"Namaku Souw Cu In dari Beng-san."
"He-he-heh, engkau dari Beng-san? Melihat sepak terjangmu yang hebat dengan sabuk suteramu, tentu engkau ini murid Ang Hwa Nio-nio. Benarkah?"
Cu In memberi hormat.
"Locianpwe berpandangan luas dan tentu mengenal Subo."
Kai-ong mengerutkan alisnya.
"Hemm, siapa tidak mengenal Ang Hwa Nio-nio dan muridnya Bi-kiam Nio-cu yang tanpa berkedip suka membunuhi orang? Nama mereka terkenal sekali!"
Mendengar ini, Cu In juga mengerutkan alisnya. Ia sendiri harus mengakui bahwa subonya dan sucinya amat kejam terhadap kaum pria. Salah sedikit saja tentu akan mereka bunuh! Ia sendiri tidak demikian dan selalu menentang perbuatan yang kejam itu. dan karena ini pula ia selalu menyembunyikan mukanya agar tidak dilihat pria dan tidak ada pria yang tertarik kepadanya, agar dia tidak usah menyakiti atau membunuh pria itu.
"Subo dan suci memang tersohor, aku lebih suka tidak dikenal orang."
Katanya perlahan dan suaranya mengandung penyesalan besar.
"Sekarang aku harus pergi, dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan Ji-wi (Kalian)!"
Setelah berkata demikian, gadis berpakaian putih itu lalu berkelebat lenyap dari situ. Han Li menghela napas panjang.
"Sayang sekali ia pergi. Aku ingin berkenalan lebih lanjut dan ingin melihat wajahnya, Suhu."
"Ah, sudahlah. Lebih baik ia lekas pergi dan tidak bersama kita agar kita tidak berurusan dengannya. Ia menyembunyikan mukanya tentu bukan tanpa sebab, apalagi kalau mengingat watak suci dan subonya."
"Kenapa suci dan subonya, Suhu?"
"Mereka adalah pembunuh-pembunuh kejam. Kalau ada laki-laki berani menegur atau memuji atau bahkan memandang mereka terlalu lama laki-laki itu tentu akan dibunuhnya! Mereka itu pembenci kaum pria yang sudah hampir gila barangkali!"
"Ahhh....! Akan tetapi aku melihat enci Souw Cu In tadi begitu lemah lembut dan aku yakin dia pasti memiliki wajah yang cantik sekali."
"Hemmm, siapa tahu? Menurut pengalamanku, wanita yang memiliki wajah cantik tentu selalu ingin memamerkan kecantikannya itu, bukan malah disembunyikan di balik cadar. Aku ragu apakah ia memiliki wajah cantik, seperti yang kau duga!"
"Akan tetapi, wajahnya bagian atas demikian indahnya, terutama sepasang matanya. Tidak mungkin kalau dari hidung ke bawah tidak sempurna."
"Sudahlah, bagaimanapun juga, ia hendak menyembunyikan diri di balik cadar. Itu adalah haknya. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan kita."
Guru dan murid ini melanjutkan perjalanan dan makin lama Han Li semakin sayang kepada gurunya. Gurunya bersikap manis budi, lemah lembut dan mengajarkan ilmu tongkat dengan sungguh-sungguh. Ia merasa seolah melakukan perjalanan bersama kakeknya sendiri.
Para pendekar dan ketua perkumpulan persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain merasa heran sekali melihat sikap Thian It Tosu ketua Bu-tong-pai yang secara tiba-tiba begitu bersemangat untuk memberontak terhadap kerajaan Ceng. Dan yang lebih mengherankan mereka lagi adalah betapa ketua ini sekarang tidak segan untuk bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Bahkan banyak tokoh Bu-tong-pai sendiri merasa heran akan sikap ketua mereka ini. Akan tetapi karena Thian It Tosu mempunyai alasan yang kuat, yaitu untuk berjuang harus menyatukan segala kekuatan, mereka pun tidak berani membantah. Pada suatu hari Thian It Tosu memanggil para sute dan muridnya dalam suatu rapat. Ketua Bu-tong-pai ini masih merasa tidak enak dan tidak sehat badannya sehingga suaranya juga masih parau.
"Pinto merasa tidak sehat dan untuk memulihkan kesehatan, pinto harus beristirahat dan bersamadhi. Selama pinto bersamadhi, tidak seorang pun boleh mengganggu pinto."
Para sute dan murid menyatakan setuju dan tidak akan melang-gar perintah ketua itu. Thian It Tosu yang bertubuh tinggi besar itu menghela napas lega.
"Masih ada satu pesanan lagi. Kalau dalam beberapa hari ini datang seorang pemuda bernama Gulam Sang, harap kalian menerimanya sebagai seorang tamu kehormatan dan melayaninya sebaik-baiknya. Dia adalah seorang tokoh Lama Jubah Kuning yang berilmu tinggi dan dia sudah menjanjikan kerja sama dengan pinto. Para Lama Jubah Kuning akan menjadi sekutu kita dalam perjuangan."
