Tak lama kemudian King-thian-sin Lo say berseru lagi lebih keras.
"Kalian sudah dengar belum ?"
Cukong istana beracun ibun Hoat terkekeh, ujarnya.
"Dengar sih sudah dengar, tapi kata-katamu tentang pusaka itu sudah ada pemiliknya, itu apa maksudnya, apakah benda di dasar rawa itu adalah orang pihak Ping-goan di Pakhay sana yang meletakkan disana?"
Giok- liong bersorak dalam hati, tergerak benaknya, betul dan tepat sekali pertanyaan ini. Tak duga King-tian-sin Lu Say menjadi tak senang, ujarnya.
"Ibun Hoat, apa pedulimu tentang ini."
Tu-bing-khekscu Li Pek- yang sebera menimbrung.
"Ping-goan dilaut utara bisa turut campur urusan di Tionggoan sini, kenapa pihak Tionggoan kita tidak boleh mengurus urusan kita sendiri"
Li Hian menjadi murka bentaknya sambil mengacungkan kedua kepalannya.
"Li Pek yang, perhitungan antara kita dulu masih belum diselesaikan tutup mututmu, lekas cawat ekormu dan kabur pulang ke sarang iblismu, kalau tidak hm"
Gu bing-khekscu Li Pek- yang menyeringai sahutnya.
"Kau ini pesakitanku yang ku kurung selama puluhan tahun berani bertingkah disini, kalau Lohu tidak berbelas kasihan, mungkin..."
"Kau kentut apa."
Sebat sekali sosok tubuh Li Hian berkelebat tahu-tahu ia menerjang tiba dihadapan Gu-bing-khekscu, jarak mereka tidak lebih hanya lima kaki.
Cukong istana beracun Ibun Hoat seorang bandot tua yang licik penuh akal muslihatnya, mana sudi pihaknya cakarcakaran lebih dulu dengan pihak Ping-goan di laut utara yang dipelopori oleh Pak hay-su-lo bukankah melemahkan pihak sendiri juga menguntungkan bagi Ci hu-sin- kun dan Hiathong- pang.
Maka cepat-cepat ia tampil ke depan sembari melirik ke arah Gu bing-khek cu Li Pek- yang memberi isyarat, katanya.
"Nanti dulu Hari ini kita datang karena pusaka dalam dasar rawa itu, pertikaian pribadi yang lain lebih baik dikesampingkan dulu."
Lalu ia memutar tubuh menjura kepada King thian-sin serunya.
"
Urusan terjun kedalam rawa adalah menjadi tanggung jawab Ci husin kun kita beramai hanya sebagai penonton belaka, harap kalian suka berunding dengan siu-kun seorang cikal bakal yang di agungkan."
Kata-kata terakhir bernada menyindir, tujuannya adalah hendak memutar tujuan pokok menimpahkan kesulitan kepada orang lain, dalam hal ini adalah aliran Ci-hu dan Hiat- hongpang lah yang di maksud.
Betul juga segera King thian-sin Lu say turun dari gugusan tanah tinggi pelan-pelan beranjak ke pinggir rawa, katanya sembari soja kepada Ci-hu-sin kun.
"Ci-hu-bun sudah menggetarkan BuIim selama puluhan tahun, apakah sin- kun sudi menanamkan diri dalam pertikaian malam ini?"
Serius wajah Ci-hu-sin-kun, katanya.
"pusaka dunia persilatan yang sudah turun temurun merupakan tradisi bagi kaum persilatan untuk memperebutkannya, aliran Ci-hu-bun tidak akan ketinggalan dalam kebiasaan umum ini, dapat atau tidak memperolehnya nanti merupakan persoalan kedua, adalah keadilan dan kebenaran kaum persilatanlah yang harus ditegakkan dan dilindungi."
Ucapannya ini tiada juntrungannya yang menentu bukan mendebat tapi juga tidak mengakui. Malah setelah berkata Cihu- sin-kun lantas membalik tubuh menghadap Ham- kang- itho Pek su in katanya.
