Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 68

Memuat...

Dan ia sendiri lalu meloncat ke atas karena dorongan tangan kanan Han Han telah menyusulnya.

"Desssss."

Lantai menjadi berlubang dan mengepulkan asap ketika terkena sambaran hawa yang keluar dari tangon kanan pemuda sakti itu. Ia mulai merasa penasaran dan ketika ia hendak menerjang tubuh Tan-piauwsu yang masih melambung itu tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang cepat sekali gerakannya, kemudian tahu-tahu tubuh Tan-piauwsu telah disambar orang itu sehingga kembali pukulan Han Han luput. Ternyata yang datang dan sempat menolong Tan-piauwsu dari bahaya maut itu adalah seorang pemuda tampan sekali, bertubuh tinggi besar dan di belakangnya berdiri seorang gadis cantik yang sudah mencabut pedang dan sikap keren berdiri memandang Han Han.

Pemuda itu adalah Hoa-san Gi-hiap dan gadis itu bukan lain adalah sumoinya, Hoa-san Kiam-li. Mereka berdua baru saja pulang dari penyelidikan mereka ke gedung tempat tinggal puteri Mancu. Ketika mereka memasuki piauw-kiok, mereka melihat pertandingan itu dan terkejut sekali mereka menyaksikan suheng mereka terancam bahaya. Hoa-san Gi-hiap yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada Tan-piauwsu, sekali pandang saja maklum bahwa pemuda rambut panjang itu memiliki sinking yang luar biasa sekali dan bahwa untuk menolong suhengnya, jalan satu-satunya hanya menyambar tubuhnya dan membawanya pergi. Maka ia cepat meloncat, menggunakan ginkangnya dan untung ia tidak terlambat sehingga Tan-piauwsu terhindar dari bencana maut.

"Siapakah engkau yang datang membikin kacau di sini?"

Hoa-san Gi-hiap menegur setelah ia menurunkan tubuh Tan Bu Kong yang segera bersila di lantai sambil mengatur napas untuk melawan hawa dingin yang menerobos masuk melalui pundaknya.

"Hemmm, dan kau sendiri siapa berani berlancang tangan mencampuri urusan orang lain?"

Han Han juga menegur. Dua orang muda itu berhadapan, saling memandang dengan sinar mata tajam.

Mereka sama tinggi, hanya Han Han kalah gemuk karena dia memang agak kurus, sama tampan dan usia mereka pun agaknya sebaya. Para murid Hoa-san-pai dan para pengawal memandang dengan hati tegang. Pemuda rambut riap-riapan itu lihai sekali, akan tetapi mereka pun maklum bahwa pemuda tokoh Hoa-san-pai itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampaui tingkat Tan-piawsu sendiri. Juga Hoa-san Kiam-li amat lihai sehingga dengan adanya dua orang muda itu, hati mereka menjadi lega. Han Han dan jago muda Hoa-san-pai itu masih saling berpandangan, tidak menjawab pertanyaan masing-masing yang sama maksudnya. Akan tetapi pandang mata mereka kini berubah, tidak lagi penuh penasaran dan kemarahan seperti tadi, melainkan penuh keheranan, keraguan dan menduga-duga.

"Ya Tuhan..! Bukankah kau... kau Sie Han? Yang dahulu disebut Han Han, gembel baik budi yang membagi-bagi roti?"

Hoa-san Gi-hiap berseru penuh keheranan.

"Dan kau..., gembel cilik nakal, kau Wan Sin Kiat yang dahulu kepingin menjadi perwira. Benarkah?"

Teriak Han Han. Dua orang muda itu saling pandang, kemudian tertawa bergelak lalu saling tubruk, saling rangkul sambil tertawa-tawa. Semua orang yang berada di situ memandang dengan mata terbelalak, mereka tertegun dan hanya dapat mernandang dua orang muda yang tadinya diharapkan akan bertanding dengan hebat kini malah berpelukan dan tertawa-tawa itu.

"Koko, siapakah dia ini? Gembel cilik nakal? Kawan gembelmu di waktu kecil? Wah, ketika aku dahulu menjadi gembel cilik, aku tidak punya sahabat baik."

Kata Lulu yang menghampiri mereka. Han Han masih tertawa-tawa ketika ia melepaskan rangkulannya dari pundak Sin Kiat atau Hoa-san Gi-hiap itu. Ia lalu menoleh kepada adiknya.

"Lulu, dia ini bernama Wan Sin Kiat, sahabat baikku, seorang jantan tulen. Sin Kiat, ini Adikku yang manis, namanya Lulu"

Sin Kiat yang tentu saja tidak biasa dengan sikap tulus wajar seperti itu, menjura kepada Lulu dengan muka merah. Jantungnya terasa seperti copot tersendal keluar oleh sinar mata yang menyorot dari sepasang mata yang seperti bintang kembar itu. Ia menahan napas karena harus ia akui bahwa selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan seorang dara sejelita ini. Dan dara ini adik Han Han. Setelah menjura dengan hormat tanpa dibalas oleh Lulu yang hanya memandang kagum melihat wajah tampan dan sikap halus ramah itu, Sin Kiat menoleh kepada sumoinya yang juga sudah menghampiri mereka.

"Han Han, dia adalah Sumoiku, namanya Lu Soan Li. Sumoi, inilah Sie Han, sahabat baikku di waktu kecil."

Han Han masih ingat untuk melakukan penghormatan dengan merangkap kedua tangan di depan dada, akan tetapi mulutnya langsung menyatakan isi hatinya tanpa disadarinya,

"Nona cantik sekali."

Lu Soan Li menjadi merah mukanya, semerah udang direbus dan semua orang mendengarkan sambil menahan napas. Akan tetapi Soan Li tidak marah, hanya tersenyum dan membalas penghormatan Han Han.

"Sute! Apa artinya ini? Dia.. dia sahabatmu?"

Tiba-tiba Tan Bu Kong menegur dan piauwsu ini sudah dapat berdiri, memandang dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan penasaran. Sin Kiat teringat akan suhengnya.

"Suheng, dia ini Sie Han, sahabatku. Han Han, dia ini Tan-suheng. Eh, mengapa kau tadi bertempur melawan Suheng? Kau hebat bukan main, untung aku keburu datang. Kenapakah kau memusuhi Suhengku yang baik hati ini?"

Alis Han Han berkerut.

"Ah, dia Suhengmu, Sin Kiat? Hemmm sungguh tidak menyenangkan sekali. Harap kau ingat akan persahabatan kita dan jangan mencampuri urusan ini. Aku datang hendak membunuh orang jahat ini."

"Eh, apa artinya ini? Han Han, mengapa begitu?"

"Sute, mengapa engkau begini lemah? Biarpun di waktu kecil sahabat, akan tetapi sekarang dia musuh besar kita. Dia seorang kejam yang telah membunuh kedua Suhengmu Lie Cit San dan Ok Sun."

Sin Kiat dan Soan Li melangkah mundur sampai tiga tindak dengan muka pucat. Apalagi Sin Kiat, dia terheran-heran dan sejenak menjadi bingung mendengar keterangan yang baginya seperti halilintar menyambar ini.

"Han Han, Benarkah itu? Engkau yang membunuh dua orang Suhengku yang mengawal kereta?"

Han Han mengangguk.

"Benar, Sin Kiat. Dan aku akan membunuh Tan-piauwsu ini pula, harap engkau jangan mencampurinya."

Dengan wajah pucat Sin Kiat memandang sahabatnya di waktu kecil itu.

Post a Comment