Kembali semua orang menyatakan taat akan pesan itu. Dan sejak hari itu Thian It Tosu mengurung diri di dalam sebuah ruangan tertutup untuk bersamadhi. Pesan Thian It Tosu benar terjadi. Tiga hari kemudian muncullah seorang pemuda gagah dan tampan, bermuka bundar dengan mata lebar, di Bu-tong-pai dan mengaku bernama Gulam Sang.
"Aku bernama Gulam Sang berasal dari Tibet. Aku sudah menerima pesan dari Thian It Tosu untuk bergabung di sini. Dapatkah aku bertemu dengan Thian It Tosu?"
"Ketua kami sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, akan tetapi beliau sudah memesan kepada kami agar menerima Kongcu (Tuan Muda) sebagai tamu terhormat. Silakan Kongcu menanti di sini sampai suhu keluar dari tempat pertapaannya sehingga dapat bertemu dan bicara."
"Ah, tidak mengapa kalau begitu. Memang tidak baik mengganggu pangcu (ketua) yang sedang bersamadhi. Baiklah, aku akan tinggal di sini menunggu sampai beliau keluar dan aku dapat melewatkan waktuku dengan berjalan-jalan menikmati keindahan Pegunungan Bu-tong-pai. Para tosu dan murid Bu-tong-pai diam-diam merasa heran dan tidak senang karena Gulam Sang yang dikatakan seorang tokoh Lama Jubah Kuning itu ternyata minum arak dan makan daging. Ketika Gulam Sang melihat keheranan mereka, dia tertawa dan memberi alasan.
"Dahulu aku memang seorang pendeta Lama yang tentu saja pantang minum arak dan makan daging. Akan tetapi karena sekarang aku menjadi orang biasa, bukan pendeta lagi, maka pantangan itu pun aku tinggalkan."
Dan setiap hari Gulam Sang meninggalkan Bu-tong-pai, setelah hari mulai gelap baru kembali. Tak seorang pun mengetahui apa saja yang dikerjakan orang aneh ini. Tiga hari kemudian, Thian It Tosu keluar dari ruangan samadhinya. Selama tiga hari itu, hanya seorang saja diperbolehkan memasuki ruangan samadhi, yaitu Thian Tan Tosu, seorang sutenya, untuk mengirim makanan. Tentu saja begitu keluar dari ruangan samadhinya, Thian It Tosu menerima pelaporan tentang kunjungan Gulam Sang.
"Biarkanlah kalau dia pergi setiap hari, karena tentu dia ada hubungannya dengan usaha perjuangan kita. Kalau dia pulang, suruh Thian Tan Tosu mengantarnya memasuki kamar samadhiku. Pinto akan menemuinya di sana."
Tidak lama Thian It Tosu keluar, setelah menerima laporan-laporan,
Dia pun masuk lagi ke dalam kamar itu. Dan sore harinya, Gulam Sang pulang ke Bu-tong-pai. Para tosu memberitahu kepadanya bahwa Thian It Tosu tadi memesan agar dia diajak masuk ke ruangan samadhi. Gulam Sang menjadi gembira dan diantar oleh Thian Tan Tosu, dia pun masuk ke dalam ruangan samadhi itu. Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang mereka bicarakan. Bahkan Thian Tan Tosu juga tidak tahu karena setelah membawa Gulam Sang masuk, dia pun disuruh keluar lagi. Sampai jauh malam barulah Gulam Sang keluar dari ruangan itu lalu memasuki kamarnya sendiri. Pada keesokan harinya, Gulam Sang berpamit dari para tosu karena dia hendak pergi ke kota raja untuk mengadakan kontak hubungan dengan sekutunya di sana.
"Malam tadi hal itu sudah kubicarakan dengan Thian It Tosu dan aku sudah berpamit kepadanya. Kalau beliau keluar, katakan saja bahwa aku sudah berangkat ke kota raja."
Demikian pesannya kepada para tosu Bu-tong-pai. Dan setelah Gulam Sang berangkat pergi, pada keesokan harinya Thian It Tosu sudah keluar dari kamar samadhinya dan memimpin Bu-tong-pai seperti biasa. Akan tetapi banyak terjadi hal yang membingungkan para tosu yang lain.
Thian It Tosu seringkali menerima kunjungan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan bahkan tokoh-tokoh dari dunia sesat! Mereka tidak diijinkan hadir dalam pertemuan itu se-hingga tidak tahu apa yang dibicarakan oleh ketua mereka dengan tokoh-tokoh sesat itu. Dan para tosu Bu-tong-pai hanya dapat merasa heran dan khawatir. Pada suatu hari, terjadilah hal yang menggempar-kan para tokoh dan murid Bu-tong-pai. Hari itu kembali Thian It Tosu menerima beberapa orang Pek-lian-pai. Menjelang sidang, terdengar suara gaduh dan para tosu yang berlari menuju ke ruangan sidang yang tertutup itu, melihat tubuh seorang tosu terlempar keluar dan ketika mereka semua melihat, ternyata tubuh itu adalah Beng An Tosu yang telah tewas! Selagi mereka ramai membicarakan hal itu, Thian It Tosu muncul dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan,