Ketika mereka kembali ke kota Heng yang dengan wajah gembira dan penuh bahagia, keduanya lalu menuju ke rumah perkumpulan Sorban Merah. Kui Hwa telah bermufakat untuk menerima pinangan Nyonya Siok untuk yang kedua kalinya dan telah setuju pula bahwa dia akan ikut suaminya dan mertuanya untuk pindah ke kota raja di mana suaminya akan mencari pekerjaan. Ia telah mengambil keputusan pula untuk meletakkan jabatannya sebagai ketua perkumpulan Sorban Merah.
Akan tetapi, ketika ia dan Un Leng berjalan memasuki pekarangan rumah perkumpulan itu, ia melihat seorang pemuda bangkit berdiri dari bangku di ruang depan dan kini pemuda itu berdiri menanti kedatangan mereka dengan wajah tenang. Pucatlah wajah Kui Hwa ketika ia memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan tak terasa pula ia menahan tindakan kakinya. Ia melihat betapa pemuda itu memandang kepadanya dengan senyum tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah atau membenci. Terharulah hati Kui Hwa dan tak terasa lagi ia lalu berlari ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu! Un Leng hanya memandang heran dan mengerutkan kening, karena ia tidak mengenal pemuda itu, cepat memegang kedua pundak Kui Hwa, membangunkannya sambil berkata.
"Eh, sumoi mengapa kau begini? Berdirilah dan mari kita bicara dengan baik."
Kui Hwa tak dapat menahan berlinangnya air matanya, ia tidak berani menentang pandang mata pemuda yang bukan lain adalah Tiong Han ini. Ia merasa malu sekali kepada bekas tunangan dan suhengnya ini, yang selalu bersikap baik terhadapnya.
"Twa suheng...... kau...... kau dapat memaafkan aku? Kau tidak marah dan tidak benci kepadaku?"
Tiong Han menggeleng kepalanya dan tersenyum tenang, sungguhpun senyumnya bukanlah senyum gembira.
"Mengapa aku harus benci dan marah kepadamu, sumoi? Kau adalah adikku, adikku yang kusayang semenjak kita masih anak-anak. Aku hanya kasihan melihatmu, sumoi." Kemudian barulah Tiong Han merasa bahwa mereka tidak patut bicara urusan pribadi mereka di depan seorang pemuda tampan yang tidak dikenalnya. Ia lalu mengangkat muka memandang kepada Un Leng yang sudah menghampirinya dengan senyum dan pandang mata kagum. Un Leng menjura dan cepat dibalas oleh Tiong Han.
"Ah tidak tahunya kau adalah Sim Tiong Han, orang gagah dari Kim-liong pai. Aku ini Un Leng, adalah seorang yang bodoh." Seru pemuda sasterawan ini dengan sikap hormat.
Melihat sikap dan kesederhanaan pemuda ini, Tiong Han merasa suka dan cocok, hanya ia belum mengerti apakah hubungan antara pemuda ini dan sumoinya. Akan tetapi Kui Hwa segera menjelaskan,
"Suheng, dia ini adalah....sahabatku, seorang yang jujur dan banyak berjasa terhadap diriku yang hancur dan perasaanku yang luka oleh kejahatan ji suheng."
Tiong Han menghela napas dan keningnya berkerut.
"Sumoi terus terang saja, aku sudah bertemu dengan Tiong Kiat dan aku datang ini hanya hendak bertanya kepadamu mengapa kau meninggalkan Tiong Kiat dan membiarkan dia tersesat sedemikian jauhnya!"
Mendengar nada suara Tiong Han, diam-diam Kui Hwa terkejut sekali. Dari suara pemuda ini, ia dapat menduga bahwa suhengnya ini biarpun tidak menaruh hati dendam kepadanya, namun merasa tidak senang mengapa dia berpisah dari Tiong Kiat dan tentu menyangka yang bukan-bukan. Maka ia cepat menuturkan pengalamannya dengan Tiong Kiat, betapa Tiong Kiat telah melakukan perbuatan rendah terhadap seorang gadis yang ditolongnya sehingga mereka menjadi berselisih dan bertempur. Kemudian diceritakannya bahwa Tiong Kiatlah yang pergi meninggalkannya dan betapa ia lalu menjadi ketua dari Perkumpulan sorban Merah.
