasratnya hendak membela tentang asalusul dirinya, ingin segera mengetahui jejak ayahnya, entah hidup atau mati namun terhadap ibundanya yang telah mengasuhnya selama sepuluh tahun lebih, besar pula rasa kangen dan selalu terbayang dalam pikirannya.

sekarang seseorang ini rela dan sudi membawa dirinya untuk menemui ibunya, betapa girang hatinya, apa yang dapat dikatakan Maka tanpa berayal segera iapun kembangkan ilmu ringan tubuhnya mengejar dengan ketat.

ingin rasanya tumbuh sayap dan dalam waktu singkat dia bisa berlutut di hadapan ibunya untuk melampiaskan rasa kangennya dengan tangis sepuas-puasnya, maka seluruh tenaga dikerahkan mengembangkan Leng-hun-toh membuntuti di belakang Kim-i-jin, teriaknya bertanya.

"Dimana ibuku?"

"Aku membawamu menghadap ibumu habis perkara."

Sahut Kim-i-jin. sedikit mengerahkan tenaga dan meliukkan pinggang Giok- Liong melesat lebih pesat lima tombak kedepan, serunya mendadak.

"Mari lebih cepat lagi,"

Kim-i-jin tersenyum ujarnya.

"Eh, kiranya Iwekangmu cukup tangguh."

Sebetulnya ilmu ringan tubuh Kim-i-jin sendiri juga sudah mencapai kesempurnaan-nya, dimana tampak sinar kuning berkelebat menembus angkasa membawa desiran lambatan ringan laksana bintang tujuh mengejar rembulan sekali layang puluhan tombak gampang sekali telah dijangkaunya.

Perjalanan ini telah dilakukan dari pagi sampai hari sudah lohor dan dari lohor sampai magrib.

Kim- i jin tetap bungkam tanpa mengeluarkan mulut, kakinya terus berlari secepat terbang selincah kijang.

Walaupun Giok-lioog sudah mendesaknya berulang kali, dia mandah manggut-manggut saja serta menjawab.

"segera akan sampai."

Sang surya terbenam di ufuk barat, kabut malam sudah menyelimuti seluruh jagad, samar-samar terlihat di depan sana banyak pohon-pohon besar menjulang tinggi ke angkasa berjajar rapi seperti raksasa yang sedang berbaris, begitu besar dan luas hutan rimba belantara ini sampai tak kelihatan ujung pangkalnya, dalam suasana sunyi lengang di kegelapan malam lagi dibawah sebuah lembah yang hampir tertutup rapat oleh rimbunnya tumbuhan pohon yang besar-besar itu keadaan sekelilingnya menjadi terasa seram dan menakutkan.

Dari puncak sebuah bukit Kim i-jin terus berlari kencang meluncur turun laksana seekor elang yang menyamber kelinci seperti air tercurahkan dari langit ke bawah lembah, mulutnya terdengar berkata.

"sebentar sudah sampai, mari ikuti aku"

Sedikitpun Giok-Liong tidak berani ayal, dengan ketat iapun ikut meluncur turun ke bawah.

"Haya"

Tiba-tiba ia berseru kejut waktu kakinya hinggap di tanah datar diluar rimba, secara reflek kakinya menjejak tanah terus melesat mundur tiga tombak dengan mendelong ia mengawasi sebuah papan besar yang tergantung diatas sebuah pohon beringin dimana tertulis beberapa huruf besar bejana merah darah.

"Daerah terlarang Hutan Kematian, siapa masuk harus mati."

Betapa jantung Giok-liong takkan ber-debur keras begitu melihat kedelapan huruf ini ? Tahu dia sekarang bahwa dirinya telah kena diapusi dan pancing kemari, lekas-lekas ia kerahkan hawa Ji-lo untuk melindungi tubuhnya, lalu dengan telunjuknya ia menuding Kim-i-jin yang sudah melesat masuk kedalam hutan, hardiknya menggeledek.

"Ternyata muslihat hendak menjebak aku Berdiri"

Sungguh sangat menakjupkan adalah gerak gerik Kim-i-jin, begitu mendengar bentakan Giok-liong tubuhnya yang sedang meluncur kedepan itu mendadak mencelat balik telus jumpalitan hinggap dihadapan Giok-liong, serunya mendelong.

"Apa muslihat?Jebakan?"

Melihat sikap orang yang tidak mengerti semakin memuncak amarah Giok-liong, menuding ke arah papan peringatan di-atas pohon beringin itu ia membentak lagi.

"Tempat apa ini?"

Tanpa ragu dan heran Kim-i-jin menyahut tegas.

"Markas besar Hutan kematian"

"Kalau begitu kau memancing aku kemari apa maksudmu?"

"Bukankah kau ingin bertemu dengan ibumu?"

"Hm Masih mau menipu orang ibuku mana bisa berada dalam hutan Kematian?"

"Bagaimana tidak mungkin berada didalam Hutan kematian?"

Balas tanya Kim-i-jin.

"Bu..."

Tanpa menanti Giokliong sempat mem-buka mulut lagi tibatiba Kimijin mendongak terbahak-bahak, Sesaat Giok-liong masih ragu dan curiga.

