Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 66

Memuat...

"Teng-sute...."

Adik seperguruannya itu sedang digotong oleh anak buahnya dan agaknya begitu tiba di depan gedung piauwkiok, adik seperguruannya itu roboh pingsan. Tidak aneh kalau melihat keadaannya yang demikian mengerikan. Lengan kanannya buntung sebatas siku dan lehernya terluka mengeluarkan darah. Cepat orang she Teng ini digotong masuk direbahkan di atas dipan dalam kamar. Setelah menerima perawatan, akhirnya dia mengerang dan siuman. Luka di lehernya tidak membahayakan, hanya lengannya yang buntung itu benar-benar mengerikan. Ketika ia menengok dan memandang suhengnya duduk di situ menjaganya, ia mengeluh.

"Ahhh, Suheng... untung siauwte masih hidup... dan dapat bercerita kepada Suheng.."

Tan Bu Kong menekan pundak sutenya dan dengan terharu berkata,

"Tenanglah, Sute dan ceritakan perlahan-lahan dan seenaknya, engkau masih amat menderita.."

"Tidak, harus sekarang juga Suheng dengar. Gadis Mancu itu bukan manusia. Dia seperti iblis, Ketika aku mengikuti keretanya, kusangka tidak ada yang tahu dan aku terus membayanginya sampai kereta itu berhenti di luar kota raja di mana terdapat sebuah gedung peristirahatan yang mewah, entah punya siapa, yang jelas tentu milik seorang pembesar Mancu. Diam-diam aku lalu menyelidik dan akhirnya aku dapat membekuk seorang pelayan, kuseret keluar dan di bawah ancaman, dia mengaku bahwa gedung itu tempat peristirahatan Puteri Nirahai yang katanya adalah puteri Kaisar Mancu dari selir. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan gadis Mancu itu telah berada di situ tanpa kuketahui sama sekali. Dia menyindir bahwa aku sejak tadi membayangi keretanya dan untuk kelancangan itu aku harus dihukum. Aku menyatakan bahwa sebagai pimpinan piauwkiok, aku wajib mengetahui alamat pengirim barang. Dia tidak peduli dan minta supaya aku membuntungi lengan kananku dengan pedang sendiri."

"Ah..., terang dia bersikap tidak baik terhadap kita."

Kat a Tan Bu Kong marah.

"Bukan hanya tidak baik, bahkan telah direncanakannya, Suheng. Aku tentu saja tidak mau dan hendak pergi, akan tetapi aku selalu terguling roboh setiap kali tangannya bergerak mendorongku. Agaknya dia memiliki sinkang yang luar biasa dan dengan pukulan jarak jauh selalu merobohkan aku setiap aku hendak pergi. Aku menjadi marah, mencabut pedang dan menyerang gadis penjajah laknat itu."

Muka Teng Lok menjadi merah karena ia masih penasaran dan marah terhadap gadis bangsa Mancu itu.

"Lalu bagaimana, Sute?"

"Dia lihai sekali. Entah bagaimana aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba pedangku telah dirampasnya dan di lain saat, lenganku telah terbabat buntung dan leherku terluka. Hanya dengan mengandalkan ginkang saja aku dapat melarikan diri untuk melapor kepadamu, Suheng."

Pucat wajah Tan Bu Kong, pucat karena kaget dan marah. Dia maklum akan gawatnya persoalan. Andaikata gadis itu bukan puteri Mancu, apalagi puteri kaisar sendiri, tentu dia akan mengerahkan tenaga untuk mendatangi dan membalas semua ini. Akan tetapi gadis itu adalah puteri Mancu, kalau diganggu, tentu berarti merupakan perang terbuka menentang Pemerintah Mancu dan hal ini akan menyeret pula Hoa-san-pai.

"Itu belum semua, Suheng,"

Kata pula Teng Lok sambil memandang wajah suhengnya yang berkerut.

"Ketika aku lari, aku tahu bahwa jika dia menghendaki, tentu dia akan dapat mengejar dan membunuhku. Akan tetapi dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa kita harus bersiap-siap menanti serbuan orang-orang Siauw-lim-pai. Entah apa maksudnya, akan tetapi aku khawatir sekali, Suheng. Gadis itu seperti iblis betina yang entah pekerjaan terkutuk apa yang sedang dia lakukan..."

