Kebetulan saat itu Ham-kang-it-ho Pek Su-in sudah melompat bangun dari duduk semadinya, matanya tajam mengawasi Ci-hu sin-kun tanpa berkata-kata, naga-naganya ia gentar menghadapi ancaman Pak-hay-su lo yang serius tadi.
ci-hu sin kun menjadi nekad, katanya sembari menepuk pundak Ham-kang-it-ho Pek su in .
"Pet-tocu silakan terjun "
"Coba siapa yang berani "
Gerung King-thian sin Lu say sembari mendelik, Ham kang- it-ho Pek su in maju mundur tak berani segera ambil keputusan. Ci hu-sin- kun murka, bentaknya.
"segala biar Lohu yang tanggung jawab,"
Tiba-tiba sekuatnya ia dorong tubuh Ham-kang-it-ho Pek su in dari belakang.
Tanpa kuasa tubuh Ham-kang it-ho Pek su ii lantas mencelat tinggi terus meluncur ketengah rawa.
Kalau dikata lambat kenyataan adalah sangat cepat, berbareng dengan mencelatnya tubuh Pek Su in serentak meluncurlah empat gelombang angincukulan yang miris sehingga hawa sekeliling terasa bergolak mem-buntak menggeledek.
Terdengar Pakhaysulo memaki bersama sembari melangkah setindak- "Berani mati"
"
Gempur"
"Blang"
"Pyaar"
Suara serangan mendebarkan hati, air muncrat kemana-mana, disusul bayangan orang bergerak-gerak.
"Aduh"
Teriakan panjang tersendat ditengah udara, sosok bayangan yang mencelat ketengah udara itu terpental tinggi disongsong empat jalur pukulan angin dahsyat itu.
Percikan darah muncrat keempat penjuru seperti hujan darah menyapu keseluruh gelanggang seketika hidung semua orang terangsang bau amis memuakkan.
Nyata tubuh Ham kang itho Pek Su in sudah tergetar hancur lebur dan menjadi ber-gedel terpukul oleh pukulan gabungan Pak-hay-su-lo yang hebat itu, kaki tangan dan tubuh serta kepalanya terbelah dan semua jatuh ke dalam air dan sebentar saja lenyap tak berbekas tertelan pusaran air yang deras itu.
Dalam pada itu, dengan menggertak gigi Cihu sin kun lancarkan sebuah hantaman memukul mundur King thian sin Lu Say.
Tanpa ketinggalan secara diam-diam Hiat hong pangcu juga mendorong kedua telapak tangannya dari belakang menggabiok punggung Ka liong Gi Hong.
Mimpijuga Ka liong Gi Hong tidak menduga apalagi kedua tangan tengah memukul kedepan, merintangi Kiam kang it-ho, seketika badannya terhuyung kedepan hampir terjerembab, tanpa ampun darah segar menyembur deras dari mulutnya terus menyemprot kedalam rawa, sungguh luka dalamnya bukan olah-olah beratnya.
Tepat pada saat itulah, bayangan hitam dalam selokan gelap dipinggir rawa seberang sana mulai bergerak semakin cepat.
"Plung."
Suara percikan air yang hampir tak terdengar, tahu-tahu seorang lak-laki pertengahan umur yang telanjang bagian atas tubuhnya sudah meluncur terjun kedalam pusaran air yang keras itu sedikitpun tidak memercikkan air atau mengeluarkan suara, laksana seekor ikan besar yang menggelengkan kepala mengalutkan ekor langsung selulup tenggelam dan dilain kejap telah menghilang di dasar air.
situasi di daratan sedang geger dan bertempur kacau balau, perhatian seluruh hadirin tertuju pada pertempuran kalut ini sehingga tiada satu orangpun yang melihat kejadian ini.
Adalah Giok-liong yang mengumpet di- rimbun dedaunan diatas pohon diam-diam tertawa tawar, bathinnya.
Kepandaian Te ou-sin-kun Ang TO bok biasa saja, namun otaknya cerdik dan banyak muslihatnya, dia ingin mengail ikan di air keruh pada saat yang genting dan kacau ini, dengan menuntun Ahliong- ong menyuruhnya terjun kedalam rawa, perhitungan waktu yang digunakan sungguh sangat tepat sekali.
