Halo!

Pedang Ular Merah Chapter 48

Memuat...

Kui Hwa merasa terharu mendengar ini. Pemuda ini benar-benar seorang yang baik dan sopan.

"Saudara Un Leng harap kau suka maafkan padaku. Sesungguhnya, seperti yang pernah kukatakan kepada ibumu, aku belum mempunyai niat untuk mengikat diriku dengan perjodohan. Kau seorang yang baik dan aku suka bersahabat dengan kau. Adapun tentang pernikahan........ agaknya selama hidupku aku takkan menikah!"

Un Leng memandang tajam lalu berkata perlahan,

"Nona, tentu saja kalau sampai tiba waktunya kau menikah, kau tentu akan memilih seorang suami yang memiliki kepandaian bu (ilmu silat), bukan seorang siucai yang Iemah seperti aku!"

Kui Hwa terkejut karena pemuda ini ternyata dapat meraba isi hatinya. Akan tetapi ia harus bersikap jujur terhadap pemuda yang baik hati ini.

"Ada betulnya juga kata-katamu itu, saudara Un Leng. Kau tentu mengerti sendiri bahwa suami isteri baru bisa hidup rukun apabila mempunyai kesukaan yang sama. Kurasa sukar juga kalau kesukaan si isteri memegang golok sedangkan kesukaan si suami memegang tangkai pena!" Gadis ini tersenyum dan ucapannya itu dimaksudkan sebagai sebuah kelakar.

Akan tetapi Un Leng memandang dengan tajam dan berkata dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Kau keliru, nona. Mempelajari permainan golok bukanlah termasuk kesenangan, akan tetapi lebih tepat sebagai penjagaan diri terhadap gangguan orang-orang jahat.

Sebaliknya mempelajari menggerakkan tangkai pena merupakan sebuah kesenian dan mempertinggi peradaban sebagai manusia. Tangkai pena tidak berbahaya, berbeda dengan golok yang biasanya hanya mendatangkan malapetaka, bunuh membunuh dan balas membalas karena dendam!" Pemuda ini nampak bersemangat sekali.

"Kau berat sebelah, saudara Un Leng." kata Kui Hwa dan matanya berkata,

"Kau tahu apa tentang ilmu silat?" akan tetapi mulutnya berkata lain,

"Tangkai pena bukanlah benda yang tidak berbahaya, bahkan kurasa lebih berbahaya dari pada mata golok. Kalau orang menggunakan golok untuk menyerang maka lawan yang diserang dapat melihatnya dan mempunyai kesempatan untuk melawan. Akan tetapi, berapa banyaknya orang yang mendapat celaka serumah tangga hanya oleh coretan pena seorang pembesar yang melakukan serangan dan fitnah secara sembunyi?"

Un Leng cemberut. Ia merasa sebal sekali terhadap pembesar-pembesar yang jahat dan yang tepat seperti dikatakan oleh gadis ini.

"Oleh karena itulah aku tidak sudi menjabat pangkat!" serunya gemas.

"Akan tetapi, tidak semua orang sejahat yang aku katakan tadi, nona."

Kui Hwa tersenyum geli melihat kemarahan Un Leng.

"Ingat Siok siucai yang terhormat demikian pula dengan pemegang golok. Tidak semua sejahat seperti yang kau katakan tadi!"

Mereka saling pandang dengan marah, kemudian berbareng tertawa geli.

"Ha, kita ini seakan akan mewakili dua fihak yang bertentangan, fihak bu dan bun (ahli sastera)!"

kata Un Leng. Juga Kui Hwa tertawa dan gadis itu makin suka kepada pemuda yang baik budinya ini. Sayang sekali dia tidak pandai ilmu silat, pikirnya. Kalau Un Leng pandai ilmu silat agaknya tidak akan kecewa menjadi istri pemuda ini. Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat lagi akan kesesatannya bersama Tiong Kiat dahulu dan wajah gadis ini berubah murung sekali.

"Aku takkan menikah selama hidupku," hatinya berkata dan tanpa disadarinya, bibirnya juga membisikkan kata-kata ini sehingga terdengar oleh Un Leng.

"Nona mengapakah kau berduka? Agaknya ada sesuatu yang mengganjal hatimu dan yang membuat kau putus asa. Dapatkah kau menceritakan hal itu kepada sahabatmu ini?" Kui Hwa menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Tak mungkin, saudara Un Leng. Tak mungkin kuceritakan kepada siapapun juga." Dalam keadaan hati tertekan berdiamlah kedua orang sahabat ini.

Sebagaimana telah dituturkan di depan, Can Kui Hwa sebagai pangcu dari Sorban Merah yang cantik jelita dan gagah, terkenal sampai jauh dari daerah Heng-yang. Hal ini menarik hati orang-orang gagah, terutama mereka yang masih muda dan belum menikah, karena bukankah pangcu wanita yang cantik dan masih gadis itu merupakan kembang yang amat menarik hati? Muda, cantik, kaya raya menjadi ketua dari perkumpulan yang berpengaruh!

