Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 61

Memuat...

"Wah wah-wah, bagaimana ini? Habis, untuk apa Ibumu mengajar ilmu silat tinggi kepadamu?"

"Kata Ibu untuk menjaga diri dari marabahaya."

"Nah, sekarang marabahaya tiba. Mari kita pergunakan untuk menjaga diri!"

"Tapi dengan membunuh bajak? Aku tidak mau!"

"Mari kita keluar, Milana. Akulah yang akan menjaga dan melindungimu. Biarlah aku yang akan membunuh mereka kalau mereka berani mengganggu kita."

"Kau.... kau berani membunuh orang?" "Tentu saja kalau orang itu juga mau membunuhku. Membela diri, bukan?" "Bun Beng, pernahkah ada orang yang hendak membunuhmu?"

Bun Beng tertawa.

"Tak terhitung banyaknya! Engkau belum mengenal kekejaman manusia. Mari kita keluar. Dengar, sudah ada suara pertempuran!"

Dan memang pada saat itu sudah terdengar teriakan teriakan di antara berdencingnya senjata senjata yang beradu.

Ketika kedua orang anak itu tiba di luar, Milana mengeluarkan jerit tertahan melihat betapa empat buah perahu mereka telah dikurung dan tampak banyak sekali anak buah bajak menyerang. Pamannya dan para pengawal melakukan perlawanan dengan gigih dan karena kepandaian Pangeran Jenghan dan para pengawalnya memang tinggi, banyak anak buah bajak yang menyerbu itu roboh dan jatuh ke laut dalam keadaan terluka atau tewas. Akan tetapi, jumlah anak buah bajak itu banyak sekali dan mereka mulai menggunakan api untuk membakar empat buah perahu itu! Keadaan menjadi kacau balau dan para pengawal kewalahan karena selain menghadapi serbuan bajak yang amat banyak, juga mereka harus memadamkan api yang mulai membakar di sana sini sambil merobohkan para bajak yang membakari perahu.

"Paman Pangeran....!"

Milana menjerit melihat pamannya dikeroyok enam orang bajak laut. Melihat seorang bajak laut dengan tombak di tangan lari menyerbu dari belakang Pangeran itu, Bun Beng meloncat dan tanpa disadarinya dia menghantam dengan jurus dari ilmu silat yang dipelajari dari tiga buah kitab rahasia Sam po cin keng. Kebetulan sekali jurusnya ini adalah jurus pukulan yang menggunakan tenaga sin kang yang dipusatkan pada telapak tangan.

"Bukkk!"

Tangannya yang kecil itu tepat sekali menghantam punggung bajak selagi tubuh Bun Beng masih meloncat. Bajak itu memekik, tombaknya terlepas dan mulutnya muntahkan darah segar, lalu tubuhnya terguling roboh berkelojotan! Melihat ini, Pangeran Jenghan terkejut dan kagum, lalu berteriak,

"Lekas kau selamatkan Milana dengan perahu darurat di pinggir kiri itu!"

Sambil berteriak begini, Pangeran itu memutar pedangnya menangkis hujan senjata para bajak. Bun Beng mengerti bahwa melihat keadaannya, perahu itu akan terbakar dan akan celakalah mereka semua.

Memang sebaiknya menyelamatkan Milana lebih dulu. Cepat ia menyambar lengan Milana, diajaknya lari ke pinggir kiri. Di situ memang terdapat sebuah perahu kecil yang biasanya dipergunakan untuk para pengawal mencari ikan, atau memang disediakan kalau sewaktu waktu keadaan membutuhkan. Bun Beng melepaskan ikatan perahu itu, menyeretnya ke pinggir, lalu ia melempar perahu ke bawah. Tanpa menghiraukan jeritan Milana yang merasa ngeri, ia menyambar tangan anak perempuan itu dan dibawanya meloncat ke bawah menyusul perahu kecil. Untung bahwa Bun Beng bersikap tenang sehingga loncatannya tepat jatuh di tengah perahu kecil. Dilepaskannya dua batang dayung yang terikat di pinggir perahu dan ia mulai mendayung perahu itu melawan ombak menjauhi perahu besar yang mulai terbakar.

