Dia merangkak bangun kemudian menghadapi Han Li dengan muka bengis dan kemerahan, kedua tangannya dibuka seperti cakar harimau dan tanpa banyak cakap lagi kini dia menyerang dengan pukulan dan tamparan. Sepak terjangnya ganas dan liar seperti seekor harimau. Namun bagi Han Li gerakan itu terasa amat lambat sehingga amat mudah baginya untuk mengelak ke kanan kiri dan setelah mendapatkan kesempatan, tangan kirinya menampar, kini mengenai leher si codet yang kembali terpelanting roboh dan sekali ini agak lambat dapat bantuan. Kepalanya terasa pening dan lehernya terasa seperti patah! Akan tetapi hajaran kedua kali itu agaknya tidak membuat kepala gerombolan perampok itu jera. Dia bahkan mencabut golok besarnya dari pinggang dan memutar-mutar golok itu di atas kepala dengan sikap mengancam.
Dia tidak lagi menyayang gadis cantik itu dan kalau perlu akan disembelihnya untuk meredakan kemarahannya. Melihat cara orang mencabut golok dan memutar-mutar di atas kepalanya, tahulah Han Li bahwa orang ini hanya memiliki ilmu silat biasa saja, maka ia pun tidak mau mencabut pedangnya. Ia siap menghadapi serbuan orang bergolok itu dengan tangan kosong saja. Bocah setan, mampuslah kau sekarang! bentak si codet dan dia sudah menyerang dengan ganasnya. Goloknya berayun dari kanan ke kiri membabat ke arah leher Han Li. Dengan menundukkan kepala Han Li sudah mengelak. Golok lewat menyambar di atas kepalanya, lalu membalik menyambar dari kiri ke kanan membabat pinggangnya! Dengan geseran kaki ke belakang kembali Han Li membiarkan golok itu lewat. Setelah dua kali tacokannya dapat dielakkan lawan, si codet menjadi semakin penasaran.
"Hyaaaaattt....!"
Dia berteriak nyaring dan kini goloknya menusuk ke arah perut gadis itu. Han Li menggeser kaki ke kiri dan ketika golok itu lewat dekat perutnya, ia melangkah maju dan secepat kilat tangannya menampar, kini dengan tenaga lebih dan tamparan tangannya menghantam bawah leher kepala perampok itu.
"Plakkk.... ughhhhh....!"
Tubuh itu terbanting keras dan tidak dapat bangun kembali. Tamparan tadi amat hebatnya dan membuat kepalanya seperti remuk, bumi berputar dan matanya menjadi juling. Sebelas orang anak buahnya melihat betapa pimpinan mereka roboh segera mencabut golok masing-masing dan dengan teriakan-teriak dahsyat mereka menyerbu dan mengeroyok Han Li yang bertangan kosong dari berbagai jurusan. Akan tetapi mereka terkejut bukan main. Gadis yang tadi berada di tengah-tengah mereka tiba-tiba. melayang ke atas dan sudah berada di belakang mereka. Mereka membalik, akan tetapi dua kali kaki Han Li melayang dan dua orang di antara mereka roboh. Han Li mengamuk di antara pengeroyokan gerombolan itu dan membagi-bagi tendangan dan tamparan tangannya yang ampuh.
Dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang itu sudah jatuh bangun dan akhirnya, dipimpin oleh si codet, mereka melarikan diri seperti sekawanan monyet melihat singa betina mengamuk. Han Li tersenyum geli dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya, mengebutkan pakaiannya agar bebas dari kotoran debu, kemudian ia pun melanjutkan perjalanan seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia sudah mendapatkan pengalaman yang menarik dan ia sudah memenuhi pesan ayah ibunya, yaitu menentang kejahatan dan tidak sembarangan membunuh orang. Kalau ia menghendaki, kiranya tidak sukar baginya untuk membunuh semua lawan tadi. Han Li melanjutkan perjalanannya. Yang dituju adalah ke kota raja. Ia sudah mendapat keterangan dari ayah ibunya di manakah adanya kota raja, dan ia ingin sekali melihat kota yang besar dan indah itu. Sudah banyak ia mendengar tentang keindahan kota raja, namun belum pernah ia melihatnya.
