Oei ciangkun dan kelima orang tamunya sedang bercakap-cakap ketika datang laporan tentang seorang gadis yang mengamuk hebat di kota Hong-bun. Panglima ini menjadi marah dan bersama Go bi Ngo koai-tung ia cepat naik kuda menuju ke Hong bun. Di situ benar saja ia melihat seorang gadis muda yang cantik sekali tengah mainkan pedangnya yang mengeluarkan cahaya merah membabat putus setiap golok yang menghadangnya sehingga tempat pertempuran itu telah penuh dengan potongan golok dan tubuh para tentara yang terluka! Biarpun tak seorang di antara para pengeroyok ini ditewaskan oleh Eng Eng, namun pemandangan ini cukup hebat dan mengerikan.
"Gadis liar dari manakah berani melawan tentara pemerintah?" bentak Oei ciangkun yang telah mencabut golok besarnya dan menyerbu ke arah tempat pertempuran itu. Melihat majunya Oei ciangkun, semua tentara lalu mengundurkan diri, hanya mengurung tempat itu dari jauh, memberi tempat yang cukup luas bagi pemimpin. Semua tentara kini telah menjadi gembira untuk menonton pertempuran yang pasti akan menarik hati ini! Eng Eng menengok dan memandang kepada panglima yang baru datang.
la melihat seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, berpakaian indah dan gagah sekali, keningnya lebar, matanya tajam dan goloknya yang dipegangnya besar dan nampak berat sekali, ia dapat menduga bahwa orang ini tentulah komandan dari pasukan kerajaan, maka sebagai seorang gadis yang telah tahu akan artinya perbuatan yang melawan alat pemerintah, ia tidak mau menyerang panglima itu. Ia tahu bahwa ia dapat dianggap sebagai seorang pemberontak yang berdosa besar, maka sebelum ia menyerang, ia hendak melihat dulu bagaimana sikapnya panglima ini.
"Aku bukan melawan tentara pemerintah, akan tetapi membela diri. Kalau anak buahmu maju hendak menggangguku, apakah aku harus berdiam diri saja tidak melawan? Lima orang anak buahmu dalam keadaan mabok telah menggangguku di jalan, dan aku hanya memberi hadiah tendangan perlahan saja kepada mereka. Akan tetapi semua orang-orangmu secara tak tahu malu sekali lalu maju mengeroyokku. Siapa mau dipegang oleh tangan-tangan mereka yang kotor dan bau? Aku melawan dan akhirnya terjadi pertempuran ini. Nah, kau boleh pikir sendiri, siapa yang salah?"
Oei ciangkun tertegun. Belum pernah ia melihat seorang gadis sehebat ini! Bahkan kekasihnya yang dulu, yakni pemimpin Pek lian-kauw yang cantik bagaikan dewi kahyangan itu, kalau dibandingkan dengan nona ini, masih belum dapat dikata melebihi! "Nona, betapapun juga, kau telah merobohkan banyak anggautaku dan kau telah melakukan perlawanan. Tahukah kau bahwa untuk dosa ini saja kau dapat dijatuhi hukuman mati? Lebih baik kau menyerah dan mari ikut dengan kami ke benteng untuk diperiksa perkaranyalebih lanjut."
"Kau ini siapakah maka berani memerintah kepadaku? Kalau kau menginsafi kesalahan anak buahmu, seharusnya kau yang minta maaf kepadaku, baru aku mau menghabiskan perkara sampai di sini saja."
"Nona, kau sombong sekali. Kau berhadapan dengan seorang panglima kerajaan, dan untuk kebaikanmu sendiri, kau harus tunduk kepadaku."
Eng Eng yang berwatak keras itu makin marah.
"Panglima kerajaan? Jangankan baru itu, biar kau menjadi panglima langit sekalipun, aku takkan mau tunduk begitu saja kalau aku tidak bersalah. Mengerti?"
"Bagus, hendak kulihat sampai di mana sih kepandaianmu maka kau berani bersombong di depanku?" Oei Sun yang segera menggerakkan golok besarnya, melakukan serangan ancaman kepada Eng Eng. Gadis ini dengan sengaja lalu menyambut datangnya golok ini dengan pedangnya.