Mendengar semua penuturan ini, kembali Tiong Han menarik napas panjang berkali-kali.
"Ah, sumoi, kalau begitu adikku itulah yang jahat dan tersesat. Kasihan sekali nasibmu yang buruk." Dan diam-diam pemuda ini makin terheran melihat betapa Kui Hwa dapat menuturkan semua pengalamannya ini di depan Un Leng, seakan-akan di antara mereka tidak terdapat rahasia lagi. Ia menduga-duga dan ketika Kui Hwa memaksanya untuk bermalam di situ menikmati hidangan yang dikeluarkan dibantu pula oleh Un Leng, terpaksa ia menerimanya. Ia kagum juga melihat betapa kuat dan teratur perkumpulan yang dipimpin oleh sumoinya dan betapa semua anggauta Sorban Merah amat tunduk dan taat kepadanya.
Di dalam kesempatan itu, Un Leng mendapat pikiran yang amat baik. Diam-diam ia memberitahukan pikirannya ini kepada Kui Hwa dan gadis ini dengan muka kemerah-merahan hanya menganggukkan kepala dan kemudian ia sengaja meninggalkan ruangan dimana Tiong Han berada untuk memberi kesempatan kepada Un Leng untuk bicara berdua saja dengan suhengnya.
"Sim taihiap" kata Un Leng ketika mereka selesai makan dan duduk menghadapi meja dengan cawan terisi arak.
"Sebelumnya kuharap kau sudi memaafkan aku apabila kau anggap aku berlaku lancang. Telah kuceritakan kepadamu bahwa aku adalah murid dari Kim-l-sin-kai (Pengemis Sakti Baju Kembang) di kota raja yang juga kau tahu telah kenal baik dengan suhumu. Biarpun aku hanya mengerti sedikit ilmu silat, akan tetapi seperti juga suhu, aku benci akan perkelahian dan permusuhan. Aku lebih suka hidup damai dan tenteram dengan penaku. Nah, kau telah mengetahui keadaan sumoimu.
Seperti juga kau, aku kasihan sekali kepadanya. Akan tetapi kalau kau berkasihan sebagai seorang suheng terhadap sumoinya, adalah aku berkasihan kepadanya sebagai seorang pemuda terhadap seorang gadis yang telah merebut hatiku! Ya terus terang saja, taihiap, diantara sumoimu dan aku telah ada persesuaian paham dan kami telah bermupakat untuk menjadi suami-istri! Oleh karena itu, mengingat bahwa Hwa moi jauh dari orang tua, maka kiranya kau menjadi wakilnya! Kepadamulah sebagai wali Hwa-moi kuajukan pinanganku harap saja kau sudi menolong kami."
Tiong Han tersenyum dan memandang tajam.
"Saudara Siok bukan main girangnya hatiku mendengar ucapan yang terus terang ini! Sebelum kau menceritakan kepadaku, aku sudah dapat menduga lebih dulu, dan pengakuanmu ini menandakan bahwa kau memang jujur dan bersifat jantan. Kau telah mendengar tentang riwayat sumoi dengan adikku, namun kau dapat memaafkan dan masih dapat menghargainya, ini menandakan bahwa cintamu terhadapnya suci dan tulus. Akan tetapi, aku hanya menjadi suhengnya bagaimana aku berani berlaku lancang bertindak sebagai walinya?"
Un Leng berbangkit dari bangkunya dan menjura kepada Tiong Han yang dibalas cepat-cepat oleh pemuda ini.
"Terima kasih banyak, taihiap. Sungguh pun benar pula ucapanmu tadi agaknya kau lupa bahwa Hwa moi sesungguhnya telah diberikan kepadamu oleh orang tuanya sebagai calon jodohmu. Kau berhak penuh atas dirinya dan berhak pula menjadi walinya. Kalau kau sudi menerima permohonanku, berarti kau telah melepas budi besar terhadap kami."