Tepat pada dugaan Giok liong, tak jauh dimana tempat Ah liong ong meluncurkan tubuhnya terjun dalam air, di tempat yang gelap dan terlindung itu terlihat sepasang mata berkilat kebiru-biruan tengah berputar mengawasi permukaan air yang bergolak itu.
Hakikatnya dia mana tahu, seperti apa yang dikatakan "ceng coreng hendak menerkam tonggeret tak tahunya burung gereja sudah mengintip di belakangnya"
Tanpa pedulikan apapun juga secara diam-diam Giok liong gunakan kesempatan yang baik ini meluncur turun kearah tempat sembunyinya Ang TO bok, lalu pelan-pelan selangkah demi selangkah menghampirinya.
ilmu Ginkangnya sudah mencapai puncak tertinggi jauh melebihi kemampuan Ang Tobok sendiri seumpama malaikat dewata saja tahu-tahu ia sudah berada di belakang orang.
Apalagi situasi yang kacau balau diseberang sebelah sana karena pertempuran yang seru dan gemuruh itu Tampak Pakhay- su lo terkecung ditengah gelanggang.
sementara Ci hu sin kun bersama Ci hu ji lo bergabung dengan ratusan anak buah Hiat hong pang dengan sengit tengah melancarkan serangan yang serabutan, diantara mereka banyak yang bersenjata golok dan tombak serta senjata tajam lainnya, begitu gencar serangan mereka sehingga untuk waktu dekat Pak hay su-lo kena terdesak dibawah angin.
untung pihak istana beracun dan Gu-bing yang berkeliling dilapisan paling luar selalu membokong dan menyerang begitu ada kesempatan.
Mau tak mau pihak Hiat- hong-pa ng dan cihu- bun menjadi was-was karena harus berjaga dan menghadapi musuh dari dua jurusan.
Kalau tidak satu diantara Pak-hay su-lo sudah terluka parah, pastilah mereka bakal konyol dan hancur karena dikeroyok begitu banyak musuh.
Masih banyak lagi gembong-gembong iblis dari berbagai aliran lain yang-mandah menonton dan berpeluk tangan saja tanpa mau campur, seumpama menonton pertarungan dua harimau yang sama kuat.
Tapi ada juga yang sebelum ini sudah ada rasa dendam permusuhan lantas ikut menerjunkan diri ke pihak Hiat-hong pang atau Ci-hu bun, ada pula yang membantu pihak istana beracun dan sarang Hantu.
Yang sama dalam pertempuran kacau balau ini yaitu bahwa kedua belah pihak sama tidak Pertempuran sepenuh hati dan sepenuh tenaga.
sebab semua orang insyaf bahwa pertempuran ini melulu hanyalah sponsor pembunuhan besarbesaran yang bakal terjadi mendatang ini pertempuran adu jiwa yang benar- benar adalah saat perebutan buku catatan rahasia yang terpendam di dasar rawa itu nanti.
Maka pihak istana beracun tidak mau lancarkan ilmu Lan cu tok-yam yang ganas itu.
demikin juga pihak Ci-hu-bun tidak melancarkan Ci-hu-cin-kangnya.
Namun demikian pertempuran kalut ini sudah cukup menggemparkan, inilah merupakan pertempuran besarbesaran antara gembong-gembong iblis sendiri, pertempuran berdarah yang belum pernah terjadi selama ini.
Darah tergenang, bau amis merangsang hidung di sana sini terdengar dengan umpat caci dan bentakan saling susul diiringi jeritan yang menyayatkan hati sebelum ajal.
Dalam pada itu Giok- liong sudah menggeremet tiba di belakang Te-ou sin kun Ang To bok tidak lebih hanya tiga kaki saja jauh-nya, sekali ulur tangan saja cukup meranggehnya, namun sedikitpun Te ou-sin kun Ang To bok tidak insyaf atas ancaman elmaut ini, sepasang matanya berkilat mendelong mengawasi rawa tanpa berkedip.
seluruh perhatiannya dipusatkan kepermukaan air, tangannya memeluk segulung benang panjang yang terbuat dari urat kerbau, ujung benang yang dipeluknya itu terjulur masuk kedalam rawa.
