Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 73

Memuat...

Sendiri, menggunakan kesempatan selagi pemerintah kurang memperhatikan keadaan mereka karena pemerintah sendiri sedang sibuk menghadapi musuh kuatnya, yaitu pasukan-pasukan Mongol.

Pula, pemerintah juga mempunyai banyak kaki tangan di antara golongan kang-ouw ini sehingga mereka menyerahkan penguasaan keadaan kepada kaki tangan mereka yang dalam hal ini diwakili dan dipimpin oleh Koksu sendiri dengan para pembantunya yang lain! Namun yang lebih menonjol dan yang menggegerkan dunia persilatan adalah nama besar Thian-liong-pang yang kabarnya makin kuat saja sehingga tidak ada pihak yang berani main-main kalau bertemu dengan orang Thian-liong-pang. Bahkan banyak yang sudah menjadi jerih kalau mendengar nama Thian-liong-pang yang diketuai seorang wanita aneh berkerudung yang memiliki ilmu silat dahsyat. Banyak sudah ketua-ketua partai persilatan merasai kelihaian Thian-liong-pang. Banyak yang dikalahkan oleh tokoh-tokoh Thian-liong-pang, padahal ketuanya sendiri belum pernah maju, juga wakilnya dan para pelayan wanita yang kabarnya memiliki ilmu yang sukar dicari bandingnya!

Terdengar berita bahwa Thian-liong-pang mempunyai niat menggabungkan partai-partai persilatan di bawah naungan Thian-liong-pang, seolah-olah perkumpulan ini hendak menyaingi gerakan Pemerintah Ceng yang menaklukkan negara-negara tetangga yang takluk dan mengakui kedaulatannya serta berlindung di bawah naungannya dengan membayar upeti setiap tahun! Tentu saja niat ini menemukan banyak tentangan.Terutama partai-partai besar yang sudah berdiri ratusan tahun seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar, tentu saja mereka ini tidak sudi menjadi "anak buah"

Thian-liong-pang! Selagi dunia kang-ouw geger karena sepak terjang Thian-liong-pang, tersiar lagi berita yang menimbulkan heboh dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah muncul lagi.

Orang-orang Pulau Neraka dengan warna-warni muka mereka yang aneh menimbulkan kegoncangan di mana-mana karena mereka itu memang sengaja mendarat untuk menguji ilmu-ilmu mereka dengan tokoh-tokoh kang-ouw! Yang tetap tidak terdengar hanya Pulau Es. Tidak ada lagi orang kang-ouw melihat munculnya orang dari Pulau Es bahkan mendengar berita pun tidak, karena Pulau Es agaknya sudah memutuskan hubungan mereka dengan dunia luar pulau mereka bertahun-tahun. Di antara partai-partai persilatan besar yang heboh oleh berita-berita itu, Siauw-lim-pai sendiri tetap tenang-tenang saja. Memang Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, paling banyak cabang-cabangnya, paling banyak kuil-kuilnya, tersebar di mana-mana dan memiliki jumlah anak murid yang amat banyak pula.

Belum pernah ada partai lain berani mengganggu Siauw-lim-pai. Bahkan orang-orang Thianliong-pang agaknya juga tidak berani sembarangan main gila terhadap Siauw-lim-pai! Kalau toh terjadi bentrokan, hal itu hanya terjadi antara anak murid saja dan pihak Siauw-lim-pai yang memegang keras disiplin di antara anak muridnya, dengan biiaksana dapat memadamkan bentrokan-bentrokan kecil itu dengan menghukum anak murid sendiri yang melakukan pelanggaran. Pada waktu itu, yang menjadi Ketua Siauw-lim-pai adalah seorang hwesio tinggi besar berusia lima puluh lima tahun lebih berjuluk Ceng Jin Hosiang. Biarpun tubuhnya tinggi besar menyeramkan, namun wataknya halus dan hwesio tua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai banyak sekali, dan kitab-kitab kuno yang mengandung pelajaran ilmu-ilmu amat tinggi, sukar sekali dipelajari sehingga hanya sedikit saja yang mampu menguasai isinya. Ketika Kian Ti Hosiang masih hidup, dialah satu-satunya hwesio di Siauw-lim-pai yang benar-benar telah menguasai sebagian besar ilmu yang tinggi-tinggi dan sukar dipelajari itu. Kini, karena bakatnya dan menurut kepercayaan lingkungan Siauw-lim-pai, karena jodoh, ketua inilah yang dapat menguasai sebagian dari isi kitab-kitab suci dan rahasia itu. Sungguhpun belum dapat dibandingkan dengan Kian Ti Hosiang, namun setidaknya tingkat kepandaian Ceng Jin Hosiang jauh melampaui saudara-saudaranya, bahkan dia memiliki tingkat lebih tinggi daripada mendiang Ceng San Hwesio Ketua Siauw-lim-pai yang lalu.

