Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 52

Memuat...

Betapapun juga, Ciok Kwan lalu menyuruh dua orang anak buahnya untuk melaporkan peristiwa ini kepada kaisar dan minta putusan kaisar. Celakalah keadaan Huayen-khan. Biarpun ia sendiri gagah perkasa, namun pada saat itu ia masih setengah mabok dan anak buahnya yang hanya dua puluh orang itu tentu saja tidak dapat menandingi sepak terjang lima puluh orang anak buah Piloko yang pilihan! Seorang demi seorang anak boah Huayen-khan roboh mandi darah dan Huayen khan sendiri sudah terkurung rapat. Namun kepala suku bangsa Ouigour ini memang mengagumkan. Dalam keadaanmterjepit seperti itu, ia sama sekali tidak mau berseru minta tolong kepada Ciok Kwan. Juga ia melakukan perlawanan dengan gigih sekali, memainkan goloknya yang diputar dengan hebatnya.

Pembantu Piloko tentu saja takkan berdaya menghadapi Huayen khan yang kosen kalau di situ tidak ada Piloko yang mengeroyoknya pula. Kepandaian silat Piloko tinggi juga dan permainan sepasang tombak pendek di tangannya cukup cepat dan kuat. Namun ia harus mengakui bahwa ia masih kalah jauh oleh Huayen-khan dan setelah mengeroyok dengan lima orang kawan-kawannya saja baru ia dapat mengimbangi permainan golok dari orang kasar bangsa Ouigour ini! Golok Huayen-khan telah berlumur darah, karena banyaklah sudah musuh yang roboh di tangannya. Akan tetapi sekarang ia telah merasa lelah perlahan-lahan ia terdesak hebat dan kurungan yang kini terdiri dari sepuluh orang itu makin merapat!

Adapun Ciok Kwan masih sedia berdiri di situ menjadi penonton. Ia mengagumi kegagahan Huayen-khan akan tetapi ketika ia melihat gerakan sepasang tombak Piloko, ia menjadi gentar juga. Baiknya utusan-utusannya belum juga kembali, sehingga ia mendapat alasan cukup kuat untuk tinggal menjadi penonton dan belum membantu Huayen khan. Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Huayen-khan, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan berkelebatlah sinar putih yang menyilaukan mata. Segebrakan saja terguling dua orang pengeroyok Huayen khan oleh sinar putih yang ternyata adalah sinar pedang yang amat cepat gerakannya itu!

Huayen khan mengerling dan giranglah ia ketika melihat bahwa penolongnya bukanlah Ciok Kwan melainkan seorang pemuda bukan perajurit yang berpakaian biru dan berwajah tampan dan gagah sekali.

"Ha, ha. ha! Orang muda yang gagah, mari kita basmi tikus-tikus busuk ini!" Dalam keadaan seperti itu, Huayen-khan masih dapat tertawa, sungguh mengagumkan hati pemuda ini yang bukan lain adalah Sim Tiong Kiat adanya!

Di dalam perantauannya, tibalah Tiong Kiat di luar tembok kota raja sehingga ia melihat pertempuran itu. Ia melihat betapa seorang tua tinggi besar bercambang bauk yang hebat juga ilmu goloknya, dikeroyok oleh orang-orang suku bangsa Cou yang banyak jumlahnya. Di sana sini nampak banyak mayat bertumpuk-tumpuk bahkan masih terjadi pertempuran hebat sekali oleh kedua fihak yang tidak berimbang jumlahnya itu. Ketika Tiong Kiat melihat Ciok Kwan dan pasukannya yang berpakaian mewah akan tetapi tidak berbuat sesuatu menghadapi pertempuran hebat itu, ia menjadi sebal sekali. Memang telah lama Tiong Kiat membenci para perajurit pemerintah yang lagaknya sombong itu. Melihat ilmu golok Huayen-khan dan kegagahan kepala suku bangsa Ouigour ini, timbul simpatinya dan segera ia mengambil keputusan untuk membelanya.

Di dalam dada pemuda ini memang masih ada keadilan dan tentu saja menghadapi dua pihak yang bertempur, tanpa mengetahui sebabnya, ia akan berpihak pada yang Iemah. Pihak Huayen-han jauh lebih sedikit jumlahnya, maka lalu ia membela pihak ini.

Ketika mendengar ucapan Huayen khan, Tiong kiat menjadi gembira dan cepat ia mainkan pedangnya. Melihat betapa diantara para pengeroyok, sepasang tombak pendek Piloko paling lihai, Tiong Kiat lalu menyerang orang ini. Piloko menjadi marah sekali dan cepat ia menangkis sekuat tenaga dengan tombak kirinya.

"Trang!" dan putuslah tombak kiri di tangan Piloko itu, yang membuatnya menjadi terkejut sekali sehingga wajahnya berubah pucat.

