Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 61

Memuat...

Pemuda itu tersenyum mengejek dan berkata,

"Namaku Ji Lam Sang, dari kota raja."

Pemuda itu sesungguhnya adalah Gu Lam Sang. Setelah diaku sebagai putera oleh Pangeran Tao Seng, dia berhak memakai nama Tao Lam Sang,

Akan tetapi karena Pangeran Tao Seng sendiri sedang menyamar sebagai hartawan Ji, maka dia pun mengaku marga Ji. Belum tiba saatnya dia menggunakan nama keluarga kerajaan itu. Secara kebetulan saja Lam Sang lewat di kota itu dan hatinya tertarik melihat banyak orang melihat pertunjukan silat itu. Dia pun menjenguk pertunjukan itu dan jantungnya berdebar. Dia bukan seorang laki-laki yang mata keranjang, akan tetapi entah mengapa. Melihat Liong Siok Hwa, hatinya tertarik sekali, maka kalau tadinya hanya ingin menjenguk sebentar, dia lalu menjadi penonton. Dia melihat betapa pemuda baju biru dikalahkan gadis itu. Diam-diam dia semakin kagum. Ilmu silat gadis itu lumayan. Lalu muncullah Bong Kiat yang hendak memaksakan kehendaknya. Melihat betapa Liong Biauw dan puterinya hendak mengalah dan pergi, dia lalu turun tangan mencampuri.

"Cabut senjatamu, Ji Lam Sang, dan bersiaplah engkau untuk mampus!"

Kata Bong Kiat yang sudah menghunus sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya. Semua orang bergidik melihat Si Macan Hitam sudah menghunus golok besarnya. Akan tetapi Lam Sang sendiri hanya tersenyum menghadapi ancaman golok besar yang tajam itu, bahkan dia berkata dengan nada mengejek.

"Untuk menghadapi golok pernotong ayam itu aku tidak perlu menggunakan senjata apa pun, cukup dengan tangan dan kakiku saja. Nah, aku telah siap, cepat pergunakan golok pemotong ayammu itu!"

Bukan main marahnya Bong Kiat mendengar ejekan ini. Kalau saja Lam Sang tidak mengejek, dia pun tentu akan menghadapi Lam Sang yang bertangan kosong tanpa senjata, untuk menjaga kehormatannya. Akan tetapi ejekan itu membuatnya marah dan dia ingin cepat-cepat dapat membunuh lawannya! Dia memutar-mutar golok besar yang berat itu di atas kepalanya.

"Sambutlah golokku dan mampuslah!"

Bong Kiat membentak dan goloknya meluncur ke depan, membabat ke arah leher Lam Sang.

Akan tetapi, pemuda Tibet itu dengan amat mudahnya mengelak dengan merendahkan tubuhnya, dan ketika golok itu menyambar lewat kakinya mencuat dengan cepatnya ke depan, menendang ke arah perut Bong Kiat. Serangan yang tiba-tiba ini berbahaya sekali, akan tetapi Bong Kiat juga bukan orang lemah. Dia cepat melangkah mundur sehingga tendangan itu mengenai tempat kosong. Akan tetapi gebrakan pertama yang sudah dapat dibalas secara kontan oleh lawannya membuat Bong Kiat berhati-hati karena ternyata lawannya memang memiliki ilmu silat yang tangguh. Kini dia mengayun goloknya dan melaku-kan serangan bertubi-tubi. Golok itu membentuk gulungan sinar terang yang menyambar-nyambar ke arah Lam Sang. Semua orang merasa ngeri melihat buasnya serangan Bong Kiat akan tetapi Liong Biauw mendekati puterinya dan berkata lirih,

"Pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia tentu akan dapat mengalahkan Bong Kiat itu, dan agaknya dia seorang calon jodohmu yang baik sekali."

Wajah Siok Hwa menjadi kemerahan mendengar ucapan ayahnya itu dan ia menonton dengan penuh perhatian. Pertandingan masih berjalan dengan seru. Bong Kiat menjadi penasaran sekali ketika goloknya tidak pernah mengenai lawan, bahkan kalau sekali-kali Lam Sang menangkis lengannya, dia merasa betapa lengannya terguncang hebat dan terasa ada hawa panas menyerangnya. Dia mengamuk semakin hebat, akan tetapi justeru ini yang dikehendaki Lam Sang. Makin marah dan semakin hebat serangannya, makin lemah pertahanannya. Ketika goloknya menyambar, membacok kepala Lam Sang dari atas ke bawah, Gu Lam Sang mengelak dan membiarkan golok itu lewat. Secepat kilat jari tangannya menyambar dan menotok ke arah siku kanan Bong Kiat.

"Wuuuttt.... dukkk!"

