Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 51

Memuat...

Sambil tertawa juga, Kaisar Tai Cong lalu menyuruh seorang pengawal memanggil kepala pengawal yang bernama Ciok Kwan. Tak lama kemudian, Ciok Kwan datang menghadap. Huayen-khan memandang kepada perwira ini dengan kagum. Ciok Kwan adalah seorang perwira yang masih muda, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian rapi dan nampak gagah sekali karena potongan tubuhnya memang tegap dan besar. Sebagai seorang kepala pengawal bagian panah, di punggungnya tergantung busur besar dan anak-anak panah dengan bulu warna merah."Seorang perwira yang gagah!" Huayen Khan berkata memuji sehingga Tai Cong tersenyum girang.

"Ciok ciangkun." kata kaisar,

"tamu agung kita Huayen-khan ini ingin sekali menyaksikan kepandaian memanah darimu, maka cobalah kau memperlihatkan kepandaianmu. Huayen-Khan sendiri adalah seorang ahli panah yang terkenal, maka permainan ini tentu takkan merugikanmu, bahkan kau tentu akan mendapat petunjuk-petunjuk yang baik dari padanya."

Tentu saja Ciok Kwan tidak berani membantah dan ia mengerling ke arah kepala suku bangsa Ouigour itu. Ia telah mendengar nama besar Huayen-khan akan tetapi melihat orangnya, timbul keraguannya. Raja bangsa Ouigour ini nampak kasar, bercambang bauk dan agaknya telah mabok arak mana dapat memberi petunjuk tentang ilmu panah? Kaisar dan tamunya lalu keluar dari ruangan dalam, menuju ke taman bunga di sebelah kanan istana, diikuti oleh para pengawal dan pelayan. Dengan sikapnya yang sopan, Ciok Kwan lalu menuju ke tempat terbuka dan berpikir-pikir cara bagaimana ia akan memperlihatkan kemahirannya mainkan panah.

la memandang ke kanan ke kiri dan berdongak pula memandang ke atas. Tiba-tiba Huayen khan tertawa berkata,

"Ciok-ciangkun, apakah kau mencari-cari matahari untuk menjadi sasaran anak panahmu? Ha, ha, ha!"

Huayen khan adalah seorang kasar dan kata-katanya ini hanya kelakar belaka. Kaisar Tai Cung mengerti akan hal ini, maka sambil tertawa kaisar ini berkata juga.

"Huayen khan yang gagah, apa kaukira sekarang ini masih ada orang-orang sakti seperti Panglima Po Gwan?" Panglima Po Gwan adalah seorang tokoh dalam dongeng Tiong kok yang demikian tinggi ilmu panahnya sehingga dikabarkan orang bahwa panglima ini pandai memanah bintang di langit!"

Huayen-khan juga tertawa mendengar ucapan kaisar ini, tanda bahwa kepala suku bangsa Ouigour ini tidak asing akan dongeng-dongeng dan sejarah purba dari Tiongkok. Akan tetapi, sebaliknya, Ciok Kwan yang semenjak kecil mempelajari bu (lima silat) dan sama sekali tidak pernah mempelajari bun (ilmu surat) merah kedua telinganya mendengar percakapan orang-orang besar ini. la mengira bahwa Huayen khan mengejeknya dan diam-diam iapun merasa gemas sekali mengapa kaisar bahkan membumbui ejekan tamu, orang yang dianggapnya kasar dan biadab ini!

"Hamba adalah seorang yang bodoh dan anak panah hamba hanya dapat dipergunakan untuk menangkap burung di atas itu!" kata Ciok Kwan sambil menudingkan telunjuknya ke atas. Semua orang melihat ke atas dan ternyata sekawanan burung terbang tinggi sekali di udara.

"Hamba akan menurunkan burung ketiga dari depan! seru Ciok Kwan dan seruannya itu dibarengi oleh menjepretnya tali busurnya. Sebatang anak panah dengan cepat sekali mendesing ke udara dan tak lama kemudian betul saja, burung yang terbang di barisan ketiga dari depan nampak terkulai kepalanya dan jatuh ke bawah bagaikan sepotong batu. Ketika dilihat, burung itu telah tertembus dadanya oleh anak panah tadi, Semua pengawal berseru gembira menyaksikan ketangkasan kepala mereka ini. Kaisar Tai Cung mengangguk girang, akan tetapi Huayen-khan berkata.

"Memanah burung yang besar itu benar-benar mengagumkan orang!" Sambil berkata demikian, ia mengulur tangan ke belakang dan seorang di antara para pengawalnya lalu memberikan busur dan sebatang anak panah.

"Aku hanya dapat memanah binatang yang kecil-kecil saja." Ucapan ini seperti diucapkan untuk dirinya sendiri dan pujian itu sama sekali tidak cocok dengan tarikan wajahnya yang memandang rendah.

"Kalau paduka membolehkan saja ingin mencabut ekor burung kecil warna hitam yang sedang terbang itu!"

