Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 75

Memuat...

Setelah bajunya berkibar dan dadanya agak berdenyut kulitnya, barulah Lulu sadar bahwa tosu itu tadi telah memukulnya dengan pengerahan sinkang, maka ia sengaja mengejek dan diarn-diam gadis ini bersikap waspada dan hati-hati karena maklum bahwa para tosu Hoa-san-pai itu benar-benar hendak memusuhi dia dan Han Han.

Sementara itu, ketika melihat betapa pukulan jarak jauh yang dilontarkan Kong Seng-cu kepada gadis Mancu itu sama. sekali tidak berhasil, tiga orang tokoh Hoa.-san-pai ini diam-diam terkejut dan berhati-hati. Mereka maklum bahwa. gadis Mancu yang masih remaja itu telah memiliki tenaga sinkang yang hebat dan tidak lumrah dimiliki seorang gadis yang demikian muda. Tiga orang tosu itu menjadi serba salah. Mau merintahkan anak murid turun tangan terhadap Han Han dan Lulu, mereka maklum bahwa murid-murid yang berada di situ agaknya bukanlah lawan pemuda berambut riap-riapan dan adiknya yang bertenaga sinkang hebat itu. Mau turun tangan sendiri, mereka masih merasa tidak enak dan malu karena amatlah menurunkan derajat bagi mereka untuk turun tangan terhadap dua orang yang masih amat muda, boleh disebut setengah dewasa itu"

Tiba-tiba pandang meta Bhok Seng cu yang memandangi para anak murid Hoa-san-pai dan anak buah Pek-eng-piauwkiok itu menatap ke Satu arah. Ketika Lok Seng-cu dan Kong Seng-cu yang ragu-ragu menoleh ke arah suheng mereka yang tentu saja sebagai, orang tertua di antara mereka merupakan penentu terakhir, mereka berdua pun mengikuti arah pandang mata suheng mereka itu dan wajah mereka berseri. Mengertilah kedua orang tosu ini akan jalan pikiran suheng mereka dan merekapun setuju sekali. Tanpa mengeluarkan suara,tiga orang tosu Hoa-san-pai ini telah bersepakat untuk memerintahkan Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menghadapi Han Han dan Lulu"

Mereka itu sama mudanya sehingga tidak akan menurunkan nama Hoa-san-pai, mereka berdua itu pun murid-murid Hoa-san-pai yang lihai ilmunya sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap dan Hoa-san Kiam-li.

Dan yang menggirangkan hati ketiga orang ,tosu ini, dua orangmuda itu adalah murid-murid Im-yang Seng-cu, seorang tokoh Hoa-san-pai yang mereka anggap menyeleweng dan murtad sehingga kalau dua orang murid itu sampai kalah, Hoa-san-pai tidaklah terlalu merasa malu dan memang tiga orang tosu ini dalam kebenciannya terhadap Im-yang Seng-cu, menjadi tidak suka pula kepada Sin Kiat dan Soan Li. Rasa benci terhadap Im-yang Seng-cu bukan semata karena tokoh Hoa-san-pai ini meninggalkan Hoa-san-pai, melainkan lebih banyak terdorong rasa iri hati. Im-yang Seng-cu membuat nama besar bukan bersandar kepada Hoa-san-pai karena ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, dan di sam-ping ini, Im-yang Seng-cu tidak lagi hidup terikat dan terkurung di Hoa-san, melainkan hidup sebagai seorang pendekar dan petualang yang bebas dan bebas pula menikmati kesenangan duniawi"

"Murid-murid Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, Pinto memerintahkan kalian untuk menangkap musuh Hoa-san-pai dan adiknya, gadis Mancu itu. Kerjakan perintah pinto sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang baik."

Bhok Seng-cu berkata dengan nada suara halus dan muka berseri. Dua orang sutenya mengangguk-angguk dan tersenyum sambil merabaraba jenggot mereka. Sin Kiat dan Soan Li menjadi terkejut bukan main mendengar perintah ini. Wajah mereka berubah dan jantung mereka berdebar karena mereka tersudut kedalam keadaan yang serba salah. Untuk membantah, perintah itu keluar. Dari mulut supek mereka dan dikeluarkan atas nama Hoa-san-pai.

Untuk mentaati perintah, bagaimana mereka dapat memusuhi dua orang muda yang menjadi sahabat baik mereka, bahkan dua orang muda yang masing-masing telah menjatuhkan hati mereka? Mereka tak tahu harus berbuat apa, merasa mundur salah maju tidak sesuai dengan suara hati mereka. Apalagi ketika mereka melihat betapa Han Han dan Lulu kini menoleh dan memandang mereka dengan sikap tenang dan bahkan Lulu tersenyum-senyum me-mandang Sin Kiat karena gadis nakal ini agaknya merasa geli, sama sekali tidak kasihan melihat pemuda itu yang ia tahu menjadi bingung. Baru saja menyatakan cinta, kini disuruh menyerang. Teringatlah dua orang murid Hoa-san-pai ini akan pesan suhu mereka, yaitu Im-yang Seng-cu,

"Kalian memang dapat disebut murid-murid Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu yang kuberikan kepada kalian sesungguhnya bukanlah ilmu aseli dari Hoa-san-pai. Karena itu, kalian harus berhati-hati terhadap Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai, yaitu Suheng-suheng dan Sute-suteku, adalah tosu-tosu yang kukuh dan terlalu kaku memegang peraturan sehingga kadang-kadang mereka itu keras sekali. Memang demikian watak orang-orang yang terikat oleh keadaan pada lahirnya namun sesungguhnya batinnya belum dapat mereka sesuaikan dengan keadaan lahir. Mereka banyak yang merasa iri hati melihat kehidupan orang-orang di luar lingkungan tosu yang hidup serba bebas dan dapat mengecap kenikmatan hidup tanpa pantangan-pantangan. lebih baik kalau kalian menjauhkan diri dari urusan Hoa-san-pai."