Bong Kiat mengeluarkan teriakan kaget. Tangan kanannya menjadi lumpuh dan golok itu dengan sendirinya terlepas dari pegangannya dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, tiba-tiba lengan kirinya disambar lawan dan tubuhnya terangkat ke atas. Kiranya Lam Sang menggunakan kesempatan itu untuk menangkap lengan kiri lawan dan memutarnya sehingga tubuh itu terputar ke atas lalu terbanting ke atas tanah.

"Bukkkkk....!!"

Keras sekali bantingan itu. Bong Kiat merasa tubuhnya seperti remuk dan kepalanya menjadi pening. Dia mencoba bangkit akan tetapi roboh lagi karena bumi yang diinjaknya seperti bergelombang. Lam Sang tersenyum dan penonton menyambut kemenangan mutlak itu dengan tepuk tangan dan sorak-sorai.

"Cepat ambil golok pemotong ayammu dan pergi dari sini!"

Lam Sang membentak. Merasa bahwa dia sudah benar-benar kalah, hati Bong Kiat menjadi jerih. Dengan kepala masih pening dia memungut goloknya lalu terhuyung-huyung seperti mabuk meninggalkan gelanggang itu, ditertawakan oleh para penonton. Lam Sang menghadapi Liong Biauw dan Siok Hwa, menjura dan bertanya,

"Bolehkah sekarang saya mencoba ilmu kepandaian Nona?"

Dengan muka kemerahan Siok Hwa mengangguk.

"Tentu saja boleh, akan tetapi saya bukan tandinganmu, Kongcu."

"Ah, Nona terlalu merendahkan diri. Kulihat tadi ilmu pedang Nona lihai sekali. Nona boleh mempergunakan siang-kiam itu."

"Engkau sendiri bertangan kosong, bagaimana aku harus menggunakan senjata? Aku pun akan menghadapimu dengan tangan kosong, Kongcu."

"Terserah kepadamu, Nona. Aku telah siap, harap Nona suka mulai menyerang."

Siok Hwa melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri saja seperti tidak sedang menghadapi pertandingan. Ia merasa tidak enak dan sebelum menyerang, ia memberi peringatan.

"Kongcu sambutlah seranganku ini!"

Dan ia pun menerjang dengan cepat sekali.

"Bagus!"

Lam Sang memuji dan dia cepat mengelak, lalu membalas dengan tamparan tangannya. Keduanya lalu saling serang dengan seru dan cepat. Gerakan mereka begitu cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata para penonton, kecuali oleh mereka yang berkepandaian.

Liong Biauw menonton dengan penuh perhatian dan dia segera mengerti bahwa pemuda itu mengalah banyak. Pemuda itu agaknya membiarkan Siok Hwa yang memimpin penyerangan. Dia sendiri hanya membalas dengan serangan sekadarnya saja, tidak bersungguh-sungguh. Kalau dia bersungguh-sungguh, tentu sudah sejak tadi Siok Hwa dapat dikalahkannya. Hal ini membuat hatinya merasa girang. Agaknya pemuda itu menaruh hati kepada puterinya maka mengambil sikap mengalah. Sementara itu, Siok Hwa menjadi bingung sendiri. Semua jurus terampuh ia keluarkan untuk menyerang lawan, akan tetapi selalu dapat dielakkan atau ditangkis. Dan kalau lawan menangkis, lengannya bertemu dengan telapak tangan yang lunak. Ia merasa heran sekali.

Tenaga sinkang yang ia keluarkan dalam penyerangannya seolah lenyap ketika bertemu dengan tangan yang lunak itu, dan kadang tenaganya membalik. Ia sudah mulai berkeringat, akan tetapi belum juga ia mampu mendesak lawan. Ia pun mengerti bahwa pemuda itu mengalah. Serangan pemuda itu seenaknya saja, berbeda dengan pertahanannya yang demikian kokoh kuat. Orang yang dapat bertahan seperti itu, kalau dikehendaki, tentu dapat menyerang dengan hebat pula, tidak seperti pemuda itu yang menyerang hanya dengan tamparan-tamparan lemah. Ia mulai menjadi bingung bagaimana caranya untuk mengakhiri pertandingan itu. Tiba-tiba ia teringat akan sebuah jurus yang belum dipergunakannya. Jurus itu adalah sebuah tendangan yang dilakukan dengan tubuh "terbang"

Di udara. Tendangan ini ampuh sekali dan jarang ada lawan mampu manghindarkan diri.

"Haiiittt....!"

Ia membentak, tubuhnya meloncat ke udara dan kedua kakinya mencuat dan menendang ke arah dada dan kepala Lam Sang!

"Bagus!"

