Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 57

Memuat...

"Habis, untuk apa lagi? Kami tidak mempunyai urusan dengan Pangeran Mahkota Tao Kuang, heh-heh-heh!"

Kata Kai-ong.

"Kamilah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Kalau begitu, biarlah kami mengundang Locianpwe dan Nona untuk makan bersama!"

Penawaran ini diajukan dengan sikap lembut dan manis sehingga Han Li merasa tidak enak dan malu sendiri.

"Kau dengar itu, Han Li?"

Kata Kai-ong sambil tertawa girang.

"Sudah lama aku mendengar bahwa Pangeran Mahkota Tao Kuang adalah seorang yang bijaksana dan sekarang terbukti kebenaran berita itu. Terima kasih, Pangeran, kami menerima undanganmu itu, ha-ha-ha!"

Han Li diam saja akan tetapi merasa tidak enak hati. Sejak kecil ia mendengar tentang penjajahan bangsa Mancu terhadap negara dan bangsanya. Ia sendiri adalah puteri ketua Thian-li-pang yang bercita-cita memerdekakan bangsa dan sekarang ia diundang makan bersama oleh keluarga Pangeran Mahkota bangsa Mancu! Akan tetapi, menolak pun tidak mungkin karena gurunya sudah menerima, maka ia pun mengikuti saja ketika mereka dipersilakan masuk ke dalam ruangan makan yang luas. Setelah mereka duduk menghadapi meja makan, hidangan-hidangan yang paling lezat disuguhkan. Pangeran Tao Kuang memberi isyarat kepada pelayan untuk mengisi arak dalam cawan-cawan perak di depan tamunya lalu menyulangi dua orang tamunya dengan secawan arak.

"Silakan Ji-wi (Anda Berdua) minum untuk ucapan selamat datang kami dan untuk perkenalan ini."

Sambil tersenyum lebar Kai-ong minum secawan arak itu dan Han Li hanya mencontoh gurunya, Pangeran Tao Kuang memperkenalkan selirnya dan puterinya lalu bertanya,

"Siapakah nama Locianpwe yang terhormat dan siapa pula Nona ini?"

"Heh-heh-heh, Pangeran. Terima kasih bahwa Paduka suka menyambut kami orang-orang biasa dengan ramah tamah. Saya bernama Lu Tong Ki orang biasa saja, bahkan pengemis yang tidak pernah minta-minta."

"Lu Tong Ki....? Apakah bukan Kai-ong (Raja Pengemis) Lu Tong Ki?"

Tiba-tiba Liang Siok Cu bertanya dengan kaget.

"Heh-heh-heh, saya hanyalah rajanya para pengemis, Nyonya."

"Mendiang ayahku Liang Cun, sering bicara tentang Locianpwe."

Kata nyonya itu kagum. Kini sepasang mata Lu Tong Ki terbelalak,

"Liang Cun? Ah, Sin-tung Koai-jin sudah meninggal dunia dan Nyonya adalah puterinya? Pantas, kalian begini ramah. Kiranya keturunan seorang datuk dari Thai-san!"

"Ha-ha-ha, kiranya kita berada di antara orang sendiri!"

Pangeran Tao Kuang tertawa gembira.

"Dan engkau, Enci yang baik, siapakah namamu?"

Tiba-tiba Kwi Hong bertanya kepada Han Li sambil memandang gadis itu penuh perhatian.

"Apakah engkau murid Locianpwe ini'?"

"Benar, aku murid Suhu, namaku Yo Han Li,"

Jawab Han Li singkat.

Mereka mulai makan dan minum. Setelah selesai makan di mana Kai-ong dapat memuaskan seleranya, tiba-tiba Raja Pengemis itu tertawa dan mengelus perutnya.

"Aihhh, kalau setiap hari makan begini, dalam waktu sebulan aku akan menjadi orang gendut!"

Semua orang tertawa dan Kai-ong kembali berkata,

"Ha-ha-ha, Pangeran tentu tidak menduga siapa adanya nona yang mengaku saya sebagai gurunya ini. Sesungguhnya ia jauh lebih terkenal dari pada saya yang hanya raja kaum pengemis. Ibunya terkenal dengan julukan Si Bangau Merah, ayahnya lebih terkenal lagi dengan julukan Pendekar Tangan Sakti yang juga menjadi ketua Thian-li-pang...."

