Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 63

Memuat...

"Trak! Trak!"

Kakek muka kuning berseru kaget ketika tiba-tiba bambu yang menyambung kedua kakinya itu patah disambar dua buah kerikil, dan seruannya ini pun sebagian karena dia mengenal Pendekar Siluman yang biarpun belum pernah dijumpainya,

Akan tetapi sudah banyak didengarnya. Ia cepat meloncat turun sebelum terbanting jatuh karena kedua bambunya patah, kemudian dia meloncat-loncat jauh melarikan diri tanpa menengok lagi. Melihat itu, Kwi Hong tertawa dan bersorak. Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti bersorak ketika melihat gajah besar itu terhuyung dan roboh ke depan, membawa tubuh kakek bersorban ikut roboh! Tubuh Suma Han melesat ke depan bagaikan seekor burung garuda dan dia sudah berhasil menyambar tubuh kakek bersorban itu dari bahaya terbanting dan tertindih tubuh gajah yang kini berkelojotan lalu diam, tak bernyawa lagi. Dan dengan kaget Suma Han mendapat kenyataan bahwa kakek bersorban itu ternyata lumpuh kedua kakinya!

"Ah, gajahku yang baik, engkau mendahuluiku?"

Kakek itu mengeluh, kemudian berkata kepada Suma Han.

"Orang muda yang gagah perkasa, turunkanlah aku."

Suma Han menurunkan kakek itu yang kedua kakinya amat kecil dan selalu bersilang. Kakek itu duduk di atas tanah, wajahnya pucat dan napasnya terengah,

"Gajah itu.... dia memang sudah sakit.... dia menderita karena lelah.... melakukan tugasnya sampai mati. Akan tetapi aku.... ah, aku pun hampir mati akan tetapi tugasku jauh daripada selesai....! Aku hampir kehabisan tenaga saking lelah, perjalanan ini terlalu jauh untuk orang setua aku, dan tadi.... terpaksa aku mengerahkan tenaga dalam yang amat kuperlukan untuk kesehatanku. Aihhh, orang muda perkasa, sinar matamu membuktikan bahwa engkau bukan manusia biasa. Siapakah engkau yang begini lihai?"

"Kakek yang baik, aku adalah penghuni Pulau Es...."

"Hah? Pendekar Super Sakti? Pendekar Siluman To cu dari Pulau Es? Ya Tuhan, kalau engkau mempertemukan hamba dengan dia ini untuk melanjutkan tugas hamba, hamba akan mati tenteram!"

Suma Han mengerutkan alisnya,

"Kakek, siapakah engkau dan urusan apa yang membuatmu susah payah melakukan perjalanan begitu jauh?"

"Aku Nayakavhira.... aku keturunan dari Mahendra pembuat Sepasang Pedang Iblis.... adikku, Maharya telah mendahuluiku untuk mencari sepasang pedang itu. Kalau terjatuh ke tangannya, akan gegerlah dunia dan terancamlah banyak nyawa manusia! Aku.... aku berkewajiban untuk merampas dan memusnahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi.... aku tidak sanggup lagi.... ahh, Pendekar Super Sakti, engkau tolonglah aku...."

Kembali Suma Han mengerutkan alisnya.

"Bagaimana aku harus menolongmu, Nayakayhira?"

"Senjataku ini.... terbuat dari logam yang akan menandingi dan mengalahkan Sepasang Pedang Iblis. Akan tetapi karena bentuknya seperti ini, tidak akan ada orang di sini yang dapat memainkannya. Akan kubuat menjadi pedang.... biarlah kelak kau berikan kepada siapa yang berjodoh untuk menindih dan menaklukkan Sepasang Pedang Iblis.... kau bantulah aku.... buatkan pondok, perapian.... aku tidak kuat lagi, engkau tolonglah aku, buatlah sebatang pedang dari senjataku ini...."

Suma Han mengangguk angguk. Tidak disangkanya bahwa sepasang pedang yang dahulu dia tanam bersama jenazah kakek dan nenek yang saling bunuh, akan mendatangkan urusan begini hebat!

"Aku suka menolongmu, akan tetapi aku tidak bisa membuat pedang."

"Aku adalah ahli membuat pedang.... seperti nenek moyangku.... aku yang akan memberi petunjuk, engkau yang membuat. Tolonglah.... Taihiap.... demi.... demi perikemanusian!"

"Kakek yang baik, biarlah aku membantumu!"