"Pek-tocu, silakan kau menyibukkan diri sekali lagi."
Ham-kang-it ho Pek su in mengunjuk rasa keberatan sesaat mulutnya terkancing. Dari samping Hiat- hong pangcu ikut membujuk.
"Pek-tocu sesudah sampai pada tahap sekarang lantas mengundurkan diri, bukankah sia sia belaka energi yang telah kita buang, sayang sekali,"
Akhirnya Ham- kang it-ho terbujuk juga, katanya mendehem sembari menghela napas.
"Menurut kebenarannya bukan hanya membekal Lwekang dari aliran lurus saja yang mampu terjun ke dalam air yang disayangkan..."
"Bagaimana?"
Tanya Ci hu-sin kun cepat-cepat.
"sayang sekali aku bukan jaka tingting, sebetulnya dengan kepandaian renang aku orang she Pek dan ketahanan dalam kebekuan dingin itu sekuatnya masih bisa mencapai tujuan, sayang aku tidak membekal TOng-cu kang (latihan lwekang seseorang yang belum pernah kawini, hawa murniku kurang kuat, mungkin aku akan mengecewakan belaka."
Mendengar penjelasan ini ci hu-sin-kun dan Hiat hong pangcu lantas mengunjuk seri tawa girang sebab harapan mereka menjadi bertambah tebal akan kemampuan Hamkang- it-ho terjun kedua kalinya ini.
Desak ci-hu sin-kun Kiong Ki.
"Kalau begitu, silahkan Pek-tocu mencoba sekali lagi, kalau benar benar tidak mampu, aku orang she Kiong tidak berani memaksa supaya Pek-tocu tidak menderita."
Sudah menjadikan kodrat alam bahwa watak manusia itu selalu lobha dan moha, kadang-kadang manusia menjadi korban akan ketamakan sifatnya sendiri tanpa disadari, sedari dulu kala entah sudah berapa banyak manusia yang hancur dan konyol karena rakusnya ini.
Demikianlah keadaan Ham- kang it ho Pek su-in, hatinya tergerak dan kecantol akan bujuk manis ini, sambil manggutmanggut ia menyahut.
"Baiklah aku orang she Pek secara suka rela mendharna baktikan tenaganya lagi."
Lalu ia bersila dan mulai semadi menghimpun tenaga dan semangat, hawa murni di pusatkan di pusar terus menimbulkan tenaga dalam yang mulai gairah.
Melihat dengan beberapa kata saja Ci-hu-sinkun tanpa menghiraukan dirinya.
King-thian-sin menjadi dongkol, apalagi orang tinggal bicara saja dengan Ham kang- it-ho, tanpa perdulikan mereka, keruan gemes dan jengkel hatinya, dengusnya.
"Siapa yang tidak tahu diri, silakan cicipi pukulan geledek kita bersama."
Lalu tanpa pandang kepada orang lain ia berkata kepada tiga saudaranya .
"Para adikku, berjaga masing-masing satu jurusan, begitu ada orang berani terjun ke air pukul saja dengan tenaga pukulan jarak jauh."
"Kami paham."
Sahut tiga saudara muda yang lain. serempak mereka bergerak bersamaan masing-masing menduduki satu kedudukan yang menguntungkan, nyata Pak
hay-su-lo sudah bertekad merintangi siaoa saja yang berani terjun ke air, dilihat dari sikap mereka nyata takkan segansegan mereka turun tangan sesuai dengan ancaman tadi.
Dengan kedipan mata Ci-hu-sin-kun memberi isyarat kepada Hiat- hong-pa ng-cu, Hiat- hong-pangcu manggutmanggut, paham akan maksudnya, pelan pelan ia angkat sebelah tangannya memberi aba-aba kepada anak buahnya yang berpencar di empat penjuru.