"Ha, ha, ha!" Huayen-khan tertawa bergelak. Setelah kini menghadapi pengeroyok kawan-kawan musuhnya, ia mengganda dengan tertawa saja. Ia menjadi geli melihat betapa tombak Piloko terbabat buntung oleh pedang pemuda gagah itu.

"Walet hitam yang tadi ekornya telah buntung, sekarang sayapnya brondol lagi. Ha, ha, ha, kau tidak lekas terbang minggat?"

Piloko menjadi jerih sekali melihat kegagahan Tiong kiat, maka ia segera berseru keras dalam bahasa Cou, mengajak pergi kawan-kawannya, ia sendiri lalu mendahului melompat pergi dan berlari cepat, diikuti oleh kawan-kawannya yang hanya tinggal tiga puluh orang lebih lagi.

Baru saja rombongan Piloko melarikan diri, datanglah pasukan dari dalam kota yang mendapat perintah dari kaisar untuk memisahkan pertempuran itu dan membujuk kedua pihak supaya berdamai, biarpun harus dengan kekuatan senjata, Huayen-khan tidak memperdulikan Ciok Kwan dan pasukannya, bahkan tidak memperdulikan lagi anak buahnya yang menjadi korban, melainkan memeluk bahu Tiong Kiat sambil tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha, dibandingkan dengan kau, semua orang ini hanya kecoa-kecoa pemakan bangkai belaka. Orang seperti kau inilah yang sepantasnya duduk di sebelah kananku. Orang muda yang gagah, maukah kau pergi bersama Huayen-khan ke utara dan duduk makan minum dengan aku?"

Melihat sikap yang kasar ini, Tiong Kiat makin tertarik. Orang ini gagah dan jujur dan juga mendengar nama Huayen-khan, tahulah ia bahwa ini adalah kepala suku bangsa Ouigour yang gagah berani. Maka timbul hati sukanya dan iapun lalu menurut saja ketika tangannya digandeng oleh Huayen-khan dan diajak naik kuda yang sudah disediakan oleh anak buahnya. Ketika rombongan orang Ouigour ini hendak berangkat Huayen khan menoleh dari kudanya, memandang kepada Ciok Kwan sambil tersenyum mengejek.

"Ciok-ciangkun, benar saja seperti pengakuanmu tadi. Anak panahmu hanya dapat dipergunakan untuk menjatuhkan seekor burung besar yang lambat terbangnya. Akan tetapi menghadapi seekor burung walet yang kecil dan gesit, anak panahmu menjadi tumpul. Ha, ha, ha!" la lalu menarik kendali kudanya dan mengajak Tiong Kiat mengaburkan kuda mereka pergi dari situ.

Ciok Kwan mendongkol sekali akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan? Untuk menyerang dan menyergap orang-orang ini tentu saja ia tidak berani karena tidak ada perintah dari kaisar. Untuk bertindak seorang diri terhadap kepala suku bangsa Ouigour ini lebih jerih karena maklum bahwa kepandaiannya takkan dapat menangkan orang kasar itu. Dengan marah dan mendongkol ia Ialu memimpin pasukannya untuk kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada kaisar. Huayen-khan ternyata merasa suka sekali kepada Tiong Kiat. Ia mengajak pemuda ini ke utara dengan segala kehormatan dan di sepanjang jalan pemuda ini diperlakukan sebagai orang setingkat dengannya!

Ketika mereka tiba di tempat perkemahan suku bangsa Ouigour, Tiong Kiat menjadi kagum sekali melihat betapa suku bangsa ini menempati perkemahan yang baik dan mempunyai anggauta yang banyak sekali jumlahnya. Lagi pula, setiap orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan tegap, selalu membawa senjata tajam dan nampaknya mengerti ilmu silat. Sungguh merupakan pasukan yang kuat dan baik. Akan tetapi yang lebih menyenangkan hatinya adalah ketika ia melihat wanita-wanita yang berada di situ. Berbeda dengan yang laki-laki para wanita Ouigour rata-rata berkulit bersih, bermata bening dan berhidung mancung, pendek kata cantik-cantik!

Rombongan Huayen khan berjalan perlahan dan pemimpin besar itu menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil mengangkat tangan ke kanan ke kiri membalas penghormatan semua anak buahnya yang menyambutnya sepanjang jalan. Tiong Kiat yang menjalankan kudanya di sebelah Huayen-khan, menjadi berdebar bangga karena seakan-akan juga menerima penghormatan besar itu.

Tiba-tiba dari jurusan depan nampak seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya sehingga debu mengebul tinggi, kuda itu berlari cepat sekali dan Tiong Kiat memandang bagaikan terpesona. Memang hebat sekali pemandangan yang nampak di depan matanya itu. Kuda itu berbulu kemerah-merahan, sedangkan penunggangnya adalah seorang gadis yang berpakaian merah lagi sehingga kuda dan penunggangnya itu nampaknya seperti api yang bernyala-nyala. Yang membuat Tiong Kiat merasa kaget adalah kecepatan larinya kuda itu sehingga ia merasa kuatir kalau kuda ini menubruk kudanya dan kuda yang ditunggangi oleh Huayen khan.