Terdengar suara keras sekali dan bunga api berpijar ke atas. Akan tetapi keduanya menjadi terkejut. Oei Sun terkejut karena biarpun ia telah menggunakan seluruh tenaganya yang besar namun tidak nampak gadis itu terpengaruh bahkan ia merasa tangannya tergetar. Sebaliknya Eng Eng terkejut karena melihat betapa golok itu tidak menjadi rusak oleh bacokan pedang merahnya.
Karena maklum atas ketangguhan lawan masing-masing, keduanya lalu maju dan terjadilah pertempuran yang hebat sekali, Oei Sun bertenaga besar sedangkan goloknya yang besar itu berat sekali, maka gerakannya menimbulkan angin yang bersuitan. Goloknya diputar dan menyambar antep membuat pakaian Eng Eng berkibar karena angin sambarannya. Akan tetapi gadis itu bagaikan seekor burung walet lincahnya, bergerak demikian cepat sehingga ia nampak seperti beterbangan diantara sambaran golok. Bahkan pembalasan yang dilakukan oleh serangan pedang Eng Eng, sebentar saja membuat Oei San menjadi sibuk sekali.
Belum juga tiga puluh jurus mereka bertempur, Oei Sun sudah menjadi kewalahan terdesak hebat dan hanya dapat menangkis dan melindungi tubuhnya dengan putaran goloknya. Sesungguhnya, kalau Eng Eng mau gadis ini pasti akan dapat merobohkan Oei Sun. Akan tetapi selama perantauannya di dunia kang.ouw, gadis ini telah mendapat banyak pengalaman dan telah mendengar banyak urusan, sehingga ia maklum bahwa sekali-kali ia tidak boleh melukai atau menewaskan seorang panglima kerajaan.
Kalau para anggauta tentara yang menonton pertempuran itu tidak mengerti bahwa gadis yang lihai itu telah mengalah dan tidak mau mendesak lawannya, adalah Go bi Ngo-koai-tung yang merasa terkejut sekali. Mereka ini cukup maklum akan kelihaian Oei Sun, akan tetapi sekarang menghadapi gadis pedang merah ini ternyata sahabat mereka ini kalah jauh. Thian it Tosu, yang tertua di antara mereka dan yang selalu menjadi pemimpin, tiba-tiba mendapat pikiran yang amat baik. la mendekati adik-adiknya dan membisikkan sesuatu.
"Dia Iihai sekali, alangkah baiknya kalau dapat membantu kita." Setelah berkata demikian, ia dan keempat orang adiknya lalu melompat ke medan pertempuran sambil berkata,
"Lihiap (nona gagah) harap suka melihat muka kami dan hentikanlah pertempuran ini. Kami adalah Go-bi Ngo-koai tung, dan Oei-ciangkun ini adalah sahabat baik kami." sambil berkata demikian Thian it Tosu lalu mengebutkan lengan bajunya sebelah kiri untuk menangkis pedang merah Eng Eng.
Ketika ujung lengan baju itu mengenai ujung pedang, Eng Eng merasa tangannya tergetar, maka tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang lawan yang tangguh. Akan tetapi, di dalam kepala gadis ini tidak ada kata-kata takut, maka ia lalu menjawab,
"Aku yang muda dan bodoh tidak kenal dengan Go-bi Ngo koai tung sungguhpun aku mendengar nama mereka yang besar. Soalnya bukan kenal atau tidak, akan tetapi dalam pertempuran ini soalnya adalah salah dan benar. Aku tidak merasa bersalah, dan kalau ciangkun ini mau menghabiskan urusan sampai di sini, minggirlah dan biarkan kupergi."
"Tidak bisa begtu mudah, lihiap." kata pula Thian It Tosu,
"Siapapun juga yang salah, kau telah melakukan perlawanan terhadap tentara negeri, ini sudah menjadi satu dosa yang besar sekali. Kalau kau suka ikut ke benteng, biarlah kami berlima yang akan membujuk kepada sahabat kami Oei ciangkun untuk memaafkanmu."
"Aku tidak mengemis maaf!" teriak Eng Eng marah karena kini jelaslah baginya bahwa lima orang tosu ini terang-terangan berpihak pada Oei ciangkun,"Di dalam kebenaran, aku tidak takut kepada siapapun juga!"
"Ngowi totiang, tolong dan bantulah aku menangkap gadis liar ini!" seru Oei Sun dengan marah dan ia lalu menggerakkan goloknya lagi.
Eng Eng menangkis dan kini gadis inipun menjadi marah sekali. Kalau tadi Eng Eng hanya ingin mempermainkan saja kepada lawannya ini, sekarang ia membalas dengan serangan maut yang amat berbahaya.
Oei Sun terkejut sekali dan agaknya ia takkan dapat menangkis atau mengelak lagi, akan tetapi tiba-tiba meluncur dua buah tongkat bambu yang menangkis pedang Eng Eng.Gadis ini melompat mundur dan segera memutar pedangnya menghadapi keroyokan Oei Sun dan Go bi Ngo-koai tung itu. Ternyata bahwa nama besar Go-bi Ngo koai-tung bukanlah nama kosong belaka.
Ilmu tongkat mereka luar biasa sekali gerakannya dan tongkat bambu di tangan mereka merupakan senjata penotok yang amat hebat. Kalau hanya menghadapi mereka seorang, agaknya Eng Eng masih akan dapat menandingi mereka, akan tetapi kini ia menghadapi lima orang sekaligus, masih ditambah pula oleh Oei Sun yang kepandaiannyapun tidak rendah. Maka Eng Eng menjadi terdesak hebat.
Sungguhpun ia menggigit bibir dan melakukan perlawanan sekuat tenaga, namun dalam jurus ke tiga puluh, tiba-tiba pedangnya terjepit oleh empat batang tongkat dan tongkat kelima menyambar tangan kanannya! Terpaksa untuk menolong tangannya, Eng Eng melepaskan pedang itu yang segera dirampas oleh Thian It Tosu! Gadis ini terkurung di tengah-tengah dan tidak bersenjata lagi.
"Bagaimana, lihiap, apakah kau tidak mau ikut kami ke benteng untuk bicara secara baik?" tanya Thian it Tosu.
Eng Eng bukanlah orang bodoh yang menurutkan nafsu hati atau kemarahan. la tahu sepenuhnya bahwa kalau ia melawan terus dengan tangan kosong, ia akan mati konyol. Tentu saja ia tidak mau hal ini terjadi. Ia ingin melihat perkembangan selanjutnya dan baru berlaku nekad kalau sudah tidak ada jalan keluar lagi. Pula, mereka ini agaknya tidak berniat buruk terhadap dirinya. Maka ia lalu menganggukkan kepala dan demikianlah, mereka semua lalu menuju ke dalam benteng. Oei Sun minta kepada Eng Eng untuk berangkat lebih dulu. diiringi oleh semua perwira dan pasukannya, dengan alasan bahwa ia dan Go-bi Ngo koai tung mempunyai urusan di kota Hong-bun.
Padahal sebenarnya ia dan kelima kawannya hendak mencari keterangan di kota itu tentang diri Eng Eng, kuatir kalau-kalau nona gagah itu mempunyai kawan-kawan yang lain. Akan tetapi ketika mereka mendapat kepastian bahwa nona itu tidak mempunyai kawan lain, mereka lalu cepat kembali ke benteng. Dan tanpa mereka ketahui, dalam perjalanan ke benteng inilah Tiong Kiat melihat lalu mengikuti mereka dengan sembunyi.
Akan tetapi, Oei Sun dan lima orang tosu itu kecewa hatinya, mereka ternyata tak berhasil membujuk Eng Eng. Gadis ini tetap tidak mau menurut, dan tidak mau membantu mereka.
"Aku adalah seorang perantau, untuk apa aku ikut-ikut dengan urusan ketentaraan? Aku tidak sudi membantu pekerjaan orang lain, apalagi pekerjaan dalam ketentaraan yang tidak kumengerti sama sekali."
"Nona Suma " kata Oei Sun,