Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 155

Memuat...

"Tri ...

lu ...

li ..."

Irama seruling semerdu pekik burung Hong laksana keluban panjang naga terbang berkumandang ditengah udara.

"Sebelum ajal kiranya buyung ini juga ingin bersenangsenang dulu "

Saking gelisah dan kwatir ci hu-giok-li sampai mengalirkan air mata, mendongak memandang wajah ayahnya ia berkata.

"Yah Kenapakah dia ?"

Tidak menjawab Ci-hu-sin- kun berbalik tanya.

"Anak Ling Kenapakah kau ini ?"

"Aku ?"

"Kau menangis ?"

Ci-hu giok-li Kiong Ling- ling kontan merasa mukanya merah panas, dengan ujung lengan bajunya ia membasut air matanya, sahutnya dengan kemalu-maluan.

"Yah Maksudku kenapakah dia ?"

"siapa ?"

"

Giok- liong ... Kim-pit-jan hun "

Kontan ci-hu sin-kun menarik muka, dengan wajah membesi ia termenung sebentar mendengarkan dengan cermat.

Terdengar irama seruling memuncak tinggi menembus angkasa, nadanya semakin tinggi lagunya semakin kalem.

Ternyata pengalaman dan pengetahuan cihu-sin-kun cukup luas, mendadak berubah air mukanya, serunya gugup.

"Nak Mari kita pergi."

"Pergi?"

Tanya Ci-hu-giok-li Kiong tling-ling menegas dengan khawatir.

"Ya, cepat menyingkir inilah irama seruling samber nyawa yang merupakan ilmu tunggal puncak tertinggi yang sudah putus turunan, namanya jan hun-ti (irama penyedot sukma) sungguh tak duga bahwa latihannya kiranya sudah melampaui ribuan tahun "

"Ribuan tahun?"

"inilah jurus-jurus lihay dari Jan-hun ti senjata kuno yang sakti mandraguna itu, sudah ribuan tahun yang lalu menggegerkan dunia persilatan tiada seorangpun yang mampu mempelajarinya .

"

Irama seruling semakin gemuruh seperti berlaksa kuda berderap cepat menggulung tiba, seperti ombak samudera yang mengamuk setinggi rumah, begitu gemuruh dan gegap gempita menembus langit seakan-akan dunia kiamat, laut tumpah dan gunung gugur.

"Wuaaaaaaa....."

Tiba-tiba terdengar pekik dan jerit panjang yang menyayatkan hati.

Tampak salah seorang anak buah istana beracun melayang jatuh lurus dari tengah udara terus terbanting keras diatas tanah, setelah kaki tangan berkelejetan sebentar terus berhenti untuk selama-lamanya.

Irama seruling terus meruncing dan lebih keras dan cepat lagi.

"ou...."

"Haaaaah"

Satu persatu anak buah istana beracun saling berjatuhan sambil berpekik panjang mengerikan. sekonyong-konyong ci hu-giok-li Kiong Ling-ling mengerutkan kening, kedua tangannya mendekap pelipisnya, suaranya gemetar seperti sangat menderita.

"Yah Hatiku pilu benar... aduh... ai"

Berubah hebat air muka Ci-hu sin kun, dengan menarik sebuah lengan putrinya ia membentak.

"Lekas pusatkan semangat dan pikiran, kerahkan Lwekang melindungi badan, mari pergi."

Jauh puluhan tombak disekitar gelanggang terlihat sudah banyak para gembong iblis lainnya sedang terhuyung dan sempoyongan roboh seperti orang mabuk minum araki tangannya menggapai- gapai.

Sekuat tenaga Ci-hu giok-li Kiong Ling-ling mengerahkan hawa murni melindungi tubuhnya seiring dengan kelebat tubuh ayahnya ia bertahan menggigit gigi terus meluncur cepat sekali berlari kencang kearah timur...

Pertama-tama adalah Hiat-hong pangcu yang melihat tingkah perobahan ci-hu-sin-kun kurang wajar ini, cepat-cepat ia bergegas maju mulutnya tercetus berkata.

"sin-kun Dan bagaimana...."

"Irama seruling samber nyawa itu, adakah kau kuat bertahan?"

Seru Ci-hu-sin-kun.

sungguh mimti juga Hoat hong-pangcu tidak menduda bahwa lagu kuno yang sakri mandraguna dari tiupan seruling yang pernah didengarnya sudah menghilang selama ribuan tahun ternyata sekarang telah betul-betul menjadi kenyataan atas diri Giok-liong, pemuda yang baru berusia belum cukup dua puluh tahun.

