Bentak Lulu dengan mata dilebarkan dan sikap mengancam. Lu Soan Li yang sejak tadi memperhatikan Han Han secara diam-diam dan melihat betapa pemuda rambut terurai itu tersenyum-senyum geli, dapat lebih dulu menguasai hatinya. Ia melangkah maju dan memegang pundak Lulu sambil berkata,
"Aihhh, Adik Lulu yang baik, siapa sih yang mau memusuhimu? Suheng telah salah bicara, apakah kau begini kejam untuk menekannya? Lihat, dia sudah amat menyesal dan kebingungan."
Dengan muka merah Wan Sin Kiat lalu menjura.
"Harap Nona Sie suka memaafkan mulutku yang lancang."
Lulu cemberut dan mengerling ke arah pemuda tinggi besar itu.
"Habis, kau terlalu menghina sih..."
Han Han tertawa lalu berkata nyaring setelah menyaksikan ketegangan membayang di wajah semua orang yang hadir,
"Tak perlu disembunyikan, memang Adikku ini adalah seorang gadis Mancu, akan tetapi sekarang telah menjadi Adikku, she Sie dan namanya tetap Lulu. Hendaknya diketahui bahwa semenjak kecil, Adikku ini hidup sebatangkara dan menderita karena Ayah Bundanya dan seluruh keluarganya dibasmi habis oleh para pejuang."
"Ahhhhh...."
Seruan ini keluar dari mulut Sin Kiat.
"Apa ah-ah-uh-uh-uh sejak tadi? Biar keluargaku dibunuh habis oleh orang Han, aku tidak begitu tolol untuk menganggap semua orang Han musuh-musuhku yang harus kubasmi habis dari muka bumi."
Wajah Sin Kiat makin merah dan ia benar-benar terpukul. Seolah-olah dibuka matanya betapa kelirunya mendendam kepada bangsa lain hanya karena terjadi perang, karena sesungguhnya tidak semua orang dari sesuatu bangsa itu jahat semua atau baik semua.
"Aku telah mengaku salah, harap Nona maafkan dan mau hukum apa pun juga aku siap menerimanya."
Han Han tersenyum lebar.
"Lulu, dia sudah mengaku salah dan minta dihukum. Hayo, kau hukumlah dia kalau kau mau."
Aneh sekali, digoda kakaknya begini, Lulu yang biasanya lincah dan nakal, kini hanya cemberut, kemudian melengos dengan kedua pipinya merah. Semua orang merasa lega bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi tetap saja masih ada rasa tegang di antara mereka setelah mendengar bahwa dara jelita itu adalah seorang gadis Mancu. Mereka semua telah menjadi korban kekejian seorang puteri Mancu, kini di situ terdapat seorang gadis Mancu, bagaimana mereka tidak akan menjadi gelisah dan tidak enak hati?
"Keadaan menyedihkan seperti yang kini timbul dalam hati Sin Kiat dan Lulu adalah akibat perang yang terkutuk."
Demikian Han Han berkata setelah semua orang duduk kembali.
"Perang yang hanya dicetuskan oleh beberapa gelintir orang yang berambisi, yang memperebutkan kekuasaan dan kedudukan, membakar hati semua rakyat, menimbutkan kekejaman-kekejaman, menimbulkan dendam, menimbulkan kebencian antara bangsa yang sesungguhnya adalah sesama manusia. Perang menjadikan keluargaku terbasmi orang-orang Mancu dan sebaliknya menjadikan keluarga Adikku Lulu terbasmi oleh orang-orang Han. Yang suka akan perang hanyalah mereka yang menginginkan kedudukan tinggi dan kemuliaan di kerajaan. Dengan dalih membela nusa bangsa, mereka ini mempergunakan kekuatan rakyat yang sebetulnya membenci perang karena perang hanya mendatangkan malapetaka bagi rakyat jelata, sebaliknya mendatangkan kemuliaan duniawi bagi para penggerak perang yang mendapat kemenangan. Rakyat Mancu ditipu oleh para pimpinan mereka, dijadikan bala tentara yang setiap saat kehilangan nyawanya. Sebaliknya, rakyat pribumi ditipu oleh pimpinan mereka, dijadikan pula tentara yang mengorbankan nyawa. Dalihnya berlainan, namun selalu yang muluk-muluk memabukkan dan membodohi rakyat, padahal semua itu hanya ditujukan kepada pamrih yang satu, yaitu kemuliaan dan kemenangan bagi para pimpinan."
