Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 68

Memuat...

Tiba-tiba wanita itu membentak, suaranya merdu namun dingin dan mengandung getaran kuat. Tan-siucai sadar bahwa wanita ini agaknya memang sengaja hendak menentangnya maka ia membusungkan dada dan menudingkan telunjuknya.

"Aihh, kiranya engkau hendak menentangku, ya? Sungguh berani mati. Engkau tidak tahu aku siapa? Awas, kalau aku sudah marah, tidak peduli lagi apakah engkau wanita atau pria, berkerudung atau tidak, sekali bergerak aku akan mencabut nyawamu!"

Wanita berkerudung itu mendengus penuh hinaan,

"Siapa takut padamu? Tentu saja aku tahu engkau siapa. Engkau adalah seorang yang tidak waras, berotak miring yang menakut-nakuti seorang anak perempuan. Kalau aku tidak ingat bahwa engkau adalah seorang gila, apakah kau kira tidak sudah tadi-tadi kupukul kau sampai mampus? Nah, pergilah. Aku memaafkanmu karena engkau gila dan tinggalkan anak ini."

Tan-siucai sudah lenyap kegilaannya dan ia marah sekali.

"Engkau yang gila! Engkau perempuan lancang, hendak mencampuri urusan orang lain dan engkau memakai kerudung penutup muka. Hayo buka kerudungmu dan lekas minta ampun kepadaku!"

"Agaknya selain gila, engkau pun sudah bosan hidup. Nah, mampuslah!"

Tiba-tiba wanita berkerudung itu menerjang maju dengan cepat sekali, tahu-tahu tangannya sudah mengirim totokan maut ke arah ulu hati Tan-siucai. Tan-siucai telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun dia terkejut sekali karena maklum bahwa totokan itu dapat membunuhnya dan bahwa gerakan wanita itu selain cepat seperti kilat juga mengandung sin-kang yang luar biasa! Dia tidak berani main-main lagi, tahu bahwa lawannya adalah seorang pandai, maka cepat ia menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga.

"Desss!"

Tubuh Tan-siucai terguling saking hebatnya benturan tenaga itu dan ia cepat meloncat bangun sambil mengirim serangan balasan penuh marah.

"Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian!"

Wanita berkerudung itu berseru dan menyambut pukulan Tan-siucai dengan sambaran tangan ke arah pergelangan lawan. Tan-siucai tidak mau lengannya ditangkap maka ia menghentikan pukulannya dan tiba-tiba kakinya menendang, sebuah tendangan yang mendatangkan angin keras mengarah pusar lawan.

"Wuuuttt!"

Wanita itu miringkan tubuh membiarkan tendangan lewat dan secepat kilat kakinya mendorong belakang kaki yang sedang menendang itu. Gerakan ini amat aneh dan Tan-siucai tak dapat mengelak lagi. Kakinya yang luput menendang itu terdorong ke atas, membawa tubuhnya sehingga ia terlempar ke atas seperti dilontarkan.

"Aiiihhh....!"

Tan-siucai berteriak akan tetapi wanita itu kagum juga menyaksikan betapa lawannya yang gila itu ternyata memiliki gin-kang yang tinggi sehingga mampu berjungkir balik di udara dan turun ke tanah dengan keadaan kakinya tegak berdiri. Adapun Tan-siucai yang makin kaget dan heran menyaksikan gerakan wanita berkerudung itu, teringat akan sesuatu dan membentak,

"Aku mendengar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah...."

"Akulah Ketua Thian-liong-pang!"

Wanita itu memotong dan menerjang lagi, gerakannya cepat sekali sehingga sukar diikuti pandang mata dan Tan-siucai terpaksa meloncat mundur dengan kaget.

"Singggg....!"

Tampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu tangan Tan-siucai telah mencabut pedang hitamnya, tampak sinar hitam bergulung-gulung dengan dahsyatnya. Diam-diam Ketua Thian-liong-pang itu kaget dan heran.