Tiba-tiba Bun Beng meloncat maju mendekati kakek itu. Kakek bersorban itu membelalakkan mata memandang Bun Beng dengan heran, Suma Han menengok. Dia sudah tahu akan kehadiran kedua orang anak itu akan tetapi karena terjadi perkara besar, dia lebih mementingkan kakek itu dan belum menanya dua orang anak yang datang di tempat itu secara aneh. Kini melihat sikap anak laki laki itu, diam diam ia memperhatikan dan menjadi kagum. Di lain pihak, ketika melihat sinar mata Pendekar Siluman itu ditujukan kepadanya dan mereka bertemu pandang, kuncuplah hati Bun Beng dan otomatis dia menjatuhkan diri berlutut.

"Siapakah engkau?"

"Paman, dia adalah anak laki laki yang telah menolongku ketika aku dikeroyok rajawali. Bocah dalam keranjang!"

Suma Han makin tertarik. Kwi Hong sudah menceritakan betapa ketika Kwi Hong diserang putera Lulu dengan rajawali dan dikeroyok muncul seekor burung rajawali yang mencengkeram keranjang berisi seorang anak laki laki yang membantunya dengan memukul rajawali itu sehingga cengkeraman rajawali terlepas dan keranjang bersama anak itu jatuh ke laut! Kini tiba-tiba anak itu muncul dan dengan suara yang mengandung kesungguhan menawarkan jasa baiknya hendak membantu Si Kakek India membuat pedang. Bukan main!

"Siapa namamu?"

Tanyanya, dalam suaranya terkandung rasa sayang karena dia melihat suatu yang luar biasa pada diri anak laki laki ini.

"Saya adalah anak yang dahulu ditolong oleh Taihiap dari dalam kuil tua tepi Sungai Fen ho di lembah Pegunungan Tai hang san dan Lu liang san...."

Suma Han benar benar terkejut sehingga ia bangkit berdiri.

"Kau....?" "Benar, Taihiap. Saya adalah Gak Bun Beng."

Suma Han menarik napas panjang dan menengadah ke langit. Benar benar amat luar biasa pertemuan ini!

"Di mana suhumu Siauw Lam Hwesio?"

"Suhu.... telah meninggal dunia, terbunuh oleh Im kan Seng jin Bhong Ji Kun, Thian Tok Lama, Thai Li Lama, dan Bhe Ti Kong panglima Mancu!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sengit oleh Bun Beng.

"Sadhu sadhu sadhu...."

Tiba-tiba kakek itu berkata.

"Bhong Ji Kun adalah Koksu Pemerintah Mancu.... dia.... dia itu adalah muridku...."

"Kau....!"

Bun Beng meloncat bangun, kedua tangannya dikepal.

"Bun Beng, jangan lancang!"

Tiba-tiba Suma Han membentak dan Bun Beng menjatuhkan diri berlutut lagi.

"Taihiap.... teecu harus membalas kematian Suhu!"

"Hemmm, sungguh tidak baik masih kanak-kanak sudah mendendam. Dendam menimbulkan watak kejam sehingga sembarangan saja engkau akan mencelakakan orang tanpa pertimbangan lagi."

Sementara itu, kakek tua itu menarik napas panjang. Sungguh ajaib, dapat bertemu dengan anak ini!

"Muridku itu memang telah menyeleweng dan perjalananku ini di samping hendak mencari Sepasang Pedang Iblis juga tadinya akan kupergunakan untuk mengingatkan dia, kalau perlu menghukumnya. Bagaimana, Taihiap, sukakah engkau menolongku?"

Suma Han tidak menjawab, melainkan bertanya kepada Bun Beng,

"Bagaimana dengan engkau, Bun Beng? Apakah engkau masih suka menolong Kakek ini sekarang?"

"Teecu sudah berjanji, tentu teecu penuhi!"

Suma Han tersenyum.

"Baiklah. Nayakavhira, kami akan membantumu. Siapakah anak perempuan itu, Bun Beng?"

Milana yang sejak tadi mendengarkan menjadi tertarik sekali akan kata kata Suma Han. Dia sudah menghampiri dan memandang Suma Han penuh perhatian. Tadi dia mendengar dari Bun Beng bahwa laki laki gagah perkasa berkaki satu yang rambutnya putih semua dan wajahnya muram menimbulkan iba itu adalah Pendekar Siluman, To cu dari Pulau Es yang amat terkenal!

"Apakah engkau yang berjuluk Pendekar Siluman yang hebat itu?"

Post a Comment