Diam-diam Giok- liong merasa gemes dan geli pula, tahu dia atau muslihat Te-ou sin kun Ang To-bok ini.
Pasti dengan mulutnya yang manis ia menipu Ah-liong-ong yang tumpul otak dan tidak tahu seluk beluk hidup manusia di dunia ramai yang serba licik dan jahat dengan ujung benang halus dari urat kerbau itu ia mengikat tubuh Ah-liong-ong, sedang ujung yang lain dipegang ditangannya, dengan cara ini ia tidak usah kwatir Ah-liong-ong bakal terbang ke atas langit, Memang tipunya ini tepat sekali untuk menjaga supaya Ah- liong ong tidak melarikan diri setelah berhasil mengambil pusaka didasar rawa itu.
Terpikir sampai disini muak dan benci sekali perasaan ,Giok- liong terhadap pribadi Ang Tok-bok yang licik ini, timbul nafsu membunuh dalam kaIbunya, pelan-pelan ia tepuk pundak orang serta panggilnya perlahan dan tertekan .
"Ang To bok "
"ou "
Te-ou-sin kun Ang To-bok berangkat kaget, namun suaranya sirap seketika sebelum terlontar keluar dari mulutnya, karena dua jari tangan ,Giok- liong sudah menutuk tiba sembari menutuk .
"Kau sendiri yang cari mampus "
Sungguh kasihan Te ou-sin-kun Ang To-bok yang bersusah payah mengatur tipu muslihat mempermainkan Ah-liong-ong, sebelum ajal suaranyapun tak terdengar sama sekali, kedua tangannya masih erat-erat memeluk gulungan benang halus itu.
sekali tutuk Giok liong menutukjalan darah mematikan dipunggung Te ou-sin kun Ang Tok bok, lalu menyingkirkan jenazah-nya kesamping lalu ia sendiri menggeremet lebih maju sembunyi ditempat gelap.
dimana ia lebih terang memandang kearah rawa, benang gulungan itu kini berada di tempatnya.
Kini ganti Giok- liong sendiri yang mencurahkan perhatiannya kearah permukaan air, dasar kepandaiannya tinggi, betapapun bisa diketahuinya bahwa di belakangnya lapat-lapat terdengar suara desiran halus, nyata itulah seseorang tengah merangkak dan menggapai-gapai maju kearah dirinya.
Pendengaran kuping Giok liong sangat tajam, boleh dikata sudah mencapai kesempurnaan sesuai dengan bekal ilmu silatnya.
Begitu mendengar desiran halus itu, siang-siang ia sudah waspada, diam-diam hawa Ji lo sudah terkerahkan untuk melindungi badannya, sebelah tangan menggenggam gulungan benang sedang tangan kanan yang lain sudah bersiap-siaga untuk bertindak "Traki cres "
Itulah suara ketipan jari-jari tangan, suatu tanda atau isyarat umum bagi kawanan kaum persilatan saling memberi tanda dan berhubungan, nyata orang ini adalah kawan bukan lawan. Timbul rasa curiga dalam benak Glok-liong. Terdengar seseorang berkata.
"Siao-hiap Lo siu Le Siang-san, mari aku tuntun kau keluar dari gunung berbahaya ini."
"Apa menuntun aku keluar gunung?"
Tanya Giok Liong curiga.
Lan ing-mo-ko Le siang-san berbisik pelan "Timbul niat jahat dari Ciang- bun-jin Bu-ih-pay Im-yangkiam Go Beng-hui, ditempat-tempat penting jalan keluar dari seluruh pegunungan Bu-ih-san ini sudah dipendam banyak sekali dinamit dan bahan peledak lainnya.
tujuannya untuk membumi hanguskan seluruh gembong-gembong iblis yang mengobrak abrik sarangnya demi menuntut balas dendam.
Maka perlu kau ikut aku mencari jalan keluar yang selamat."