"Paman....! Paman Pangeran....!"

Milana berteriak dan menangis.

"Milana, dalam keadaan seperti ini kita harus masing-masing mencari keselamatan sendiri."

"Tapi.... tapi Paman Pengeran...."

"Dia seorang berilmu tinggi, tentu akan dapat menyelamatkan diri. Andaikata kita menolong pun tiada gunanya. Duduklah yang tenang, akan kucoba melarikan perahu sebelum terlihat oleh bajak bajak itu."

Dengan sepenuh tenaganya Bun Beng mendayung perahu, sedangkan Milana memandang ke arah asap asap mengepul hitam yang menutupi perahu perahu besar pamannya sambil menangis. Mereka sudah berada agak jauh dari perahu-perahu yang kebakaran ketika tiba-tiba Milana menjerit. Bun Beng memandang dan ia pun terkejut melihat dua buah tangan manusia muncul dan air dan memegang pinggiran perahu kecil. Ketika kepala orang itu muncul, tahulah dia bahwa orang itu adalah seorang di antara para anak buah bajak laut yang jatuh ke laut. Orang itu tidak terluka dan pandang matanya beringas menyeramkan.

"Lepas!"

Bun Beng membentak, menggunakan dayungnya menghantam ke arah tangan terdekat!

"Aughhh....!"

Orang itu berteriak kesakitan dan melepaskan tangan kirinya yang kena pukul dan dari bibir perahu Bun Beng mengayun dayungnya lagi, memukul ke arah tangan kanan yang masih memegangi pinggiran perahu. Gerakan-gerakan ini membuat perahu kecil menjadi oleng. Akan tetapi sekali ini, bukan tangan itu yang terkena hantaman dayung bahkan dayungnya tertangkap oleh tangan kanan bajak itu, terus ditarik kuat kuat sehingga tubuh Bun Beng terseret dan jatuh ke air!

"Bun Beng....!"

Milana menjerit. Bun Beng marah sekali. Biarpun bukan ahli, namun dia pandai berenang, maka ia menggerakkan kedua kakinya dan mengayun dayung yang masih dipegangnya.

"Plakkk!"

Dayungnya menghantam muka orang itu sehingga kembali bajak itu memekik dan terdorong mundur. Matanya melotot marah penuh dengan sinar kebencian dan kalau anak itu dapat diterkamnya, tentu akan dibunuhnya. Bun Beng sudah dapat menangkap pinggiran perahu lagi. Karena gugup dan hendak cepat-cepat naik ke perahu, dayungnya terlepas dan hanyut, sedangkan bajak itu sambil memaki maki berenang cepat sekali mengejarnya. Dalam hal ilmu renang tentu saja Bun Beng tidak dapat melawan kepandaian seorang bajak laut! Maka ia bergegas hendak naik ke perahu agar dari dalam perahu dia dapat melawan orang yang masih berada di air itu.

"Heh heh heh!"

Tiba-tiba, entah darimana datangnya, seorang kakek yang tertawa-tawa meloncat ke ujung perahu. Begitu tubuhnya tiba di ujung perahu, ujung yang lain di mana Bun Beng dan Milana berada, terangkat tinggi ke atas seolah-olah kakek itu beratnya melebihi berat seekor gajah bengkak! Bun Beng cepat memegang lengan Milana yang hampir terlempar ke luar, sambil dengan sebelah tangan memegangi pinggiran perahu erat erat dan matanya memandang kakek aneh itu dengan terbelalak.

"Heh heh heh!"

Tiba-tiba ujung di mana Bun Beng dan Milana duduk, meluncur lagi ke bawah dengan cepat sekali.

"Prakkk!"

Ujung perahu ini turun tepat menghantam kepala anak buah bajak sehingga pecah berantakan dan mayatnya terapung, kepalanya sudah tidak merupakan kepala lagi melainkan berubah seonggok benda putih berlepotan darah.

"Ihhhh....!"