Demikianlah pesan suhu mereka dan kini, di luar kehendak mereka, mereka dihadapkan dengan urusan yang amat sulit yang menyangkut Hoa-san-pai.

"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Apakah kalian hendak menentang perintah pinto dan hendak menjadi murid murtad Hoa-san-pai pula?"

Kini suara Bhok Seng-cu terdengar keras dan tidak senang, mengandung tekanan menyindir bahwa guru kedua orang muda itu adalah seorang murid murtad Hoa-san-pai Soan Li hanya dapat memandang kepada suhengnya dengan pandang mata penuh permohonan agar suheng ini dapat mengambil keputusan. Sin Kiat menghela napas panjang lalu berkata.

"Supek, mohon maaf, bukan sekali-kali teecu membantah. Hanya teecu teringat akan pesan Suhu bahwa segala perbuatan teecu berdua harus didasarkan kebenaran. Teecu menganggap bahwa Saudara Sie Han dan Lulu tidak bersalah dalam urusan ini, bagaimana mungkin teecu berdua harus memusuhi mereka?"

"Wan Sin Kiat! Bocah ini telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai yang terhitung Suheng-suhengmu sendiri dan kau masih hendak membelanya? Dan gadis ini, sudah terang dia itu gadis Mancu, seorang musuh bangsa kita, dan engkau pun hendak membelanya? Pelajaran macam apakah ini yang diberikan Gurumu kepada kalian?"

Bentak Kong Seng-cu. Ucapan keras yang menambah ketegangan itu disusul suara Lulu yang perlahan akan tetapi karena keadaan yang amat sunyi, terdengar oleh semua telinga,

"Koko, Tosu Codet itu galak sekali. Kalau terjadi pertempuran, kau bikin mukanya bertambah satu codet lagi, baru puas hatiku."

"Hush...", Lulu, jangan lancang mulut...."

Han Han menjawab lirih, akan tetapi tentu saja terdengar pula oleh semua orang. Kong Seng-cu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia memandang kepada Lulu dengan mata melotot. Untuk turun tangan sendiri, ia merasa malu hati, tidak turun tangan, jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh sindiran dan ejekan gadis Mancu itu.

"Supek,"

Jawab Sin Kiat dengan suara tenang.

"Suhu mengajarkan agar teecu tidak sembrono dalam sepak terjang teucu, tidak menurutkan panasnya hati melainkan menggunakan pertimbangan pikiran dan liangsim (hati nurani). Biarpun Han Han membunuh kedua orang Suheng teecu, akan tetapi dia membunuh bukan karena kejahatan, melainkan karena tertipu muslihat Puteri Mancu. Adapun Adik Lulu ini....dia bukanlah musuh.dia tidak memusuhi kita.

"Kreeekkkkk."

Lengan kursi yang di.duduki Bhok Seng-cu hancur berkeping-keping karena dicengkeram tangan tosu lihai ini yang sudah tak dapat mengendalikan lagi kemarahannya.

"Murid murtad."

Ia menudingkan telunjuknya kepada Sin Kiat, kemudian menoleh ke arah Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap, dan murid-murid Hoa-san-pai pembantu Tan-piauwsu yang lain sambil berseru,

"Tangkap dua orang murid murtad ini, dan kami akan turun tangan sendiri menangkap bocah dan gadis Mancu itu."

"Serrr.. serrrrr..."

Bhok Seng-cu menggerakkan tangan kanannya, dua sinar hitam menyambar ke arah Han Han dan Lulu. Itulah hancuran kayu lengan kursi yang dicengkeramnya tadi, kini ditimpukkan dengan pengerahan sinkang sehingga merupakan senjata rahasia yang amat berbahaya, menyambar ke arah dada Han Han dan Lulu yang sejak tadi hanya berdiri dengan sikap tenang di tengah ruangan itu. Han Han mengibaskan tangannya sehingga hancuran kayu itu runtuh ke bawah, sedangkan, Lulu dengan sikap lincah meloncat ke samping, mengelak sambil tertawa mengejek,

"Wah, sayang luput Tosu galak."

Tan-piauwsu dan para sutenya, juga anak buah Pek-eng-piauwkiok yang sudah menganggap diri mereka sebagai anak buah Hoa-san-pai, tidak berani membantah perintah itu dan mereka telah mencabut senjata masing-masing, kini telah mengurung ruangan itu.

Di luar tahunya semua orang, Kwee Twan Giap sute termuda dari Tan-piauwsu yang amat cerdik, telah memberi tanda dengan jari tangan agar Sin Kiat dan SoanLi cepat melarikan diri saja sehingga terhindar pertandingan antara murid Hoa-san-pai sendiri. Melihat ini, Sin Kiat dan Soan Li mencatat dalam hati mereka akan niat baik Kwee Twan Giap. Akan tetapi, sebelum dua orang murid Im-yang Seng-cu ini sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba terdengar pekik .melengking keras sekali yang membuat semua orang tertegun, bahkan banyak diantara mereka meremang bulu tengkuk-nya mendengar suara ini. Suara ini keluar dari mulut Han Han yang sudah meloncat ke depan sambil melengking keras, kemudian berkata.

Post a Comment