Dengan cepat ia menuruni lereng bukit itu menuju ke sebuah dusun yang dilihatnya dari lereng bukit tadi dan mencari tempat untuk bermalam di dusun itu. Sepasang suami isteri petani yang sederhana dengan senang hati memberikan kamar mereka untuk Han Li yang menyewanya. Beberapa pekan telah lewat tanpa ada halangan sesuatu yang mengganggu perjalanan Yo Han Li. Pada suatu pagi tibalah ia di tepi Sungai Kuning di daerah Propinsi Shansi. Niatnya akan pergi ke kota Tai-goan dan dari sana terus ke kota Peking. Ia berjalan menyusuri sungai besar itu untuk mencari tumpangan perahu yang akan dapat menyeberangkannya. Akan tetapi tepi di mana ia tiba itu sunyi, tidak ada dusun nelayan di situ. dan perahu-perahu yang sedang berlayar itu berada di tengah sungai sehingga ia tidak dapat menghubungi mereka. Tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang memancing ikan.
Kakek itu duduk di atas sebongkah batu di tepi sungai dan memegangi tangkai pancing dari batang bambu kecil, matanya penuh perhatian memandang joran pancingnya. Memang itulah nikmatnya seorang pemancing ikan. Memperhatikan joran pancingnya dengan penuh harapan dan begitu joran pancingnya bergerak, begitu tangan yang memegang tangkai pancing itu merasakan sentakan, itu tandanya umpan disambar ikan dan pada saat yang tepat menggerakkan tangkai pancingnya ke atas agar pancing dapat menusuk mulut ikan! Han Li tidak mengerti tentang seni memancing ikan. Kalau pemancing ikan sedang mencurahkan segenap perhatian kepada joran pancingnya, dia sama sekali tidak boleh ditegur atau diganggu. Karena tidak tahu, Han Li menghampiri kakek itu dari belakang dan bertanya,
"Kakek yang baik, tahukah engkau di mana aku bisa menyewa perahu untuk menyeberangkan aku?"
Kakek yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada joran pancingnya dan melupakan segala yang berada di sekelilingnya itu terkejut dan marah.
"Apakah engkau tidak melihat bahwa aku sedang memancing?"
Bentaknya tanpa menoleh. Han Li terkejut.
"Maafkan kalau aku mengganggu. Kalau engkau dapat memberi keterangan padaku di mana aku dapat menyewa perahu, biarlah aku beri sedikit uang agar engkau dapat membeli ikan, daripada susah payah memancing."
Tapi kakek itu menjadi lebih marah lagi.
"Aku tidak butuh ikannya! Aku membutuhkan ketenangan memancingnya. Kalau aku ingin ikan, tidak usah beli dan menangkap ikan apa sih sukarnya? Kau lihat!"
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan ujung tangkai pancing-nya ke dalam air seperti orang menusuk dengan tombak dan ketika dia mengangkat tangkai pancing itu.... di ujung tangkai dari bambu itu sudah tertusuk seekor ikan besar yang menggelepar-gelepar. Han Li terkejut sekali. Ia maklum bahwa kakek ini seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia memberi hormat dan berkata,
"Harap Locianpwe suka memaafkan kalau aku sudah mengganggu ketenangan Locianpwe."
"Enak saja mengganggu ketenangan, engkau bahkan sudah menghilangkan seleraku mancing!"
Kakek itu melemparkan ikan dan tangkai pancingnya ke air lalu membalikkan tubuhnya sambil melompat berdiri. Ternyata kakek itu gemuk dan pendek sekali masih kalah tinggi dibandingkan Han Li. Wajahnya seperti kanak-kanak, telinganya lebar dan matanya kemerahan. Wajah itu mendatang-kan rasa ngeri dalam hati Han Li. Ketika kakek itu melihat Han Li, matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai.
"Aha, kiranya yang menggangguku adalah seorang gadis yang cantik jelita. Nona, engkau ini manusia ataukah penunggu sungai ini?"
Dalam ucapan dan pandang mata itu terkandung keceriwisan seorang yang mata keranjang, maka Han Li lalu memutar tubuhnya hendak pergi dari situ tanpa men-jawab pertanyaan tadi. Akan tetapi ketika ia memutar tubuh dan melangkah, tiba-tiba ada bayangan orang melewatinya dan tahu-tahu kakek itu telah berdiri di depannya.
"Ho-ho-ho, nanti dulu, Nona. Engkau sudah menggangguku dan hendak pergi begitu saja. Tidak bisa, tidak boleh! Engkau harus dihukum untuk gangguanmu tadi."
"Locianpwe, atas kesalahan itu aku telah minta maaf dan bersedia mengganti kerugianmu. Harap Locianpwe tidak menghalangiku dan biarkan aku melanjutkan perjalananku."