Milana yang melihat mayat itu menutupi muka dengan kedua tangan sambil menangis.

"He he he, takut? He he he!"

Kakek itu tertawa-tawa seolah-olah merasa senang sekali melihat Milana ketakutan.

"Aku akan membikin kalian lebih takut lagi, ha ha ha!"

Dan dengan sebatang ranting yang berada di tangan kirinya, kakek itu mendayung perahu dan.... perahu itu meluncur dengan kecepatan luar biasa!

Bun Beng memandang penuh perhatian. Kakek itu pakaiannya sederhana dan longgar, kedua kakinya telanjang. Usianya tentu sudah tujuh puluh lebih, dengan rambut dan jenggot putih riap riapan, matanya melotot lebar dan selalu tertawa-tawa. Akan tetapi yang amat luar biasa adalah kulit tubuhnya! Dari muka, tangan dan kakinya, semua berkulit kuning sekali! Bukan kuning seperti kulit orang biasa, melainkan kuning yang aneh, seperti dicat, kuning sampai ke kukunya dan warna matanya! Maka teringatlah Bun Beng akan keanehan warna kulit orang-orang Pulau Neraka dan ia menduga bahwa kakek ini tentulah seorang tokoh Pulau Neraka. Dugaan Bun Beng memang tepat. Kakek ini adalah seorang di antara lima orang kakek kulit kuning yang merupakan tokoh-tokoh tingkat tertinggi di Pulau Neraka, di bawah ketuanya.

Dan memang dia adalah seorang tokoh sakti yang diutus oleh Majikan Pulau Neraka untuk mengadakan penyelidikan di luar pulau. Kakek ini selain sakti, juga memiliki watak yang amat aneh, mendekati gila sehingga sering kali melakukan hal-hal yang menggegerkan dunia kang ouw. Kini melihat dua orang anak dalam perahu, timbul keanehan wataknya dan dia seolah-olah hendak menakut nakuti kedua orang bocah itu. Perahu itu meluncur cepat mendekati tempat pertempuran! Bukan hanya cepat, malah sengaja dibikin oleng ke kanan-kiri, ada kalanya ujungnya seperti akan tenggelam, ada kalanya ujung yang diduduki dua orang anak anak itu terangkat tinggi kemudian dihempaskan ke bawah seperti akan tenggelam! Milana menjerit-jerit dan memeluk Bun Beng yang berpegang kuat kuat pada pinggiran perahu.

"Heh heh heh, pemandangan indah....! Indah....!"

Kakek itu terkekeh kekeh ketika perahunya meluncur cepat mengelilingi tempat pertempuran. Biarpun keadaannya sendiri berbahaya dan perahu itu sewaktu waktu dapat membuat mereka terlempar ke luar, Bun Beng masih sempat memperhatikan keadaan pertempuran dan melihat betapa pangeran dan para pengawal masih melakukan perlawanan mati matian namun perahu mereka telah terbakar sebagian.

"Kakek, apakah engkau tidak kenal takut?"

Bun Beng tiba-tiba bertanya.

"Aku? Takut? Ha ha ha ha! Heh heh-heh!"

Sambil berkata demikian, perahu meluncur cepat sekali menuju ke sebuah yang terbakar! Milana menjerit melihat betapa perahu kecil itu akan menubruk perahu yang bernyala nyala, bahkan Bun Beng sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang, menjadi pucat dan memandang terbelalak ke depan, melihat betapa perahu terbakar itu seolah-olah mulut seekor naga mengeluarkan api hendak menelan perahu mereka.

"Celaka....!"

Teriak Bun Beng.

"Ha ha ha heh heh heh!"

Kakek itu tertawa dan tiba-tiba perahu itu membelok dengan kecepatan luar biasa sehingga miring dan hampir terguling, akan tetapi dapat menghindari tabrakan dengan perahu terbakar.