Dan di antara mereka yang mendengar nama Can Kui Hwa yang mengagumi dari jauh terdapat juga Ban Hwa Yong, si penjahat pemetik bunga yang lihai itu! Seperti telah diketahui orang ketiga dari Thian-te Sam kui ini telah kehilangan dua orang suhengnya yang tewas dalam tangan Eng Eng dan Tiong Han. Biarpun ia sendiri ditinggal mati oleh kedua orang suhengnya, Ban Hwa Yong menjadi gelisah dan gentar sekali menghadapi kejaran Suma Eng, nona yang hebat dan lihai sekali itu. Timbul pikiran dalam kepalanya untuk mencuci tangan, untuk berhenti melakukan kejahatan dan kesukaannya mengganggu anak isteri orang. Ia ingin mencari seorang gadis yang baik, mendirikan rumah tangga yang aman dan meninggalkan dunia kang ouw karena ia merasa bahwa keselamatannya amat terancam.

Ketika Ban Hwa Yong mendengar nama Can Kui Hwa tergeraklah hatinya. Ia sudah mendengar bahwa Perkumpulan Sorban Merah merupakan perkumpulan yang kuat, berpengaruh dan kaya. Dan sekarang ketuanya adalah seorang gadis yang cantik jelita, yang masih belum menikah. Ah, inilah yang dibutuhkannya. lsteri cantik dan gagah, kedudukan yang kuat, dan harta cukup! Dengan hati girang dan penuh harapan ia lalu berangkat ke Heng-yang dengan maksud memperisteri gadis yang menjadi pangcu itu. Ketika Ban Hwa Yong tiba di rumah perkumpulan itu, ternyata ia mendapat keterangan bahwa Can-pangcu yang dicarinya sedang pergi keluar kota.

"Kemanakah dia pergi? tanya Ban Hwa Yong.

Anggaota Sorban Merah yang menjaga pintu memandang kepada orang yang berwajah tua itu dengan curiga. Orang ini tinggi kurus dengan muka seperti seekor burung, hidungnya seperti hidung kakatua dan mukanya jelek pandangan matanya liar sedangkan di pinggangnya tergantung sepasang senjata yang aneh, yakni sepasang kaitan yang menyeramkan.

"Siapakah saudara ini dan ada keperluan apa mencari pangcu?" tanyanya dengan curiga. Ban Hwa Yong tertawa bergelak.

"Aku sahabat dari pangcumu dan kelak kamu tentu akan lebih mengenalku dengan baik. Sebutkan saja di mana adanya pangcumu itu."

"Pangcu sedang berjalan jalan naik kuda ke hutan sebelah barat kota," akhirnya penjaga itu menjawab juga. Ban Hwa Yong lalu berlari pergi dengan cepatnya sehingga penjaga itu menjadi kagum. Jai hwa-cat (penjahat pemetik bunga) ini Ialu berlari menyusul ke hutan di luar kota Heng-yang di mana merupakan hutan kecil yang amat indah dan banyak terdapat bunga bunga yang berkembang.

Pada saat itu, Kui Hwa sedang duduk di bawah pohon bersama Siok Un Leng, pemuda sasterawan yang menjadi sahabat baiknya itu. Mereka datang berkuda dan kini kedua ekor kuda itu mereka lepaskan di tempat yang banyak rumputnya agar binatang itu dapat makan rumput dengan seenaknya. Adapun mereka berdua lalu duduk di bawah pohon. Un Leng membaca sajak-sajak yang digubahnya sendiri dan Kui Hwa mendengarkan dengan penuh kegembiraan dan kekaguman. Memang gadis ini suka sekali akan kesusasteraan sungguhpun ia sendiri hanya mempelajari sedikit saja dari ibunya. Keduanya nampak rukun dan cocok, sungguh merupakan pasangan yang baik sekali.

Akan tetapi selama itu, Kui Hwa selalu menghindarkan diri dari percakapan tentang pernikahan dan pernyataan kasih sayang pemuda itu selalu ditolaknya dengan halus. Ia maklum bahwa hatinya runtuh juga menghadapi pemuda yang selain tampan, juga sopan dan baik sekali ini, akan tetapi dia mengeraskan hati dan rasanya karena ia merasa yakin bahwa tak mungkin ia yang sudah melakukan kesesatan itu dapat menjadi isteri Un Leng! Tiba-tiba terdengar bentakan keras di sebelah belakang mereka.

"Pemuda kurang ajar dari manakah yang telah berani bermain gila dengan Can pangcu?" bentakan ini keras dan parau dan ketika Un Leng dan Kui Hwa menengok sambil melompat berdiri, ternyata di hadapan mereka berdiri seorang laki-laki jangkung yang bermuka tajam seperti muka kakatua. Laki laki ini bukan lain adalah Ban Hwa Yong yang memandang dengan mulut menyeringai menjemukan sekali.

Post a Comment