Di lain pihak atas kepala Ham- kang- it-ho sudah mengepulkan segulung uap putih yang semakin melebar dan meninggi, Para gembong-gembong iblis yang mengelilingi rawa naga beracun seiring dengan situasi yang meruncing gawat ini hati masing-masing semakin tebang.
Sekonyong-konyong diketahui oleh Giok liong di sela- cela semak gunung yang gelap di sebelah sana kelihatan rumput dan daun-daun pohon bergerak pelan dan lirih sekali, kalau tidak didengarkan dan diawasi secara cermat hampir tidak diketahui.
Bukan saja kejelian mata dan kuping Giok liong jauh melebihi orang lain, apalagi dari tempat gelap melihat ke tempat yang nyata, tempat sembunyinya diatas memandang kebawah lagi maka ia dapat melihat sangat jelas, diam diam ia membatin tentu ada seseorang yang menggeremet sembunyi disana.
Mendadak terdengar ci hu sin kun berteriak keras.
"Pakhay su lo, bagaimana juga biarlah Pek-tocu mencobanya sekali lagi"
King thian-sin Ln say menyahut lantang dan tegas.
"Tidak bofeh."
"yang terakhir saja."
"Betapapun tidak bisa"
Hiat hong pangcu tampil ke depan serta timbrungnya .
"Kalau kalian sendiri tidak mampu terjun ke air mengambil pusaka itu, kenapa merintangi orang lain, tindakan kalian bukankah keterlaluan dan tidak punya aturan."
Ka liong gi Hong menyeringai tawa, ujarnya .
"Dari mana kau tahu kita tidak mampu selulup ke air ?"
Jawaban Gi Hong ini kontan membuat seluruh hadirin terkejut.
Tergetar jantung ci hu sin kun, seketika berubah air mukanya.
sebab salah seorang Pak-hay-su-lo yang berjuluk Ka- liong Gi Hong justru melupakan seorang ahli bermain dalam air sesuai dengan nama julukannya, Ka- liong (ular naga) Lwekang dan latihan kepandaiannya nampaknya tidak dibawah kemampuan Ham- kang- it-ho Pet su-in.
Apalagi su lo berempat sama-sama jaka ting-ting belum pernah kawin, maka latihan Lwekang mereka adalah TOng-cu kang, syarat paling tepat untuk menyelam ke dasar rawa tanpa kwatir kedinginan atau tak kuat bertahan diri pusaran air besar itu.
Kepandaian mereka yang lihay dan tinggi ini sudah puluhan tahun kenamaan di seluruh dunia persilatan sebagai empat tokoh lihay seperti saudara sekandung sendiri.
Kalau menurut tutur kata Ham- kang- it-ho Pek su-in tadi.
justru Ka liong Gi Hong adalah calon yaag paling tepat untuk terjun ke air rawa mengambil kotak mas di mata air itu, seumpama segampang mereka mengambil sesuatu barang dari dalam kantongnya saja.
Kalau Pak hay-sulo sekarang tidak mau bekerja terang karena kwatir begitu Ka- liong Gi Hong berhasil dan keluar dari rawa bukan saja Lwekang dan tenaganya sudah terkuras habis takkan kuat lagi menahan serangan dari luar, terutama gembong-gembong silat lihay seperti Ci-hu sin kun dan lain
lain, paling tidak satu diantara saudaranya itu harus melindungi dirinya.
Paling banyak dua diantara Pak hay-su-lo mereka yang dapat berkelahi menandingi kerubutan sekian banyak musuh, dengan sendiri kekuatan mereka menjadi jauh lebih lemah, menang atau kalah menjadi sukar diramaikan.
Kalau sekarang mereka merintangi siapa saja yaag hendak terjun ke air, dengan gabungan kekuatan mereka berempat terang kemenangan bakal dipihak mereka.
Berpikir sampai disini, melihat situasi yang semakin gawat ini, hati Ci-hu sin- kun menjadi semakin gelisah.