Lari menyelamatkan diri adalah lebih penting, mana ada waktu baginya untuk ngobrol atau banyak pikir lagi.

Apalagi dengan latihan ci-hu-sin-kun yang sudah sempurna serta kedudukan dan jabatabannya saja harus lagi menyingkir secara porakp oranda membawa putrinya, maka betapapun dirinya tidak boleh terlambat sedikitpun, dalam seribu kesibukannya secara lantang ia berseru kepada anak buahnya.

"seluruh anak muridku, lekas tinggalkan gunung ini jauhjauh, jangan sampai kalian roboh dan tertimpa maut oleh irama seruling samber nyawa ini."

Sembari berkata ia mendahului berkelebat jauh, waktu kata katanya habis iapun sudah puluhan tombak jauhnya.

Sudah tentu semua anak buahnya menjadi ketakutan seperti arwah sudah melayang keluar badan, serentak mereka lari pontang-panting jatuh bangun, Para gembong-gembong iblis lainnya yang mendengar akan ancaman bahaya itu, tak mau ketinggalan merekapun berlomba melarikan diri keempat penjuru, entah kemana saja asal jiwa bisa selamat.

Tatkala itu, kabut biru dari hamburan Lan-cu-tok yam yang jahat dan berbisa itu sudah semakin guram dan menipis.

Diatas tanah bergelimpangan anak buah istana beracun sungsang sumbel tak teratur, keadaan kematian mereka begitu lucu dan mengerikan sekali.

Tinggal Cukong istana beracun ibun Hoat serta lima tujuh tokoh-tokoh dari istana beracun yang masih kuat bertahan, dengan tak mengenal rasa takut sedikitpun mereka masih beterbangan diatas gulungan kabut putih yang menyelubungi badan Giok-liong seperti laba-laba laksana setan gentayangan pula mereka men amber-nyamberpergi datang tapi ^ak sekuat dan secepat tadi.

Yang sangat mengherankan adalah sedikitpun mereka tidak menjadi gentar atau keder melihat para saudara mereka satu persatu roboh tak berkutik dan binasa, bukan saja lagi marah seperti tidak tahu betapa lihaynya sang musuh yang terang mereka harus menyerang sampai titik darah penghabisan.

Mungkin mereka sudah tergetar pecah telinganya pandanganpun menjadi kabur dan yang terpenting adalah semangat mereka sudah buyar dan linglung karena getara gelombang irama seruling samber nyawa, seperti patung kayu saja layaknya yang tidak punya panca indera lagi.

saat itu surya sudah naik tinggi diufuk timur sana, dunia sudah terang benderang.

Lagu yang tertiup dari seruling Giok Liong mendadak berubah dari cepat menjadi lamban, dan dari tinggi menurun menjadi suara rendah berisik.

Dari kejauhan sana mendadak terdengarlah suara dentuman yang gegap gempita begitu keras ledakan ini sehingga tanah pegunungan ini terasa bergetar.

DisusuI disebelah barat sana kelihatan asap tebal menjulang tinggi keangkasa, sungguh suatu kejadian yang mengejutkan.

Tak lama kemudian disusul terdengar lagi ledakan lebih keras dari arah selatan api berkobar dan asap tebal juga bergulung tak kalah hebatnya, ledakan kali ini jaraknya rada dekat sehingga memekakkan telinga, suaranya sampai bergema sekian lama dialam pegunungan.

Belum lagi gema ledakan ini hilang di sebelah utara lagi-lagi terdengar ledakan yang tak kalah hebat dan kerasnya, malah terdengar tiga kali ledakan yang satu sama lain lebih keras.

Bara api lebih besar dan mengangah memerah diudara pagi sebelah utara.

Begitu cepat perubahan yang tak terduga iai berlangsung, saking dahsyat dan hebatnya sehingga bumi bergetar dan gunung menjadi goyah.

Malah mayat-mayat yang bergelimpangan ditanan itu ikut mencelat dan melenting beterbangan karena getaran ledakan yang dahsyat itu, seperti terjadi gempa bumi dan ledakan gunung berapi saja layaknya.

Giok-liong sendiri juga hampir terjungkal jatuh dari tempat duduknya di atas batu nisan.

Post a Comment