Selain lihai ilmu silatnya dan tinggi ilmu batinnya, Ceng Jin Hosiang memiliki kewaspadaan. Pada suatu hari dia datang ke kuil cabang Siauw-lim-pai di mana Bun Beng bekerja sebagai pelayan. Melihat Bun Beng dia tertarik sekali, apalagi ketika mendengar bahwa anak itu adalah putera mendiang Siauw-lim Bi-kiam Bhok- Kim, seorang di antara Kang-lam Sam-eng segera Ketua Siauw-lim-pai ini menyuruh Bun Beng untuk ikut bersamanya ke kuil pusat Siauw-lim-pai. Ceng Jin Hosiang melihat bakat yang baik sekali, juga hati nuraninya membisikkan bahwa anak ini "berjodoh"

Dengannya, maka dia lalu mengam-bil Bun Beng sebagai murid. Selama delapan tahun dia menggembleng Bun Beng yang sebelumnya sudah menerima gemblengan dasar dari Siauw Lam Hwesio, maka tentu saja anak ini memperoleh kemajuan yang luar biasa.

"Bun Beng, kini tiba saatnya yang telah lama kau nanti-nanti dan baru seka-rang pinceng ijinkan, yaitu engkau boleh keluar dari kuil untuk meluaskan pengetahuan dan mengambil jalanmu sendiri tanpa kekangan dari peraturan di sini yang pinceng adakan,"

Kata Ketua Siauw-lim-pai yang duduk bersila dihadap muridnya yang ia panggil menghadap. Dapat dibayangkan betapa girang hati Bun Beng mendengar ini. Sudah lama sekali ia ingin untuk diperbolehkan keluar dari kuil, namun gurunya selalu melarang dan mengatakan belum tiba saatnya. Padahal semua ilmu yang diajarkan gurunya telah dipelajarinya semua.

"Terima kasih, Suhu. Sesungguhnya teecu merasa gembira sekali."

Hwesio tua itu mengangguk dan tertawa.

"Pinceng tahu dan tidak menyalahkan engkau. Usiamu sudah dua puluh dua tahun dan sebagai seorang pemuda, engkau yang tidak berbakat sebagai pendeta tentu bernafsu sekali untuk berkelana di dunia ramai. Kepandaianmu sudah mencapai tingkat lumayan, bahkan tidak ada ilmu yang kuketahui belum kuajar-kan kepadamu. Engkau hanya kurang pengalaman dan kurang matang latihan, akan tetapi kalau engkau rajin, dalam beberapa tahun lagi engkau sudah akan melampaui aku."

"Teecu berhutang budi kepada Suhu, semua kemajuan teecu adalah berkat bimbingan Suhu."

"Sudahlah, tidak perlu semua pujian itu. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting. Setelah engkau berhasil mempelajari ilmu dari pinceng, sudah menguasai ilmu-ilmu itu, lalu setelah engkau meninggalkan ini, semua ilmu yang kau kuasai itu hendak kau pergunakan apakah?"

Ditanya secara mendadak seperti itu, Bun Beng gelagapan! Yah, untuk apakah dia mempelajari semua ilmu itu dengan susah payah selama bertahun-tahun? Tiba-tiba teringat akan kematian Siauw Lam Hwesio, gurunya yang pertama, yang juga terhitung supek dari Ceng Jin Hosiang, maka dengan hati tetap ia menjawab,

"Ilmu yang teecu kuasai berkat bimbingan Suhu akan teecu pergunakan untuk mencari musuh-musuh mendiang Suhu Siauw Lam Hwesio dan membalas dendam kematiannya di tangan mereka!"

"Omitohud...., sudah kuduga engkau akan menjawab seperti itu. Akan tetapi engkau keliru kalau memiliki niat seperti itu, Bun Beng. Dan pinceng akan melarangmu meninggalkan kuil kalau seperti itu pendapat dan cita-citamu."

Bun Beng terkejut bukan main, cepat ia membungkuk sampai dahinya menyentuh lantai sambil berkata,

"Mohon maaf sebanyaknya, Suhu. Teecu bodoh dan mohon petunjuk Suhu bagaimana baiknya."

Hwesio itu tertawa.

"Kalau pinceng tahu bahwa kepandaian yang pinceng ajarkan kepadamu itu hanya akan kau pergunakan untuk membunuh orang, hanya untuk membalas dendam, sudah pasti pinceng tidak akan suka mengajarkannya. Tidak, Bun Beng. Menaruh dendam menimbulkan kebencian, dan kebencian melahirkan perbuatan-perbuatan kejam dan jahat! Orang gagah tidak boleh dipermainkan oleh perasaan pribadi, tidak boleh menjadi mata gelap karena dendam. Kalau kau bicara tentang dendam, mengapa kau tidak mendendam atas kematian Ayahmu dan Ibumu?"

