"Kwi Hong! Apa yang kau lakukan ini?"
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Suma Han telah berada di situ. Melihat pamannya, seketika lenyap kemarahan dari hati Kwi Hong, terganti rasa takut.
"Paman, kami hanya main-main...."
"Main main?"
Suma Han memandang Bun Beng yang telah bangun dan mengebut-ngebutkan pakaiannya yang kotor. Juga Milana telah bangun dan memandang dengan wajah tenang.
"Karena menganggur, kami berlatih silat."
Kata pula Kwi Hong.
"Hemm...."
Suma Han tetap memandang Bun Beng dan Milana penuh selidik. Melihat sikap pendekar itu dan melihat betapa Kwi Hong ketakutan, Bun Beng lalu cepat berkata.
"Kami hanya berlatih."
Milana juga berkata,
"Kwi Hong hanya melatih saya, Suma Taihiap."
Suma Han mengerutkan keningnya, wajahnya yang biasanya sudah muram itu kini tampak seolah-olah ada sesuatu yang mengesalkan hatinya. Tanpa menjawab ia lalu meloncat dan tubuhnya berkelebat memasuki pondok. Kwi Hong memandang kepada Bun Beng dan Milana, kemudian dengan suara penuh penyesalan berkata,
"Maafkan aku, kalian baik sekali."
Tiba-tiba terdengar bunyi lengking keras dari dalam pondok dan tubuh Suma Han meloncat keluar, tahu tahu sudah tiba di dekat mereka bertiga, matanya mengeluarkan sinar marah ketika ia menegur.
"Kalian tidak melihat orang datang ke pondok?"
Tiga orang anak itu memandang Suma Han dengan heran, kemudian menggeleng kepala, Suma Han menghela napas panjung.
"Kalian hanya bermain main saja, sedangkan sepasang garuda dibunuh orang dan pedang pusaka lenyap dari pondok."
Tiga orang anak itu terkejut bukan main,
"Pek eng dibunuh....?"
Kwi Hong bertanya dan suaranya terdengar bahwa dia menahan tangisnya.
"Mati terpanah. Tidak mudah kedua burung itu dipanah, tentu pemanahnya seorang yang berilmu tinggi. Dan selagi kalian main main, pedang pusaka dicuri orang."
"Kakek Nayakavhira....?"
Tanya Milana.
"Dia telah meninggal dunia."
"Ohh! Dia dibunuh?"
Bun Beng berteriak kaget. Suma Han menggeleng kepala.
"Dia mati selagi bersamadhi. Sungguh celaka, ada orang berani mempermainkan aku secara keterlaluan. Kalian di sini saja, jangan main main, bantu aku pasang mata, lihat lihat kalau ada orang. Aku akan memperabukan jenazah Nayakavhira."
Suma Han lalu membakar pondok itu setelah menumpuk sisa kayu bakar ke dalam pondok dan meletakkan jenazah kakek yang masih bersila itu di atasnya.
Pondok terbakar oleh api yang bernyala nyala besar. Suma Han berdiri tegak memandang, dan tiga orang itu juga memandang dengan hati kecut. Sungguh tidak mereka sangka terjadi Hal-hal yang demikian hebat. Selain dua ekor burung garuda terbunuh orang, juga pedang pusaka yang dibuat sedemikian susah payah itu dicuri orang dari pondok tanpa mereka ketahui sama sekali. Timbul pe-nyesalan besar di dalam hati Kwi Hong karena andaikata dia tidak memaksa Bun Beng dan Milana bertempur, tentu mereka lebih waspada dan dapat melihat orang yang memasuki pondok dan mencuri pedang pusaka.
Andaikata mereka bertiga tidak dapat mencegah pencuri itu melarikan pedang, sedikitnya mereka akan dapat menceritakan pamannya bagaimana macamnya orang yang mencuri pedang. Sekarang pedang tercuri tanpa diketahui siapa pencurinya! Keadaan di situ menjadi sunyi sekali karena Suma Han dan tiga orang anak itu tidak bergerak, memandang pondok yang dibakar. Hanya suara api membakar kayu terdengar jelas mengantar asap yang membubung tinggi ke atas. Tiba-tiba tiga orang anak terkejut ketika mendengar suara ketawa melengking yang menggetarkan isi dada mereka. Pantasnya iblis sendiri yang mengeluarkan suara seperti itu, yang datang dari timur seperti terbawa angin, bergema di sekitar daerah itu. Lebih kaget lagi hati mereka bertiga ketika melihat tubuh Suma Han berkelebat cepat dan lenyap dari situ, meninggalkan suara perlahan namun jelas terdengar oleh mereka.
