"majikan ada berpesan wanti-wanti, supaya kita harus mendapatkan kotak mas ini meski harus berkorban jiwa."
Terpaksa Giok- liong tertawa getir tanpa mampu berdebat lagi, katanya terbata-bata.
"Ta... tapi ... tapi ...
"
"siau-hiap Dengarkan penjelasanku "
"o, silakan katakan "
"sekarang kotak mas itu sudah menjadi milik siau-hiap. maka kami berempat masa berani kurang ajar, terpaksa kita segera pulang ke ping goan dilaut utara untuk memberi lapor, maka sekarang juga kita minta pamit"
Kata-kata terakhir ini betul-betul diluar dugaan Giok Liong, sesaat ia melengak lalu ujarnya .
"
Kalau majikan kalian memberi hukuman, aku menjadi sungkan kepada kalian."
"Kami berempat sudah puluhan tahun menghamba dibawah perintah majikan, baru pertama kali ini kita gagal menunaikan tugas, terpaksa memang harus minta hukuman kepada Majikan Permisi."
Habis berkata King thian-sin Lu say mengulapkan tangan mengajak tiga saudaranya, lalu membentak bersama.
"Mari "
Baru saja lenyap suara mereka, tahu-tahu Pak-hay su-lo sudah meluncur sejauh lima tombak.
Empat bayangan tinggi besar dan kekar itu sebentar lenyap ditelah kabut pagi yang masih pekat itu, mereka langsung menuju kearah timur dimana terdapat jalan keluar yang paling aman.
sungguh tiada suatu kejadian seperti hal ini yang membuat hati Giok- liong kegirangan, su-lo tinggal pergi begitu saja tanpa mencari perkara dengan dirinya, ini menambah hati Giok- liong semakin besar dan tabah, bertolak pinggang berdiri diatas batu bidang itu tangan kanannya terkepal diangkat tinggi-tinggi, mulutnya berseru lantang kepada para gembonggembong iblis.
"Masih ada siapa lagi, silakin taiipil kedepan unjukkan tampangmu."
"Lohu tak percaya ada berapa tinggi kemampuanmu menghadapi kita sekian banyak ini."
Tahu-tahu Cukong istana beracun ibun Hoat menggoyangkan pundak beranjak kedepan sepasang matanya memancarkan sinar kebencian yang kebirubiruan, seringainya kejam dan sadis.
"Lohu juga raga penasaran."
Seumpama bayangan ibun Hoat saja Yu-bing-khek-cu Li Peki yang juga tampil ke depan.
Bertaut alis Giok- liong, tanpa bergerak sepasang matanya menyapu pandang kearah ibun Hoat sekonyong-konyong ia mendongak dan bergelak tertawa, katanya sambil menunjuk Yu-bing-khek-cu Li Pek-yang.
"Li-khekcu, aku ada sepatah dua kata, setelah kukatakan barulah kita mulai." "Katakan."
Gerung Yu bing-khek cu LiPek-yang beringas. Belum berkata Giok- liong tertawa geli dulu, ujarnya .
"Khekcu, sebagai seorang Congcu dengan kedudukanmu yang tinggi itu kenapa kau terima menjadi ekor ibun Hoat berjalan dituntun hidungmu ?"
"Tutup bacotmu kau berani menghina aliran Yubing kita."
"Menghina ? Haha kenyataan terpapar didepan mata "
"Kenyataan apa ?"
"Coba kutanya Tempo hari waktu mengejar dan membututi aku yang rendah kenapa tidak begundal dari pihak Istana beracun yang tampil sebaliknya kau mengutus putrimu sendiri ? Ketahuilah putrimu seorang gadis remaja, masa disuruh berkelana menonjolkan diri ditonton orang di jalanan, apakah hal ini patut dipandang mata. Apa- lagi seumpama ia berhasil memperoleh seruling samber nyawakan bakal menjadi milik istana beracun, tiada manfaat bagi dirimu, sebaliknya kalau tidak berhasil, bukankah kau sendiri yang bakal mendapat malu"
"Tutup mulut."
Yu-bing-khek-cu semakin berjingkrak gusar. dengusnya.
"
Kembalikan putriku, maka diantara kita masih bisa dirundingkan secara damai, kalau tidak biar aku adu jiwa dengan kau."
Giok Liong tertawa lantang, ujarnya "Gampang Urusan ini gampang diselesaikan."
"Mana putriku ?"