Bun Beng tertegun. Tak pernah terpikirkan hal ini olehnya, apalagi setelah ia mendengar kata-kata Pendekar Siluman bahwa ayahnya adalah seorang datuk kaum sesat!

"Karena teecu tidak tahu bagaimana Ayah Bunda teecu tewas dan mengapa."

"Kalau kau tahu bahwa ayahmu dan ibumu mati terbunuh orang, apakah engkau juga akan mendendam dan akan mencari pembunuh mereka untuk kau balas dan bunuh pula?"

Bun Beng terkejut dan karena kini menyangkut kematian orang tuanya, tanpa ragu-ragu ia menjawab,

"Agaknya begitulah!"

"Baik, sekarang kau balaslah. Pinceng beri tahu siapa pembunuhnya. Ayahmu telah tewas dibunuh Ibumu, dan Ibumu juga tewas di tangan Ayahmu. Nah, bagaimana?"

Biarpun Bun Beng sudah menerima gemblengan lahir batin dan hatinya sudah kuat sekali, tidak urung mukanya berubah sedikit mendengar keterangan ini. Dia tidak mampu menjawab dan hanya menunduk, penuh pemasrahan kepada suhunya.

"Omitohud....! Seorang gagah tidak boleh menurutkan nafsu hati, melainkan harus selalu tenang seperti air telaga yang dalam. Jika pikiran tenang, maka nafsu tidak akan mudah mengganggu dan segala tindakan kita dapat dilakukan dengan tepat, menurutkan hasil pertimbangan pikiran dan akal budi. Sekarang kau melihat contoh tidak baiknya orang mendendam karena kematian orang tua atau pun guru. Orang tua maupun guru hanyalah manusia-manusia biasa. Bagaimana kalau kematian mereka itu dikarenakan perbuatan mereka yang jahat? Andaikata orang tuamu menjadi penjahat besar yang terbunuh oleh pendekar budiman, apakah engkau juga lalu mencari untuk membalas dendam kepada pendekar itu? Kalau demikian, engkau sama sekali bukan anak berbakti, melainkan sebaliknya karena engkau makin mencemarkan nama orang tua yang sudah cemar. Dan engkau bukan orang gagah karena engkau telah menyimpang dari hukum tak tertulis dalam jiwa orang gagah yaitu membela kebenaran! Karena itu, hapuskan dendam dari hatimu, sedikitpun tidak boleh ada sisanya. Kalau kelak engkau terpaksa membunuh orang-orang yang dahulu membunuh Supek Siauw Lam Hwesio karena engkau membela kebenaran dan karena mereka orang-orang jahat, hal itu lain lagi, bukan membunuh karena balas dendam."

Bun Beng cepat memeluk kaki gurunya.

"Ah, ampunkan teecu. Teecu jadi seperti buta, tidak melihat kenyataan itu, Suhu. Teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah Suhu."

"Aahhh, pinceng sebetulnya merasa perih di hati kalau bicara tentang bunuh-membunuh. Akan tetapi, kehidupan seorang gagah di dunia kang-ouw di mana terdapat kekacauan yang disebabkan orang-orang sesat, agaknya hal itu tidak dapat dicegah lagi. Kalau mungkin, Bun Beng, jauhilah perbuatan membunuh. Engkau akan lebih berjasa mengingatkan seorang sesat kembali ke jalan benar daripada membunuhnya. Nah, kiranya cukup. Hanya satu lagi pesan pinceng. Jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam perang, karena Siauw-lim-pai menentang perang. Dan jangan sekali-kali engkau melibatkan nama Siauw-lim-pai dengan permusuhan dengan pihak lain. Mengerti?"

"Baik Suhu, teecu akan mentaati perintah Suhu."

"Hemm...., kalau sampai kau langgar, agaknya pinceng sendiri yang akan turun tangan menghukummu, Bun Beng. Nah, berangkatlah dan hati-hatilah."

Bun Beng minta diri kepada semua hwesio di kuil, kemudian dia berangkat membawa bungkusan pakaian dan bekal sedikit perak, tanpa membawa senjata. Dengan memiliki kepandaian seperti tingkatnya sekarang, dia tidak membutuhkan senjata lagi. Setelah jauh meninggalkan kuil, Bun Beng teringat akan sepasang pedang yang disimpannya di puncak tebing tempat tinggal para bekas pejuang penyembah Sun Go Kong.