Mendengar ucapan penuh nafsu dari pemuda aneh yang rambutnya terurai kacau itu, Tan-piauwsu sendiri melongo. Ucapan itu mengandung penuh kepahitan, namun memang pada kenyataannya demikianlah.
Dan pendirian seperti yang diucapkan pemuda ini bahkan menjadi pendirian pula dari banyak partai persilatan termasuk Hoa-san-pai sendiri ketika terjadi perang saudara. Akan tetapi hanya dalam perang saudara saja para tokoh kang-ouw tidak suka mencampurkan diri, diperalat oleh mereka yang memperebutkan kedudukan dengan saling bunuh antara sebangsa sendiri. Akan tetapi sekarang, yang menjajah negara adalah bangsa Mancu sehingga pendapat Han Han itu lebih luas lagi, tidak lagi mengenal bangsa melainkan berlaku untuk seluruh manusia sedunia. Ia maklum bahwa tentu bocah itu terpengaruh oleh kasih sayangnya terhadap adik angkatnya, gadis Mancu itu sehingga pertalian persaudaraan antara mereka melenyapkan rasa benci kepada bangsa Mancu, sungguhpun keluarganya sendiri terbasmi oleh orang-orang Manchu.
"Tepat sekali, Koko."
Lulu bersorak girang.
"Aku akan senang sekali melihat para kaisar yang gendut karena banyak makan dan terlalu senang hidupnya, berikut semua pembesar-pembesar tinggi, mengadakan perang sendiri, tidak membawa-bawa rakyat jelata. Biarkan mereka itu berperang, kaisar lawan kaisar, menteri lawan menteri, dan pembesar lawan pembesar. Tentu badut-badut itu akan terkencing-kencing ketakutan menghadapi ancaman maut."
Kembali semua orang terheran. Tidak ada yang mau membantah pendapat dua orang muda yang aneh itu karena mereka tidak ingin timbulnya satu kesalahpahaman lagi. Bahkan Tan-piauwsu lalu membelokkan percakapan.
"Yang terpenting sekarang kita harus menghadapi kenyataan. Tak dapat disangkal lagi bahwa pihak Siauw-lim-pai tentu akan memusuhi Sie-enghiong, juga pihak pimpinan. Hoa-san-pai akan salah paham terhadap Sie-enghiong. Oleh karena itu, saya harap Ji-wi suka sementara tinggal di sini menanti datangnya mereka itu. Saya yakin bahwa orang-orang Siauw-lim-pai tentu akan datang ke sini, mengingat bahwa peristiwa ini timbul dari Pek-eng-piauwkiok yang membawa dua peti jenazah. Kalau Sie-enghiong berada di sini, ada kami yang akan menjadi saksi dan yang akan menerangkan duduknya perkara sebenarnya sehingga semua pihak mengerti bahwa yang menjadi biang keladinya adalah puteri Mancu itu."
Han Han mengerutkan keningnya.
"Akan tetapi, kami tidak suka mengganggu Cu-wi sekalian. Lebih baik aku dan Adikku pergi, karena aku pun ingin sekali-kali bertemu dengan puteri Mancu yang demikian lihainya, dan tentang kemarahan pihak Siauw-lim-pai maupun pimpinan Hoa-san-pai, biarlah kami sendiri yang menanggungnya."
Wan Sin Kiat memegang tangan sahabatnya itu.
"Aih, Han Han. Mengapa kau banyak sungkan? Kita berada di antara sahabat sendiri. Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu. Tinggallah di sini barang sepekan. Apakah engkau sudah melupakan sahabatmu ini? Sahabat senasib sependeritaan di waktu kecil? Aku ingin mendengar semua pengalamanmu, juga ingin menceritakan pengalaman-pengalamanku. Demi persahabatan kita, kuharap kau dan Nona Sie sudi untuk tinggal beberapa hari lamanya di sini."
Berat juga rasanya hati Han Han untuk menolak. Apalagi ketika Lu Soan Li merangkul Lulu dan berkata,
"Adik yang manis, kuharap kau tidak menolak undangan kami. Aku ingin sekali belajar satu dua pukulan darimu yang lihai agar bertambah pengertianku."
"Aih, Cici. Engkau merendahkan diri. Sebagai tokoh Hoa-san-pai, agaknya aku yang harus berguru kepadamu."