Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 74

Memuat...

Dengan tangan kanannya Bun Beng menampar pedang itu dari samping dan telapak tangannya kini tepat mengenai pedang yang menempel pada telapak tangannya! Gadis itu berseru kaget, berusaha menarik kembali pedangnya namun sia-sia. Pedangnya melekat di telapak tangan pemuda tampan yang berdiri tenang memandangnya itu. Juga di bawah sinar bulan yang muncul setelah hujan berhenti tadi, gadis itu melihat tiga batang piauwnya berada di tangan kiri pemuda itu. Celaka, pikirnya! Yang datang adalah seorang tokoh Thian-liong pang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

"Mau apa lagi? Bunuhlah aku!"

Tiba-tiba gadis itu berkata penuh kebencian.

"Tenang dan sabarlah, Nona. Aku bukan orang Thian-liong-pang, sama sekali bukan!"

Nona yang usianya kurang lebih delapan belas tahun itu memandang penuh perhatian lalu membentak,

"Siapa mau percaya?"

Bun Beng tersenyum dan menghela napas, melepaskan pedang dan menyerahkan tiga batang piauw yang diterima oleh gadis itu dengan sambaran cepat seolah-olah ia khawatir kalau-kalau itu hanya siasat. Bun Beng menggulung lengan bajunya, dan berkata,

"Periksalah! Adakah gambar naga di lengan kananku? Bukankah kata orang, semua anggauta Thian-liong-pang dicacah lengan kanannya dengan gambar naga kecil?"

"Huh!"

Gadis itu mendengus setelah dia melirik juga ke arah kulit yang halus itu sehingga ia terheran mengapa pemuda halus itu dapat memiliki sin-kang yang demikian hebat,

"Kalau bukan anggauta Thian-liong-pang, agaknya engkau seorang yang lebih hina lagi, seorang jai-hwa-cat!"

Bun Beng mengangkat kedua alisnya dan dia memandangi pakaiannya.

"Aihhh! Jai-hwa-cat? Adakah tampangku seperti penjahat cabul? Dan pakaianku? Aih, engkau terlalu sekali, Nona. Ataukah engkau hanya main-main?"

"Kalau bukan jai-hwa-cat atau penjahat, mau apa tengah malam buta membuka genteng kamar orang dan mengintai ke dalam?"

Gadis itu menyerang dengan kata-kata sungguhpun dia gendiri mulai ragu-ragu apakah orang muda yang bersikap wajar dan halus ini seorang penjahat. Bun Beng tertawa.

"Salahku...., salahku....! Puas kau sekarang!"

Dia menunjuk hidung sendiri.

"Inilah upahnya kalau terlalu ingin memperhatikan orang lain! Terus terang saja, Nona, aku tadi sedang tidur nyenyak ketika terganggu.... eh, maaf, memang telingaku terlalu perasa, terlalu peka sehingga aku terbangun oleh tangismu. Aku menjadi curiga dan ingin sekali tahu mengapa di tengah malam buta ada wanita menangis. Aku hendak mengintai untuk melihat apa yang terjadi, sama sekali bukan berniat jahat, bolehkah aku mengetahui, mengapa kau menangis? Ahh, tentu ada hubungannya dengan Thian-liong-pang. Buktinya, engkau menyangka aku orang Thian-liong-pang...."

Bun Bang menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba wanita itu menangis terisak-isak!

"Eh, eh, bagaimana ini....? Salahkah omonganku sehlngga menyinggung perasaanmu?"

Gadis itu masih menangis lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bun Beng. Tentu saja Bun Beng menjadi bingung sekali, hendak mengangkat ba-ngun, merasa tidak pantas menyentuh tubuh seorang gadis.

"Eh, eh...., Nona. Bangkitlah, jangan begitu....!"

"Mohon maaf atas kesalahanku tadi.... dan mohon pertolongan Taihiap yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan Ayahku....."

"Aku bukan seorang Taihiap (pendekar besar), Nona. Akan tetapi aku berjanji akan menolong. Ayahmu mengapakah? Harap kau suka berdiri agar enak kita bicara."

Gadis itu bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.

"Nah, ceritakanlah apa yang terjadi,"

Kata pula Bun Beng. Kini sinar bulan makin terang dan tampak oleh pemuda ini betapa gadis itu amat manis wajahnya, wajah manis yang membayangkan kegagahan yang agak pudar oleh tangis tadi.

