Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 54

Memuat...

"Alangkah bahagiaku dapat menerima kehormatan ini," kata Tiong Kiat sambil mengagumi mata yang bening itu.

"Akan tetapi aku benar-benar masih merasa heran mengapa Huayen khan suka menyerahkan puterinya kepada seorang asing seperti aku. Bukankah ini agak terlalu".terlalu mudah? Aku ingin menikah dengan kau secara resmi, Ang Hwa, kau cukup pantas menjadi istriku yang tercinta."

Kini Ang Hwa memandang dengan mata terbelalak.

"Puterinya? Puterinya yang mana maksudmu, Sim-enghiong?"

"Eh, bukankah kau menjadi puteri Huayen-khan?"

Ang Hwa menggeleng kepalanya.

"Aku bukan puterinya, juga tidak diaku anak olehnya. Aku" aku telah menjadi isterinya."

Bagaikan disengat ular berbisa, Tiong Kiat menarik kembali tangannya yang memegang lengan Ang Hwa. Pemuda ini kalau sudah tertarik hatinya oleh seorang wanita, ia tidak akan memperdulikan apakah wanita itu anak orang ataupun puteri orang. Akan tetapi menghadapi Huayen khan yang menyerahkan istri sendiri kepadanya ini baginya merupakan haI yang aneh dan hebat sekali, yang membuatnya menjadi ngeri juga.

"Apa.....?? Kau istrinya? Mengapa... mengapa ia memberikan kau kepadaku untuk melayaniku malam ini? Bagaimana mungkin ada perbuatan yang gila ini?"

Ang Hwa tersenyum menarik dan kini dialah yang menghampiri Tiong Kiat dengan sikap menarik sekali.

"Pemuda bodoh. Apa salahnya hal itu kami lakukan? Biarpun aku menjadi isterinya, akan tetapi dia telah berjanji takkan mengikatku. Aku boleh bebas sesuka hatiku. Aku ....... aku dengan suka sendiri melayanimu dan dia....ah, bukankah dia mengharapkan bantuanmu untuk mengguIingkan kaisar Tang? Kau suka kepadaku, aku sendiripun kagum melihatmu dan suamiku itu ingin menarik tenagamu. bukankah kita bertiga sudah merupakan tiga serangkai yang cocok sekali?"

Pucatlah muka Tiong Kiat mendengar ini. Ia menjadi marah sekali Jadi orang telah sengaja menggunakan istri sendiri sebagai umpan agar ia mau berlaku khianat terhadap kaisarnya?

"Tidak, tidak! Kalian sudah gila! Jangan harap akan dapat menarikku melakukan penghianatan! Kalau Huayen-khan hendak menyerang negaraku, lebih dulu dia akan berhadapan dengan aku sebagai musuhnya!"

Ang Hwa menjadi pucat. Senyumnya masih mengembang di bibir, akan tetapi sepasang matanya yang bening kini bernyala-nyala.

"Bagus sekali! Kau tidak dapat menerima kebaikan orang!" Setelah berkata demikian, Ang Hwa melompat keluar dari tenda.

Tiong Kiat merasa curiga, cepat ia mengambil bungkusan pakaiannya dan hendak keluar dari tenda akan tetapi di luar tenda itu ternyata telah terkurung oleh pasukan Ouigour yang dipimpin oleh Huayen khan sendiri bersama istrinya. Ang Hwa!

"Orang she Sim!" kata Huayen-khan dengan suara besar.

"Kau telah menghina isteriku dan menolak kebaikanku. Kau tidak mau membantu kami? Baik, jangan harap akan dapat keluar dari sini dalam keadaan bernyawa!" Sambil berkata demikian, Huayen khan telah menodongnya dengan anak panahnya yang lihai.

Akan tetapi Tiong Kiat tidak menjadi gentar. Ia tersenyum pahit dan berkata,"Kukira aku telah membantu seekor domba yang patut dibela, tidak tahunya di balik kedok domba itu tersembunyi muka serigala yang jahat! Huayen-khan, betapapun juga, aku Sim Tiong Kiat masih tetap seorang Han yang tidak nanti mau melakukan pengkhianatan terhadap negara dan bangsa sendiri!" SambiI berkata demikian Tiong Kiat cepat mencabut pedangnya.

Baiknya ia berlaku cepat, karena belum habis ucapannya keluar dari mulut, tiga batang anak panah yang dilepas sekaligus oleh Huayen-khan telah menyambar ke arahnya! la cepat memutar pedangnya dan dengan menerbitkan suara nyaring, tiga batang anak panah itu dapat dipukul jatuh semua.

Huayen khan terkejut sekali. Belum pernah ia melihat ada orang yang dapat menangkis tiga anak panahnya secara demikian mudahnya, maka ia lalu cepat memberi aba-aba kepada para anak buahnya. Tiong Kiat mendahuluinya dan cepat menerjang dari samping kiri. Ia maklum bahwa untuk melakukan perlawanan dan menghadapi Huayen khan, Ang Hwa dan sekian banyaknya pasukan Ouigour, adalah hal yang tidak mungkin dan betapapun tingginya ilmu silatnya, kalau ia melawan ribuan orang ini, akan sama halnya dengan membunuh diri.

Maka ia lalu menerjang ke kiri untuk menjauhi Huayen khan dan Ang Hwa. Begitu ia menerjang, pedangnya telah menjatuhkan tiga orang perwira Ouigour sehingga para pengepung di bagian ini menjadi jerih dan mundur. Tiong Kiat melompat ke dalam gelap dan mengamuk serta merobohkan para penghadangnya! Keadaan menjadi geger dan di mana saja pemuda itu lari dan dihadang, pasti robohlah beberapa orang!

Akhirnya setelah merobohkan dua puluh orang penghadang lebih, pemuda ini dapat membobolkan pengepungan dan melarikan diri di dalam gelap! Terdengar teriakan-teriakan di belakangnya dari mereka yang mengejarnya, akan tetapi siapakah yang dapat menyusul pemuda yang memiliki ilmu berlari cepat ini? Sebentar saja, suara yang mengejarnya makin lemah dan tak terdengar lagi.

Tiong Kiat melarikan diri terus ke selatan. Tujuan perjalanannya adalah kota raja, karena sebelum bertemu dengan Huayen-khan, ia pun ingin sekali melihat kota raja. Hatinya merasa kecewa dan timbullah kedukaan di dalam dadanya. Teringat ia kepada Suma Eng, nona yang sampai pada saat itu juga masih selalu ia kenangkan dengan penuh kerinduan hati. Betapapun banyaknya wanita yang dijumpainya, tak seorangpun di antara mereka yang dapat dibandingkan dengan Suma Eng. Ia merasa menyesal sekali mengapa ia dahulu telah mengganggu Suma Eng, karena kalau tidak, tentu nona itu tidak akan memusuhinya dan mungkin sekali ia akan dapat menjadi sahabat baik nona itu. Gemas ia kalau teringat kepada Ang Hwa, gadis yang ternyata menjadi isteri Huayen khan yang amat tidak tahu malu itu.

Ia ingin masuk ke kota raja dan kalau mungkin, akan memberitahukan kepada pemerintah akan maksud Huayen khan yang hendak memberontak itu. Teringat kepada Eng Eng dan Ang Hwa, hatinya menjadi kesal dan ia tidak tertarik oleh gadis-gadis yang dijumpainya di dalam perjalanannya.

Post a Comment