"Kaisar Tai Cung menengok ke arah yang ditunjuk oleh Huayen khan dan ia terkejut sekali. Yang dituding oleh tamunya adalah seekor burung walet yang beterbangan di udara gesit sekali. Bagaimana orang dapat memanah burung yang terkenal amat gesit dan tangkas ini? Apa lagi hanya membobolkan ekornya,jauh lebih sukar dari pada kalau memanah jatuh burung itu.

Tentu saja kami tidak melarangnya, hanya, dapatkah burung segesit itu dipanah jatuh ekornya saja?"

Huayen-khan tertawa bergelak, membidikkan anak panahnya, menanti sampai burung walet itu terbang mendekat, kemudian terdengar anak panahnya meluncur cepat sekali merupakan sinar hitam karena anak panahnya ini belakangnya memakai ronce-ronce warna hitam. Semua orang menahan napas dan Ciok Kwan sendiri berdebar hati, karena iapun tidak percaya bahwa Huayen-khan akan berhasil. Akan tetapi, terdengar sorak-sorai dari para pengawal dan pengiring kepala suku bangsa Ouigour ini ketika terdengar burung walet menjerit lalu terbang cepat sekali tanpa ekor! Beberapa helai bulu ekornya itu telah copot dan bodol terbabat oleh anak panah yang dilepas oleh Huayen-khan!

"Bagus, hebat sekali ilmu panahan khan yang baik!" Kaisar itu memuji dan diam-diam ia bersukur bahwa kerajaannya tidak bermusuhan dengan Huayen-khan yang pandai sekaIi mainkan anak panah ini.

Huayen-khan tertawa bergelak.

"Walet hitam sekecil itu perlu apa dibunuh? Dicabut ekornya saja ia akan menjerit ketakutan dan lari secepatnya. Ha, ha, ha!"

Kaisar Tai Cung juga tersenyum karena ia maklum akan maksud kata-kata Huayen khan yang lihai ini. Memang, pada waktu itu, terdapat suku bangsa Cou yang dipimpin oleh Piloko, seorang yang terkenal juga dalam ilmu silat sehingga ia mendapat julukan Yan-ong (Raja Burung Walet). Juga Piloko dan suku bangsanya bersahabat dengan pemerintah Tang tetapi di dalam perdagangannya dengan pemerintah Tang, Piloko mendapat saingan keras sekali dari Huayen-khan sehingga dua orang pemimpin suku bangsa ini menjadi saling benci dan timbul permusuhan di antara mereka! Oleh karena itu, ucapan Huayen-khan ini tentu saja menyinggung diri Piloko yang dianggapnya burung walet tadi. Inipun agak tepat, karena di dalam peperangan pernah pasukan Piloko terpukul mundur oleh Huayen-khan dan terpaksa melarikan diri. Hanya berkat kebijaksanaan campur tangan Kaisar Tai Cung saja maka peperangan tidak dilanjutkan dan tidak menghebat, akan tetapi di dalam hati masing-masing masih terdapat dendam dan kebencian.

Setelah menerima hadiah-hadiah dari kaisar, Huayen khan lalu mengundurkan diri, diiringkan oleh sekalian pengawalnya, keluar dari istana hendak kembali ke tempat tinggalnya sendiri, yakni di lembah Sungai Salenga di utara.

Kaisar Tai Cung memberi perintah kepada Ciok Kwan untuk membawa sepasukan pengawal, mengiringkan perjalanan Huayen-khan sampai keluar ibu kota.

Pada saat rombongan ini tiba di luar tembok ibu kota, tiba-tiba sepasukan orang-orang tinggi besar yang bertopi putih sambil berseru keras datang menyerbu! Jumlah mereka banyak sekali dan ternyata bahwa mereka ini adalah pasukan suku bangsa Cou yang dipimpin oleh Piloko! Mereka telah menanti saat yang baik untuk melakukan pembalasan dan karena dendam mereka sudah memuncak, maka mereka tidak segan-segan lagi untuk menyerang Huayen-khan di Iuar tembok ibu kota kerajaan Tang!

"Atas nama kaisar, harap jangan mengganggu tamu agung kami!" Ciok Kwan berulang-ulang memberi peringatan dan berseru keras, akan tetapi Piloko tidak memperdulikan seruan itu bahkan segera berteriak.

"Ciok ciangkun! Harap kau menarik kembali pasukanmu dan masuk ke dalam kota. Kami tidak ada persoalan dengan kau dan pasukanmu dan biarkan kami membereskan urusan lama dengan Huayen khan!"

Setelah berkata demikian Piloko memberi aba-aba dan menyerbulah anak buahnya, menyerang Huayen khan yang hanya dikawal oleh dua puluh orang anak buahnya. Pertempuran hebat terjadi ramai sekali Ciok Kwan menjadi ragu-ragu karena selain ia merasa mendongkol kepada Huayen khan, juga ia gentar menghadapi Piloko dengan anak buahnya yang sedikitnya ada lima puluh orang itu! Maka ia berdiri diam saja di pinggir dan hal ini tentu saja diturut oleh pasukannya yang tidak berani lancang turun tangan tanpa aba-aba dari pemimpinnya.

Post a Comment