Lam Sang memuji dan ketika kedua tangannya bergerak cepat, tahu-tahu dia telah menangkap kedua kaki itu. Dia mendorong sehingga tubuh Siok Hwa terpental, berjungkir balik beberapa kali sebelum turun kembali ke atas tanah. Indah bukan main gerakan ini dan semua orang memuji. Akan tetapi gadis itu menjadi kemerahan mukanya, tersipu-sipu malu sedangkan Lam Sang memegang dua buah sepatu gadis itu yang tertinggal di tangannya. Melihat ini, semua orang bersorak memuji. Liong Biauw menghampiri pemuda itu dan menjura,

"Anakku telah kalah olehmu, Ji-kongcu."

Lam Sang juga menjura.

"Nona telah banyak mengalah, harap maafkan aku."

Dia lalu mengembalikkan sepasang sepatu itu kepada pemiliknya, diterima oleh Siok Hwa sambil tersipu dan tersenyum malu-malu. Liong Biauw memberi hormat kepada para penonton.

"Cu-wi, terima kasih atas perhatian dan bantuan Cu-wi. Pertunjukan sudah habis dan dihentikan sampai di sini."

Penonton mulai bubar dan Liong Biauw berkata kepada Lam Sang.

"Ji-kongcu, silakan ikut dengan kami ke pondokan kami untuk bicara."

Lam Sang hanya mengangguk sambil tersenyum dan mereka bertiga lalu pergi ke rumah penginapan di mana ayah dan anak itu menyewa dua buah kamar. Setelah mereka masuk ke rumah penginapan, Lam Sang dipersilakan masuk ke kamar Liong Biauw dan di situ mereka berdua mengadakan pembicaraan. Siok Hwa tinggal di kamarnya sendiri karena maklum apa yang akan dibicarakan ayahnya dengan pemuda itu dan ia merasa malu untuk menghadirinya.

"Ji-kongcu, tentu engkau sudah dapat menduga apa yang hendak kami bicarakan denganmu, bukan?"

Tentu saja Lam Sang sudah dapat menduganya, akan tetapi dia pura-pura bodoh dan bertanya,

"Apakah yang hendak Paman bicarakan? Aku tidak dapat menduganya."

"Kongcu tentu tadi sudah mendengar bahwa kami sedang mencarikan jodoh untuk anakku Liong Siok Hwa dengan mengadakan pertandingan silat. Nah, sekarang ternyata engkau yang telah mampu mengalahkan Siok Hwa, maka hal itu berarti bahwa engkau adalah jodoh Siok Hwa yang selama ini kami nanti-nanti. Lam Sang, pura-pura terkejut.

"Ah, akan tetapi aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk menikah, Paman!"

Liong Biauw mengerutkan alisnya.

"Lalu mengapa engkau tadi mengajak Siok Hwa untuk mengadu kepandaian silat?"

"Aku hanya iseng-iseng karena kagum melihat Ilmu kepandaian puterimu, dan aku menandingi Bong Kiat tadi karena tidak suka melihat ulahnya."

"Ji-kongcu, apakah engkau tidak suka kepada Siok Hwa?" "Aku kagum kepadanya, Paman, dan tentu saja aku suka kepadanya. Ia cantik manis dan berkepandaian lumayan."

"Kalau begitu, mengapa menolak? Kami sudah menyatakan setuju untuk menjodohkan ia denganmu."

"Tidak begitu mudah bagiku untuk menikah, Paman. Harus kutanyakan dulu kepada orang tuaku dan aku sendiri belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga."

"Kalau begitu, harap engkau suka memberitahukan orang tuamu. Kota raja dari sini tidak berapa jauh, kami akan menanti keputusanmu di sini, dalam waktu seminggu engkau tentu sudah dapat kembali ke sini. Bagaimana, Ji-kongcu?"

"Baiklah kalau begitu, Paman. Aku akan memberitahukan orang tuaku dan dalam waktu seminggu aku akan kembali ke sini,"

Kata Lam Sang, Liong Biauw menjadi gembira sekali dan dia segera memanggil puterinya ke kamarnya. Siok Hwa muncul dengan muka kemerahan dan kepala ditundukkan.

"Siok Hwa, kami telah membicarakan tentang perjo-dohan kalian. Ji-kongcu sekarang hendak pulang ke kota raja untuk memberitahu tentang hal itu kepada orang tuanya. Kita berdua menanti di sini, dan dalam waktu seminggu dia akah kembali memberikan keputusannya."

Siok Hwa makin menunduk dan tersenyum malu sambil melirik ke arah Lam Sang.

"Terserah kepada Ayah saja...."

Jawabnya lirih. Lam Sang memandang gadis itu.

Post a Comment