"Pada hari Goan-siau tahun depan silakan kaujemput di Gak-yang lau."
"Apa benar ucapanmu ini ?" "Ma Giok-liong belum pernah membual Apalagi dihadapan sedemikian banyak orang aib sekali untuk berbohong."
"Betul ?"
"Legakanlah hatimu."
"Baik, biar Lohu menanti selama satu bulan ini, sampai saatnya pasti aku datang, seumpama sampai ke ujung langit kalau kau berbohong tentu Lohu takkan memberi ampun kepadamu."
"Baik, kita janjikan begitu saja, usiaku masih muda masa harus ingkar janji mendapat nama jelek dan dimaki orang."
Yu-bin khek-cu Li Pek-yang manggut-manggut, memutar tubuh ia berkata kepada Cukong istana beracun .
"ibun-heng Maaf siaute minta diri "
Cukong istana beracun ibun Hoat melengaki katanya tergagap.
"Li heng Kau..."
Li Pek-yang tertawa tawar, katanya .
"Demi keselamatan putriku, terpaksa aku harus mengundurkan diri, selamat bertemu"
Laksana bianglala tubuhnya meluncur tinggi terus melesat dan di belakangnya disusul oleh delapan belas Hek-i Tongcu serta beratus rasul bawahannya, tanpa bersuara mereka mengejar dan mengintil di belakang pemimpinnya.
Maka para gembong-gembong iblis yang mengepung Giok Liong kini tinggal separo dari jumlah semula mereka berpencar berkelompok di mana-mana, kekuatan mereka banyak berkurang.
Mimpi juga Giok-liong tidak sangka bahwa Yu bing khek cu begitu gampang di gebah pergi dengan beberapa patah kata saja, sudah tentu hatinya semakin girang dan lebih mantap.
Menghadapi Cukong istana beracun ibun Hoat ia berkata.
"sekarang kekuatan kalian sudan susut separo, apa kau masih menanti dewa elmaut mencabut jiwamu "
Cukong istana beracun murka sekali, makinya .
"
Keparat kau, Lohu bukan anak kecil yang berusia tiga tahun, masa gampang digertak dan dibujuk dengan kata-kata manis, jangan harap gertakanmu mempan terhadap aku "
Giok- liong menarik muka, desisnya.
"
Kalau begitu kau sengaja mencari penyakit sendiri."
"Buyung,"
Hardik Cukong istana beracun ibun Huat.
"
Kaulah yang mencari mampus"
Setelah berkata air mukanya mendadak berubah, uap biru lantas mengepul keluar dari seluruh badannya sepasang biji matanya memancarkan cahaya biru yang cemerlang seperti api setan, dimana ia menggerakkan ke dua lengannya keatas mulutnya memberi aba-aba.
"seluruh murid istana beracun dengar perintah"
Seketika terdengar tembang nyanyi yang gemuruh seperti suara kumbang yang terbang serabutan suaranya semakin keras dan lantang menusuk telinga, ibun Hoat bertembang.
"seluas-luas alam semesta, hanya akulah yang teragung."
Anak buah Istana beracun lantas menyahut dengan suara gemuruh menggeledek .
"I-bun cosu, lindungilah hambamu panjang umur."
Belum habis gerungan ramai ini sebuah suitan panjang yang mengejutkan seluruh maya pada ini laksana guntur menggelegar menggetarkan seluruh gunung.
Dalam sekejap mata saja seluruh anak buah istana beracun itu mumbul ketengah udara beterbangan semua mengambangkanjubah panjang warna hitam laksana dua sayap besar dan lebar semua berputar dan melambai-lambai seperti laba-laba besar, mulut mereka menyemburkan kabut biru yang amis memualkan beterbangan memenuhi angkasa.
"Lan-cu tok-yam"
Terdengar teriakan ketakutan dari gerombolan gembong iblis lain-nya, tersipu-sipu mereka mencelat mundurjauh lima tombak.
Waktu di puncak Go bi san dulu secara langsung Giok Liong sudah pernah berkenalan dengan Lan-cu- tok-yam ini, meski tidak merasa aneh lagi, tapi menghadapi ilmu jahat dan berbisa yang sudah menggempar kan Kangouw selama ratusan tahun ini betapapun ia harus berlaku hati-hati.
Dalam seribu kerepotannya segera ia merogoh kantongnya mengepalkan Kim-pit dan seruling samber nyawa, sinar kuning mas terpancar gemerlap laksana lembayung, demikian juga sinar perak cemerlang terang menyilaukan mata.