Sekonyong-konyong bayangan orang dan derap langkah kaki orang banyak serta sinar mata orang yang berkilat memberondong keluar terburu-buru dari dalam hutan, semua berlari keluar dengan tersipu-sipu, ternyata puluhan anak buah Hutan kematian telah muncul di kegelapan sana berjajar rapi dibela kang Kim-tjin, sikap Kim i-jin masih tetap wajar dan mengumbar gelak tawa-nya menghadapi Giok liong seperti tidak mengetahui kedatangan para anak buah Hutan kematian itu.

"Coba kau lihat"

Seru Giok - liong sambil menuding orangorang di belakangnya itu. Sedikitpun Kim-i-jin tidak merasa heran, mendadak ia berpaling ke belakang serta berseru keras.

"Tak perlu banyak peradatan"

Bayangan orang-orang hitam itu serentak mengiakan dengan suara gemuruh sekejap saja seperti angin lesus saja derap langkah mereka menghilang dibalik pohon-pohon besar terus mengundurkan diri Mendelik mata Giok-liong, bentaknya.

"Kau ini pernah apa dari Hutan kematian ini?"

"Akulah Limcu ( ketua )."

"Hah..."

Giok-liong menjadi semakin bersitegang leher, kedua tangannya pelan-pelan diangkat terus menekuk dengkul memasang kuda-kuda, sebuah tangan yang lain terus bergerak lambat merogoh keluar potlot mas.

Kini ini mandah tersenyum tawar, tangannya digoyangkan ujarnya.

"sabar dan jangan gegabah, tujuanmu adalah ingin bertemu dengan ibumu, kenapa pula kau peduli Hutan kematian atau Hutan kehidupan apa segala?"

Memang cukup adil dan benar perkataannya, Demikian batin Giok-liong, ibu terjeblos dalam kurung Hutan Kematian entah penderitaan apa saja yang telah dialaminya? Bukan mustahil mereka menggunakan ibuku sebagai sandera untuk menekan aku supaya menyerahkan kotak mas ini? Karena pemikirannya ini hatinya menjadi mendelu dan rawan, segera ia bersuara lantang dan tegar "Tunjukkan jalan Tak peduli sarang naga atau gua, harimau betapapun aku harus menemui ibu,"

Di mulut ia berkata tandas namun secara diam-diam ia sudah kerahkan seluruh kekuatannya dikedua lengannya, diam-diam iapun sudah menerka-nerka dalam hati, menurut rencananya seumpama ibunya betul-betul menderita didalam Hutan kematian, meski harus mengorbankan jiwa sendiri betapapun ia harus mengobrak-abrik dan membunuh seluruh penghuninya, ayam dan anjing juga tak terampunkan lagi.

Sebaliknya seperti tiada terjadi suatu apa2, Kim-i-jin bicara acuh tak acuh.

"Mari ikut aku"

Mereka bersama angkat langkah berendeng memasuki Hutan kematian, semakinjauh didalam semakin gelap.

sepanjang jalan ini terang banyak terdapat pos-pos penjaga entah yang tersembunyi namun satupun tiada yang menunjukkan suatu reaksi.

Kira-kira perjalanan setengah jam kemudian, mendadak pandangan mata menjadi silau, alam sekelilingnya menjadi terang benderang.

Kiranya mereka sudah memasuki sebuah perkampungan yang besar dan megah dihadapan mereka tegak berdiri sebuah gapura batu pualam hijau, dimana- mana dipasang lampu lampion dan lilin besar sehingga sekitarnya terang benderang seperti disiang hati bolong.

Bangunan rumah disini semua bertembok meski tidak bertingkat tapi cukup angker dan berwibawa seperti bangunan2 gedung pembesar atau menteri.

"Tang terdengar sebuah lonceng berdentang segera pintu gerbang perkampungan pelan-pelan terbuka lebar, delapan laki-laki tegap dan gagah berjaga di kedua jamping pintu terus bersorak menyambut.

"Selamat datang majikan"

Kim- i jin mengulapkan tangan, katanya kepada Giok liong.

"Silakan masuk"

Saat mana Giok-liong tidak banyak pikir dan tak perlu dipikirkan lagi, dengan langkah lebar ia mendahului beranjak masuk, setelah menyelusuri serambi panjang dan melewati dua halaman besar beruntun mereka memasuki lima ruang besar, yang terakhir baru Kim-i-jin menghentikan langkahnya dan berkata sembari tersenyum.

"Aku tahu kau ingin segera bertemu dengan ibumu maka maafkan aku tidak menjamu kau lebih dulu"

Lalu kedua tangannya bertepuk tiga kali.

Dari belakang ruang sebelah kiri melalui sebuah pinta bundar beruntun keluar empat kacung kecil berusia tiga empat belas tahunan serempak mereka berdiri tegak terus membungkuk rendah sembari menundukkan kepala, sahutnya dengan suara tertekan nyaring.

"Menunggu perintah majikan."

Kata Kim-i-jinjuga dengan suara lirih.

"Laporkan ke Panti Wening bahwa Siau hiap Ma Giok liong telah tiba "

Keempat kacung kecil itu mundur tiga tindak sembari mengiakan terus membalik masuk keruang sebelah. Kata Kim-i-jin kepada Giok-liong.

Post a Comment