Akan tetapi, Huayen-khan memandang dengan tertawa lebar saja dan ketika kuda merah itu sudab tiba di depan Huayen khan tanpa mengurangi kecepatan larinya tiba-tiba saja gadis baju merah itu menahan kendali kuda dan menjepit perut kudanya dengan kedua kakinya dan... mendadak kuda itu berhenti berlari! Kuda itu meringkik seakan-akan kegirangan dan Tiong Kiat sukar untuk dapat mempercayai apa yang dipandangnya dihadapan itu. Ia merasa terheran-heran dan kagum. Tidak saja kagum melihat kecantikan gadis baju merah ini, akan tetapi juga heran melihat cara gadis itu menghentikan kudanya.

Tidak sembarang orang dapat menghentikan larinya kuda yang secepat itu dalam cara demikian mendadak. Kalau gadis itu tidak memiliki tenaga besar dan kepandaian naik kuda yang luar biasa, tak mungkin ia akan dapat menghentikan kudanya secara itu! Gadis itu sama sekali tidak menghormat Huayen-khan, bahkan datang-datang ia lalu menegur Huayen khan.

"Kau membawa benda apakah untukku?"

Huayen khan tertawa bergelak.

"Ang Hwa (bunga Merah) kaukira aku akan lupa kepadamu?"

Huayen khan mengeluarkan sebuah kotak berukir dari dalam bungkusan di atas sela kudanya dan melemparkannya kepada wanita itu. Lemparan ini keras dan cepat akan tetapi gadis itu menangkap peti kecil ini dengan gerakan yang Iihai sekali sehingga kembaIi Tiong Kiat memujinya.

"Bagus!" katanya tak terasa lagi.

Ang Hwa sedang membuka peti itu dan ketika ia mendengar pujian ini, ia menutup petinya dan memandang ke arah Tiong Kiat. Ia nampak tercengang seakan-akan baru sekarang ia melihat pemuda ini.

"Ha, ha, ha!" Huayen-khan tertawa pula.

"Ang Hwa, kau lihat Sim enghiong ini. Bukankah ia gagah dan tampan sekali."

Akan tetapi sambil merengut, Ang Hwa menegurnya,

"mengapa kau membawa seorang Han ke sini?"

"Ang Hwa, jangan terburu-buru memandang rendah! Pemuda Han ini bukanlah sembarang pemuda dan kalau tidak ada dia, belum tentu hari ini aku dapat pulang!"

Kemudian Huayen-khan lalu menceritakan tentang penyerbuan Piloko di luar tembok kota.

"Ha, ha, ha! Ang Hwa, kalau kau melihat betapa seorang panglima kerajaan Tang she Ciok itu berdiri seperti patung, sungguh menyebalkan. Sayang kau tidak ikut dalam rombonganku. Kalau kau ikut, tentu akan kau lihat betapa Piloko si walet itu diusir tunggang langgang oleh Sim-enghiong yang gagah perkasa ini! Ha, ha, ha!"

Ang Hwa mengerutkan kening.

"Kau diserbu oleh Piloko di luar tembok kota raja dan kau tidak mendapat bantuan dari kaisar Tang? Hm, siapa tahu kalau hal itu adalah siasat kaisar sendiri membiarkan serigala dan harimau berkelahi sambil bersembunyi dan kalau keduanya sudah lelah dan terluka lalu muncul untuk menangkap mereka?"

Tiong Kiat merasa tak senang mendengar betapa kaisarnya dituduh berlaku curang, akan tetapi ia makin kagum saja karena ternyata bahwa selain cantik jelita dan berkepandaian cukup tinggi, gadis inipun ahli dalam siasat peperangan dan berotak cerdik pula. Siapakah gadis ini, pikirnya. Tentu setidaknya puteri dari Huayen-khan!

"Aku mendengar bahwa Piloko memang bermusuhan dengan suku bangsamu, maka tanpa dibujuk oleh orang lain, ia akan menyerang rombongan Huayen-khan di manapun juga." kata Tiong Kiat tanpa membela langsung kepada kaisar bangsanya.

Ang Hwa memandang tajam kepadanya, kemudian melirik ke arah pedang yang tergantung di pinggang Tiong Kiat.

"Hm, kau membawa-bawa pedang dan kau telah membantu rombongan kami. Akan tetapi aku belum menyaksikan ilmu pedangmu. Malam nanti terang bulan, aku ingin sekali menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu pedangmu!" Sambil berkata demikian, ia lalu memutar kudanya dan membalapkan kudanya dan mendahului rombongan Huayen khan! Huayen khan tertawa bergelak dengan gembira sekali "Ha, ha sim-enghiong, dia memang keras kepala. Kau harus melayaninya malam nanti!"

"Akan tetapi. Huayen khan, aku tidak suka mainkan pedang untuk ditonton," jawab Tiong Kiat.

Post a Comment