Dengan membekal seruling di tangan kiri dan potlot mas di tangan kanan, seluruh tubuh Giok-liong sudah diselubungi kabut putih nyata bahwa Ji-lo sudah terkerahkan seluruhnya.
Tiba-tiba dari atas batu nisan yang besar tinggi itu tubuhnya mencelat tinggi menerjang kedalam kabut Lan-cutok- yam yang berbisa itu dengan gerak tubuh yang sangat indah, yaitu Kio hwi-ih-thian (burung camar menjulang ke langit) Maka mulailah pertempuran maha dahsyat dan maha mengerikan, Terlihat diantara lautan kabut biru yang tebal bergulung-gulung itu terpancar sinar kuning dan lembayung putih yang berkelebatan selulup timbul laksana naga bermain didalam lautan.
Dimana sinar kuning menyambar tiba, kabut biru kontan sirna dan terdesak kesamping.
Akan tetapi anak buah istana beradu ini memang sudah gemblengan dalam ilmu aneh dan sesat meski setiap kali Potlot mas menghunjam mengenai sasarannya, musuh seketika melayang jatuh menggelegar di tanah tapi tak lama kemudian lantas bisa terbang lagi seperti tak terjadi sesuatu apa2 atas diri mereka.
Begitulah meski seruling dan Potlot mas Giok- liong sangat ampuhi namun musuh selalu patah tumbuh hilang berganti, seperti mereka takkan bakal dapat dimusnahkan.
Keruan lambat laun Giok- liong menjadi kewalahan dan gelisah, pikirnya cara bertempur begitu dahsyat dan seram sampai kapan baru bisa berakhir, sesaat ia menjadi kehilangan kontrol a ka n pemus ata n pikira nny a .
sementara itu anak buah istana beracun masih terus beterbangan berseliweran kian kemari menyambar-nyambar, gerak-gerik mereka semakin cepat dan penyerangan juga semakin gencar dan ganas, seluruh angkasa dipenuhi kabut biru yang bersuhu panas berbau busuk.
Kalau tidak mengandalJi-Io yang melindungi badan, seratus Giok Liong pun siang-siang sudah dilalap habis berubah genangan air darah kental.
sang surya sudah mulai menongol dari ufuk timur, sebentar lagi cuaca bakal terang benderang.
Mendadak tergerak hati Giok- liong seperti mendapat suatu ilham timbullah kecerdikan otaknya, segera Potlot mas dan seruling batu pualam digetarkan cepat sekaligus ia mainkan ilmu jan-hun-su-sek dengan dua senjata ampuh ini, seketika bertambah besar perbawa dan kekuatannya, kontan anak buah istana beracun kena terdesak mundur beberapa tombak jauhnya.
sedikit kelonggaran dan kesempatan ini digunakan baikbaik oleh Giok- liong, mendadak tubuhnya meluncur turun diatas batu nisan terus duduk bersila.
Perobahan tingkah laku yang mendadak dari Giok-liong ini bukan saja membuat heran dan tak mengerti para gembonggembong iblis yang menonton di pinggiran, seluruh anak buah Istana beracun juga tidak luput menjadi kejut dan heran, untuk sesaat mereka menjadi keder dan takut untuk menerjang maju lagi.
Giok Liong mengendalikan napas menarik hawa memusatkan seluruh tenaganya di pusar, Potlot mas segera disimpan kembali ke- dalam buntaiannya, dengan rona wajah yang wajar seperti tak terjadi apa-apa ia mendongak menghadapi anak buah istana beracun yang terlongo heran itu, katanya.
"Eh kenapakah kalian ?"
Sedikit bimbang lantas Cukong Istana beracun Ibun Hoat berteriak lantang.
"Jangan masuk perangkap bocah keparat itu, kembangkan ilmumu serbu bersama."
Seluruh anak buah istana beracun mengiakan dengan suara gemuruh, sekali lagi mereka kembangkan Lan cu-tok-yam terus terbang ke atas kepala Giok-liong, serbuan kali ini kelihatan lebih ganas dan lebih kejam.
Akan tetapi sedikitpun Giok Liong tidak bergeming dari tempat duduknya, hanya Ji-lo terus dikerahkan untuk mendesak mundur serbuan Lan-cu tok-yam yang berbisa itu.
sebentuk kabut putih berkembang dan berkepulan di sekitar tubuh Giok-liong yang duduk tenang bersila.