Juga kitab-kitab pelajaran Sam-po-cin-keng yang sudah dihafalnya dan yang sekarang secara diam-diam telah dilatihnya sampai mahir. Setelah dia menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dari Ceng Jin Hosiang, tidak sukar baginya untuk menyelami Sam-po- cin-keng dan dia tidak berani berterus terang kepada suhunya karena ilmu silat itu amat ganas dan pantasnya hanya dipelajari kaum sesat! Akan tetapi, hebat bukan main ilmu itu sehingga di luar pengetahuannya sendiri, kalau dia mempergunakan ilmu itu, agaknya Ceng Jin Hosiang sendiri belum tentu akan dapat menandinginya! Di dalam perantauannya ini, Bun Beng membuka telinga dan tiada bosannya dia bertanya-tanya tentang keadaan dunia kang-ouw. Dia terkejut sekali ketika mendengar akan sepak terjang kaum Thian-liong-pang yang katanya mulai menculik tokoh-tokoh penting dari partai-partai persilatan!

Juga dia mendengar akan munculnya tokoh-tokoh aneh dari Pulau Neraka yang sudah beberapa kali dahulu ia jumpai, maka diam-diam ia mengambil keputusan bahwa kalau dia bertemu dengan kaum Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, dia akan menentang mereka! Hatinya bersyukur ketika ia mendengar keterangan bahwa kini tidak ada terdengar pergerakan dari Pulau Es, tanda bahwa Pendekar Siluman benar-benar tidak mau mencampuri segala keributan itu. Juga heboh tentang Pedang Iblis dan kitab-kitab peninggalan Bu Kek Siansu yang lenyap, yang dahulu diperebutkan, kini tidak terdengar lagi. Yang amat menarik hatinya adalah perbuatan kaum Thian-liong-pang. Mengapa mereka itu menculik tokoh-tokoh kang-ouw, ketua-ketua partai untuk beberapa hari lamanya kemudian mereka itu dibebaskan kembali?

Apa yang tersembunyi di balik perbuatan aneh ini? Untuk mengambil sepasang pedangnya terlampau jauh, maka dia akan lebih dulu menyelidiki keadaan Thian-liong-pang dan kalau memang mereka itu melakukan penculikan-penculikan, hal ini akan ditentangnya. Inilah kewajiban pertama dalam perjalanannya sebagai seorang pendekar! Dalam perjalanannya menuju ke Thian-liong-pang dia bermalam dalam sebuah rumah penginapan di kota kecil Teng-li-bun. Dia telah melakukan perjalanan jauh dan perlu beristirahat. Niatnya akan bermalam di situ semalam, baru besok pagi akan melanjutkan perjalanan karena malam itu hujan membuat dia segan untuk bermalam di luar seperti biasanya dia bermalam di hutan atau di gubuk-gubuk sawah.

Dia ingin makan kenyang dan minum sedikit arak, kemudian tidur nyenyak dalam sebuah bilik tanpa gangguan. Akan tetapi menjelang tengah malam, telinganya yang amat terlatih mendengar suara isak tangis tertahan. Dia terbangun, memasang telinga dan mendapat kenyataan bahwa tangis itu adalah tangis seorang wanita yang ditahan-tahan, suaranya seperti tertutup bantal. Dia menjadi bingung. Tentu telah terjadi sesuatu yang membutuhkan pertolongannya. Akan tetapi yang perlu ditolong adalah seorang wanita, dan hari telah tengah malam, bagaimana mungkin dia boleh memasuki kamar seorang wanita? Dia sudah memasang telinga baik-baik dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang lain dalam kamar sebelah itu, hanya si wanita yang menangis.

Karena suara isak tertahan itu seperti menggelitik hatinya, Bun Beng tak dapat menahan lagi lalu membuka jendela kamar dan tubuhnya melesat keluar jendela terus melayang ke atas genteng. Dia berniat untuk mengintai dari atas dan melihat apakah yang terjadi dan mengapa wanita itu menangis. Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak ada suara terdengar ketika ia melayang ke atas genteng sehingga tidak mengganggu para tamu rumah penginapan. Dia membuka genteng di atas kamar sebelah dengan hati-hati sekali. Akan tetapi baru saja dia menjenguk ke dalam dan melihat seorang wanita muda rebah di atas pembaringan, tiba-tiba lilin di kamar itu padam dan dia mendengar bersiutnya angin senjata rahasia dengan cepat dan kuat serta tepat sekali menyambar ke arah lubang genteng!

"Ciut-ciut-ciuutt!"

Tiga batang piauw menyambar dan berturut-turut Bun Beng menangkap tiga batang piauw itu dengan tangan kirinya.

"Bangsat Thian-liong-pang, aku akan mengadu nyawa denganmu!"

Terdengar suara wanita memaki disusul menyambarnya sesosok tubuh ke atas dan lubang itu jebol ditabrak seorang gadis yang berpakaian serba kuning. Gerakan gadis itu cepat dan ringan sekali, kini sudah berdiri di depan Bun Beng dengan pedang di tangan dan langsung mengirim tusukan ke arah dada Bun Beng.

"Wuuuttt.... plakkk!"

Post a Comment