Bagaimana tiba-tiba muncul seorang siucai gila seperti ini padahal di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar namanya. Namun dia tidak gentar sedikitpun juga. Dia maklum bahwa tingkat kepandaian siucai tampan yang gila ini amat tinggi, akan tetapi tidak terlampau tinggi. Maka ia pun menghadapinya dengan kedua tangan kosong saja. Tubuhnya berkelebatan menyelinap di antara sinar pedang hitam dan mengirim pukulan sin-kang bertubi-tubi sehingga hawa pukulan itu saja cukup membuat Tan-siucai terhuyung mundur dan kacau permainan pedangnya! Ketika dengan rasa penasaran ia membabat kedua kaki wanita itu, Ketua Thian-liong-pang mencelat ke atas, ujung kakinya menendang tenggorokan lawan, Tan-siucai miringkan kepala dengan kaget sekali.

"Aduhhh....!"

Ia menjerit dan roboh terguling-guling, tulang pundaknya yang tersentuh ujung sepatu wanita terasa hendak copot, nyeri sampai menusuk ke jantung rasanya.

"Pangcu dari Thian-liong-pang, lihat baik-baik siapa aku! Engkau takut dan lemas, berlututlah!"

Tiba-tiba Tan-siucai menuding dengan pedangnya, melakukan ilmu hitamnya, untuk menguasai semangat dan pikiran lawannya melalui gerakan, suara dan pandang matanya. Namun, Ketua Thian-liodg-pang itu memakai kerudung di depan mukanya sehingga tidak dapat dikuasai oleh pandang matanya, adapun suaranya yang mengandung getaran khi-kang hebat itu masih kalah kuat oleh sin-kang lawan. Kini wanita itu tertawa merdu, ketawa yang bukan sembarang ketawa karena suara ketawanya digerakkan dengan sin-kang dari pusar sehingga membawa getaran yang amat kuat. Gelombang getaran ini menyentuh hati Tan-siucai sehingga dia ikut pula tertawa bergelak di luar kemauannya. Mendengar suara ketawanya sendiri, Tan-siucai terkejut dan cepat ia menindas rasa ingin ketawa itu, pedangnya membacok dari atas!

"Manusia berbahaya perlu dibasmi!"

Tiba-tiba Ketua Thian-liorg-pang itu berkata dan tangan kirinya bergerak dari atas, ketika pedang itu tiba ia menjepit pedang dari atas dengan jari tangannya yang ditekuk! Bukan main hebatnya ilmu ini yang tentu saja hanya mampu dilakukan oleh orang yang kepandaiannya sudah tinggi sekali dan sin-kangnya sudah amat kuat. Tan-siucai terkejut, berusaha menarik pedang namun pedang itu seperti dijepit oleh tang baja dan sama sekali tidak mampu ia gerakkan. Saat itu Ketua Thian-liong-pang sudah menyodokkan jari-jari tangan kanannya ke arah perut Tan-siucai yang kalau mengenai sasaran tentu akan mengoyak kulit perut!

"Aiihhhh....!"

Tiba-tiba Ketua Thian-liong-pang itu memekik, pekik seorang wanita yang terkejut dan ngeri, kemudian tubuhnya meloncat jauh ke belakang, sepasang mata di balik kerudung itu terbelalak. Tan-siucai yang tadinya sudah hilang harapan dan maklum bahwa dia terancam bahaya maut, menjadi kaget dan girang sekali melihat wanita sakti itu meloncat mundur, tidak jadi membunuhnya. Saking girangnya, gilanya kumat dan ia meloncat pergi sambil tertawa-tawa,

"Ha-ha-ha, engkau tidak tega membunuhku, ha-ha-ha!"

Ketua itu masih bengong dan membiarkan Si Gila pergi. Tentu saja dia tadi meloncat ke belakang bukan karena tidak tega membunuh Tan-siucai, melainkan ketika tangannya hampir mengenai perut lawan, tiba-tiba ada sinar putih yang luar biasa keluar dari balik jubah bagian perut. Sinar putih ini mengandung hawa mujijat sehingga mengagetkan Ketua Thian-liong-pang yang maklum bahwa sinar yang mengandung hawa seperti itu hanyalah dimiliki sebuah pusaka yang maha ampuh!

Post a Comment