"Hemmm..., tentu ada hubungannya dengan peti-peti itu. Baik kita tunggu saja dan engkau beristirahatlah, Sute sambil merawat diri. Kelak, karena lengan buntung, tentu Suhu akan dapat memberi ilmu yang khusus untukmu. Sementara ini, aku akan memperkuat penjagaan, bersiap menanti datangnya bahaya yang terasa benar olehku sedang mengancam kita."

Semenjak sore hari itu, sampai tiga hari tiga malam lamanya, Tan Bu Kong makin gelisah, duduk salah berdiri pun tak enak, makan tak sedap tidur tak nyenyak, dan selalu menanti-nanti kembalinya rombongan sutenya yang pergi mengawal dua buah peti itu ke selatan. Dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika pada suatu sore, sepekan kemudian, rombongan anak buahnya berlari-lari datang dengan wajah kusut, tanpa membawa kereta piauwkiok dan tanpa dipimpin oleh dua orang sutenya yang bertugas mengantar dua buah peti itu.

Tan-piauwsu membentak para anak buahnya yang bercerita simpang-siur dan amat gaduh, lalu memerintahkan seorang di antara mereka, yang tertua, menceritakan semua pengalamannya. Piauwsu tua itu bercerita sambil mencucurkan air mata, menceritakan semua peristiwa yang terjadi, betapa kereta mereka dihadang oleh serombongan anak murid Siauw-lim-pai yang hendak memaksa membuka dua buah peti itu, kemudian betapa mereka bertanding meJawan anak-anak murid Siauw-lim-pai dan munculnya seorang pemuda aneh yang rambutnya riap-riapan bersama seorang dara remaja jelita yang secara mengerikan telah merobohkan dan menewaskan tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, kemudian betapa muncul seorang gadis anak murid Siauw-lim-pai yang lihai dan yang membuka dua buah peti dengan secara paksa.

"Dibuka? Apa isinya...?"

Tan-piauwsu bertanya dengan suara keras saking tegang hatinya.

"Isinya adalah dua mayat manusia, mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam.."

"Hayaaa...."

Tan Bu Kong mencelat bangun dari kursinya dengan muka pucat sekali.

"Celaka..."

Piauwsu itu lalu melanjutkan ceritanya. Betapa gadis murid Siauw-lim-pai itu menyerang Si Pemuda aneh namun dapat dikalahkan dan kemudian gadis itu membawa pergi jenazah-jenazah dalam peti dan jenazah para anak murid Siauw-lim-pai. Kemudian, dengan suara terengah-engah dia menceritakan betapa pemuda aneh itu menjadi marah kepada para piauwsu, dan dengan sekali gerakan telah membunuh Lie Cit San dan Ok Sun.

"Ahhh. Siapakah pemuda yang ganas dan kejam itu?"

Tan-piauwsu berseru dengan alis berdiri.

"Entahlah, hanya kami mendengar gadis murid Siauw-lim-pai yang lihai itu mengenalnya dan pemuda itu malah menyebut Suci kepada murid Siauw-lim-pai itu, dan gadis itu menyebut namanya Han Han..."

Akan tetapi, biarpun kedua orang sutenya tewas, hal ini tidak mengurangi kekhawatiran hati Tan-piauwsu dan kemarahannya terhadap Si Puteri Mancu. Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah dia bahwa pihaknya, yaitu Pek-eng-piauwkiok yang tentu saja dapat juga dianggap mewakili Hoa-san-pai, telah diadu domba secara licin dan keji sekali oleh Puteri Mancu yang lihai itu. Pantas saja puteri itu menyindir kepada sutenya, Teng Lok bahwa Hoa-san-pai harus bersiap-siap untuk menghadapi penyerbuan Siauw-Hm-pai"

Kini jelaslah sudah bahwa dua orang tokoh Siauw-Hm-pai itu, kedua orang dari Siauw-lim Chit-kiam, telah dibunuh oleh puteri Mancu yang kemudian memasukkan dua jenazah itu ke dalam peti dan sengaja menyuruh Pek-eng-piauwkiok mengawalnya ke selatan. Dan ia dapat menduga pula bahwa tentu pihak Siauw-lim-pai secara diam-diam diberi tahu oleh puteri iblis itu sehingga mereka menghadang kereta dan minta lihat isi peti.