"Ahhh....!!"

Liang Siok Cu berseru kaget sambil memandang Han Li, sedangkan wajah Pangeran Tao Kuang juga berubah agak pucat. Akan tetapi Kwi Hong berseru girang,

"Aih, kiranya Enci ini puteri Paman Yo? Senang sekali bertemu dengan puteri Paman Yo Han!"

"Kwi Hong, apakah engkau mengenal ketua Thian-li-pang?"

Tanya Pangeran Mahkota Tao Kuang, sedangkan isterinya siap untuk melindungi suaminya kalau-kalau puteri pemberontak itu mempunyai niat jahat.

"Ayah, aku tidak tahu apakah paman Yo itu ketua Thian-li-pang. Yang aku ketahui dia adalah seorang yang gagah perkasa dan telah menolongku dari pengeroyokan pemberontak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Aku kagum sekali kepadanya!"

Han Li tadi terkejut bukan main mendengar gurunya memperkenalkan ayahnya sebagai ketua Thian-li-pang, akan tetapi ia merasa heran dan juga lega mendengar bahwa Kwi Hong pernah ditolong ayahnya.

Ketika ia melirik ke arah gurunya. Ia melihat Kai-ong tersenyumsenyum kepadanya dan ia pun dapat menduga bahwa gurunya sengaja menyebut Thian-li-pang untuk menguji sampai di mana ketulusan hati dan kebijaksanaan Pangeran Mahkota itu! Dan memang sebenarnya begitulah. Maklum bahwa ucapannya tadi bisa mendatangkan bahaya, maka diam-diam Kai-ong juga sudah bersiap-siap. Dia cerdik sekali dan andaikata disebutnya Thian-li-pang itu membuat Pangeran Mahkota marah dan mengerahkan pasukan pengawalnya, dia tentu akan bertindak menawan sang pangeran lebih dulu agar dia dan muridnya dapat keluar dari istana itu dengan aman! Akan tetapi dia pun merasa lega ketika ucapan Kwi Hong membuyarkan suasana yang tegang tadi. Kini Pangeran Mahkota yang berkata kepada Han Li,suaranya mengandung perasaan heran.

"Aneh sekali! Ketua Thian-li-pang menolong puteriku dan hari ini aku menjamu puterinya! Dan semua orang tahu bahwa Thian-li-pang adalah sebuah perkumpulan yang berjiwa pemberontak!".

"Ayah saya tidak pernah membenci perorangan, Pangeran. Yang ditentangnya adalah penjajah dan penindasan!"

Jawab Han Li dengan tegas.

"Heh-heh-heh, dalam anggapan Paduka memang Thian-li-pang pemberontak, Pangeran."

Kata pula Kai-ong.

"Akan tetapi dalam anggapan kami rakyat jelata, Thian-li-pang berjiwa pendekar dan pejuang."

"Berjuang untuk apa?"

Pangeran Mahkota mendesak.

"Berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, berjuang untuk kemerdekaan tanah air dan bangsa."

Kata pula Kai-ong dan ketika mengucapkan kata-kata ini, dia tidak lagi tertawa melainkan berkata dengan suara dan wajah serius.

"Sama saja, itu pemberontakan namanya, menentang pihak yang berkuasa."

Bantah Pangeran Mahkota Tao-Kuang.

"Harap Paduka mempertimbangkan dengan hati dan kepala yang tenang dan dingin."

Kata pula Kai-ong.

"Coba Paduka tempatkan diri Paduka sebagai rakyat kami. Apakah Paduka tidak mempunyai keinginan untuk memerdekakan tanah air dan bangsa dari belenggu penjajah? Salahkah itu kalau seseorang bercita-cita untuk kebebasan dan kemerdekaan bangsanya?"

Pangeran Tao Kuang mengangguk-angguk.

"Mungkin juga kami akan berpendirian yang sama. Akan tetapi kami bukan penindas. Kami menganggap bangsa Han seperti bangsa sendiri. Kami ingin menjalankan pemerintahan yang adil, ingin menyejahterakan rakyat."

Post a Comment