"Kalian tinggal di sini, jangan pergi!"
Selagi tiga orang itu bengong saling pandang dengan muka khawatir, tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dan berkelebat bayangan orang. Tahu tahu di situ muncul seorang laki laki yang berwajah tampan, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian seperti siucai dan di punggungnya tampak sebatang pedang. Melihat munculnya orang yang tertawa-tawa ini, Bun Beng memandang penuh perhatian dan dia melihat sebatang pedang bersinar putih tanpa gagang terselip di ikat pinggang orang itu. Anak yang cerdik ini segera dapat menduga bahwa tentu orang ini mencuri pedang, dan pedang bersinar putih yang terselip dan ditutupi jubah namun masih tampak sedikit itu adalah pedang pusaka yang dicurinya.
"Engkau pencuri pedang!"
Bentaknya marah dan tanpa mempedulikan sesuatu, Bun Beng sudah menubruk ke depan. Akan tetapi sebuah tendangan tepat mendorong dadanya dan ia roboh terjengkang.
"Ha ha ha! Memang aku yang mengambil pedang pusaka. Dan siapa di antara kalian berdua yang menjadi murid perempuan Pendekar Siluman?"
Kwi Hong yang mendengar pengakuan itu sudah menjadi marah sekali. Inilah orangnya yang membikin kacau dan membikin marah gurunya atau pamannya, pikirnya. Ia bergerak maju sambil membentak,
"Aku adalah murid Pendekar Super Sakti! Maling hina, kembalikan pedang!"
Akan tetapi sambil tertawa-tawa, laki laki tampan itu membiarkan Kwi Hong memukulnya dan ketika kepalan tangan gadis cilik itu mengenai perutnya, Kwi Hong merasa seperti memukul kapas saja. Ia terkejut, akan tetapi tiba-tiba lengannya sudah ditangkap, tubuhnya dikempit dan sambil tertawa laki laki itu sudah meloncat dan lari pergi.
"Tahan....!"
Milana berseru dan meloncat ke depan, akan tetapi sekali orang itu mengibaskan lengan kirinya, tubuk Milana terpelanting dan roboh terguling. Bun Beng sudah bangkit lagi, tidak peduli akan kepeningan kepalanya dan dia mengejar secepat mungkin. Namun, laki-laki itu berloncatan cepat sekali dan sudah menghilang. Bun Beng teringat akan suara ketawa dari arah timur tadi, maka dia lalu mengejar ke timur. Milana merangkak bangun, menggoyang goyang kepalanya yang pening. Ia mengangkat muka memandang, akan tetapi tidak tampak lagi laki laki yang menculik Kwi Hong, juga tidak tampak bayangan Bun Beng. Dia menduga tentu Bun Beng melakukan pengejaran, maka dia pun meloncat bangun dan mengejar ke timur karena seperti Bun Beng, dia tadi mendengar suara ketawa dari timur.
Tentu saja baik Bun Beng maupun Milana tertinggal jauh sekali oleh laki-laki yang menculik Kwi Hong karena orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga kedua orang anak itu selain tertinggal juga masing-masing melakukan pengejaran secara ngawur tanpa mengetahui ke mana larinya si penculik dan pencuri pedang itu. Penculik berpakaian sasterawan itu bukan lain adalah Tan Ki atau Tan-siucai yang sudah miring otaknya! Setelah berhasil membunuh Im yang Seng cu yang dipersalahkan karena Im yang Seng-cu tidak membalas dendam dan membunuh Pendekar Siluman, Tan siucai bersama gurunya yang aneh dan amat lihai itu lalu melanjutkan perjalanan mencari Pendekar Siluman yang kabarnya menjadi To cu Pulau Es. Secara kebetulan sekali, ketika mereka berjalan di sepanjang pesisir lautan utara untuk menyelidiki di mana adanya Pulau Es, pada suatu hari mereka melihat dua ekor burung garuda putih beterbangan.
"Guru, bukankah burung-burung itu adalah garuda putih yang amat besar-besar. Seperti kita dengar, tunggangan Suma Han juga burung garuda putih. Siapa tahu burung-burung itu adalah tunggangannya?"
Kata Tan siucai.