"Ha-ha-ha, enak saja! Orang yang sudah menggangguku selagi memancing, seharusnya dihukum mati. Akan tetapi melihat engkau begini cantik, biarlah hukuman itu kuubah. Engkau tidak akan kuhukum mati, melainkan harus menjadi pelayanku selama satu minggu!"
"Engkau keterlaluan, Locianpwe. Aku tidak mau menjadi pelayanmu walau hanya sehari, apalagi seminggu."
"Hemmm, keputusan hukumanmu tidak dapat diubah lagi. Mau atau tidak engkau harus menjadi pelayanku selama semingu."
"Aku tidak sudi dan harap jangan halangi aku pergi!"
Kata Han Li dengan marah dan ia lalu membalikkan tubuh lagi untuk meninggalkan kakek pendek gemuk itu. Akan tetapi kembali ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu telah berada di depannya lagi, mengembangkan kedua tangannya sambil menyeringai.
"Engkau tidak boleh pergi sebelum aku membebaskanmu!"
Katanya. Han Li menjadi marah sekali. Dengan tangan kirinya ia mendorong pundak kakek itu sambil mengerah-kan tenaga sinkangnya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tangannya bertemu dengan pundak yang sekokoh baja dan tubuh itu sama sekali tidak tergoyangkan dorongannya!
"Ha-ha-ha, mana bisa engkau menyuruhku pergi!"
Kakek itu mengejek. Dalam kemerahannya, Han Li lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar dada kakek itu. Tamparannya ini kuat sekali karena ia mengerahkan, tenaga sin-kang.
"Wuuuuuttt....plakkk!"
Untuk kedua kalinya ia terkejut dan merasa heran. Tamparan-nya tadi sedemikian kuatnya sehingga akan mampu menghancurkan sebongkah batu. Akan tetapi ketika mengenai dada kakek itu, pukulannya tidak berarti sama sekali, tenaga sinkangnya seperti tenggelam dan hilang sendiri. Ini hebat! Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek sakti yang agaknya berniat jahat terhadap dirinya, Han Li lalu menyerang dengan ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah) yang dipelajari dari ibunya! Kakek itu pun mengeluarkan seruan heran dan tubuhnya demikian cepatnya mengelak ke sana sini, lalu dia berseru sambil meloncat ke belakang.
"Hei, bukankah ini Ang-ho Sin-kun? Apa hubunganmu dengan Si Bangau Merah?"
Han Li merasa bangga bahwa kakek ini mengenal ilmu silat ibunya.
"Beliau adalah ibu kandungku!"
"Ho-ho-ho, kebetulan sekali, tidak dapat menghajar ibunya, anaknya pun boleh mewakilinya. Nah, sekarang hukumanmu ditambah lagi. Engkau harus menjadi pelayanku selama satu bulan penuh. Tidak boleh ditawar-tawar lagi dan kelak engkau boleh bercerita kepada Si Bangau Merah bahwa engkau pernah menjadi pelayan-ku selama satu bulan! Ha-ha-ha!"
"Kakek yang sesat! Kalau ayahku mengetahui hal ini, engkau tentu akan dihajar sampai setengah mampus! Ayah kandungku adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han!"
"Ha-ha-ha, aku sudah tahu karena aku mendengar bahwa Si Bangau Merah telah menikah dengan Si Tangan Sakti. Karena itu, sampai hari ini perasaan penasaran di hatiku kupendam saja. Dan sekarang engkau muncul tanpa kusangka-sangka. Biarlah rasa penasaran ini kutumpahkan kepadamu!"
"Apa kesalahan ibuku sehingga engkau hendak membalas dendam melalui penghinaan atas diriku?"
"Dulu, di waktu mudanya, Si Bangau Merah pernah mencampuri urusanku dan membikin malu sehingga belasan tahun aku tidak ada muka untuk muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi sekarang, ha-ha-ha, biar ia dibantu suaminya, aku tidak akan merasa gentar. Nah, hayo cepat berlutut dan beri hormat kepada majikanmu!"
"Aku tidak sudi!"
Jawab Han Li.
"Kalau begitu aku akan memaksamu berlutut!"
Kakek itu lalu menggerakkan tangan kirinya ke arah pundak Han Li. Han Li cepat mengelak, akan tetapi tetap saja merasa pundaknya dilanda angin yang mengandung hawa panas. Ia meloncat ke belakang dan cepat mencabut pedangnya.
"Kalau engkau tidak menghentikan perbuatanmu, terpaksa pedangku ikut bicara!"
"Ha-ha-ha, pedang mainan kanak-kanak itu kau pakai untuk menakut-nakuti aku? Ha-ha-ha-ho-ho!"