"Namaku adalah Ang Siok Bi...."

"Nama yang bagus...."

Tiba-tiba Bun Beng melihat sinar mata nona itu memandangnya tajam penuh kecurigaan dan alis yang hitam itu berkerut, maka teringatlah ia betapa tidak tepatnya ucapan yang tiba-tiba saja meluncur dari mulutnya itu karena ia kagum memandang wajah yang manis.

"Eh, maksudku.... teruskan ceritamu, Nona Ang...."

Sambungnya cepat-cepat dan gugup.

"Ayahku adalah Ang Thian Pa yang lebih dikenal dengan sebutan Ang Lojin, Ketua Bu-tong-pai...."

"Aihh! Kiranya Nona adalah puteri ketua partai besar, maaf kalau aku berlaku kurang hormat...."

Bun Beng memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan depan dada sambil membungkuk. Siok Bi, gadis itu biarpun baru berusia delapan belas tahun, namun dia sudah banyak merantau dan sebagai seorang pendekar wanita yang muda dan cantik, tentu dia banyak mengalami gangguan dan banyak mengenal sikap laki-laki. Maka kini alisnya berkerut ketika ia menyaksikan sikap Bun Beng yang agaknya sama sekali tidak mempedulikan ceritanya, melainkan tertarik dan kagum kepadanya! Tadi telah ia saksikan kelihaian pemuda itu dan timbul harapannya untuk minta pertolongannya, akan tetapi kini melihat sikap Bun Beng, dia mulai ragu-ragu jangan-jangan pemuda ini adalah seorang jai-hwa-cat yang bersikap halus dan yang sedang mempermainkannya!

"Taihiap, harap berterus terang saja. Engkau ini seorang pendekar yang suka mengulur tangan menolong orang yang sedang tertimpa malapetaka ataukah seorang dari kaum sesat?"

Bun Beng yang tadinya tersenyum dengan hati tertarik memperhatikan gerak-gerik dan terutama sekali gerakan bibir yang membuat wajah itu kelihatan amat manis, menjadi gelagapan mendengar pertanyaan itu. Dia tentu saja tidak sadar akan sikapnya sendiri karena memang tidak dibuat-buat. Selama bertahun-tahun dia berada di dalam kuil mempelajari ilmu, tiap hari hanya bergaul dan bertemu dengan para hwesio. Yang dilihatnya hanyalah muka para hwesio dengan kepala gundul, sama sekali tidak indah dalam pandangannya. Kini, sekali keluar mengembara bertemu dengan wajah begini manis, hati siapa tidak akan terpikat?

"Ang-siocia, ada apakah? Mengapa engkau kelihatan marah kepadaku?"

"Pandang matamu itulah!"

Mau tidak mau Siok Bi membuang muka dan kedua pipinya menjadi merah. Betapapun gagah wataknya sebagai pendekar wanita, namun dia masih seorang gadis remaja sehingga dia pun tidak terbebas daripada sifat wanita yang ingin dipuji dan dikagumi, apalagi oleh seorang pemuda setampan dan segagah Bun Beng!

"Pandang mataku? Aihhh.... apakah aku tidak boleh memandang? Kenapakah? Engkau aneh sekali, Nona. Baiklah aku akan memejamkan mata. Nah, teruskan ceritamu!"

Dan Bun Beng benar-benar memejamkan kedua matanya.

"Ketika ayahku dan aku melakukan perjalanan menuju ke Siang-tan, sampai di dalam hutan di luar kota ini kami berhenti dan beristirahat, yaitu pagi hari tadi."

Gadis itu berhenti bercerita. Bun Beng yang masih memejamkan matanya itu menanti sebentar, lalu sebagai komentar dia hanya bisa mengeluarkan suara,

"Hemmm....!"

Lalu menanti lagi, akan tetapi lanjutan ceritanya tak kunjung datang.

"Mengapa diam?"

"Agaknya Taihiap tidak menaruh perhatian, perlu apa kulanjutkan? Kalau Taihiap tidak sudi menolong, aku.... aku pun tidak mau memaksa."

Suara itu terdengar menjauh dan ketika Bun Beng membuka matanya, nona itu sudah ber-lari pergi! Sekali menggerakkan tubuhnya, Bun Beng sudah menyusul dan menghadang di depan Siok Bi.

Post a Comment