Hal ini kalau dipikirkan amat sederhana, sebuah tipu muslihat yang mudah, akan tetapi betapa kejinya. Tentu saja pihak Siauw-lim-pai berkeyakinan bahwa dua orang tokoh mereka itu terbunuh oleh Hoa-san-pai dan tentu akan timbul dendam dan bentrokan hebat antara kedua partai besar ini. Tan-piauwsu termenung. Si pembuat urusan ini adalah puteri Mancu itu, tak salah lagi, sungguhpun ia bergidik kalau mengingat betapa dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam sampai dapat terbunuh. Padahal dia tahu bahwa Siauw-lim Chit-kiam adalah tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai yang sakti, yang memiliki tingkat ilmu kepandaian amat hebatnya, masing-masing merupakan tokoh Siauw-lim-pai tingkat tiga. Kalau biang keladinya adalah puteri Mancu, dan yang menjadi korban adalah Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, dua buah partai yang menentang Mancu, maka mudah saja diduga sebabnya.

Tentu pihak Pemerintah Mancu sengaja mengadu domba Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai agar dua partai yang me musuhi Mancu ini menjadi lemah dan saling gempur sendiri. Dan hal ini amatlah berbahaya. Malam hari itu juga Tan Bu Kong menyuruh seorang sutenya untuk pergi keHoa-san, miengabarkan peristiwa hebat ini kepada pimpinan Hoa-san-pai agar dapat mengambil langkah-langkah seperlunya untuk-mencegah terjadinya pertentangan hebat antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang akan timbul sebagai akibat taktik adu domba yang amat keji itu. Juga mengundang tokoh-tokoh sakti Hoa-san-pai untuk diajak mengambil tindakan terhadap puteri Mancu yang amat sakti dan aneh itu,

Karena dia maklum bahwa dia sendiri takkan mungkin dapat mengalahkan puteri Mancu yang telah berhasil membunuh dua orang sakti seperti dua di antara Siauw-lim Chit-kiam. Atau, andaikata bukan puteri itu yang membunuh, karena dia masih tidak percaya seorang puteri remaja seperti itu akan sanggup membunuh dua di antara Siauw-lim Chit-kiam, tentu ada orang sakti di belakang puteri itu yang tentu akan melindungi Sang Puteri. Pada keesokan harinya, tanpa. disangka-sangka muncullah seorang pemuda tinggi besar yang gagah dan tampan bersama seorang gadis baju kuning yang cantik manis. Kedatangan dua orang in sedikit menghibur hati Tan Bu Kong karena mereka itu, biarpun terhitung sute dan sumoinya, namun murid-murid dari supeknya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampauinya.

Sutenya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan tinggi besar, usianya dua puluh tahun lebih, gerak-geriknya halus, wajahnya periang dan peramah, namun sesungguhnya dia inilah pendekar muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoa-san Gi-hiap (Pendekar Budiman dari Hoa-san)"

Adapun gadis cantik manis berusia antara delapan belas tahun itu pun bukan sembarang orang karena dialah tokoh kang-ouw yang amat terkenal yang berjuluk Hoa-san Kiam-li (Dewi Pedang Hoa-san)"

Biarpun masih muda, dua orang pendekar Hoa-san ini telah membuat nama besar dengan perbuatan-perbuatan mereka yang menggemparkan dalam membela kebenaran dan keadilan. Ketika melihat wajah suheng mereka yang keruh, pemuda dan dara ini cepat bertanya apa yang terjadi sehingga menyusahkan hati Tan-piauwsu.

"Kami berdua menerima pesan Suhu untuk datang membantu usaha Suheng menghimpun orang-orang gagah yang bergerak menentang kekuasaan penjajah Mancu,"

Kata pemuda tampan itu.

Post a Comment