"Ha ha ha! Aku takut?" "Memang beranimu hanya menakut-nakuti anak kecil, Kakek yang nakal! Aku tidak percaya bahwa engkau tidak kenal takut. Misalnya terhadap bajak-bajak laut yang demikian ganas, kejam dan jumlahnya amat banyak. Aku be-rani memastikan bahwa engkau tentu takut mengganggu mereka dan kalau engkau yang melawan mereka di atas perahu yang terbakar itu, tentu engkau akan terkencing kencing di celanamu, kencing kuning pula!"

Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri dan mencak mencak.

"Memang kencingku kuning! Kau bilang aku takut kepada segala bajak cacing tanah itu? Kau tunggu dan lihat saja betapa mudah aku membasmi mereka!"

Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan kaki dan tubuhnya sudah melesat ke arah perahu besar yang terbakar, di mana Pangeran Jenghan bersama pengawalnya masih mati matian melawan serbuan para bajak. Tentu saja hati Bun Beng menjadi girang bukan main. Cepat ia menyambar sepotong dayung dari banyak kayu kayu pecahan perahu yang terapung di dekat perahunya, kemudian secepat mungkin dia mendayung perahu kecil menjauhi pertempuran.

Tanpa menghiraukan kedua tangannya yang menjadi lelah sekali, Bun Beng mendayung terus dan tiba-tiba datang ombak-ombak besar yang menghanyutkan perahunya. Mendayung lagi tidak mungkin dan apa yang ia lakukan hanya menggunakan dayung untuk mencegah perahunya terguling. Milana tidak menangis lagi, bahkan anak ini pun sudah menyambar sebatang dayung dan ia membantu Bun Beng mendayung. Kini melihat perahu diombang-ambingkan ombak, dia membantu Bun Beng menahan agar perahu tidak terguling. Akan tetapi dia tidak kelihatan takut, padahal keadaan mereka waktu itu tidaklah kalah berbahaya daripada tadi. Hal ini mengherankan hati Bun Beng dan ia bertanya dengan suara keras untuk mengatasi suara angin ribut.

"Milana, engkau tidak takut?"

Milana memandangnya, tersenyum dan menggeleng kepala. Bun Beng menjadi heran.

"Kalau tadi, kenapa ketakutan dan menangis?"

Milana membuka mulut menjawab, akan tetapi suaranya lenyap ditelan angin sehingga Bun Beng berteriak,

"Bicara yang keras, aku tidak dengar!"

Milana tertawa,

"Ribut ribut begini kau mengajak orang mengobrol!"

Bun Beng mendongkol akan tetapi juga geli hatinya. Anak ini benar benar amat luar biasa,

"Katakanlah mengapa sekarang engkau menjadi begini tabah?"

"Tadi bukan penakut sekarang pun bukan tabah. Aku ngeri menyaksikan kekejaman manusia saling bunuh. Aku percaya kepada alam yang maha kasih, andaikata ombak ombak ini menelan kita pun sama sekali tidak mengandung hati benci atau marah!"

Bun Beng bengong sehingga lupa mengerjakan dayungnya. Perahu terputar, hampir terguling dan mendengar Milana malah tertawa-tawa. Cepat ia menggerakkan dayung dan mengomel.

"Bocah ajaib dia ini!"

Setelah ombak mereda, perahu itu tiba di dekat daratan. Bun Beng menjadi girang dan bersama Milana dia lalu mendayung perahu ke darat. Mereka berdua melompat turun dan lari ke darat, meninggalkan perahu kecil itu dan keduanya duduk di atas pasir.

"Di mana kita ini?"

Bun Beng bertanya.

"Aku pun tidak tahu. Akan tetapi mari kita berjalan. Kalau bertemu orang tentu akan dapat menceritakan di mana letaknya Kerajaan Mongol. Ahhh, semoga Paman Pangeran dan para pengawal selamat."

"Jangan khawatir. Mereka itu lihai dan dengan bantuan kakek gila itu, tentu para bajak akan terbasmi dan mereka selamat."

Tiba-tiba Milana tertawa geli.

"Eh, kenapa tertawa?"

"Kakek itu tidak gila, akan tetapi lucu sekali dan kepandaiannya hebat. Ibu tentu akan tertarik sekali kalau kelak kuceritakan."

Post a Comment