Terpaksa Tiong Han menerimanya dengan hati girang. Kui Hwa lalu dipanggil dan dengan muka kemerah-merahan gadis ini lalu menjura kepada suhengnya yang kini menjadi walinya itu. Para anggauta Sorban Merah lalu dikumpulkan dan setelah Tiong Han diperkenalkan sebagai suheng dan wali dari Kui Hwa, Tiong Han lalu mengumumkan dengan suara lantang tentang perjodohan antara kedua orang muda itu. Semua anggauta Sorban Merah menerima berita ini dengan girang sekali. Akan tetapi kegirangan ini segera terganti kekecewaan ketika Kui Hwa menyatakan bahwa setelah menikah, terpaksa meninggalkan perkumpulannya dan menyerahkan perkumpulannya ini kepada beberapa orang thauwbak yang paling tua dan cukup bijaksana.
Dengan disaksikan oleh Tiong Han, beberapa hari kemudian dilangsungkanlah pernikahan sepasang orang muda itu dengan sangat sederhana, akan tetapi cukup meriah karena diramaikan dan dihadiri oleh anggauta Sorban Merah dan para sahabat-sahabat di kota Heng-yang.
Setelah itu, pada keesokan harinya, Tiong Han minta diri dari sepasang suami-istri ini untuk melanjutkan perjalanannya mencari adiknya. Kui Hwa mengantarkan kepergiaan suhengnya ini dengan air mata berIinang. Ia kini mendapat kenyataan betapa bijaksana dan mulia hati twa suhengnya ini dan diam-diam ia menyumpahi dirinya yang telah terpikat oleh bujukan-bujukan iblis dari mulut ji-suhengnya.
Pada waktu itu, pemerintah kerajaan Tang mempunyai hubungan baik sekali dengan suku bangsa Ouigour, yakni nenek moyang suku bangsa mongol. Raja bangsa Ouigour ini bernama Huayen khan, seorang yang sudah mempelajari kebudayaan Tiongkok dan selain pandai menulis huruf Tiongkok juga terkenal sekali dengan ilmu silat dan ilmu memanahnya yang tinggi.
Huayen-khan mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan Tang, menukar kulit binatang dan bulu binatang dengan gula dan kain sutera. Pernah dua kali Huayen-khan datang mengunjungi kaisar Tang yang bernama Tai Cong, dan di kota raja kepala suku bangsa Ouigour ini disambut dengan segala kehormatan, bahkan Kaisar Tai Cong lalu mengadakan perayaan pesta untuk menghormati kunjungan Huayen khan ini. Di dalam pesta ini, setelah Huayen-khan minum banyak arak wangi yang dihidangkan dan kepalanya telah menjadi agak ringan dan kegembiraannya membesar, ia berkata kepada Kaisar Tai Cung,
"Saya lihat pengawal-pengawal paduka membawa busur dan anak panah. Agaknya ilmu panah dari kerajaan paduka amat maju dan hebat!" Kepala suku bangsa Ouigour ini lalu tertawa bergelak.
Kaisar Tai Cung terkenal sebagai seorang yang amat bijaksana, pandai memerintah, dicinta oleh rakyat karena adilnya dan selain itu iapun amat cerdik. Mendengar ucapan Huayen-khan ini, Kaisar Tai Cung sudah tahu akan maksudnya, karena iapun maklum akan kepandaian Huayen-khan dalam ilmu panah. Sambil tersenyum ia berkata.
"Betapapun pandainya para pengawalku, agaknya masih harus mendapat banyak petunjuk dari padamu, khan yang baik."
Huayen-khan tertawa bergelak sambil menenggak cawan araknya yang segera diisi pula sampai penuh oleh seorang dayang pelayan.
"Paduka pandai sekali merendahkan diri. Kita sedang bergembira, apa salahnya bermain-main sedikit dengan ilmu panah? Harap paduka tidak berlaku sungkan dan sudi memanggil seorang ahli panah terpandai dari dalam tembok besar."